
...πππ...
Tisha, Ray, dan Rasya menaiki mobil tanpa ada Gerry disana. Ray yang menyetir mobilnya sendiri. Dia ingin mengantar anaknya ke sekolah untuk pertama kalinya.
Rasya sendiri sangat bahagia karena dia tidak hanya diantar oleh mama nya saja, tapi diantar oleh papa nya juga. Tidak seperti saat tinggal di New York, dia hanya bersama Tisha saja. Kebahagiaan Rasya bertambah saat Ray memperlakukan nya dengan manja, berbeda dengan ibunya yang kadang suka marah marah dan bersikap galak pada nya.
"Tisha kamu tenang saja, hari ini bi Ani akan datang ke rumah dan menjaga Rasya selagi kamu pergi bekerja" kata Ray seraya menenangkan Tisha untuk pergi bekerja dengan tenang karena ada Bi Ani yang sudah diperintahkan nya untuk menjaga Rasya.
"Terimakasih atas bantuan nya, aku memang membutuhkan nya" Tisha tersenyum pada mantan suaminya itu.
"Kalau kamu sudah menikah denganku nanti, aku tidak mau kamu pergi bekerja" ucap Ray
"Apa?" Tisha menoleh ke arah Ray setelah mendengar ucapan Ray yang terdengar ambigu itu.
"Kamu jadi ibu rumah tangga saja di rumah dan mengurus anak anak kita" kata Ray meneruskan kata-katanya, membayangkan masa depan dengan Tisha.
"Hah? Jadi ibu rumah tangga? Mengurus anak-anak kita?! Kamu ini lagi ngehalu apa?!" Tisha terperangah, matanya membulat kaget dengan ucapan Ray. Terlebih lagi ada Rasya di dalam mobil yang mendengar percakapan ini dan ayahnya.
"Aku lagi membayangkan masa depan kita" Ray menoleh sedikit ke arah Tisha dan tersenyum
"Masa depan apa?"tanya Tisha penasaran
"Kita dengan empat anak, lalu kamu mengurus anak kita di rumah" Ray tersenyum dengan santai, dia bersikap tidak tahu malu seperti biasanya.
"Apa?! Empat anak?" Tisha tercengang, tak habis pikir dengan kata-kata Ray.
"Kenapa? Kamu gak mau empat anak? Rumah terlalu sepi, jadi aku ingin punya banyak anak" Ray mengutarakan apa yang ada di pikiran nya.
"Kamu sudah memikirkan soal anak! Kita juga belum menikah, kenapa sudah kepikiran kesana?" tanya Tisha keheranan
"Makanya, kamu cepat dong terima aku dan jangan terus mengulur waktu! Setelah itu kita menikah lalu punya banyak anak" Tanpa ragu pria itu mengatakan pernikahan dengan santai nya. Mengutarakan niatnya yang ingin segera menikahi Tisha.
"Kamu ini benar-benar deh kak..apa lamaran memang seperti ini?" Tisha tersenyum memandang ke arah Ray. Tampaknya sedikit sikap jaim Tisha mulai mereda, dia mulai menunjukkan isi hatinya dan sinyal untuk Ray melangkah lebih maju.
"Aku akan melamar mu lagi nanti, dengan cara yang romantis dan tidak akan pernah bisa kamu lupakan" Ray tersenyum memandang ke arah Tisha, menatap nya penuh cinta.
Apa hatimu sudah mulai terbuka untukku? Syukurlah..
Deg Deg
Ada apa ini? Padahal kami hanya bicara soal pernikahan, tapi kenapa aku deg degan seperti ini. Tisha memegang dadanya, dia memalingkan wajahnya, sebuah senyum indah terukir di bibirnya.
Dia pasti malu. Ray membatin.
Bahkan tanpa campur tangan Rasya, Tisha dan Ray akan kembali bersama. Itu karena mereka memang masih saling mencintai. Rasya tersenyum melihat keakraban kedua orang tua mereka.
__ADS_1
"Rasya sayang?" panggil Ray pada putranya yang duduk di pangkuan mama nya.
"Ya pa?" sahut anak itu pada papa nya
"Apa kamu mau punya adik?" tanya Ray pada putranya. Sontak saja hal itu membuat sang ibu menoleh ke arah Ray dengan mata membulat dan alis yang terangkat.
"Adik? Teman-teman ku juga punya adik, aku mau pa! Aku mau!" Rasya langsung setuju begitu saja untuk mempunyai adik. "Ma, ayo buatkan adik? Aku mau main sama adik" rengek Rasya pada mama nya, hal itu sontak saja membuat Tisha terpana kehabisan kata-kata untuk menjelaskan.
Rasya minta adik? Mengapa dia meminta seorang adik seperti meminta beli permen di warung saja? Pikir Tisha dalam hatinya.
"PFut.." Ray menahan tawa melihat gelagat Rasya dan raut wajah Tisha.
"Ma, aku minta adik dong! Pa, aku mau adik! Adik perempuan ya!" Rasya merengek pada papa dan mama nya, ingin adik perempuan.
Ray malah tertawa mendengar nya, sambil memegang kemudi.
"Kenapa malah tertawa? Bantu aku ngomong dong!" protes Tisha pada Ray yang hanya tertawa saja.
"Benaran nih mau aku bantu jawab?" tanya Ray dengan senyuman menggoda dibibir nya.
