
...πππ...
"Kakak, menikah denganku ya!" Maura menatap Rasya dengan tatapan memburu, kedua matanya berbinar-binar.
Bibir Rasya gemetar dan akhirnya dia berucap, "Aku tidak mau menikah denganmu!! Aku tidak mau menikah!" Teriak Rasya sambil melepaskan tangan Maura yang menggenggam nya.
"Buahahahahaa, apakah pak Gerry dan Raymond akan besanan?" Fayra menertawakan sikap Maura yang agresif pada Rasya.
"Woah woah, ini sih namanya bucin sejak dini!" Daniah tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat tingkah kedua anak kecil yang gemas itu.
"Bagaimana kak? Kalau aku sih gak keberatan, Maura anak yang manis," Tisha tersenyum melihat tingkah gemas Maura dan Rasya.
"Ya, aku juga tidak keberatan. Tapi sepertinya anak kita keberatan," ucap Ray melihat Rasya berlari sekuat tenaga untuk menghindari Maura.
Mendengar kata pernikahan itu, Rasya langsung menghindari Maura dan terlihat ketakutan dengan anak itu. Dia bersembunyi dibelakang mama nya. Maura, terus mengikuti Rasya dan memintanya menikah.
"Haha, sepertinya Maura tau bagaimana pria yang tampan." Anna, istri Gerry memuji ketampanan Rasya.
"Tentu saja, tampannya menurun dariku!" Ray percaya diri dengan wajah tampannya.
"Ya benar, sikapnya juga menurun darimu," Tisha tersenyum pada suaminya.
Semua orang tertawa dengan tingkah kedua anak itu. Maura terus mengejar-ngejar Rasya dan Rasya selalu menghindar. Dia merengek kepada mama papa nya bahwa dia semakin tidak mau adik perempuan!
Ketika semua orang dewasa sedang berkumpul di ruang tamu. Rasya sibuk bersembunyi dari Maura yang terus mengejarnya.
"Kak Rasya dimana ya? Kak Rasya ayo main yuk!" Dengan langkah kecilnya, Maura mencari-cari Rasya di sekitar halaman belakang yang ada kolam renang.
Rasay bersembunyi dibalik semak-semak, dia takut ketahuan oleh Maura.
"Kenapa dia masih mencari ku? Ini sudah hampir setengah jam. Apa dia tidak lelah?" Rasya bergumam sendiri, sambil duduk meringkuk di semak-semak tak jauh dari kolam renang.
"Kak Rasya! Keluar dong, aku mau bicara sama kak Rasya. Kalau kak Rasya gak mau nikah sekarang, gak apa-apa kok. Nikahnya nanti aja, kita kan masih kecil!" Ucap gadis kecil itu dengan wajah polosnya.
Mendengar ucapan polos Maura, membuat Rasya harus menahan tawa. "PFut, dia ngomong apa sih? Siapa juga yang mau nikah sama dia?" gumam nya pelan. Rasya melihat diam-diam pada Maura yang sedang berada di dekat kolam renang, Rasya takut anak itu jatuh ke dalam kolam, tapi dia tidak mau keluar dari persembunyiannya.
"Kak Rasya, kak Rasya keluar dong! Aku gak akan makan kak Rasya kok, kalau kakak keluar aku gak akan ngajak nikah lagi deh," Maura cemberut karena dia tak kunjung menemukan Rasya.
Rasya tersenyum lega dengan ucapan Maura, dia hendak keluar dari persembunyiannya. Saat keluar dari persembunyiannya, dia melihat seekor ular yang entah datang darimana datangnya, menggeliat berjalan kearah Maura.
"He-hey! Awas!" Rasya berlari menghampiri Maura dengan cepat.
__ADS_1
"Kak Rasya! Ye, kak Rasya keluar juga!" Maura tersenyum ceria melihat Rasya yang sudah keluar dari persembunyiannya.
"Ular! Awas ular!" Teriak Rasya panik sambil berlari.
Ketika ular itu tinggal beberapa centimeter lagi jaraknya dari Maura dan bersiap mematuk kakinya, Rasya datang dan melindungi Maura. Dia memeluk Maura, menarik gadis itu untuk menghindar tapi mereka kalah cepat dari si ular.
"Ah!" Rasya merintih kesakitan setelah kakinya di gigit ular. Tubuh Rasya oleng dan jatuh terduduk, kaki kanannya berdarah.
"Kak Rasya!" Maura panik dan takut melihat kaki Rasya yang digigit ular. Gadis kecil itu menangis.
"Uuuh.."
"Kakak, jangan mati kak!" Maura menangis melihat Rasya kesakitan. Tubuh pria kecil itu gemetar dan keringatan.
Tak lama kemudian semua orang disana pergi ke halaman belakang setelah mendengar suara teriakan Maura.
"Ada apa ini?" tanya Anna panik.
Tisha terkejut melihat kaki anaknya yang terluka dan ada ular juga disana. "Rasya sayang!"
"Gerry, singkirkan ularnya!" Titah Ray pada sekretarisnya itu.
"Baik pak!" Gerry mengambil tongkat dan membuang ular itu jauh-jauh.
