Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 121. Senyum profesional


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Tisha berjalan meninggalkan Ray dengan hati yang sedih. Memikirkan kenapa hubungan nya dan Ray selalu tidak mulus. Apa sebenarnya yang membuat mereka sulit bersama? apa karena mereka berdua sama-sama egois.


Ray mengejar Tisha, memeluk wanita itu dari belakang. "Jangan marah, kumohon.. jangan marah. Apa yang harus aku lakukan supaya kamu tidak marah padaku? Tisha.." bisik Ray pada telinga Tisha


"Tidak, kamu tidak harus melakukan apapun" ucap Tisha dengan wajah sedihnya


"Kamu ingin aku bagaimana? aku akan lakukan apa saja, tapi kumohon jangan marah lagi padaku" Ray memohon pada wanita yang berada di pelukan nya itu agar tidak marah lagi padanya.


"Kamu tidak harus melakukan apapun, lepaskan aku!" seru Tisha sambil menyingkirkan tangan Ray yang melingkar di tubuh nya.


Ray membalikkan tubuh Tisha, sehingga mereka berdua saling berhadapan. Kedua tangan kekar Ray memegang pinggang Tisha dan mendekap tubuh Tisha.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Tisha dengan tangannya memegang dada Ray. Wanita itu menatap mata Ray dengan berkaca-kaca


"Kamu tidak ingin aku mengekang mu? apa begitu?" Ray mencoba mengerti keinginan wanita itu dan berbicara lebih lembut padanya. Dia tidak mau semua hal yang sudah dia lakukan untuk mendekati Tisha menjadi sia-sia karena sikapnya yang salah saat ini.


".... "Tisha hening tidak menjawab


"Jawab aku! Apa benar aku mengekang mu, Tisha?" tanya Ray sambil mendongakkan dagu Tisha dengan tangannya


"Iya, kamu mengekang ku" jawan Tisha pelan dengan bibir yang mengerucut


"Lalu kamu ingin kamu bagaimana?" tanya Ray mencoba mengalah lagi demi gadis yang dia cintai.


"Cukup bicara baik-baik denganku, jangan memakai emosi. Sama seperti sekarang, bicara dengan lembut dan dengan suara rendah" pinta Tisha pada Ray.


Benar kata Gerry, ternyata wanita hanya ingin dimengerti. Mungkin aku memang harus belajar meredam emosi ku dan bermain cantik seperti apa yang disarankan olehnya. Ray memikirkan saran Gerry padanya, bahwa wanita itu pada dasarnya ingin pria dengan sikap yang lembut dan romantis dan wanita ingin di mengerti.


Ingat pak, bersikap lembut dan meminta maaf pada wanita bukan berarti bapak merendahkan diri. Tapi wanita akan merasa kalau mereka dihargai dan dicintai. ucap Gerry sebelumnya pada Ray

__ADS_1


"Baiklah, maaf karena barusan aku sudah membentak dan menuduh mu. Maaf juga aku sudah membuatmu ketakutan" ucap Ray pada Tisha dengan suara yang lembut


Mati kamu Gerry, kalau cara ini tidak berhasil. Ray merutuki Gerry di dalam hatinya.


"Iya tidak apa-apa, kalau kakak sudah menyadari kesalahan kakak"


"Jadi, kamu masih memberiku kesempatan kan?"tanya Ray sambil tersenyum


"Iya, tentu saja" jawab Tisha mulai melembut tidak emosi seperti tadi


"Tisha.. tapi aku tidak senang kamu bekerja disini. Kalau kamu mau bekerja, kamu bisa bekerja di perusahaan ku saa" Ray berusaha bersikap selembut mungkin di depan Tisha, meski itu sama sekali bukan gayanya. Dia melakukan ini karena dia ingin membujuk Tisha.


Inginnya memaksa Tisha, tapi dia tidak bisa berbuat hal yang akan membuat Tisha malah semakin jauh darinya. Dia tau bahwa rivalnya itu licik, dan Zayn akan melakukan apapun untuk menempatkan Tisha disisinya.


