
...πππ...
Ray terperanjat bahagia begitu mendengar kabar dari polisi bahwa jejak keberadaan istrinya sudah terlihat. "Baik pak, saya akan segera kesana sekarang!"
Tut..
Ray mengakhiri telponnya dengan cepat, dia tersenyum tipis dan melirik ke arah Sam sedang duduk di kursi pinggir jalan. "Telpon dari siapa?"
"Kita harus segera ke kantor polisi sekarang, katanya pihak kepolisian sudah menemukan jejak keberadaan Tisha. Mungkin saja Fayra bersama Tisha juga," jelas Ray yang hatinya sedikit lega mendengar kabar dari polisi.
"Benarkah? Kalau begitu ayo kita kesana!" Sam tercekat dan tersenyum bahagia. Dia mengkhawatirkan Fayra dan anaknya.
Kedua pria yang sama-sama kehilangan wanita hamil itu segera pergi ke kantor polisi untuk melihat jejak apa yang ditemukan polisi tentang Tisha dan Fayra. Sesampainya disana, polisi langsung mempertontonkan layar cctv di sekitar rumah Sam. Tisha dan Fayra terlihat masuk ke dalam sebuah mobil sedan berwarna hitam.
"Ray, kamu kenal mobil itu?" tanya Sam pada Ray, mungkin Ray mengenali pemilik mobil yang membawa Fayra dan Tisha pergi.
"Seperti nya itu mobil si Derrick. Pak polisi, apa bapak sudah melacak pemilik plat nomor kendaraan ini?" tanya Ray sambil menengok ke arah pria berseragam polisi.
Polisi menjelaskan bahwa mobil sedan hitam itu atas nama Derrick. Ray dan Sam pun bergerak menemui Derrick di kantornya Apparel desain untuk menanyakan keberadaan Fayra dan Tisha.
***
Pagi itu Tisha sudah sibuk membuat sarapan dari bahan makanan yang dibawakan oleh pembantu Derrick ke apartemen itu. Dia terlihat lebih baik setelah memenangkan pikirannya. Apalagi saat dia melihat pemandangan dari apartemen itu.
Kak Ray sedang apa ya? Apa dia sedang mencari ku? Lalu Rasya, apakah dia sarapan dan pergi ke sekolah dengan baik?. Tisha duduk sambil memikirkan suami dan anaknya.
"Kakak! Kakak sudah bangun, ayo sarapan dulu kak. Aku juga sudah siapkan susu ibu hamil untuk kakak!" Tisha menyambut Fayra yang baru saja keluar dari kamarnya.
Fayra melihat banyak makanan yang tersaji di atas meja. "Ini terlalu banyak, Sha." Ucap Fayra dengan mata yang mengarah ke arah sarapan yang cukup mewah itu. Ada bubur, oat, susu, roti, bahkan ada buah-buahan juga.
"Kita kan ada bertempat kak, jadi ini tidak banyak dong. Ayo kak, duduk yukk! Kita makan bersama." Tisha mempersilakan Fayra untuk duduk di kursi.
"Kamu benar Sha, kita berempat," Fayra tersenyum, dia menarik kursi lalu duduk diatas kursi itu.
Kedua ibu hamil itu tampak menikmati suasana kebersamaan mereka, tanpa ada pria disamping mereka. Tisha dan Fayra sarapan bersama dengan hati bahagia dan tenang, berharap kalau Sam maupun Ray tidak menemukan mereka dengan cepat di tempat persembunyian itu.
"Tisha, bukannya seharusnya kamu kembali? Kasihan lho Rasya, Raymond juga pasti sedang menggila. Dan dia pasti akan gila lagi karena kamu menghilang," ucap nya memberitahu Tisha.
__ADS_1
"Aku akan kembali setelah 3 hari, aku ingin mendinginkan kepalaku dulu." Jawab Tisha sambil merebahkan tubuhnya di sofa, sambil membeli perut buncitnya.
"Memangnya kamu ada masalah apa sih sama Raymond sampai kamu keluar dari rumah?" Fayra penasaran dengan masalah Tisha. Karena dia belum sempat menanyakan pada Tisha masalahnya.
"Dia berbohong dan dia dekat dengan wanita lain," jawab Tisha santai dan tidak mau membahasnya lebih banyak lagi karena itu dia menjelaskan nya dengan singkat pada Fayra.
"Masalahnya terdengar sederhana, lalu kenapa kamu sampai kabur?" tanya Fayra yang merasa masalah Tisha terdengar santai.
"Tidak sederhana kak. Kalau dijelaskan bisa panjang dan lebar. Ya intinya dia berbohong padaku demi wanita lain," Tisha tidak mau disalahkan dan dia tetap menyalahkan Ray.
"Apakah dia sudah meminta maaf sama kamu?" Tanya Fayra pada Tisha.
"Sudah, tapi dia tidak terlihat menyesal," jawab Tisha dengan bibir mengerucut. Ia malas membahas suaminya.
"Dia sangat mencintai kamu bagaimana tidak menyesal? Dia pasti sangat kelimpungan dan merasa bersalah, dia sangat mencemaskan mu dan anak kalian,"
"Biarkan saja dia begitu," Tisha menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Beneran nih kamu mau membiarkan nya? Bagaimana kalau kepergian kamu malah menjadi kesempatan untuk wanita itu mendekati Raymond?"
"Kenapa ucapan kakak sama seperti kak Derrick?"
Tisha merenung, apakah dia terlalu galak atau terlalu keras pada Ray? Haruskah dia menyerah secepat ini? Tapi dia juga takut kehilangan Ray karena wanita itu terang-terangan ingin mendekati suaminya.
