
...πππ...
Perang panas seperti akan terjadi diantara Zayn dan Ray yang sama-sama tidak bisa mengendalikan emosi mereka. Zayn yang lembut saja sudah terpancing emosinya oleh sikap Ray.
"Kamu benar-benar tidak tahu malu, Raymond" Zayn tersenyum sinis melihat ke arah Ray.
Ray tersenyum menyeringai melihat Zayn yang ditahan oleh orang-orang nya. Sementara itu Rasya berada di tengah kebingungan melihat Ray dan Zayn.
"Papa, om Zayn, kalian kenapa sih?" tanya Rasya dengan wajah polosnya penuh pertanyaan, tatapannya mengarah pada Zayn dan Ray.
"Gak ada apa-apa kok sayang" Ray tersenyum lembut pada anaknya, tangannya mengelus rambut Rasya.
"Gak ada apa-apa nya gimana? bagaimana bisa kamu membuatku tidak masuk ke dalam rumah kakak ku sendiri!" teriak Zayn marah
Ray melirik ke arah Zayn dengan mata tajamnya, senyuman lembut itu menghilang saat mata nya bertemu dengan mata rival cintanya.
"Di rumah kakak mu, ada istri dan anakku. Bagaimana bisa aku membiarkan pria lain masuk ke dalam rumah itu?" Ray menyilangkan kedua tangannya di dada, nada bicaranya rendah dan tampak santai. Namun terdengar sarkastik.
"Aku bukan pria lain, aku adalah..."
Tisha memegang tangan Zayn, wanita itu menggelengkan kepala nya. Tisha bermaksud memenangkan emosi Zayn pada Ray. "Zayn.. jangan.. ada Rasya" bisiknya pada Zayn mengingatkan.
Mata Ray terbuka lebar melihat Tisha memegang tangan Zayn, Ray menatap tajam kedua tangan yang berpegangan itu. Tangannya ikut terkepal gemas, dia ingin sekali menghajar Zayn yang juga memanfaatkan situasi dan memegang tangan Tisha.
Sialan kamu Zayn! aku bersumpah akan menghancurkan semua yang berharga untukmu.
Hiiyy.. aku merasa mulai panas disini.. batin Gerry yang merasa ngeri melihat tatapan membara Ray pada Tisha dan Zayn.
Kak Ray sudah keterlaluan, aku harus bicara dengannya. Dia tidak bisa berlaku seenaknya begini pada Zayn. Tisha menatap Ray dengan kesal.
"Kak Fayra, aku mau minta tolong?"
"Apa Sha?" tanya Fayra
"Tolong bawa Rasya ke dalam, Zayn kamu juga ke dalam" ucap Tisha pada Fayra dan Zayn.
"Tapi Tisha..."
"Zayn, aku perlu bicara dengan pria ini berdua saja" ucapnya sambil mengarahkan mata tajam nya pada Ray.
Benar Zayn, jangan cemas. Tisha pasti akan mengusirnya, lihat saja matanya? itu bukan mata penuh cinta, tapi penuh kemarahan. Zayn berusaha meneguhkan hatinya, bahwa mata yang ia lihat adalah mata penuh kemarahan dan bukan nya cinta.
Orang-orang itu masih menghalangi jalan Zayn untuk masuk ke dalam rumah itu. "Hey! kalian!" teriak Zayn, lagi-lagi ia emosi.
Kenapa om Zayn begitu marah? kenapa orang-orang ini menghalang om Zayn masuk ke dalam rumah? tampaknya semua orang juga marah pada papa. pikir Rasya menyimpulkan semua yang terjadi di depannya saat itu.
"Jangan ganggu om Zayn! kalian orang jahat!" ucap Rasya sambil menghampiri Zayn dan memegang tangan Zayn. Rasya marah pada orang-orang yang menghalangi Zayn.
Tangan Ray gemetar menahan amarah, dia semakin gemas ingin memukul Zayn begitu melihat putranya juga dekat dengan pria itu. Tisha juga melihat amarah di wajah Ray yang ditujukan pada Zayn.
Sialan kamu Zayn! sialan! bahkan anakku juga membelamu, apa sejak lama kamu memang sudah berniat untuk menghancurkan rumah tangga ku dan Latisha? kamu bahkan mendekati anakku juga?!
"Om gak papa kok sayang" jawab Zayn sambil menunjukkan senyum lembutnya pada Rasya.
