
πππ
"Sha, kenapa hatimu sakit?" tanya Ray dengan wajah sedih nya menatap wanita yang dia cintai menangis tersedu-sedu.
Tisha menangis, menumpahkan semua kesedihan di hatinya. "Rasya.. karena Rasya, hatiku sakit kak.."
"Rasya? apa Rasya bersikap nakal? atau dia mengatakan kata-kata yang membuat mu terluka?" Ray menebak-nebak
"Bodoh! bagaimana bisa begitu? bukan karena itu?!" Tisha menepuk kepala Ray.
PLETAK
Bagaimana bisa dia terlihat menggemaskan begini bahkan ketika marah?. batin Ray sambil tersenyum tipis setelah mendapatkan pukulan dari Tisha di kepalanya.
"Baiklah, kamu bilang ini karena Rasya. Lalu kenapa dengannya?" tanya Ray akhirnya menyerah
"Aku sakit hati..kenapa wanita pelacur itu selalu memanggil anakku dengan sebutan anak haram! aku tidak terima!" Tisha setengah merengek pada Ray mengadukan kata-kata Zee padanya
"Kamu ingin aku bagaimana untuk menghukum nya?"tanya Ray sambil menyeka air mata Tisha dengan tangannya.
"Memangnya kamu mau menghukum nya untukku? kamu kan menyukainya" tuduh Tisha pada Ray.
"Bukannya tadi kamu sudah menemukan jawabannya. Aku sudah tidak menyukai nya lagi, selamanya tidak akan. Yang aku sukai hanya kamu" jelas Ray penuh kesungguhan.
"Jangan menggombal deh!" Tisha tak percaya kata-kata Ray.
"Aku tidak menggombal, aku serius"
Demi Rasya dan kamu, apapun akan aku lakukan. Walau harus mengambilkan bintang di langit.
"Apa ini karena ada Rasya? apa kamu berkata kamu suka padaku karena ada Rasya?" tanya Tisha
Ray mengambil napas dalam-dalam lalu mengeluarkan nya perlahan. Ray meraih tangan Tisha dengan lembut, mungkin Tisha tidak bisa diyakinkan dengan kata-kata. Namun Ray dengan teguh nya tetap berbicara pada Tisha. Mau ada atau tidak ada Rasya diantara mereka, Ray selalu menyukai Tisha.
Wanita itu masih belum menunjukan kepercayaan sepenuhnya pada Ray. Dia masih menunggu Ray untuk berjuang membuktikan kata-kata nya, bahwa penyesalan dan perasaan Ray bukan hanya sekedar kata. Setelah lama menangis menumpahkan kesedihan nya di depan Ray, Tisha mulai sadar bahwa seharusnya dia tidak menangis. Seorang ibu haruslah terlihat kuat di depan anaknya. Tisha berhenti menangis, seusai dibujuk dan dihibur oleh Ray.
"Apa kata anak kita nanti kalau dia melihat ibunya yang galak sedang menangis? kamu harus mempertahankan kegalakan mu itu, Tisha" cemooh Ray pada ibu dari anaknya itu.
"Kak Ray bicara apa sih? kegalakan? siapa yang galak? aku baik dan lemah lembut!" Tisha tak terima di katakan galak oleh Ray
"Pfutt.. lemah lembut? apa kamu gak ingat apa yang Rasya bilang saat di pesawat? kamu adalah ibu yang galak, untungnya kamu tidak disebut nenek sihir juga" Ray tersenyum berusaha menghibur Tisha yang duduk di sampingnya.
"Aku tidak galak, aku galak disaat saat tertentu saja. Apa kamu tidak suka?"tanya Tisha dengan tatapan mata tajamnya pada Ray
"Aku suka karena orangnya adalah kamu" Ray tersenyum lembut pada wanita itu.
__ADS_1
"Sudahlah! jangan bicara manis terus, aku mau tidur" Tisha beranjak dari tempatnya duduk, dia menyembunyikan wajahnya dari Ray.
"Kamu ngantuk ya? ya udah aku antar kamu ke kamar" Ray juga beranjak dari tempat duduknya.
"Antar? tidak usah! memangnya aku anak kecil yang harus diantar antar" gerutu nya sebal
"Ya baiklah, pergilah tidur bersama Rasya. Tidurlah yang nyenyak" Ray tersenyum
"Memangnya kamu tidak mau segera tidur?" tanya Tisha yang merasa heran dengan titah Ray padanya.
"Aku akan duduk disini dulu sebentar" jawab Ray
"Tapi ini sudah malam, besok juga kamu harus pergi bekerja" Tisha cemas dengan kesehatan Ray, sebenarnya dia takut kalau Ray akan meminum obat tidurnya lagi.
"Kenapa? kamu cemas padaku?" Ray terlihat senang dengan kecemasan Tisha padanya
"Heh! siapa juga yang cemas? aku hanya takut kamu akan meminum obat tidur mu lagi" Tisha mengucapkan nya dengan pelan seperti sembunyi-sembunyi, dia takut dikira perhatian padanya.
