
πππ
Setelah memastikan Tisha dan keluarganya tinggal dengan nyaman di rumah yang diberikan nya. Ray berencana kembali ke kantornya bersama Gerry.
"Kalau ada apa-apa kalian bisa menghubungi ku" kata Ray sambil tersenyum pada Tisha dan keluarga nya
"Dasar tidak tahu malu! sudah mengancam kami untuk tinggal disini, kamu masih bisa senyum seperti itu, apa kamu iblis?!" Arya mengomel pada Ray yang memaksa mereka semua pindah ke rumah Ray dengan mengancam Tisha.
"Kak, udah sabar kak" Tisha menepuk bahu kakaknya itu agar kakak nya tenang dan tidak marah.
"Oh ya, kak Arya belum dapat pekerjaan tetap kan? daripada bekerja menjadi kurir delivery yang melelahkan, lebih baik bekerja di kantor ku. Sayang kan ijazah kakak kalau cuma untuk jadi kurir delivery?" Ray tersenyum ramah sambil memberikan kartu nama pada Arya.
Dia pasti tidak akan menahan godaan ini, kan? batin Ray merasa percaya diri bisa membujuk Arya.
GLEK
Arya menelan saliva nya, ia memang tergiur dengan tawaran Ray. Namun, ia juga ingat bahwa ia dan Ray sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Tisha dan keluarganya.
Bekerja menjadi kurir delivery memang melelahkan, gajinya pun tidak seberapa. Aku memang ingin bekerja di perusahaan bagus seperti Argantara grup, gajinya juga pasti besar. Tapi masa aku menerima tawarannya? itu artinya aku mengkhianati adikku dua kali.
"Maaf, tawaran pak Ray memang menarik. Tapi aku tidak mau. Dan jangan panggil aku kakak lagi! aku bukan kakak mu bodoh!!" Arya memaki Ray tepat di depan wajahnya
"Pergi dari sini! aku muak melihat tampang mu itu! menjijikan sekali, pria peselingkuh!" Bu Fani tersenyum sinis ke arah Ray, menatapnya dengan jijik pada mantan menantunya itu.
Tisha memperhatikan Ray, apakah pria itu akan diam saja setelah dihina oleh kakaknya dan ibunya? Biasanya Ray akan mengamuk jika ada yang menyinggung nya sedikit saja, tanpa terkecuali. Gerry juga melihat ke arah Ray, anehnya Ray terlihat biasa saja dan tidak emosi walau dihina oleh Arya dan Bu Fani.
Apa pak Presdir benar-benar sabar atau dia sedang berpura-pura sabar?. Batin Gerry tercengang melihat Presdir nya yang tampak biasa itu.
"Baiklah, kalau kakak tidak mau. Tapi simpanlah kartu namaku ini, siapa tau kakak dan ibu membutuhkan nya. Aku taruh disini ya, jangan sungkan" Ray tersenyum santai, ia menyimpan kartu nama nya di atas meja yang ada disana.
Mengapa kak Ray biasa saja? bukankah harusnya disaat seperti ini dia akan marah?. Tisha terpana melihat sikap Ray yang santai dan tidak tahu malu.
"Cih! dasar tidak tahu malu! kalau bukan karena kamu yang mengancam anakku, kami sekeluarga tidak akan sudi tinggal di rumah ini!!" Bu Fani melotot ke arah Ray. Tisha menahan ibunya untuk tidak marah pada Ray.
"Aku pamit ya Bu" ucap Ray sambil tersenyum ramah
"Siapa yang kamu panggil ibu?! aku bukan ibu mu!" teriak Bu Fani marah-marah
"Bu, udah Bu" ucap Tisha sambil menggelengkan kepalanya.
Aku tau perjalanan ku akan sulit untuk mendapatkan mu kembali, tapi aku akan berusaha membuatmu tetap terikat denganku. Aku tau selamanya hatimu milikku.
__ADS_1
Ray dan Gerry pun pergi meninggalkan rumah itu. Bu Fani dan Arya melihat ke arah Ray dengan kesal yang seenaknya mengatur mereka.