Mau apa lagi kamu Ray? kamu lihat kan kalau anak mu juga cukup dekat denganku? Memang kenapa kalau kamu ayahnya, aku yang dekat dengannya selama enam tahun ini. Karena aku adalah orang yang penting untuk Tisha dan Rasya.
Kepercayaan diri Zayn kembali naik saat melihat Rasya membelanya dan memegang tangannya dengan penuh perhatian. Zayn juga senang melihat Ray marah dan cemburu padanya.
"Kamu masih tidak mengizinkan Zayn untuk masuk?" tanya Tisha sinis pada Ray
Presdir Argantara grup itu tidak berkutik di depan Tisha dan anaknya, ia juga tidak mau di cap sebagai orang jahat di mata Rasya. Akhirnya Ray mengisyaratkan aba-aba pada orang-orang nya untuk membiarkan Zayn untuk masuk ke dalam rumah.
"Ayo kita masuk ke dalam, Rasya" ajak Zayn sambil menggandeng tangan Rasya.
"Tapi mama sama papa??" lirik Rasya pada Tisha dan Ray yang terlihat bersitegang di depan gerbang rumah itu.
"Papa sama Mama nanti nyusul ya, mama sama papa mau bicara berdua dulu" Ray memaksakan dirinya untuk bersiap selembut mungkin di depan Rasya.
"Iya deh, kalian jangan berantem ya!" Kata Rasya pada kedua orang tuanya itu.
"Gak akan kok nak" jawab Tisha untuk menenangkan anaknya
Itu pun pria ini tidak mengajakku bertengkar lebih dulu. batin Tisha
Rasya, Fayra dan Zayn sudah masuk ke dalam rumah lebih dulu. Sementara Gerry masih berada di belakang Zayn.
__ADS_1
"Gerry, kamu juga masuk ke dalam. Berikan hadiahnya pada anakku" bisik Ray pada Gerry
Gerry mengangguk patuh, dengan membawa semua mainan untuk Rasya ke dalam rumah itu.
Kini hanya tinggal Ray dan Tisha yang berada di luar sana. "Kita bicara di tempat lain, aku takut kalau bicara disini. Rasya akan mendengar nya" ucap Tisha dengan nada bicara nya yang dingin.
Tisha berjalan mendahului Ray, pria itu dengan patuh mengekori Tisha dari belakang. Tangannya masih memegang buket bunga mawar berwarna pink.
πππ
Mereka berdua pun sampai di sebuah taman yang tak jauh dari rumah itu, keadaan nya sepi tanpa seorang pun yang lewat disana karena memang rumah Fayra adalah kawasan yang sepi dari rumah penduduk lainnya.
Tisha menghela napas, ia melihat ke arah Ray dengan dingin, "Mari kita mulai saja bicara nya kak Ray"
"Tunggu dulu" Ray membuka jaket miliknya dan memakaikan jaket itu pada tubuh Tisha.
PLUK
Tisha melepas jaket itu lalu membuang jaket nya ke tanah, Ray memungut jaket nya dan memakaikan nya kembali pada Tisha. "Syukurlah jaketnya gak kotor, jadi masih bisa kamu pakai" ucap Ray perhatian pada Tisha
DEG!
Tidak Tisha.. jangan lemah dengan perlakuan nya. Ingat apa yang sudah dia lakukan. Ingat perasaan ketika kamu diabaikan oleh nya, ketika dia bersama wanita lain, ingat itu Tisha..
Hati Tisha mulai goyah dengan perlakuan Ray padanya, namun ia kembali mengingatkan diri sendiri tentang apa yang sudah terjadi di masa lalu.
"Kamu tidak perlu melakukan ini" Tisha tidak menerima perlakuan Ray
"Pakai saja! sebelum aku mengancam mu lagi!" seru Ray kesal
"Kamu benar-benar tidak berubah ya sejak dulu! ini yang aku gak suka dari kamu!"
"Lalu harus gimana? sekarang aku sedang mencoba untuk berubah baik dan lembut di depan kamu dan Rasya! tapi kamu malah bersikap seperti ini padaku, kamu dingin! kamu apatis terhadap ku! kamu malah lebih peduli pada si brengsek Zayn itu!" Ray memudalkan semua amarah yang tersimpan di hatinya, ia kesal dengan Tisha karena Tisha lebih membela Zayn daripada dirinya.
