Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 54. Tidak mungkin


__ADS_3

πŸ€πŸ€πŸ€


Tidak mungkin..ini pasti tidak benar! Ray terpana, ia kehabisan kata-kata. Tubuhnya lesu setelah menerima telpon itu


Untuk pertama kalinya Gerry melihat Presdir Argantara grup yang selalu berdiri tegap penuh percaya diri, kini mulai goyah, tubuh nya gemetar hebat setelah menerima telpon dari salah satu anak buahnya.


Ray menjatuhkan ponsel dan amplop coklat berisi surat kehamilan, foto USG bayinya. Kini semua itu berserakan di lantai. Gerry berinsiatif mengambil surat dan foto USG itu, ia memasukan nya kembali ke dalam amplop berwarna coklat.


"Ada pak? kenapa bapak..."


"Kunci mobil! Gerry!" teriak Ray pada sekretarisnya itu. Wajah bahagia Ray tadi menghilang dalam sekejap berubah menjadi wajah penuh kepanikan.


Ada apa dengan pak presdir... Gerry bingung, ia memberikan kunci mobil pada Ray. Ray mengambil kunci mobil itu dengan cepat.


"Pak sebenarnya ada ap.."


Sebelum menyelesaikan pertanyaan nya, Ray sudah pergi lebih dulu dan masuk ke dalam mobilnya dengan terburu-buru. Meninggalkan Gerry di depan rumah sakit.


Ray menyetir dengan perasaan campur aduk, hati nya sangat berdebar-debar. Wajahnya memerah, panik, ia mencoba berfikiran positif. Ray komat-kamit membaca doa, bergumam sendiri berharap istri dan anak nya yang belum lahir baik-baik saja.


Pria itu tidak sadar kalau dirinya menyetir dengan kecepatan yang tinggi seperti orang yang hilang akal.


Sesampainya ditempat yang dituduhkan oleh Jack, salah satu anak buahnya. Tanpa pikir panjang, Ray turun dari mobil tanpa memarkirkan mobilnya dengan benar, dia bahkan menendang pintu mobilnya dengan terburu-buru.


Kepanikan Ray bertambah saat melihat petugas ambulan dan polisi berada di bawah jembatan, belum lagi asap hitam di bawah sana, tempat kejadian perkara kecelakaan itu. Disana juga ada orang-orang Ray, mereka menundukkan kepala di depan Ray.


"Dimana istri ku?!!" tanya Ray kepada anak buahnya yang ada disana.


Orang-orang bertubuh kekar dan berotot itu terdiam mendengar pertanyaan Ray. Mereka tau dari nada bicara nya saja, sudah jelas kalau Ray panik dan marah. Tidak ada satu pun yang berani buka mulut. Wajah Ray sudah membungkam mereka.


Matilah sudah! jika bicara mati, jika tak bicara juga mati. Ini sama saja.. batin Jack ketakutan


Hanya Jack, bos mereka yang berani bicara pada Ray. "Pak, jenazah mantan istri bapak sedang..."


BUKK


Satu pukulan mendarat di pipi Jack, hingga pria itu tersungkur ke tanah. Semua anak buahnya disana terkejut melihat bos mereka dipukul oleh Ray.


"Jenazah!! apa kamu bilang?! bilang sekali lagi!!" teriak Ray emosi


"P-pak, maafkan kami tapi istri bapak sudah meninggal" ucap Jack sambil memegang sudut bibirnya yang terluka


"Bodoh! berani nya kamu bicara begitu? kamu mau mati??!!"


Tidak! Tisha dan anak kami pasti baik-baik saja.


Ray memukul dan menendang semua anak buahnya yang tidak becus menjaga 3 orang saja. Ditengah kekesalan dan rasa tidak percaya nya pada berita kematian mantan istri nya, beberapa orang dari ambulans membawa jenazah di atas tandu.


Ray melihat di tangan jenazah itu ada sebuah gelang yang tidak asing. Mata Ray membulat melihat gelang berwarna pink itu, gelang yang sedikit terbakar.


Gelang itu, miliknya.. tidak ini pasti orang lain. Ini bukan dia!. Ray menyanggah hatinya sendiri saat melihat gelang itu. Ray melihat jenazah itu di bawa pergi, matanya berkaca-kaca dan memerah.


