Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 72. Rasya ngambek (1)


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Tisha tidak sekaget itu saat Rasya meminta untuk pergi ke Jakarta, karena memang dari dulu Rasya ingin pergi ke Jakarta dan merasakan suasana tanah air nya sendiri. Rasya ingin tau seperti apa tempat tinggal mama nya dan juga seperti apa suasana disana.


"Ma... mama kok diam sih? kita ke Jakarta yuk ma??" ucap Rasya dengan bibir dan wajah polosnya, seraya memeluk mama nya untuk merayu.


"Sayang.., masalah ke Jakarta itu bukan hal yang bisa kita putuskan begitu saja. Banyak hal yang harus kita bereskan" Tisha memeluk putranya dan mengelus kepalanya dengan lembut.


"Bukankah mama juga mau kesana? tempat tinggal mama sebelumnya ada disana kan? atau jangan-jangan mama gak mau ke Jakarta karena disana gak ada sekolah?" tanya nya dengan mata polos dan murni.


Aku harus bisa membujuk mama untuk pergi ke Jakarta.


"Haa...?? apa yang kamu bicarakan? mana mungkin disana tidak ada sekolah?" Tisha tertawa kecil mendengar pertanyaan anaknya itu


"Lalu kenapa mama tidak mau pergi kesana?" tanya Rasya dengan bibir imutnya yang mengerucut, mata nya memancarkan rasa penasaran.


Kali ini Tisha terperanjat mendengar pertanyaan putranya, pertanyaan sederhana namun jawabannya sulit. Tisha terdiam dan berfikir, apa alasan yang membuatnya tidak mau kembali ke Jakarta?


Dia mulai memikirkan nya lagi dalam-dalam, mengapa dia menolak untuk kembali ke tanah air nya sendiri? ke kampung halamannya? mengapa ia lebih betah tinggal di negri orang? Tidak, bukan itu alasan kenapa dia tidak mau kembali ke Jakarta. Lalu apa?


Wanita itu menghela napas, ia duduk di samping Rasya. Matanya menatap ke arah Rasya dengan bingung, jawaban apa yang ia akan berikan pada Rasya.


Berapa kali aku memikirkan nya. Mengapa aku tidak bisa kembali ke negeriku sendiri? bukan karena aku betah disini. Tapi mungkin karena disana lah tercipta banyak kenangan pahit dan manis bersama kak Ray. Kenangan tentang ibu dan kakak, kota itu menjadi saksi cinta sepihak ku yang menyakitkan. Belum lagi disana ada Zefanya, apa aku bisa kembali dengan aman bersama Rasya ke sana? sejujurnya, aku memang merindukan nya.


"Mama.. mama melamun lagi? mama mikirin apa sih?" Rasya kesal dan gemas karena mama nya melamun terus di depannya


"Maafkan Mama sayang, mama gak bermaksud untuk melamun di depan kamu. Aduh.. mama salah" ucap Tisha sambil memegang kedua kupingnya, seraya memohon maaf pada Rasya


"Hem! kalau mau di maafin, mama harus jawab pertanyaan ku dulu.. kenapa mama gak mau kembali ke Jakarta?" tanya Rasya dengan mata tajamnya menatap sang mama

__ADS_1


"Sayang.. mama itu..


CEKRET


"Assalamualaikum"


Tisha beranjak dari kursinya dan melihat siapa yang membuka pintu rumah itu, "Waalaikum salam, kak Fayra sudah pulang?" sambut nya pada Fayra yang baru saja pulang bekerja.


Fayra sendiri bekerja di sebuah perusahaan besar yang berkecimpung di bidang makanan, sebagai manager umum pemasaran. Setiap pulang bekerja, Fayra selalu membawa makanan untuk Tisha dan Rasya.


Dan hari ini pun dia membawa keresek hitam besar yang tidak tau apa isinya. Rasya segera menghampiri tante nya dan mencium tangan seraya memberi salam.


Loh? kenapa anak ini cemberut? Fayra keheranan melihat Rasya yang terlihat bete. Padahal biasanya Rasya akan menyambut Fayra pulang kalau tantenya itu membawa makanan.


