
...Tak banyak perhatian kamu mengerti...
...Tak harus ada bunga kamu mengerti...
...Ku tak selalu ada kamu mengerti...
...Cinta tanpa terucap kamu mengerti...
...Mestinya kamu bisa...
...Tinggalkan diriku ini...
...Namun kau tak menyerah...
...Memelukku seutuhnya...
...Kamu kamu...
...Yang terus mengerti aku...
...Tak pernah terlukiskan...
...Betapa besar hatimu...
...Kamu kamu...
...Dengarkan ini janjiku...
...Kau milikku, aku milikmu...
...Hingga akhir waktu...
...πππ...
Wanita itu tersenyum melihat tulisan di pintu kaca, dia berjalan membuka pintu itu dan berjalan lurus. Dia berjalan ke belakang restoran, setiap dia melewati jalan itu dia melihat kelopak bunga mawar pink dimana-mana.
Lagi-lagi Tisha tertawa oleh tingkah kekanak-kanakan Ray, begitu ia melihat ada sebuah balon di depannya. Di balon itu ada sebuah surat.
"Dia ini sedang apa sih?" gumam Tisha sambil tersenyum lebar sampai menunjukkan giginya yang gingsul, senyumannya terlihat manis.
Jalan lima langkah ke depan.
Tisha tersenyum, dia berjalan lima langkah ke depannya. Dia tidak melihat ada siapapun atau apapun disana. Kemudian ada sebuah pesawat kertas mengarah ke arahnya yang entah darimana, dia mengambil pesawat kertas itu.
"Kali ini apa lagi?" gumam Tisha sambil membuka pesawat kertas itu. Dia melihat sebuah tulisan lagi disana, "Bukan lima langkah ke depan, tapi tengok ke samping kanan, lalu jalankan kesana"
Tisha tersenyum, sambil membawa bunga mawar pink itu, dia menengok ke arah samping kanannya lalu dia melangkah ke arah sana. Jalanan itu tampak gelap, berbeda dari jalan lainnya di sana yang disinari oleh cahaya. Dan anehnya disana tidak ada siapapun.
"Kak Ray?"
__ADS_1
Tak, tak, tak
Tisha terpana, dia melihat di sekeliling nya lampu menyala secara tiba-tiba. Kini jalan yang gelap itu menjadi terang benderang. Terlihat siluet seorang pria bertubuh besar disana, dia berdiri di kegelapan.
"Kak.. Ray??" Wanita itu memicingkan matanya, melihat ke arah siluet itu. Dia berjalan mendekati nya. Dia seperti sedang bermain teka-teki saja.
Lagi-lagi dia dibuat terpana ketika lampu besar menyala disana, bertuliskan namanya. Selamat datang Latisha Anindita.
Ray akhirnya menunjukkan badan hidungnya, kini dia bukan siluet lagi. Tapi dia adalah Raymond, pria itu sedang memegang buket bunga mawar pink ditangannya. Dia tersenyum hangat menyambut kedatangan Tisha disana.
"Tisha"
"Kak Ray?"
Tisha kebingungan dengan semua yang terjadi di sana, bukankah ini hanya makan malam biasa? Lalu mengapa ada bunga dan ada meja dengan cahaya lilin berada di tengah taman itu?
"Selamat datang" Ray mencoba menjadi romantis pada Tisha, dia menunjukkan senyumannya yang paling manis.
"Apa bunga itu untukku?" tanya Tisha pada Ray yang tidak menyerahkan nya juga.
"Bunganya nanti saja ya, kita lebih baik makan dulu saja" Ray menyimpan bunga itu di atas meja.
Sial! Mengapa aku membawa bunganya lebih dulu, bunga ini kan untuk saat saat terakhir. Ray merutuki dirinya di dalam hati.
"Eh?"
"Kamu pasti lapar kan? Ayo kita makan dulu" Ray mengajak Tisha untuk makan malam lebih dulu. Ray mengambil bunga yang ada ditangan Tisha juga untuk disimpan lebih dulu, agar dia tidak kerepotan.
Ray membantu Tisha menggeser kursi agar wanita itu bisa langsung disana dengan nyaman. Dia memperlakukan Tisha layaknya tuan putri.
Makanan di meja tersaji dengan mewah, cahaya lilin di atas meja menjadi penerangan utama di taman itu. Bisa disebut juga dengan candle light dinner.
"Ehm, jadi kenapa kamu merencanakan semua ini?" tanya Tisha sambil memegang sendok, di bersiap untuk makan.
"Ya? Apa?" Ray menoleh ke arah Tisha.