Tisha menghela napas, ia juga kesal dengan kata-kata Ray, "Haahhh.. ini baru beberapa hari saja aku memperlakukan kamu dengan dingin, lalu apa kabar denganku yang kamu perlakukan dingin selama bertahun-tahun?! setiap hari kamu bermain dengan mantan pacar kamu, kamu mengejarnya! kamu bahkan sampai tidak pulang ke rumah, aku selalu sabar menunggu kamu seperti orang bodoh. Lalu kenapa kamu masih menyalahkan sikapku padamu?! berapa lama lagi kamu menyiksaku seperti ini kak?!"
Ray tersentak mendengar ucapan Tisha penuh emosi dan kemarahan itu. Keluhan yang tidak pernah keluar dari mulutnya untuk Ray. Dan baru saja diutarakan olehnya.
Keluhan dan unek-unek yang tersimpan di hatinya sejak lama untuk Ray. Lelah hatinya bertahan disisi pria yang selalu bersikap seenak jidatnya sendiri pada dirinya. Pernikahan kontrak, seperti sebuah bom bunuh diri untuk nya.
"Cintaku, kamu anggap siksaan?" tanya Ray dengan tatapan yang terluka.
"Cinta?haaa... apa kamu pernah mencintaiku kak?"
"Kamu tidak percaya padaku? menurutmu kenapa aku sampai mencari kamu selama ini? kenapa aku bersikap keras seperti batu dan tidak tahu malu seperti ini, jika bukan karena aku cinta?!"
"Jangan berani bicara soal cinta kalau kamu tidak mengerti apa itu cinta!! orang seperti kamu tidak bisa mencintai siapapun, orang yang selalu menutup hatinya, bersikap dingin pada orang lain, mana mungkin bisa membagi kasih sayang nya pada orang lain!" Tisha masih belum percaya dengan Ray yang sudah berubah, baginya Ray masih pria yang sama. Pengekang, dingin, obsesif, posesif. Setelah apa yang ia lakukan pada Zayn.
Ray terlihat sedih dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Tisha. Ternyata Tisha masih melihatnya sebagai Ray yang dulu. Ray merasa tidak apa-apa, mungkin waktunya terlalu cepat untuk Tisha melihat perasaan nya.
"Oke.. sudah cukup, jangan bicara tentang apa yang sudah berlalu. Kamu ingin aku melakukan apa sekarang?" tanya Ray yang ingin menyudahi semua perdebatan itu.
"Jangan ganggu kami lagi"
"Apa? Apa maksudnya?" tanya Ray tak paham.
"Pulanglah sendiri ke Jakarta dan jangan temui aku maupun Rasya lagi"
"Latisha Anindita! bukankah kamu sudah keterlaluan?! Rasya adalah anakku, dia darah daging ku! kenapa kamu melarangku bertemu dengannya? sebelumnya kamu bilang bahwa kamu akan mengizinkan aku bertemu dengannya!"
"Itu kata-kata ku sebelum kamu menganggu ku, kak Fayra dan Zayn! Aku bisa menarik ucapan ku lagi" kata Tisha dengan santainya
"Fine, oke! kamu mau apa agar tetap mengizinkan aku bertemu Rasya?" Ray mengalah pada Tisha
Masa sih dia mengalah dengan mudahnya? aku tidak percaya. Tisha melihat pria itu dengan sinis
"Asalkan kamu tidak menganggu kami, aku izinkan kamu bertemu anak kita" jawab Tisha
"Ya, baiklah" Ray setuju dengan ucapan Tisha, ia menahan amarahnya.
Sabar dulu Ray sabar.. ini baru beberapa hari, bukan beberapa tahun untuk kembali bertemu dengan mereka dan itu tidak mudah. Aku masih punya banyak waktu.
"Kak Ray setuju?"
"Ya, aku tidak akan menganggu kalian lagi terutama Zayn dan kakak sepupu nya itu" ucap Ray
__ADS_1
"Baguslah, kalau begitu tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi"
"Tisha, ini..." Ray menyodorkan buket bunga mawar yang dibawanya pada Tisha.
Mawar pink? kenapa kak Ray bisa tau bunga kesukaan ku?. batin Tisha melihat bunga itu
Tisha mengembalikan bunga itu pada Ray dan menolak bunganya. "Tidak ada acara khusus sehingga kamu harus memberiku bunga"
Mengapa baru sekarang kak? padahal dulu aku sangat ingin bunga pemberian darimu, tapi kenapa sekarang aku malah merasa harus menolaknya?. batin Tisha sedih
"Memang tidak ada acara khusus, aku membawakan ini untuk kamu karena aku ingat kalau kamu suka mawar pink" Ray tersenyum pahit dan menunjukkan wajah memelas nya di depan Tisha.