"Maafkan aku kak, tapi aku sudah terikat kontrak kerja tiga tahun dengan Zayn dan perusahaan ini. Aku tidak bisa melanggar kontrak begitu saja" ucap Tisha


"Berapa biaya pinalti nya?" tanya Ray yang ingin segera menyelesaikan masalah nya


"Apa maksud kakak bertanya seperti ini?" Tisha melepaskan dirinya dari pelukan Ray, dia mulai menatap pria itu dengan mata tajamnya lagi


"Tidak! aku tak jadi bertanya, jadi jangan anggap pertanyaan ku barusan. Aku ganti pertanyaan nya, apa kamu mau tetap bekerja disini?" tanya Ray kelimpungan berusaha menjaga kata-kata nya di depan Tisha


"Iya tentu saja, aku kan sudah terikat kontrak" jawab Tisha santai


"Apakah kamu akan nyaman satu pekerjaan dengan orang yang menyatakan cinta nya sama kamu?" tanya Ray sambil tersenyum canggung


"Yah.. mungkin akan sedikit tidak nyaman, tapi walaupun begitu Zayn adalah sahabatku. Aku yakin dia akan menjaga batasannya" kata Tisha yakin dengan wajah polosnya.


"Tidak, kamu salah.. dia tidak akan menjaga batasannya" gumam Ray khawatir


"Apa baik-baik saja?" tanya Tisha heran melihat Ray yang resah

__ADS_1


"Aku baik-baik saja" jawab Ray sedih karena tidak berhasil membujuk Tisha dengan kelembutan. Dia bisa saja membayar biaya pembatalan kontrak Tisha, tapi jika dia melakukan nya maka akan membuat Tisha marah


Mereka pun kembali bersama masuk ke dalam gedung itu. Sesampainya disana,Zayn memperhatikan kedua orang itu dari kejauhan dan masih tampak baik-baik saja.


Tidak ada kemarahan di wajah mereka apalagi wajah Ray, hanya terlihat wajah Ray yang cemas saja. Zayn merasa kalau Ray belum terpancing sepenuhnya. Setelah itu Tisha pamit pulang bersama Rasya karena dia akan mulai bekerja besok, dengan sengaja Ray menunjukkan kedekatannya dengan Tisha dengan sengaja di depan Zayn.


Mereka berdua masuk ke dalam sebuah ruangan mewah, dan itu adalah ruangan Zayn. Tempat mereka akan membicarakan masalah bisnis.


Zayn dan Ray sama-sama duduk di sofa empuk yang saling berhadapan. Sementara itu Gerry dan Dion berdiri di dekat pintu tak jauh dari tempat kedua Presdir itu duduk.


"Pak Zayn saya minta maaf karena sudah menghabiskan waktu anda yang berharga, karena saya mempunyai pembicara penting dengan istri dan anak saya" kata Ray dengan senyuman profesional nya.


Istri? Seenaknya saja dia bilang Tisha adalah istrinya. Zayn kesal dalam hatinya, namun di luar di tetap tersenyum lembut seperti biasanya.


"Tolong di garis bawahi pak Raymond, istri nya diganti dengan mantan istri" Zayn tersenyum, di membetulkan kata-kata Raymond.


"Maaf, terkadang saya lupa kalau Tisha adalah mantan istri saya. Mungkin itu karena sebentar lagi Tisha akan segera menjadi istri saya"


"Haha, anda ini sedang mengkhayal ya? Ketika ada saya diantara kalian, anda tidak akan bisa menikahinya" Zayn tertawa sinis, masih dengan senyum profesional. Matanya menatap ke arah Ray dan mengancam nya secara terang-terangan.


"Walaupun saya tidak ada, anda juga tidak akan bisa mendapatkan istri dan anak saya. Harusnya anda sadar diri, kalau tidak ada tempat untuk anda diantara mereka berdua. Tempat itu hanyalah milik saya" kata Ray dengan seringai di wajahnya dan senyum yang mengancam


Kedua sekretaris itu hanya menyaksikan dan merasakan aura diantara Ray dan Zayn. Bicaranya lembut, tersenyum, tapi tatapan mereka sangat tajam dan memancarkan aura yang panas.


"Pak Gerry, apa anda tidak merasa panas disini? " bisiknya pada Gerry


"Aku sudah sering merasakan ini, kamu harus mulai terbiasa pak Dion. Ketika mereka bertemu mungkin akan ada gunung meletus, atau tsunami yang tidak dapat terbayangkan" Gerry tersenyum canggung, dia yang sudah pernah berada diantara Zayn dan Ray, tidak asing lagi dengan pemandangan ini


Dion pun mengambil kesimpulan bahwa Ray dan Zayn bersaing untuk mendapatkan hati seorang wanita, siapa lagi kalau bukan Latisha Anindita?


...----***----...

__ADS_1


Hai Readers! berhubung ini adalah hari Senin, author boleh gak minta gift atau vote nya? nanti author up lagi deh πŸ’ͺπŸ₯°πŸ₯°


...***Like komen nya jangan lupa***...


__ADS_2