"Maaf pak, apa bapak mengenali pemilik tas ini? karena disini ada buku nikah bapak dan korban" tanya seorang polisi sambil menghampiri Ray. Polisi menyerahkan tas selempang berwarna biru milik Tisha dan benda benda milik Tisha pada Ray.


Buku nikah?

__ADS_1


Ray mengambil tas itu dengan tangan gemetar, hatinya berdebar hebat, jantungnya berdebar sangat kencang. Hari itu menjadi hari yang sangat panjang untuk Ray. Hatinya terombang-ambing tidak karuan.


Presdir Argantara grup itu membuka tas itu, ia melihat barang-barang Tisha ada di dalam sana. Dari mulai ponsel, surat cerai, buku nikah, bahkan ada foto pernikahan nya dan Ray.


Kehabisan kata-kata, itulah yang di rasakan Ray saat ini. Ray tidak percaya kalau jenazah yang dibawa ke dalam ambulan itu adalah Tisha.


"Bapak yakin kalau jenazah itu adalah perempuan yang ada di foto ini?" tanya Ray sambil menunjukkan foto Tisha di dalam dompetnya pada polisi.


"Benar pak, sudah dikonfirmasi oleh saksi mata bahwa jenazah itu adalah Bu Latisha Anindita yang sedang dalam keadaan hamil" jelas polisi itu yakin


"Ya Allah..." ucap Ray yang berusaha menopang tubuhnya sendiri. "Ini gak mungkin, pak polisi anda pasti salah!!" teriak Ray marah-marah


Gerry yang baru saja datang, langsung menghampiri Ray dan menenangkan emosinya. Ray mengikuti jenazah yang diyakini polisi' sebagai Tisha ke rumah sakit untuk di otopsi. Ray ingin benar-benar memastikan kalau jenazah itu bukanlah Tisha.


Selain jenazah yang di yakini sebagai Tisha, petugas ambulan juga membawa tiga jenazah lain nya. Yaitu jenazah Bu Fani, Arya dan seorang supir taksi.


Beberapa menit kemudian, Ray dan Gerry sampai di rumah sakit. Ray pergi ke kamar mayat, ia melihat mayat yang ditangannya ada gelang Tisha. Mayat itu hangus terbakar, rambutnya panjang dan wajahnya tak bisa dikenali lagi.


Dia tidak mungkin Tisha! tapi kedua jenazah itu adalah Bu Fani dan Arya. Aku tidak percaya kamu meninggalkan ku Latisha! Ray menolak untuk percaya terkait kematian mantan istrinya.


Ray tidak percaya begitu saja bahwa mayat itu adalah Tisha. Ray meminta kejelasan kejadian kecelakaan yang menimpa Tisha, ibu dan kakaknya.


"Gerry, apa yang kamu temukan? bagaimana kronologis kejadian ini dan apa penyebabnya?" tanya Ray yang duduk di kursinya, berusaha menenangkan pikiran.


"Saya mendapatkan cerita dari saksi mata dan hasil penyelidikan polisi pak. Kecelakaan ini mungkin adalah kecelakaan yang disengaja, ada satu saksi mata disana mengatakan jika ada truk besar yang menabrak dua mobil. Yaitu mobil yang dinaiki Bu Latisha dan satunya lagi mobil taksi. Kedua mobil itu jatuh ke dalam bawah jembatan lalu mereka, semua korban termasuk Bu Latisha tewas ditempat. Dan karena tidak ada CCTV di sekitar sana, maka hanya ada kesaksian dari orang itu saja. Lalu, menurut penyelidikan polisi tidak ada kejanggalan dari kedua mobil yang terbakar itu" Gerry menjelaskan apa yang ia ketahui dari polisi dan saksi mata dari kejadian itu


"Lalu, dimana supir truk itu?!!" Ray agak membentak.


"Saat ini supir truk itu masih dalam pencarian polisi pak" jawab Gerry


"Maafkan saya pak, tapi dokter sudah mengkonfirmasi bahwa jenazah itu adalah Bu Tisha.." jawab Gerry pelan-pelan


Kasihan pak Presdir, dia pasti sangat syok.


