
...πππ...
~~
"Heh! Kamu mau mati ya!" ancam pria itu pada seseorang yang berada di telpon.
"Papa, papa kok galak banget sih? Papa mau bunuh aku?!" Tanya nya dengan suara tegas.
Ray langsung menjauhkan ponselnya, dia yakin bahwa suara yang di dengarnya itu adalah suara anaknya, bukan sekretarisnya.
"Ra-Rasya?"
Tisha menoleh ke arah Ray begitu dia mendengar nama putranya disebut. Dia beranjak dari tempat duduknya.
"Papa, apa aku ganggu mama sama papa ya?" tanya Rasya sedih.
"Oh enggak kok sayang, enggak," Ray langsung merubah nada bicaranya menjadi lebih lembut dan penuh kasih sayang.
"Pa! Apa papa udah bisa bawa adik bayi nya?" tanya Rasya langsung pada inti pembicaraan.
"Sayang, buat adik bayi kan perlu proses. Gak langsung jadi begitu saja," jelas Ray kepada sang anak.
Ucapan Ray membuat Tisha terkejut, adik bayi? Rasya benar-benar menagih janji Ray untuk membuatkan adik bayi untuknya? Kemudian Tisha tersenyum, dia menatap Ray dan membiarkan nya untuk menangani Rasya.
"Yah, gimana dong? Aku pengen cepat main sama adik bayi pa!" protes Rasya kepada papa nya.
"Sayang, kamu doakan saja kalau mama dan papa bisa cepat dapat adik bayinya ya," ucap Ray lembut.
"Ya udah, aku akan berdoa. Tapi jangan lama-lama ya pa, aku tunggu!" Rasya memperingatkan papa nya.
"Iya sayang, kamu baik-baik disana ya. Besok mama dan papa akan pulang. Malam ini papa dan mama akan berusaha lagi!" Ray melirik manja pada wanita yang sudah menjadi istrinya, seakan mengisyaratkan sesuatu.
GLEK
Tisha menelan ludah, mendengarkan ucapan Ray membuat otaknya menjadi traveling kemana-mana. Terutama pada bagian malam ini papa dan mama akan berusaha lagi? Apa itu berarti penyiksaan baru untuknya?
Tak lama setalah itu, panggilan pun terputus. Perkataan Rasya membuat Ray semakin menggebu-gebu, dia jadi mempunyai alasan untuk melakukan nya lebih giat lagi.
"Sayang, kamu dengar kan apa kata Rasya? Dia sudah tak sabar ingin minta adik tuh..kebetulan kondisiku juga sedang bagus. Gimana kalau kita lakukan lagi yang semalam?" Ray memeluk tubuh istrinya, tangannya bergerak ke paha dan mulai masuk ke dalam rok pendek milik istrinya.
__ADS_1
"Ahh.. jangan! Aku masih lelah, apa kamu masih menyiksa ku?!" Tisha menghentikan tangan Ray yang mulai bergerilya meraba-raba bagian sensitif miliknya.
"Kali ini aku akan lembut..masa kamu mau menolak permintaan suamimu?" bisiknya yang kemudian menyusuri leher Tisha dengan bibirnya.
Belum hilang bekas semalam, pria ini sudah mau menambahkan tanda yang lain!
Wanita itu tidak tinggal diam! Dia segera menyingkirkan tubuhnya menjauh dari Ray. Segeralah dia mengambil tas selempang nya, kemudian memakai sepatu flat.
"Sa-sayang.." Ray menatap kecewa kepada istrinya.
"Kak Ray, kita lakukan nanti malam! Sekarang aku mau jalan-jalan dulu. Aku bosan berada disini seharian," Tisha merengek pada suaminya ingin pergi jalan-jalan, bahkan dengan manja Tisha memeluk pria itu.
"Ah.. baiklah, kali ini aku akan melepaskan mu. Nanti malam kita mulai lagi melaksanakan perintah anak sulung kita," bibir Ray tersenyum, kemudian dia mencium bibir istrinya dengan lembut.
Terpancar kebahagiaan di wajah pengantin baru itu. Ketika Ray dan Tisha tengah menghabiskan, menikmati waktu berdua saja. Media sedang dihebohkan dengan beredarnya foto Tisha dan Ray dengan balutan baju putih. Beserta buku nikah yang menunjukkan bahwa mereka sudah menikah.
Hal itu membantu rumor tentang Zayn dan Tisha mulai mereda. King melihat berita tersebut.
"Ternyata wanita ini bukan ancaman untuk Zayn, karena dia sudah menikah. Bahkan bukan dengan pria biasa...apa aku salah telah menyentuh yang bukan seharusnya?" gumam King kebingungan.