Dengan terpaksa mereka tinggal disana, Tisha juga akan memikirkan cara agar mereka bisa keluar dari rumah itu dan mengembalikan semua harta yang di berikan Ray padanya. Tisha juga memikirkan surat pengunduran dirinya yang belum juga di ACC oleh Ray dan bagian personalia di kantor Argantara grup.
Tisha tidak menduga kalau Ray akan menjebaknya seperti ini, mereka sudah bercerai tapi Ray masih bisa mengatur dirinya.
"Aku kesal sekali sama mantan suamimu itu! kenapa dia sampai berbuat seperti ini? apa dia ingin menyiksa Tisha atau bagaimana? sudah bercerai saja dia masih bisa mengatur kita" gerutu Arya mengatakan kekesalannya pada Ray
"Dia tidak bermaksud menyiksa Tisha, dia ingin mengikat Tisha terus disisinya. Itulah tujuannya, dia masih mencintai Tisha" ucap Bu Fani yakin, Bu Fani menatap ke arah Tisha
Cinta? apa dia mencintaiku? pria yang bahkan tak pernah menyentuhku selama dua tahun? pria yang selalu bersikap dingin padaku selama pernikahan kami? apa benar dia mencintaiku? apakah ini cara nya mencintaiku? Tidak, ini bukan cinta.
Tisha tertegun, ia memikirkan tindakan Ray yang seenaknya itu. Sikapnya yang tidak tau malu, dan memerintah masih saja sama. Tapi ada yang berbeda dari Ray, ia terlihat lebih sabar menghadapinya dan keluarganya.
Meskipun Ray berusaha mengikatnya ataupun mencintainya, Tisha sudah berjanji tidak akan tergoda dan termakan rayuan cinta Ray. Tisha mengingat lukanya yang masih belum kering.
Aku tidak akan mencintaimu lagi Raymond Argantara. Mulai sekarang aku akan menjalani hidupku dengan bebas.
πππ
Satu bulan sudah berlalu sejak perceraian Tisha dan Ray.
"Kemana sih si Ray itu? bukannya menemani kamu memilih baju pengantin dia malah pergi entah kemana?!" Bu Lisa menggerutu karena ketidakhadiran Ray disana untuk menemani Zee fitting baju pengantin.
"Dia sibuk di kantornya ma, udahlah gak papa. Besok aku bisa ajak dia kemari untuk coba bajunya" kata Zee membela Ray yang akan menjadi calon suaminya.
Aku udah berjalan sampai sini untuk bersama kamu Ray. Aku udah mempertaruhkan segalanya untuk menghabiskan sisa hidupku sama kamu, seandainya kamu lihat betapa aku mencintai kamu. Di depan mama ku pun, aku membelamu. Zee merasa perih karena Ray masih belum melihat pengorbanan nya untuk bersama Ray. Keperawanan, harga diri, semuanya ia berikan hanya untuk bersama Ray.
"Mama heran deh sama kamu Zee! kenapa kamu bisa tergila-gila sama cowok berdarah dingin kaya si Ray itu sih? banyak cowok yang lebih baik dari dia dan ngejar-ngejar kamu diluar sana!" Bu Lisa mengeluhkan calon menantu nya yang selalu sibuk dengan pekerjaan nya dan mengabaikan Zee dengan sengaja.
"Ma.. dia adalah satu satunya pria yang aku cintai, aku sudah menyerahkan segalanya untuk nya. Aku mencintai nya ma.." jelas Zee pada ibunya, ia memang benar-benar mencintai Ray sampai menghalalkan segala cara. Malam pertamanya pun sudah diberikannya pada Ray.
"Zee, kamu sangat bodoh! kamu mencintai pria yang sama sekali tidak mencintai kamu? dia masih mencintai mantan istrinya" Bu Lisa tersenyum pahit menatap ke arah anaknya yang begitu mencintai pria macam Ray.