BRAK


Kaki Ray menendang kursi disana dengan penuh emosi. Sehingga kursi yang tidak bersalah itu terguling berantakan di lantai.


"Gerry! Latisha dan anakku baik-baik saja! mereka pasti berada di suatu tempat yang aman! kamu cepatlah suruh orang orang mencarinya! kalau perlu kerahkan semua polisi yang ada di kota ini, bahkan di negara ini! akan aku bayar berapa pun yang mereka minta!! Asalkan Latisha dan anakku kembali!!" teriak Ray dengan berderai air mata penuh emosi.


"Pak saya mohon tenanglah!!" Gerry ingin menghibur Ray yang sedih karena kehilangan wanita tercinta dan anak nya yang belum lahir ke dunia.


"Gerry aku tau, dia pasti bersembunyi di suatu tempat! dia kan sangat ingin melarikan diri dariku. Dia pasti bersembunyi, dia dan anakku pasti baik-baik saja" Ray tersenyum menyeringai, tangan Ray menyeka air matanya sendiri.


Ya, dia pasti sembunyi. Dia pasti masih mengira aku orang jahat yang sudah mengkhianati nya. batin Ray sambil tersenyum pahit.


"Pak.. anda harus tabah.."


"Aku, dia dan anak kami akan hidup bahagia. Setelah ini kami akan menikah lagi, Gerry.. jadi dia pasti baik-baik saja, setelah tau Zee berbohong dia pasti akan kembali padaku. Gerry, lebih baik atur saja konferensi pers! aku akan mengumumkan pembatalan pernikahan ku dengan Zee, dan mengatakan padanya kalau Zee tidak hamil. Lalu aku akan memintanya kembali hidup bersamaku dan anak kami...cepat lakukan itu Gerry! dia pasti akan langsung keluar dari persembunyian nya" Ray memegang erat tangan Gerry, matanya menatap kosong namun tajam penuh kesedihan.


Ya Allah.. apa pak Ray akan baik-baik saja? dia seperti orang yang sudah tidak waras? kalau sudah begini, aku harus menghubungi pak Faisal.


Gerry tidak menjawab ocehan Ray. Hanya tatapan prihatin yang tertuju pada Presdir Argantara grup yang dikenal sebagai CEO kejam itu. Gerry kasihan padanya, pasti sulit untuk Ray menerima kenyataan ini dalam satu hari.


Baru saja ia bahagia mengetahui kehamilan Tisha dan berharap segera menjadi ayah. Namun, kebahagiaan nya itu harus terenggut dalam satu hari. Hari yang berat untuknya diantara suka dan duka.

__ADS_1


Hancur hati Ray menerima kenyataan pahit ini, sehingga ia tak bisa berfikir logis menerima fakta kematian Tisha dan anaknya. Setelah mengoceh oceh pada Gerry, Ray masuk ke dalam kamar jenazah. Baju Ray tampak berantakan, begitu pula dengan wajah dan hatinya.


Apa ini benar kamu? Tidak mungkin! tidak mungkin ini kamu! Ray memandangi jenazah hangus itu dengan tatapan tidak percaya.


Saat Ray berada di dalam kamar mayat, Daniah dan pak Faisal menghampiri Ray yang sedang menangis di depan jenazah itu. Gerry juga ada dibelakang nya setia menemani.


"Ray! apa yang terjadi? Gerry bilang kalau Tisha dan keluarga nya meninggal dalam kecelakaan??" tanya pak Faisal yang sekarang sudah bisa berdiri tegak tanpa kursi roda, ditopang dengan tongkatnya. Pak Faisal terlihat panik melihat wajah Ray, terlebih lagi saat ia mendengar dari Gerry berita duka yang menyayat hati nya.


"Kakek ngomong apa sih? Gerry itu bohong kek, Tisha gak papa kok. Dia cuma lagi sembunyi, dia selalu seperti itu kalau sedang marah. Oh ya kek, apa kakek tau kalau Tisha sedang hamil anak kami?" Ray tersenyum paksa, lalu ia menunjukkan foto USG Tisha pada pak Faisal.


Pak Faisal termenung bingung, ia kehilangan kata-kata untuk menghibur cucunya. Ray sudah seperti orang yang kehilangan akan sehatnya. Disini lain Daniah tersenyum tipis melihat keadaan Ray yang tidak stabil.