"Baiklah, jika dia menemukan ku maka aku akan segera kembali. Jika tidak, ya sudah." Tisha berusaha secuek mungkin. "Oh ya lalu bagaimana dengan kakak dan Pak Sam? Kakak tidak akan menikah dengannya kan?"
"Tentu saja tidak akan, lagipula sudah tidak ada cinta diantara kami. Takdir juga tidak mengizinkan kami bersama, aku berencana hidup sendiri saja seumur hidupku bersama anak ini, aku tidak butuh pria!" Kata Fayra tegas.
Tisha terperangah mendengar ucapan Fayra yang serius itu, "Kakak jangan bicara seperti itu, kakak tidak boleh melajang seumur hidup!"
"Untuk apa aku menikah? Siapa yang mau menikahi wanita yang sudah memiliki riwayat cacat noda di dalam hidupnya? Wanita yang sudah hamil di luar nikah. Ah sudahlah Tisha, aku benar-benar ingin hidup damai bersama anakku, itu saja sudah cukup." Perih hati Fayra saat dia mengatakan kata-kata itu pada dirinya sendiri. Dia mengelus perutnya, buah hatinya dengan Sam. Pria yang sudah lama mati di dalam hatinya.
"Kalau ada seseorang yang mencintai kakak dan anak kakak dengan tulus, kakak tidak boleh menolak ya?" tanya Tisha sambil tersenyum menyemangati Fayra.
"Itupun kalau ada, tapi rasanya tidak mungkin," Wanita itu tersenyum getir, dia tidak percaya akan ada lagi cinta di dalam hidupnya yang sudah terlanjur cacat menurut dirinya sendiri.
"Pasti ada kak, kakak akan bahagia. Aku percaya kakak akan mendapatkan seseorang yang mencintai kakak dan anak kakak dengan tulus." Tisha menyemangati wanita yang sudah dia anggap sebagai kakak itu.
__ADS_1
Bagaimana aku menghibur kakak, masalah kakak lebih berat dariku? Jika aku menjadi kak Fayra, aku juga tidak akan sanggup berjalan. Sama seperti aku dan Rasya sendirian saat itu. Jika tidak ada Zayn dan kak Fayra, aku pasti akan sendirian. Kak Fayra masih memiliki ku, aku akan menjaga kak Fayra.
Demi membuat hati senang dan tubuh sehat, Tisha mengajak Fayra untuk jalan-jalan ke sekitar apartemen itu. Fayra setuju dan dia merekomendasikan taman di dekat sana. Mereka berencana akan melakukan senam hamil juga.
Kedua ibu hamil itu menikmati waktu jalan-jalan berdua. Dan terlihat melupakan beban mereka walau hanya untuk sesaat. Sementara kedua pria yang mencari mereka masih berada dalam keresahan bahkan sampai tidak pergi bekerja.
Mereka mengintrogasi Derrick di kantornya, bahkan sampai membawa polisi. "Katakan pada kami, dimana Tisha dan Fayra berada?" tanya Ray tegas.
"Aku benar-benar tidak tahu Ray," jawab Derrick santai dan tenang.
Sudah berapa kali mereka menanyakan ini, tapi tetap saja mereka mengintrogasi ku. Menyebalkan. Derrick mulai kesal karena waktunya terganggu oleh Ray dan Sam.
"Kamu jangan bohong, di rekaman cctv terlihat jelas kalau kamu yang membawa istri Ray dan calon istriku?!" tanya Sam tajam.
Jadi wanita hamil itu adalah calon istrinya. Padahal jelas-jelas wanita itu menolak untuk menikah dengannya. Tapi pria ini benar-benar tak tahu malu. Aku tidak akan membiarkan dia tau keberadaan Fayra. Batin Derrick sambil menajamkan pandangannya terhadap Sam.
"Iya memang benar aku membawa mereka berdua." Jawab Derrick.
Sam dan Ray langsung menatap emosi ke arah Derrick, "Tuh kan! Akhirnya kamu mengaku juga, cepat katakan pada kami di mana keberadaan mereka?" tanya Ray geram.
"Memang benar aku yang membawa mereka, tapi aku hanya mengantar mereka sampai ke stasiun kereta, setelah itu aku tidak tau kemana mereka pergi." Derrick beranjak dari tempat duduknya, dia lelah dengan interogasi dari kedua pria uang kehilangan wanita mereka.
Bruk!
Sam dan Ray duduk berlutut di depan Derrick. Derrick keheranan dengan tingkah kedua CEO dari perusahaan besar itu.
"Kami mohon beritahu kami dimana mereka! Apa kamu tidak kasihan pada Rasya, anakku? Dia kehilangan ibunya! Kumohon Derrick, jujurlah!" Kata Ray tegas.
"Benar pak Derrick, beritahu kami dimana mereka berdua!" Sam mengatupkan kedua tangannya di depan Derrick dan masih dalam keadaan duduk berlutut.
Apa mereka jadi bodoh karena wanita? Aku bisa gila? Bagaimana aku bisa mengerjakan pekerjaan ku kalau begini? Aku tidak bisa tenang!
Derrick mengernyitkan dahi melihat kedua pria itu berlutut di depannya.
...---***---...
Hai Readers! Maafkan Ilham yang sedang kabur, karena kemarin bab nya kehapus π€§π semoga bisa up lagi hari ini dan menggantikan yang kemarin π€§π€§ maaf yang sudah nunggu up dua kemarin, maaf juga kalau feel-nya kurang dapat untuk episode ini.
__ADS_1
Makasih dukungannya πππ€