Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 103. Pengakuan Ahmad


__ADS_3

πŸ€πŸ€πŸ€


Ketahuan sudah, Ray lah yang menghabiskan nasi goreng itu. Tisha dan putranya menatap tajam ke arah Ray yang berusaha mengendap-endap pergi dari sana tanpa ketahuan.


"Maafkan aku! maaf, aku yang sudah menghabiskan nasi goreng spesial nya. Aku pikir itu untukku, Rasya maafkan papa ya sayang.. papa gak sengaja memakan nya" Ray mengatupkan tangannya seraya memohon pada Rasya dan Tisha untuk memaafkan kesalahan nya. Ray menyesali dirinya yang sudah memakan nasi goreng itu, terlebih lagi rasa bersalah nya pada Rasya.


Kacau sudah, Rasya pasti marah padaku. Ray takut


"Rasya, mama bukan pembohong! tuh papa mu yang menghabiskan nya. Akhirnya dia mengaku juga, cepat marahi dia!" seru Tisha pada Rasya agar memarahi Ray.


Rasain kamu, Rasya pasti marah sama kamu. Dia suka marah kalau ada yang menghabiskan makanan kesukaan nya tanpa izin, dia juga suka begitu padaku. batin Tisha menantikan ngambeknya Rasya pada sang papa.


"Oh, jadi papa yang habisin nasi goreng nya. Papa juga suka nasi goreng buatan mama kan?" tanya Rasya dengan wajah polosnya


Tisha, Pak Faisal dan Ray terkejut melihat anak itu terlihat baik-baik saja dan tidak marah sama sekali.


Eh? apa ini? kok Rasya gak marah?. Tisha terkejut melihat anaknya bersikap biasa saja terhadap makanan kesukaan nya yang baru saja di habiskan oleh Ray. Biasanya anak itu akan ngambek dan cemberut, tapi kenapa dia biasa saja? Tisha heran.


"I-iya sayang, dari dulu papa memang suka nasi goreng buatan mama kamu" jawab Ray yang lega karena Rasya tidak terlihat marah padanya


"Yang ada sosis kembang, sama telur mata sapi nya kan? terus pake kecap yang banyak?" tanya Rasya pada papa nya


"Iya itu betul, kamu suka juga?" tanya balik Ray pada putranya


"Suka banget pah, itu favorit ku" jawab Rasya sambil tersenyum polos


"Rasya, kenapa kamu gak marah? papa kamu habis makan makanan kesukaan kamu loh?" tanya Tisha heran, dia seperti ingin kalau Rasya marah pada Ray.


"Tisha, kamu kenapa sih? kok kayanya kamu gak senang kalau Rasya gak marah sama aku? ada dendam apa kamu sama aku?" tanya Ray tidak senang dengan perilaku Tisha


"Iya ih, lagian kenapa sih harus marah sama papa karena hal ini? mama kan bisa buat lagi nasi gorengnya, aku gak papa kok kalau papa yang makan nasi gorengnya" Rasya membela papa nya. Ray tersenyum lebar mendapatkan pembelaan dari putranya itu.


"Hahaha.. kalian benar-benar mirip, bersatulah kalian berdua dan jangan pedulikan aku! ishh!!" Tisha mendengus kesal lalu beranjak dari tempat duduknya.


Mereka benar-benar menyebalkan. Huh!


"Lah, mama mu marah tuh?" tanya Ray pada putranya.


"Haha, biarin aja pah nanti juga baik sendiri" jawab Rasya sambil tertawa cekikikan

__ADS_1


Pak Faisal, Ray dan Rasya malah tertawa melihat tingkat Tisha yang marah pada papa dan anak itu. Mereka merasa terhibur dengan sikap Tisha. Terutama pak Faisal yang sudah lama tidak merasakan hangatnya keluarga, kini di rumahnya ada Rasya dan Tisha membuat suasana menjadi lebih hangat.


"Mama mau kemana? buatkan dulu nasi goreng nya!" tanya Rasya sekalian menyuruh mama nya


"Minta buatkan saja pada papa tersayang mu itu! mama mau ke dapur beres-beres dulu" ucap Tisha sebal, dengan bibir mengerucut membuat Ray semakin gemas melihat wanita yang sekarang jadi pemarah itu.


Walaupun marah dan menggerutu, Tisha tetap membuatkan Rasya nasi goreng nya lagi. Dia juga membawakan bekal makan siang untuk Ray.


"Apa ini?"


"Kamu jangan kegeeran ya, aku cuma gak mau kamu ngambil makanan Rasya lagi jadi aku buatkan" kata Tisha dengan gaya jaimnya.


"Oke, aku paham. Makasih ya, dan aku mint maaf untuk kejadian semalam" Ray mengambil keresek yang berisi kotak bekal itu. Dia jadi teringat saat dia selalu dibuatkan makanan oleh Tisha.