"Iya" jawab Tisha kesal
"Rasya jagoan papa, kamu mau adik perempuan kan?" tanya Ray dengan suara lembut pada putra nya
Wanita itu semakin kaget mendengar pertanyaan Ray seolah menambahkan minyak ke dalam api.
"Ya, aku mah adik perempuan pah" jawab Rasya dengan wajah polosnya
"Kalau kamu mau seorang adik, kamu bisa mendapatkan nya" ucap Ray sambil menoleh ke arah Tisha yang terlihat kesal itu.
"Benarkah? Bagaimana caranya?!" tanya Rasya dengan mata berbinar-binar menatap papa nya.
"Papa dan mama harus menikah kembali, lalu kami akan membuatkan adik untuk kamu" jawab Ray santai
"Apa yang kamu katakan pada anak kecil hah?! Menyetir yang benar!" Tisha tercengang, dia meminta Ray menghentikan ucapannya. Wanita itu semakin malu dibuat oleh Ray.
"Kalau begitu papa dan mama menikah saja, lalu buat adik!" kata Rasya dengan mudahnya
"Tapi mama mu belum menerima papa" Ray tersenyum pahit. Tisha memalingkan wajahnya dari Ray.
"Kenapa ma? Padahal papa itu ganteng, kaya, papa punya banyak bodyguard, perusahaan nya juga besar. Kenapa mama belum menerima papa juga?" tanya
"Kamu tidak akan mengerti alasan nya sayang, kalau masih ada yang mengganjal di hati mama. Bahkan waktu belum bisa menyembuhkan luka dan menjawab pertanyaan di hati mama, untuk papa kamu" jelas Tisha dengan tegas menatap pada Ray.
"Mama ngomong apa sih? Aku gak ngerti" Rasya menggaruk-garuk kepalanya kebingungan
__ADS_1
"Tuh kan, mama bilang juga apa. Kamu tidak akan mengerti" Tisha kembali tersenyum di depan putranya. Walau hatinya sedih mengingat sesuatu yang menyakiti hatinya tentang Ray di masa lalu.
Awalnya Ray tidak mengerti apa yang wanita itu maksudkan, kemudian dia pun tersadar ada satu masalah yang belum dia tuntaskan. Masalah apa lagi kalau bukan video syurnya dengan Zevanya.
Kenapa aku melewatkannya? Zevanya sekarang ada di penjara, aku bisa bertanya lagi padanya apakah dia dan aku benar-benar melakukan nya malam itu atau ini adalah tipu dayanya? Mungkinkah jika aku bertanya lagi padanya, dia akan menjawab dengan jujur?. Pikir Ray dalam hatinya.
Mereka pun sampai di depan sekolah baru Rasya dan menutup pembicaraan itu. Ray dan Tisha sama-sama menjadi orang tua yang baik di depan Rasya, meminta anak itu agar rajin belajar dan tidak membuat jengkel guru juga teman-teman nya.
Tisha juga menitipkan Rasya pada salah satu guru disana yang ternyata adalah teman Tisha waktu SMA. Dia bernama Mina, Tisha bertukar nomor telpon dengan Mina. Ketika bel masuk sudah berbunyi, Rasya berpamitan pada kedua orang tuanya.
"Mina, aku titip anakku ya" kata Tisha pada temannya itu.
"Iya Tisha tenang aja. Oh ya ngomong-ngomong, aku pikir kamu nikah sama Zayn loh, tapi ternyata kamu sudah menikah dengan pria ini" bisik Mina pada Tisha sambil tersenyum.
Tanpa mereka sadari, Ray mendengar ucapan Mina. Ray sedikit terkejut mendengar nya, mungkin juga dia kesal.
"Hem.. dia bukan suamiku" jawab Tisha berbisik.
"Ah yang benar, aku pikir dia suami kamu.. soalnya anak kamu mirip dengannya" kata Mina sambil melihat Ray dan Rasya.
"Ah...udah bel tuh" Tisha mengalihkan pembicaraan.
"Ma, pa, Rasya berangkat dulu ya" Rasya mencium tangan papa dan mama nya secara bergantian.
"Ingat pesan mama mu ya!" kata Ray pada putranya
"Siap papa! Jadi anak baik, tidak membantah Bu guru, jangan jahil dan rajin belajar" Rasya tersenyum sambil mengucapkan peringatan mama nya
"Ada satu lagi yang kelupaan!" seru Ray pada anak nya.
"Apa ya?" Rasya berfikir
"Gak boleh ngambil makanan dari orang asing dan gak boleh ikut orang asing sembarangan" jawab Tisha pada anaknya
"Oke ma! Aku ingat, aku ke sekolah dulu ya!" seru Rasya pada mama dan papanya.
Anak itu dan Mina masuk ke dalam lingkungan sekolah, Tisha dan Ray melambaikan tangannya pada Rasya sambil tersenyum. Senyuman mereka pun sirna ketika Rasya sudah pergi jauh.
"Kamu mendidiknya dengan baik, dia tumbuh menjadi anak yang sopan" ucap Ray dengan suara dingin dan senyuman tipisnya.
"Iya, terimakasih" jawab Tisha
"Seperti nya aku harus berterimakasih juga pada Zayn"
Tisha menoleh ke arah Ray dengan kening yang berkerut. Apa maksud ucapannya itu?
__ADS_1
...---***---...