
****
Zayn berada di dalam ruangannya, berita tentang nya dan Tisha masih menjadi topik panas bahkan menjadi trending topik. Dia pun memutuskan untuk menelpon king, ayahnya. Namun, tidak ada jawaban.
"Ini pasti ulahnya! Beraninya dia menyakiti wanita yang aku cintai!" seru Zayn kesal, karena dirinya Tisha terseret dalam masalah ini. Masalah keluarga nya yang rumit.
Zayn pun menghubungi salah satu kerabat di kerajaan. Dia meminta bantuannya untuk menghentikan media memberitakan tentang Tisha dan dirinya.
"Ini juga salahku, kenapa aku menciumnya saat itu! Tisha pasti sangat terluka, bahkan tadi dia menangis. Tapi, sudah ada Ray bersamanya.. maka dia pasti akan baik-baik saja, bukan?" gumam Zayn sambil duduk di kursinya dengan wajah tidak tenang.
...πππ...
Ketika Zayn masih bingung memikirkan cara meredam media, Tisha dan Ray masih berada di dalam mobil.
"Sudahlah, kita ke rumah sakit dulu," ucap nya ingin menyudahi pembicaraan mereka.
Tisha tercekat memandang ke arah Ray yang masih tidak mau melihatnya, "Tidak! Aku mau kamu memaafkan aku dulu,"
"Haahh... kita obati dulu lukamu," ucap Ray sambil menghela napas. Dia masih kesal karena video itu, meski ia tau kalau di dalam video itu Tisha mendorong Zayn.
"Kak...kumohon, katakan sesuatu!" seru Tisha sambil memegang tangan Ray. Berharap pria itu mau melihatnya.
"Kamu mau aku bilang apa?" tanya Ray sembari menoleh ke arah Tisha dengan wajah kesal. Wajah yang tidak ingin dia tunjukkan pada gadis itu.
"Marahi aku, katakan aku harus bagaimana agar kamu bisa memaafkan ku, katakan sesuatu! Aku tidak suka kamu diam saja seperti ini," ucap Tisha sambil menangis.
Ray bimbang, dia masih kesal pada Tisha yang tidak jujur padanya. Tapi untuk menenangkan nya, Ray memberikan pelukan untuk wanita itu.
"Kak...,"
"Sudahlah, jangan dibahas lagi. Aku akan obati lukamu, jangan bicara apa-apa..atau aku akan semakin kesal dan tidak bisa mengendalikan emosiku," ucap Ray berusaha lembut pada Tisha, dia mengelus lembut punggung nya.
Kamu tidak tahu betapa aku sangat menahan diri saat ini. Padahal rasanya aku ingin membunuh si bajingan Zayn itu!
__ADS_1
"Aku minta maaf, maafkan aku..aku tidak akan menyembunyikan sesuatu lagi darimu. Kamu berhak marah kok, kamu berhak untuk bicara kasar padaku! Aku memang salah!" Tisha menangis dan menyesal karena ketidakjujuran.
"Ya aku memang marah. Maka dari itu, kamu tidak boleh menyembunyikan sesuatu dariku lagi. Apalagi sesuatu yang akan membuat ku salah paham, kamu harus tau seberapa fatal apa yang kamu lakukan ini," jelas Ray menasehati wanita yang berada di pelukan nya itu.
"Iya, aku minta maaf.. maafkan aku, tidak akan terulang lagi...," Tisha memohon maaf lagi, entah sudah berapa kali dia mengucapkan kata itu.
"Minta maaf? Seperti nya aku tidak bisa membiarkan nya begitu saja,"
"Ah? Apa?" tanya Tisha mendongakkan kepala ke arah Ray.
"Kesalahanmu akan aku maafkan kalau kamu mau menikah dengan ku sekarang,"
Deg!
Wanita itu tersentak kaget dengan ajakan Ray.
"Me-menikah? Tapi, kita kan akan menikah satu Juli?" tanya Tisha terkejut dengan permintaan Ray.
"Kita bisa melakukan ijab kabul lebih dulu kan? Tanggal satu Juli nya, kita bisa melakukan resepsi," ucap Ray sambil tersenyum dan memandang ke arah Tisha. Ide itu tiba-tiba terlintas di pikiran nya.
Menikah? Aku dan kak Ray melakukan akad nikah dulu?. batin Tisha bingung.