"Jangan bahas itu lagi!" seru Tisha kesal membahas apa yang terjadi semalam. Itu karena dia malu.


Dia masih marah.


****


Siang itu saat sedang bekerja, Ray menerima sebuah telpon dari anak buahnya bahwa proses interogasi Ahmad akan segera di lakukan. Ray menelpon Tisha dan memberitahukan pada wanita itu tentang Ahmad si supir yang menabrak nya 6 tahun yang lalu.


"Aku akan segera kesana" jawab Tisha dengan bibir yang gemetar, dia merasa deg degan karena dalang dibalik kecelakaan itu akan terungkap.


Ibu, kakak, semua nya akan terungkap hari ini.


"Aku jemput kamu di rumah"


"Gak usah, kita langsung ketemu aja disana" kata Tisha


"Jangan bawa Rasya" Ray mengingatkan


"Kakak ga ya? masa aku bawa anak kecil ke tempat seperti itu? Rasya akan di rumah saja bersama kakek, Bi Ani dan yang lainnya" jelas Tisha pada pada Ray


"Iya, oke kita ketemu disana"


Beberapa menit setelah perbincangan itu, Tisha dan Ray bertemu di depan kantor polisi. Dengan wajah tegang, Tisha masuk bersama Ray ke dalam kantor polisi. Mereka segera menemui Ahmad, si supir yang sudah menyerahkan diri sebagai pelaku penabrakan.


"Apa benar bapak, supir truk yang menabrak mobil hingga mobil itu meledak?" tanya Tisha sambil duduk berhadapan dengan Ahmad. Di belakang Tisha ada Ray yang sedang berbincang dengan petugas polisi.

__ADS_1


"Benar,saya yang melakukan nya" jawab Ahmad dengan wajah yang menyesal.


Tisha sakit hati, dia menahan air mata dan kekesalannya pada pria yang sudah membuat dia dan Rasya yang masih ada di dalam kandungan hampir kehilangan nyawa,pria itu juga sudah menghilangkan nyawa ibu dan kakak nya.


"Kenapa bapak melakukan nya? kenapa bapak membunuh ibu dan kakak saya? kenapa bapak tega membiarkan keluarga saya mati terbakar?!" Tisha bertanya dengan emosional.


"Saya tau maaf saja tidak akan cukup, saya hanya menjalankan perintah. Saat itu saya kekurangan uang, jadi saya menerima permintaan nya begitu saja. Tapi ternyata pilihan saya malah membuat saya menderita selama bertahun-tahun dalam rasa bersalah" jelas Ahmad sambil menangisi apa yang sudah dia lakukan.


"Siapa pak? siapa yang sudah menyuruh bapak untuk melakukan ini?" tanya Tisha sambil menangis mengingat ibu dan kakak nya yang meninggalkan dunia dengan cara tragis.


"Dia adalah seorang wanita muda bernama Zevanya" jawab Ahmad mengakui semua nya


DEG!


Tisha tersentak kaget mendengar nama Zevanya disebut. Lagi-lagi wanita itu yang menjadi perusuh di dalam kehidupan nya. Kali ini terungkap sudah bahwa dia juga yang sudah membunuh ibu dan kakak Tisha. Jika bukan karena Zayn yang menyelamatkan nya, mungkin Tisha akan tiada bersama Rasya yang belum hadir ke dunia.


"ZEVANYA!!!" teriak Tisha murka, tangannya menggebrak meja sampai punggung tangan nya terluka.


"Saya benar-benar minta maaf bu! saya benar-benar minta maaf!!" air mata penyesalan mengalir deras dari kedua mata pria tua itu.


Ray menghampiri Tisha dan memeluknya, seraya menenangkan wanita itu dari perasaan nya yang berkecamuk, "Tisha, kamu tenang saja. Polisi dan orang-orang ku sedang mencarinya, dia akan dapat hukuman yang berat" Ray sama murka nya dengan Tisha, di marah pada Zevanya yang selalu menganggu kehidupan mereka.


"Aku tidak terima!! aku tidak terima! ibu, kakak...hiks"


Aku pastikan kali ini kamu akan tamat Zee.


Dreet.. Dreet..


Tisha merasa ada getaran di dalam tas selempang yang dia bawa. Dia merogoh isi tas nya dan mengambil ponselnya. "Halo...... Apa?? Rasya kenapa?!!" teriak Tisha panik menerima telpon itu.


Ray melihatnya dengan bingung dan cemas.


...---***---...


Kira-kira apa yang terjadi pada Rasya? tunggu di bab selanjutnya ya. Kalau mau lanjut komen dan like dulu dongπŸ˜ŠπŸ‘πŸ‘β€οΈ kasih kembang juga boleh..


Sambil nunggu up, mari mampir ke novel temanku.😊😊


__ADS_1


__ADS_2