King melihat foto-foto Tisha dan Ray, juga anak mereka di dalam sana. King segera memerintahkan orang-orang nya untuk menarik berita tentang Tisha dan Zayn karena dia tidak bisa menyentuh Tisha sembarangan. Apalagi keluarga Argantara yang kelihatan diam diam saja, bukan keluarga yang bisa disinggung dengan mudah. Apalagi Raymond Argantara, jika orang-orang dalam bisnis mendengar namanya saja, sudah membuat mereka bergidik ngeri.
****
"Kamu serius mau jalan di sawah yang kotor itu?" Ray tidak percaya kalau istrinya melepas kedua sepatu nya untuk berjalan di sawah.
"Tentu saja! Ayo, kamu juga lepas sepatu mu! Kita jalan-jalan bersama!" Tisha tersenyum lebar setelah menyimpan sepatu nya di pinggir sawah.
"Ehm, aku.." Pria itu terlihat ragu, melihat sawah yang kotor baginya. Dia yang selalu menginjakkan kakinya ditempat mewah, tidak pernah sekalipun dia menginjakkan kaki nya di tempat kotor.
"Kalau kamu tidak mau, ya sudah. Aku mah menangkap belut sendiri saja!" Tisha semangat ingin jalan-jalan ke sawah dan menangkap belut.
"Menangkap belut? Apa kamu pernah melakukan nya?" Ray terperangah.
"Iya, waktu kecil aku dan ayah ku sering pergi ke sawah menangkap belut,"
"Kamu suka belut?" tanya Ray dengan menunjukkan wajah jijiknya.
"Aku suka sekali, dan tiba-tiba saja hari ini aku ingin makan belut!" Tisha semangat, kakinya mulai melangkah masuk ke dalam sawah.
__ADS_1
Kemudian Ray melepas sepatu mahalnya, dia menyingsingkan lengan bajunya. Dia juga ikut masuk ke dalam sana.
"Loh? Kamu juga...,"
"Istri selalu bersama suami dimana pun dia berada, begitu pula sebaiknya. Nah, kalau kamu ingin belut...aku akan menangkapnya untukmu," Ray tersenyum lebar.
"Tapi kan kamu tidak pernah melakukan nya," Tisha mengernyitkan dahinya.
"Walaupun tidak pernah, tapi aku pasti bisa! Apa kamu lupa siapa suamimu ini?"
"Aku enggak lupa, siapa sih yang tidak kenal Raymond Argantara si kutub es dari Utara!" Wanita itu tertawa kecil bercanda dengan suaminya.
"A-Apa??!"
"Bagaimana kalau kita berlomba? Siapa yang menangkap belut paling banyak, yang kalah akan menuruti perintah yang menang!" tantangan dari Tisha untuk Ray.
"Oh ok, baiklah! Kamu yang membuat taruhan ini ya, jangan menyesal!" Ray tersenyum licik.
"Baik!"
Tisha dan Ray berusaha menangkap belut yang licin itu. Mereka kesulitan menangkap nya, apalagi Ray yang belum pernah melakukan nya. Badan mereka kotor semua karena lumpur, akhirnya mereka pun memutuskan untuk pulang ke hotel setelah berhasil menangkap beberapa belut untuk di goreng. Semua orang di hotel terkejut melihat Ray dan Tisha badannya penuh lumpur.
"Haahh.. haah..kini aku tau kenapa harga belut lumayan mahal? Menangkap nya saja sudah susah!"
"Inilah kenapa kita harus menghargai pekerja yang berada di bawah. Mereka lah yang membantu atasan untuk bisa berjaya, tanpa mereka...sebuah perusahaan tidak akan maju," Tisha mengusap kotoran di wajahnya di wastafel kamar mandi. "Wah! Badanku kotor sampai masuk ke dalam dalamnya!" Tisha melihat pada bagian depan tubuhnya yang kotor.
Ray tersenyum, kemudian tangan nakalnya memegang dua buah gunung milik Tisha, "Ngomong-ngomong, aku yang menang kan?"
"Si-siapa yang... ahhh...geli," Tisha menggelinjang kegelian begitu titik sensitif di dada itu di pelintir okeh Ray.
"Jangan membantah! Kamu tau aku menang, jadi boleh kan aku meminta keinginan ku?" Ray berbisik ditelinga Tisha.
"Kamu jangan macam-macam...uhhh.. arghhh..,"
"Kamu yang menantang ku, jadi kamu harus tepati janji!" kata pria itu tegas.
"Ba-baiklah, tapi lepaskan dulu! Tanganmu kenapa masuk kesitu?"
"Karena aku ingin memandikan mu," Ray menggigit telinga Tisha dengan gemas, tangannya merogoh segitiga pengaman, membuat wanita itu kehilangan tenaga.
__ADS_1
"Man-mandi?!!" Pekik nya terkejut.
...---***---...