Apa yang terjadi pada Ray? apa dia terlalu sedih makanya jadi begini? Astagfirullah.. Ray.. Pak Faisal menatap Ray dengan terpana dan cemas.


Apa akhirnya dia sudah kehilangan akal sehat nya? ya baguslah. Daniah puas melihat keponakan nya seperti itu


"Kakek kenapa diam saja? kakek aku punya cicit pertama dari ku dan Tisha." ucap Ray dengan bibir tersenyum dan mata yang berurai oleh air.


"Ray.. kakek mengerti dan paham kalau kamu masih belum bisa menerima kenyataan yang mendadak ini, tapi kamu harus kuat Ray" Pak Faisal menangis di depan jenazah wanita yang dikenali sebagai Tisha.


"Kakek tenang saja, Gerry dan orang-orang ku akan mencari Tisha" Ray tersenyum pahit.


Pak Faisal memeluk Ray seraya menenangkan nya. Ray masih saja yakin kalau Tisha masih hidup dan sedang sembunyi darinya.


Bahkan saat Bu Fani, Arya dan mayat yang katanya Tisha akan di makamkan. Sikap Ray masih sama, ia yakin pada dirinya sendiri bahwa Tisha dan anak mereka masih hidup.


"Ibu mertua dan kakak ipar ku, semoga kalian tenang di alam sana. Kalian jangan khawatir, aku akan menjaga Tisha dan anak kami dengan baik" ucap Ray pada nisan Bu Fani dan Arya


Kasihan pak presdir, dia menerima kematian Bu Fani dan pak Arya tapi dia tetap kukuh kalau Bu Tisha masih hidup. Sampai kapan dia akan seperti ini. Gerry khawatir pada kondisi mental dan kesehatan Ray yang tidak stabil.


Tadinya aku ingin melihatmu menderita, tapi sayang sekali kamu mati lebih dulu. Kalau kamu masih hidup kita bisa berduel untuk berada disisi Ray. Ah.. atau mungkin kamu bukanlah pemeran utamanya. Zee menatap nisan bertuliskan Latisha Anindita dengan senyuman penuh kemenangan


Zayn dan Farhan juga datang ke pemakaman Tisha dan keluarga nya. Zayn berdoa agar Bu Fani, Arya dan mayat yang di akui sebagai Tisha itu berada di tempat paling indah disisi Allah SWT.


Zayn pura-pura marah pada Ray, ia menangis dan mengutuk Ray yang sudah membuat hidup Tisha menderita. Namun Zayn tercengang dengan sikap Ray.


"Kamu bilang apa sih? siapa yang tenang di alam sana? Tisha dan anakku baik-baik saja, Tisha hanya sedang marah padaku lalu bersembunyi. Dalam beberapa hari lagi Tisha pasti akan kembali padaku" ucap Ray yakin.. Bibirnya mungkin tersenyum, namun matanya menangis memperlihatkan luka yang sebenarnya


Apa dia sudah gila? mengapa dia seperti ini?


"Kamu sudah gila ya?! Tisha, bayinya bahkan ibu dan kakaknya sudah meninggal! dan kamu sedang menyaksikan pemakaman nya!!" ujar Zayn pada Ray


"Tidak! ini tidak mungkin!! Tisha dan anakku, mereka baik-baik saja!!" Ray memegang kepalanya, wajahnya terlihat frustasi.


"Pak, tenanglah.." Gerry dan beberapa anak buah Ray, memegang tubuh Ray lalu menjauhkan Ray dari pemakaman itu untuk menenangkan Ray.


Ray meraung-raung memanggil manggil nama Tisha dan bayinya.


Zayn dan Farhan menatap Ray tak percaya, bahwa Ray seperti orang yang tidak waras. Dalam hatinya Zayn memohon maaf pada Tisha dan Ray.


"Zayn, kasihan lagi pak Ray..dia begitu mencintai istrinya sampai ke itu" Farhan menatap Ray dengan iba


Maafkan aku pak Raymond, Tisha.. aku hanya menjalankan pesan terakhir ibu dan kakakmu.


...---****---...

__ADS_1


__ADS_2