Ray menghampiri Tisha dan Rasya. "Kak, cepat bawa Rasya ke rumah sakit!" Teriak Tisha pada suaminya. Tisha tak tega melihat anaknya merintih kesakitan.
Ray menggendong Rasya, dia berlari menuju ke mobil untuk segera membawa Rasya ke rumah sakit. Tisha, Dean dan Daniah juga ikut bersamanya. Sementara Fayra, Derrick, Gerry, Anna dan Maura masih berada di dalam rumah itu.
"Maura, apa kamu terluka sayang? Kamu kena patuk ular?" tanya Anna cemas kepada anaknya. Dia melihat anaknya terus menangis.
Maura menggeleng-geleng, dia menangis tersedu-sedu. "Kak Rasya.. hiks..hiks...digigit ular gara-gara aku, hiks.., mama, papa, ayo ke rumah sakit! Ayo!" Maura merengek kepada mama dan papa nya untuk membawanya ke rumah sakit. Maura sangat mencemaskan keadaan Rasya.
"Ya sudah, ayo!" Gerry menggendong anak bungsunya.
Gerry, Anna dan Maura pergi ke rumah sakit. Kini hanya tinggal Fayra dan Derrick saja yang berada di rumah.
"Aduh, semoga Rasya baik-baik saja!" Fayra mencemaskan keadaan si unyu nya itu.
"Dia akan baik-baik saja Fay," jawab Derrick yakin.
"Oh ya terus ngapain kamu masih disini? Gak ikut pergi juga?" Fayra heran karena Derrick masih berada disana.
__ADS_1
"Aku mau pergi kemana, sedangkan kamu ada disini?" Derrick tersenyum menggoda ibu hamil itu.
"Oh gitu ya? Kamu berkata seolah-olah aku harus berada ditempat kamu berada dan begitu pula sebaliknya,"
"Memang, aku harus berada ditempat kamu berada dan sebaliknya kamu pun harus ada di tempatku berada," Derrick menatap wanita itu dalam-dalam.
Tatapan Derrick membuat Fayra tenggelam di dalamnya, dia tak percaya kalau Derrick menatapnya seperti itu. Ada cinta dan kasih sayang di mata Derrick untuk dirinya. Fayra merasa tidak nyaman dan mengalihkan pandangan dari Derrick, dia buang muka.
"Ka-kamu pergilah," Fayra tergagap.
"Apa akhirnya kamu melihatku Fay?" tanya Derrick pada wanita itu. Derrick berjalan mendekati Fayra yang tengah berdiri di dekat pintu.
"Apa maksud kamu?" tanya Fayra sambil buang muka di depan Derrick.
Tidak Derrick, gak boleh! Kamu pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dariku. Fayra tidak percaya diri.
"Fay, aku cinta-"
"Stop! Jangan diteruskan lagi! Kamu akan menyesal kalau kamu mengatakannya, aku tidak mau mendengar kata-kata itu Derrick!" Seru Fayra sambil membungkam mulut Derrick dengan tangannya.
"Jadi kamu sudah tau perasaanku? Sejak kapan kamu tau?" tanya Derrick sambil memegang tangan Fayra.
"Baru-baru ini. Jadi, lupakanlah perasaan mu itu! Jangan katakan lagi, Derrick pergilah!" Titah Fayra pada pria itu sambil menepis tangannya.
Derrick memeluk Fayra dari belakang, "Kamu tidak bisa bersembunyi lagi Fay, aku cinta sama kamu!" Kata-kata itu akhirnya terucap dari mulut Derrick.
"Derrick lepaskan!" Teriak Fayra kesal.
"Tidak! Berikan aku jawaban dulu, baru aku lepaskan kamu," Derrick masih memeluk wanita itu.
"Aku menolak, aku tidak mencintaimu. Puas?" jawab Fayra yang berlainan dengan hatinya.
Derrick berkata dengan yakin,"Jangan bohong! Kamu juga mencintaiku!"
Fayra melepaskan tangan Derrick yang melingkar ditubuhnya. Dia menolak Derrick dengan tegas, dia juga meminta Derrick pergi dari sana. Derrick awalnya menolak, tapi sekretarisnya menelpon untuk urusan pekerjaan yang mendesak. "Baiklah Fayra, aku akan menganggap tidak pernah mendengar penolakan ini. Kita akan bicara lagi nanti, kalau ada apa-apa tolong hubungi aku!" Derrick mengucapakan nya penuh perhatian.
Fayra tidak menggubrisnya dan bersikap cuek pada Derrick. Setelah kepergian Derrick, Fayra terlihat sedih. "Ya Allah, aku harus bagaimana? Apa aku pantas untuk dicintai dan mencintai lagi dengan keadaanku yang seperti ini?" Fayra mengelus perut besarnya itu.
Bagi dirinya, dia tak lebih dari wanita yang sudah kotor. Sedangkan Derrick sangat sempurna, dia baik, tampan, kaya, dia lajang, di berhak mendapatkan wanita yang lebih baik daripada Fayra. Di luar sana, banyak wanita yang mengejar-ngejar Derrick, bahkan jauh lebih baik darinya. Fayra tidak percaya diri dengan cinta abadi dan cinta tulus seorang Derrick padanya.
...***...
__ADS_1
Mau lanjut? Komen dulu ππ