
...πππ...
Wajah ibu hamil itu langsung muram mendengar dan menyaksikan sendiri kebohongan suaminya, dia melewati jalan memutar agar suaminya tidak melihat keberadaan nya.
Dia kembali ke meja dimana tempat Rasya anaknya sedang duduk. Makanan sudah tersedia di atas meja, lengkap dengan minuman nya. Rasya bisa melihat wajah ibunya yang muram, dia bertanya apa yang terjadi pada Tisha? Tisha hanya menjawab singkat bahwa dia tidak apa-apa dan meminta Rasya segera menghabiskan makanan nya.
Rasya dan Tisha makan bersama, wajah muram dengan bibir cemberut itu masih terlihat jelas. Membuat Rasya bertanya-tanya, apa mungkin mama nya melihat papa nya sedang bersama wanita lain?
Segera setelah selesai makan, Tisha mengajak Rasya pulang. Mereka di jemput oleh pak Joni untuk membantu membawa barang belanjaan. Di depan mall itu, Tisha tak sengaja menjatuhkan dompetnya.
PLUK
"Aduh, pakai jatuh segala."Gerutunya sambil membungkukkan setengah badannya untuk mengambil dompet itu. Namun, sepasang tangan besar mengambilkan dompet nya. "Tidak baik ibu hamil membungkuk seperti itu, bahaya." Suara seorang pria lembut.
Tisha mendongak melihat ke arah pria yang mengambil dompetnya, dia adalah Derrick. "Kak Derrick!" Tisha tersenyum.
"Seperti nya kamu sudah mau pulang ya, padahal tadinya aku mau ngajak kamu sama Rasya makan siang." Derrick tersenyum ramah, dia hendak mengelus kepala Rasya. Tapi, Rasya menghindarinya.
"Mama sama aku udah makan siang, terus jangan ngajak kami makan siang lagi!" Rasya memegang mama nya, takut mama nya direbut.
"Lihatlah anak ini, dia masih menganggap ku saingan. Hai nak, aku bukan saingan papa mu! Aku sudah resmi jadi kakak dari mama mu, aku tidak ada perasaan seperti itu pada mama mu. Dendam pada papa mu, itu juga sudah ku lupakan." Derrick menjelaskan nya pada Rasya. Tapi, Rasya tetap waspada kalau Derrick mengincar mama nya.
Selama 4 bulan itu, Derrick dan Ray sudah berdamai. Bahkan Derrick menganggap Tisha seperti adiknya sendiri, dia tidak bermaksud untuk mencelakai atau balas dendam pada keluarga Ray seperti sebelumnya.
"Aku gak mau ngomong sama kamu! Ma, ayo pulang!" Rasya menarik baju mama nya, merengek meminta pulang.
Tisha melirik kesal ke arah putranya,"Rasya kok kamu gak sopan sih! Ayo minta maaf sama om Derrick!"
"Gak mau!" Rasya menolak meminta maaf pada Derrick.
Derrick hanya tersenyum lembut melihat anak itu. Ia merasa kalau keras kepala Ray menurun kepada putranya. Derrick mengatakan pada Tisha, bahwa dia tidak apa-apa dan Rasya tidak perlu meminta maaf kepadanya. Namun, Tisha tetap menyuruh anaknya untuk meminta maaf kepada Derrick atas perilaku tidak sopan nya pada orang yang lebih tua.
Dia menasehati Rasya untuk selalu bersikap sopan kepada yang lebih tua, termasuk pada Derrick. Dengan terpaksa, Rasya menurunkan ego nya walau tidak senang, dia meminta maaf kepada Derrick.
__ADS_1
Setelah itu Rasya kembali merengek meminta pulang, akhirnya Tisha berpamitan pada Derrick untuk pulang lebih dulu.
"Kak Derrick maaf, seperti nya aku harus pulang duluan." Tisha berpamitan pada Derrick.
"Mau aku antar?" tanya Derrick menawarkan untuk mengantar.
"Tidak usah! Ada pak Joni!" Rasya menjawabnya dengan sergapan, dia menatap Derrick dengan tajam.
"Oh jadi sudah ada supir, baiklah. Hati-hati ya.." Derrick tersenyum, dia menoleh ke arah mall. Keningnya berkerut ketika dia melihat Ray dan wanita berambut pendek itu sedang berjalan bersama keluar dari mall itu.
"Bukankah itu Raymond?" Derrick terlihat tidak senang melihat pemandangan itu.
Mengapa dia berduaan dengan seorang wanita?
Tisha terdiam sejenak, kemudian dia menggandeng tangan Rasya dan membawa anak itu untuk cepat pergi dari sana. Ray melihat Tisha dan Rasya yang akan masuk ke dalam mobil.