"Memang cinta itu buta dan terkadang juga. isa membuat orang menjadi bodoh. Mungkin itulah aku ma. Tapi, aku tidak apa-apa Ma.. asalkan aku bisa bersama Ray. Dan tentang perasaannya pada gadis kampungan itu, aku yakin Ray tidak mencintainya. Dia hanya kasihan pada nya, Ray hanya mencintaiku," ucap Zee penuh percaya diri, bahwasanya Ray hanya kasihan pada Tisha dan cintanya masih untuknya.
"Baiklah, tapi jika kamu ingin membatalkan pernikahan kamu. Kamu bilang sama mama, mama akan cari pria yang baik untuk bertanggung-jawab sama kamu" Bu Lisa memegang tangan anaknya dengan penuh kasih sayang. Bu Lisa menyayangi anaknya dengan tulus.
"Makasih ma, tapi itu gak akan terjadi" Zee tersenyum dan memeluk ibunya.
Persiapan pernikahan pun sudah hampir sempurna, tinggal 4 hari lagi Ray dan Zee akan menikah.
__ADS_1
Namun, saat hari-hari terakhir menjelang pernikahan mereka. Terjadi sesuatu pada Tisha, sudah dua hari ia tidak pergi bekerja ke kantor. Sudah seminggu itu Tisha merasa tidak enak badan.
Hampir setiap pagi Tisha mual-mual, terkadang kepalanya pusing, tubuhnya terasa sangat berat.
"Yakin, kamu gak akan ke dokter?" tanya Arya yang cemas melihat adiknya terbaring di tempat tidur dengan wajah pucat. Arya baru saja pulang kerja dari pekerjaan barunya sebagai teknisi mesin di sebuah perusahaan kecil.
"Gak usah kak, ini cuma demam dan masuk angin biasa. Nanti juga sembuh" jawab Tisha menenangkan kakaknya itu.
Ya Allah, ini sudah hampir tiga bulan aku belum dapat menstruasi ku. Apa ini karena aku sedang stress?
"Ya udah nih aku udah bawa obat sama makanan buat kamu, kamu suka mie goreng kan?" tanya Arya sambil membuka kantung keresek yang ia bawa. Disana ada sekotak makanan, beberapa tablet obat dan satu botol sirup obat masuk angin plus demam.
Tisha langsung beranjak duduk dari ranjangnya, ia tersenyum melihat kakaknya membawa mie goreng. Tisha membuka mie goreng itu lalu tiba-tiba saja...
"Uwekkk.. uwekkk..." Tisha berlari ke kamar mandi dan mulai mual-mual nya lagi.
Arya panik melihat kondisi adiknya yang sudah seperti itu sejak satu minggu terakhir. Arya berdiri di depan pintu kamar mandi yang ada dikamar Tisha.
"Uweeekkk.. Uwekkk..."
Rasanya jijik sekali melihat mie goreng itu, kenapa ya tubuhku yang jarang sakit ini tiba-tiba saja begini?. Tisha memang jarang sakit, itu sebabnya ia merasa heran dengan kondisi tubuhnya yang tiba-tiba saja drop.
"Tisha, kamu gak papa? udah yuk ke dokter aja!" seru Arya cemas
Bu Fani masuk ke dalam kamar Tisha karena ia mendengar suara mual-mual nya. Bu Fani mengernyitkan dahi, matanya mulai cemas. Tisha keluar dari kamar mandi setelah memuntahkan cairan yang ada di dalam tubuhnya.
Wajah Tisha terlihat pucat pasi dan tubuhnya lemas dan dehidrasi. Arya dan Bu Fani menatapnya dengan khawatir.
"Ibu? kakak?"
"Sudah berapa lama Tisha?" tanya Bu Fani dengan wajah serius dan tegang nya.
"Apa maksud ibu?" tanya Tisha menoleh ke arah Bu Fani yang tampak serius.
"Berapa lama kamu tidak mendapatkan menstruasi mu?" tanya Bu Fani dengan mata yang berkaca-kaca menatap ke arah Tisha.
...---***---...
Mau lanjut? komen dan like nya dong!
Kasih giftnya juga boleh π₯°π₯°π₯°β€οΈπ₯Ί
__ADS_1