"Kamu kan yang meminta orang-orang disana untuk memberikan ku bunga, lalu apa-apaan teka-teki itu? Balon? Jalan yang dipenuhi kelopak bunga? Apa kamu sedang membuat drama?"Tisha tersenyum, dia memandang ke arah Ray dengan tajam.
Mati kamu Gerry! Apa Tisha tidak suka dengan semua yang telah kulakukan?. Batin Ray tersentak kaget mendengar ucapan Tisha yang terdengar seperti omelan dan pengungkapan rasa tidak suka nya terhadap rencana Ray.
"Kenapa kamu diam saja?" Tisha masih mengarahkan pandangan nya pada Ray.
"Kenapa? Apa kamu tidak suka semua ini?" Ray bertanya balik kepadanya.
"Hem.. suka atau tidak ya?" Tisha tidak menjawab dengan benar, "Sudahlah aku lapar, kita makan saja dulu" kata Tisha tiba-tiba kesal, entah apa yang membuatnya kesal.
Kenapa dia terdengar kesal? Apa aku melakukan kesalahan?. Batin Ray keheranan dengan wajah kesal Tisha padanya.
Setelah selesai makan malam, keadaan Tisha dan Ray tiba-tiba menjadi canggung karena Ray tiba-tiba jadi pendiam.
__ADS_1
"Makan malam nya sudah kan? Kalau begitu aku pergi dulu" Tisha mengambil tas selempang nya, dia beranjak dari tempat duduknya. Dia kesal karena dia pikir akan terjadi sesuatu yang menakjubkan disana, tapi ternyata hanya makan malam yang hening saja.
Untuk apa kamu mengajakku kemari kalau kamu seperti ini? Apa apaan sih?
Susah sekali menjadi romantis. kata Ray dalam hatinya bingung.
Ray mengejar Tisha lalu membawa buket bunga itu, pria dingin plus cuek itu berlutut di depan Tisha sambil menyodorkan bunga kepadanya.
"Tisha.."
"Kamu ini sedang apa?"Tisha menatapnya dengan kesal karena dia sudah telanjur sebal dengan sikap Ray padanya
"I-ini buat kamu!"
Sialan! Ini lebih sulit dari presentasi di kantor. Ray mendadak gugup di depan gadis itu, pikirannya sudah buyar. Padahal dia sudah merangkai kata-kata untuk dikatakan pada Tisha.
"Oke" jawab Tisha sambil mengambil buket bunga itu, lalu dia melangkah pergi dengan cueknya.
"Tisha, tunggu.. aku belum selesai bicara"
"Mau bicara apa? Daritadi kamu cuma diam saja dan mengabaikan aku? Buat apa aku disini lagi" Tisha ngambek.
"Aku bukan mengabaikan kamu, aku gugup. Entah kenapa rasanya sulit mengatakan hal ini, tapi malam ini harus aku katakan!" Ray memegang tangan Tisha.
"Kamu mau bilang apa?" tanya Tisha tak percaya kalau orang tidak tahu malu dan sangat percaya diri seperti Ray akan gugup di depannya.
"Aku...aku.. kamu lihat dulu bunganya, disana ada sesuatu" Ray gugup lagi.
Kamu tidak berguna, melamar wanita saja tidak bisa!
Lagi-lagi Ray merutuki dirinya sendiri di dalam hati.
Tisha menepis tangan Ray, dia melihat apa yang ada di buket bunga itu. Ada sebuah kotak berwarna merah disana, berbentuk hati. Dia mengambil kotak itu, dan kini berbagai pertanyaan muncul di dalam kepalanya.
"Kak Ray.. ini..." Tisha melihat ke arah Ray.
"Bukalah!"
Tisha membuka kotak itu, di dalamnya ada sebuah cincin berlian berbentuk bunga mawar, berwarna merah muda.
"Ini..."Mata wanita itu mulai berkaca-kaca, mungkinkah apa yang dia bayangkan akan segera terjadi?
Ray memegang tangan Tisha, mendadak dia tidak gugup lagi .Dan disinilah dia memulai kata-kata nya, "Aku gak akan bicara panjang lebar, aku bukan orang yang suka berbasa-basi? Kamu tau kan? Tisha... menikahlah denganku, mari kita menjadi keluarga.. untuk kamu, Rasya dan untuk aku juga. Tisha, aku mencintaimu" Pria itu menatap Tisha dengan penuh cinta dan harapan.
Deg!
Wanita itu tercekat, dia menatap cincin dan Ray secara bersamaan. Matanya berkaca-kaca, pria itu sedang melamarnya.
...---***---...
__ADS_1