"Mana bisa menikah secepat ini? Banyak yang perlu di siapkan!"
"Maka tinggal disiapkan, Gerry bisa mengaturnya. Kamu mau dimaafkan tidak?" tanya Ray setengah mengancam wanita itu.
"Kamu...apa kamu..," Tisha bingung mau bicara apa pada Ray.
Tangan besar itu mengangkat dagu Tisha, hingga mata mereka bertemu dan saling menatap, "Menikah denganku ya, sekarang?" tanya Ray lagi. Dia sudah tidak bisa bersabar kalau harus menunggu satu bulan lagi. Jika Tisha sudah terikat dengan nya, maka tidak ada yang bisa mencegahnya untuk melakukan apapun. Dia bahkan bisa menyuruh Tisha untuk patuh padanya, menuruti kemauan nya karena mereka sudah suami istri. Tisha juga bisa aman dari godaan pria lain di luar sana, mereka akan saling memiliki. Pikir Ray di dalam hatinya.
Wanita itu tampak berfikir, memang tidak ada gunanya terus menunda pernikahan. Dia takut terjadi hal hal yang tidak diinginkan selama satu bulan itu pada hubungan nya dengan Ray. Apa dia harus menikah sekarang juga?
"Baiklah, mari kita lakukan akad nikah terlebih dahulu," jawab nya setuju dengan permintaan Ray.
__ADS_1
Ray tersenyum bahagia, dia memeluk kemudian mencium kening wanita itu. Sebelum mereka pergi ke KUA, Ray mengobati dulu luka-luka di tubuh Tisha. Setelahnya, Ray menghubungi seorang perias pengantin dan desainer secara mendadak untuk baju akad yang akan dikenakan oleh mereka.
Gerry bertugas mengatur berkas-berkas untuk pernikahan mendadak itu. Dia juga menghubungi fotografer untuk mengabadikan momen Ray dan Tisha.
Sebelum pernikahan mereka, Tisha dan Ray bersama-sama menjemput Rasya di sekolah. Ray keluar dari mobilnya sendiri karena Tisha masih menjadi pembicaraan panas dan semua orang akan langsung mengenalinya.
"Papa!" Rasya berlari keluar dari gerbang sekolah, dia menyambut papanya dengan senyuman.
"Sayang," sapa Ray pada putranya, dia tersenyum senang.
Melihat wajah Rasya yang baik-baik saja dan seperti biasanya, Rasya mungkin belum melihat berita tentang Tisha. Syukurlah anak itu belum melihatnya. Pikir Ray di dalam hatinya.
"Papa, kenapa papa pakai baju putih? Papa rapi banget, kaya pengantin aja!" tutur Rasya melihat penampilan sang papa dengan setelan jas berwarna putih yang terlihat tampan.
"Papa memang mau jadi pengantin hari ini, yuk kamu ikut papa! Papa punya kejutan untuk kamu," Ray mengendong putranya dengan penuh kasih sayang, dan raut wajah bahagia.
"Kejutan?" Rasya mengerutkan keningnya.
Ray membawa Rasya masuk ke dalam mobil. Rasya terpana melihat penampilan mama nya. Tisha terlihat cantik dengan balutan kebaya berwarna putih, rambut yang disanggul mengenakan mahkota permata. Make up diwajahnya memamerkan kecantikan dan aura bahagia.
Wanita itu tersenyum lebar kepada anaknya, dia memangku Rasya di pangkuan nya. Rasya tidak berhenti menatap mama nya dengan takjub.
"Mama, mama cantik sekali! Mama sama papa pake baju samaan, kaya pengantin..," Rasya terpesona pada kedua orang tuanya.
"Gerry, jalan ke KUA ya!" titah Ray kepada Gerry.
"Asiap pak!" jawab Gerry patuh, dia juga tersenyum bahagia melihat Tisha dan Ray. Tangannya sibuk menyetir mobil, dia mulai tancap gas menuju ke KUA.
"Iya sayang, mama sama papa mau menikah sekarang," ucap Ray pada putranya.
"Sekarang?!!" Rasya terperanjat mendengar nya.
...---***---...
__ADS_1
Hai Readers! Sambil tunggu up, mampir kesini yuk π Karya author kece kak Ria Aisyahπ