Wanita itu memalingkan matanya, sekali lagi ia menolak bunga pemberian Ray. Tapi Ray terus bersikap dengan muka tembok, ia memohon agar Tisha menerima buket darinya.
"Ayolah, aku mohon.. terima bunganya ya? ini bukan maksud apa-apa..anggap saja ini sebagai..."
Ayo Ray berfikir lah. Apa yang membuat Tisha bisa menerima bunga dan tidak mampu menolaknya?
"Kakak mau ngomong apa sih?" Tisha masih menantikan kalimat dari mulut Ray yang terputus-putus
"Rasya! iya, benar.. karena Rasya!" Ray tersenyum sambil menyuarakan nama anaknya itu
"Apaan sih?" Tisha menengok ke arah Ray dengan wajah bingungnya.
"Kamu bawa bunga ini bersama mu, sebagai tanda kita sudah baikan" jawab Ray sambil tersenyum
"Baikan? memangnya kita kenapa sampai harus baikan?" tanya Tisha yang masih bingung itu.
"Kamu tidak mengerti ya? Tadi seperti Rasya berfikir kalau kita bertengkar, kan? jadi kamu bawalah bunga ini sebagai pertanda kalau kita sudah baikan. Agar dia tidak cemas" jelas Ray pada Tisha
Bagus Ray, kamu mengatakannya dengan benar. Maafkan papa nak, papa memanfaatkan nama mu lagi. Ini semua papa lakukan demi kebaikan, demi kalian juga.. kamu dan mama kamu.
Wanita itu terlihat sedang berfikir, ia terdiam. Apa yang dikatakan Ray memang ada benarnya juga? demi Rasya, Tisha mengambil bunga itu dari tangan Ray.
Ray tersenyum melihat Tisha menerima buket bunga darinya. Di dalam hatinya, Ray sangat bersyukur dan berterimakasih pada Rasya yang sudah terlahir ke dunia. Karena dia adalah penghubung antara Tisha dan Ray untuk kembali bersama.
Papa sayang kamu nak. Papa sayang kamu, terimakasih kamu sudah terlahir ke dunia.
"Jangan kepedean ya! ini demi Rasya" ucap Tisha mengingatkan
"Ya, aku tau. Terimakasih" Ray tersenyum dan melihat ke arah Tisha dengan penuh rasa syukur.
"Gak usah bilang makasih, ini demi Rasya" kata Tisha tegas
Besok, kamu dan Rasya akan kembali denganku ke Jakarta. Lihat saja nanti Tisha.
Setelah obrolan itu, Ray menemui Rasya di rumah Fayra. Rasya terlihat senang karena ada papa nya disana, Rasya juga mengadu pada Ray bahwa ia sedang ngambek pada mama nya.
Namun Ray menenangkan nya, ia berkata pada Rasya agar jangan khawatir. Karena Tisha akan setuju pergi ke Jakarta besok. Entahlah apa yang sudah Ray rencanakan.
Sampai pada keesokan harinya, pagi itu Tisha sedang menyiapkan sarapan di dapur. Tisha mendengar suara berdering di ponselnya.
Kring..
Kring..
πΆπΆπΆ
Tisha menghentikan aktivitas masaknya sejenak dan mengambil ponselnya yang ada di atas meja makan.
Tut..
"Halo??"
"Apa benar ini dengan Bu Latisha Anindita?" tanya seorang pria
"Benar, ini dengan siapa ya?" tanya Tisha pada orang yang sedang bicara dengannya di telpon.
"Saya adalah pengurus TPU pondok murni Jakarta, saya ingin mengabarkan kalau makam yang bernama Fani Ayudya dan Arya Saputra Wiryawan sedang dalam proses penggusuran karena berada di atas tanah milik negara. Saya ingin bertanya, kemana kuburan mereka akan dipindahkan, Bu??"
"Apa?!!" Tisha kaget bukan main, bak disambar petir, matanya terbelalak mendengar berita tidak menyenangkan itu dari Jakarta.
Kuburan ibu dan kakak mau di gusur? gimana bisa begini? bukankah Zayn bilang kalau ibu dan kak Arya di makam kan, di makam keluarga Argantara?
...---***---...
__ADS_1