"Bagaimana bisa aku meminumnya? obatnya kan sudah kamu buang" jawab Ray
"Oh iya ya, tapi.. bisa saja kamu minta pak Gerry untuk membelinya lagi" Tisha tersenyum tipis.
"Kalau aku begitu, apakah kamu akan melarangku?" tanya Ray
Bukan demi Rasya saja tapi demi ku kak, kamu harus sehat dan bangkit. Tubuhmu harus sehat kembali seperti sedia kala. Tisha mencemaskan kondisi Ray yang kurus dan kurang baik. Dia ingin Ray kembali seperti dulu, sehat bugar dan berotot.
"Demi Rasya atau ada hal yang lain?" tanya nya penasaran
Tisha, apakah aku bisa menganggap kalau ocehan kamu ini adalah bentuk perhatianmu padaku? .Ray senang
"Demi Rasya dan demi janjimu padaku. Janji kalau kamu akan membuktikan cinta mu padaku, jadi oleh karena itu kamu harus mencintai dirimu sendiri sebelum kamu mencintai orang lain, notabenenya begitu kan?" Tisha berbicara tanpa melihat ke arah Ray.
Ini benar-benar bentuk perhatian. Tidak apa, perlahan perhatian itu akan merubah perasaan mu kembali seperti sebelum nya. Semua hanya butuh waktu Tisha.
"Ya..baiklah, aku akan mencintai diriku sendiri. Dan seperti nya aku juga tidak membutuhkan obat tidur, karena ada kamu dan Rasya disini.. aku rasa aku bisa tidur dengan baik"
"Awas ya kalau bohong! kamu sudah janji, kalau kamu bohong aku akan pergi dari sini bersama Rasya, kami tidak mau bertemu denganmu lagi!" ancam Tisha pada Ray
"Iya aku janji" jawab Ray
"Ya sudah, kalau begitu aku akan ke kamar. Kamu segeralah pergi tidur juga" Tisha tersenyum sambil melangkah menaiki anak tangga.
"Sha, tunggu!!" ujar Ray pada Tisha yang baru saja menaiki satu anak tangga. Wanita itu berbalik dan melihat ke arah Ray.
"Ya, kak?"
__ADS_1
"Masalah Zevanya, kamu tidak usah cemas. Aku akan mengurusnya, dia akan mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya. Kamu jangan memaafkan dia"
"Memangnya orang seperti dia mau meminta maaf? tenang saja, hatiku juga tidak sebesar itu untuk memaafkan" ucap Tisha sambil tersenyum lembut
"Tisha ku yang sekarang memang berbeda, dia kejam dan galak" gumam Ray dengan tawa kecilnya, Tisha sekarang sungguh berbeda dari Tisha yang dulu pernah dikenalnya.
"Apa kamu bilang?"
"Tidak apa-apa, pergilah tidur" titah Ray
Seperti nya dia tidak dengar apa yang aku gumamkan. Ray lega
"Hem, jangan tidur terlalu malam" nasehat Tisha pada mantan suaminya itu.
Ray melihat Tisha naik ke lantai atas, bahkan sampai wanita itu masuk ke dalam kamarnya. Setelah itu Ray menelpon Gerry.
Tut..
Tut..
Tut..
Setelah terdengar bunyi dering ke tiga, Gerry langsung mengangkat telpon dari Presdir nya. Tampaknya pria itu sedang tertidur lelap.
"Ya, ada apa pak?" tanya Gerry dengan suara yang lemas
"Gerry, tolong bereskan si petugas penggusuran makam palsu itu. Buat cerita seolah-olah pria itu adalah penipu yang menipu Tisha untuk uang" ucap Ray pada sekretaris
Aku harus mengantisipasi segalanya dari sekarang, jika Tisha tau aku berbohong kan bisa gawat urusannya.
Apa ini? apa pak Presdir benar-benar berniat menjadikan pria itu kambing hitam?. Gerry bertanya-tanya
"Baik pak" jawab Gerry hanya mengiyakan saja.
"Setelah perannya berakhir, berikan dia apa yang dia mau. Uang berapapun itu asalkan dia tutup mulut"
"Siap pak! akan segera saya hubungi bapak itu" jawab Gerry
Bukankah ini sungguh bucin? pak Presdir bahkan sampai menyewa seseorang dan bermain peran hanya untuk membawa Bu Latisha juga anaknya kemari?. Gerry heran dengan kebucinan Ray pada Tisha, dia berharap juga kalau Tisha tidak tau bahwa kedatangan nya ke Indonesia adalah akal-akalan licik Ray.
...---***---...
Hai Readers ku tersayang, author ada rekomendasi novel yang bagus untuk kalian baca. Ini karyanya temanku author shan_neen
__ADS_1