Jadi mama murung dari tadi karena mama udah tau kalau papa sama cewek itu? Rasya melihat papa nya jalan berduaan dengan wanita itu.
Tok, tok, tok
Ray menggedor kaca mobil itu dengan keras. Dia berharap Tisha tidak salah paham padanya, apalagi dia sudah ketahuan berbohong.
"Sayang! Sayang dengarkan penjelasan ku dulu! Tisha, Rasya! Joni, buka pintunya! Joni!" teriak Ray pada supir yang ada di dalam mobil sedang berwarna putih itu.
Ketika Joni akan membuka pintunya, Tisha melarang Joni membuka pintu mobil untuk Ray. Dia malah meminta Joni segera membawa Rasya dan dia pulang ke rumah.
"Jangan buka pintunya pak Joni! Langsung jalan ke rumah saja!"
"Tapi nyonya, pak presdir beliau-"
"Jalan saja pak Joni!" teriak Tisha emosi. Setelah nya dia menghela napas, sambil memegang perutnya.
Kenapa kamu selalu tidak jujur kepadaku kak? Kenapa selalu ada saja yang kamu tutupi? Kalau kamu seperti ini aku jadi gak tau, kamu cinta sama aku atau enggak? Padahal baru tadi malam kamu mengucapkan kata cinta padaku?! Kenapa kamu bermain mata dengan yang lain? Tisha mengeluh di dalam hatinya.
__ADS_1
Rasya diam saja, dia menghela napas dan berfikir. Memikirkan bagaimana cara agar kedua orang tua nya berbaikan.
Gimana ini? Baru aja sehari baikan, eh udah berantem lagi. Papa kenapa sih selalu membuat masalah? Papa nyebelin!
Rasya memaki papa nya di dalam hati. Dia bingung harus melakukan apa, pikirannya buntu saat ini. Dan seperti nya masalah Ray dan Tisha tidak sesederhana yang dia pikirkan.
Pak Joni langsung tancap gas, dia mematuhi perintah Tisha untuk pulang ke rumah. Mobil itu melaju kencang meninggalkan tempat parkir mall itu. Ray terlihat cemas, karena dia membuat Tisha salah paham lagi.
Tisha, apa dia melihat semuanya? Berarti saat dia menelpon ku, dia sudah tau? Apa dia mendengar percakapan ku dan Stefani?
"Wah, kamu sangat tidak tahu malu ya. Bermain dengan wanita lain di depan istrimu sendiri." Derrick menghampiri lalu menghakimi Ray saat itu juga.
"Kalau tidak tahu apa-apa, jangan komen. Wanita ini hanya rekan bisnis ku!" Ray membela dirinya, suara nya meninggi ketika berhadapan dengan pria itu.
"Pak, maafkan saya seperti nya saya sudah membuat istri bapak salah paham. Biar saya bantu jelaskan padanya," ucap Stefani pada Ray dengan wajah lembutnya.
"Tidak usah, biar saya yang menyelesaikan nya sendiri." jawab Ray sambil mengambil ponselnya dan menghubungi Tisha, namun Tisha tidak mengangkat telpon nya.
"Cepat kejar dia! Selesaikan masalahmu, kalau masalah mu belum selesai juga. Aku akan menghajar mu!" Derrick mengancam pria itu untuk pergi menyusul istrinya dan menyelesaikan masalah.
"Bu Stefani, saya minta maaf. Seperti nya saya tidak bisa melanjutkan obrolan kita. Tolong sampaikan pada pak Wiryawan, permohonan maaf saya." Ray berkata dengan sopan pada Stefani.
"Tidak apa-apa pak, seperti nya istri bapak sedang sensitif karena sedang hamil. Lebih baik bapak tenangkan istri bapak, kita bisa mengobrol lagi nanti." Wajah cantik, hidung mancung, kulit putih itu semakin terlihat indah, tatkala bibir merah Stefani tersenyum pada Ray.
Derrick memperhatikan gelagat Stefani dan menatapnya dengan tajam. "Baiklah, sekali lagi saya minta maaf."
"Ah ya, pak Raymond terimakasih juga karena sudah membantu saya memilihkan kalung untuk hadiah ulang tahun mama saya." Ucap nya sembari merapikan rambutnya kebelakang telinga.
"Sama-sama, terimakasih juga karena Bu Stefani sudah membantu saya memilihkan kalung untuk istri saya." ucap Ray pada Stefani, tanpa senyuman dan wajah datar seperti biasanya.
Ray pergi buru-buru menaiki mobilnya, dia meminta Gerry yang sedang berada di parkiran untuk mengantar Stefani. Stefani melihat Ray melajukan mobilnya dengan kencang.
...---***---...
__ADS_1