"Rasya kamu kenapa sayang? kamu berantem sama mama kamu??" Fayra menebak-nebak apa alasan Rasya menekuk wajahnya, apa itu karena mama nya? Fayra tau, terkadang Tisha dan Rasya memang tidak sepaham.


"Tau ah! pokoknya aku mau ketemu sama papa malam ini!" Rasya ngambek, ia menunjukan gayanya yang seperti Ray. Menyilangkan tangan di dada, dengan wajah dinginnya.


Melihatnya yang seperti ini dia persis seperti kak Ray...


"Sayang.."ucap Tisha lembut, membujuk anaknya agar tidak ngambek.


"Hemph!" Rasya memalingkan wajahnya, tidak bicara apapun, lalu melangkah pergi ke kamarnya dan menutup pintu.


BRAK


Anak ini semakin tidak bisa diatur semenjak ada kak Ray disini. Ya ampun..bisa gila aku. gerutu Tisha di dalam hatinya


"Tisha, ada apa sih? kenapa Rasya marah-marah gitu?" tanya Fayra sambil merebahkan tubuh nya di sofa.

__ADS_1


Tisha memegang keningnya dan tampak kebingungan, "Dia ngajak aku kembali ke Jakarta, kak"


"Dia ngajak lagi kesana? bukannya itu udah lama dibahas ya, dan dia juga kayanya udah lupa. Tapi dia kok bisa inget lagi?" Fayra duduk sambil menyeruput minuman di dalam botol melalui sedotan.


"Ini pasti karena kak Ray, dia pasti menyinggung soal Jakarta. Atau malah.. jangan-jangan dia mengajak Rasya ke Jakarta, apa dia pikir dia bisa membawaku kesana dengan membujuk Rasya? sungguh.. orang yang tidak tau malu!" Tisha mendecak kesal, ia berfikir seperti itu tentang Ray. Ia sudah menduganya Ray akan menggunakan segala cara untuk membuatnya kembali dan kali ini ia menggunakan Rasya.


Ternyata dia masih belum berubah, malah sikapnya bertambah tidak tahu malu.


"Melihat karakter nya yang seperti itu, aku tidak bisa mengatakan tidak. Tisha, kamu tenang saja.. aku akan membujuk Rasya untukmu" Fayra tersenyum dan menepuk bahu Tisha seraya menenangkan ibu dari satu anak itu.


"Terimakasih kak Fayra, aku mau shalat isya dulu. Aku belum shalat isya" ucap nya pada Fayra sambil tersenyum


"Oke, aku ke kamar Rasya dulu" Fayra tersenyum.


Gimana ya kalau Tisha kembali bersama Ray? Zayn akan bagaimana? aku juga tidak tahu bagaimana perasaan Tisha pada Zayn, tapi aku tahu keberadaan Rasya akan membuat mereka semakin dekat cepat atau lambat.. Ya Allah aku mikir apa sih?. Fayra mulai memikirkan nasib Zayn jika kemungkinan terburuk padanya terjadi, yaitu kembali nya Ray dan Tisha.


Fayra tau bagaimana perasaan Zayn pada Tisha, betapa cinta nya ia pada Tisha. Menjaga dan melindungi Tisha juga anaknya selama bertahun-tahun, lalu Ray datang begitu saja dan merebut semuanya? Fayra takut sekali Zayn akan terluka.


****


Tisha berjalan ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, sementara Fayra masuk ke kamar Rasya bahkan tanpa mengetuk pintu.


"Tante kebiasaan deh, masuk pintu tanpa mengetuk dulu. Aku ini kan cowok, Tante cewek.. harusnya Tante berhati-hati" Rasya bicara tanpa menoleh ke arah Fayra


Sekarang aku tau dia mirip siapa. Dia pasti turunan papa nya, Tisha kan tidak seperti ini. Fayra tersenyum, menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Rasya yang sama sekali tidak mirip dengan mama nya.


"Kamu kan bukan cowok, tapi anak kecil" ucapnya sambil menghampiri Rasya lalu mencubit pipi chabby nya.


"Auhhh..!! sakit Tante.." rintih Rasya dengan wajah cemberut nya.

__ADS_1


"Kenapa sih sayangnya Tante ngambek terus? cerita deh sama Tante.." Fayra duduk di samping Rasya, bersiap mendengarkan curahan hati Rasya.


...---****---...


__ADS_2