
...πππ...
Seakan menghindar, Fayra tidak bicara apa-apa lagi dia menggandeng tas nya dan melangkah pergi dari kamar itu.
"Fay, aku akan bertanggungjawab!" Sam memegang tangan Fayra.
"Kamu sungguh menjijikkan! Ini pasti rencana mu kan? Kamu menjebak ku kan?" tanya Fayra menuduh Sam. Dia menepis tangan Sam dengan kesal.
"Apa yang kamu bicarakan? Jika aku yang menjebak mu, lalu kenapa kamu terjebak?" tanya Sam menunjukkan kedok aslinya.
"Apa?Jadi benar-benar kamu yang merencanakan semua ini?" mata Fayra membulat, dia tidak habis pikir dengan hal yang dilakukan Sam dan pengakuan nya secara tidak langsung.
"Benar, tapi kamu juga tidak menolak kan? Kamu menikmati nya tadi malam!" ucap Sam.
"Itu...itu...," Fayra ragu-ragu mengatakan nya karena dia sendiri tidak mengingat jelas apa yang terjadi bersama dengan Sam.
"Aku tau kamu akan menyangkal nya, jadi aku menunjukkan ini padamu," ucap Sam sambil mengambil ponselnya, dia memutar sebuah rekaman suara.
Sam.. aku mencintaimu...Sam.. Ahhh..
Fayra terpana mendengar suara mesumnya di dalam rekaman itu, dia ingin mengambil ponsel berisi rekamannya dari tangan Sam. Tapi, Sam memegang ponselnya erat-erat.hi
"Kamu sudah percaya kan?"tanya Sam sambil tersenyum menyeringai.
"Sam, kamu gila ya! Cepat hapus rekaman itu, kenapa kamu menyimpannya?!" teriak Fayra emosi.
"Aku hanya ingin kamu percaya kalau kamu masih mencintai ku, kamu mengatakannya dengan mulutmu sendiri, Fay!"
"Oke, aku memang mengatakan nya. Dan tentang tanggungjawab itu, kamu tidak perlu melakukan nya. Karena aku tidak mau ada hubungan lagi dengan pria manipulatif seperti kamu, Sam!"
"Fay, kita masih bisa bersama. Kamu mencintai ku, aku mencintaimu.. kita saling cinta dan kita sudah melakukan nya. Jadi, mari kita hidup bersama, ya?" pinta Sam sambil memegang tangan Fayra.
"Kamu tidak waras Sam!" Fayra marah, karena Sam yang dia kenal sudah berubah. Sam egois dan memikirkan dirinya sendiri, tidak memikirkan perasaan istri dan anaknya.
Fayra meninggalkan Sam di kamar hotel itu, dia terlihat sedih dan merasa berdosa pada Grace juga anaknya. Apa yang akan terjaga bila Grace dan Milena sampai tau bahwa dia sudah bercumbu dengan Sam?
Sam sendiri malah merasa puas telah merenggut kesucian Fayra. Dia tidak menyusul Fayra, dan malah menelpon pengacaranya.
"Halo pak Yustian, tolong siapkan berkas gugatan perceraian," ucap nya pada seseorang di telpon.
Pagi itu..
Sesampainya di rumah Tisha, Fayra terlihat galau dan resah. Tisha dan Rasya baru saja akan berangkat memulai aktivitas mereka.
"Kak Fayra? Kak Fayra baru pulang? Kakak darimana saja kak?" tanya Tisha cemas melihat Fayra pulang pagi itu.
"Ehm.. aku ketiduran di mes restoran," jawab nya gelagapan.
"Aku menelpon kakak berkali-kali tapi kakak tidak mengangkat nya, aku mau pergi ke restoran kakak tapi aku gak tau alamatnya. Huh, tapi syukurlah kakak baik-baik saja, ayo kita sarapan bersama kak," oceh Tisha mengajak Fayra untuk makan bersama.
"Iya nanti aja ya, aku mau ke kamar dulu...," ucap Fayra terlihat lelah.
"Baiklah kak, kalau kakak mau makan, ambil saj di dapur ya kak. Aku mau mengantar Rasya ke sekolah setelah ini," ucap Tisha perhatian.
"Oke Sha," jawabnya sambil melangkah menuju ke kamar nya.
"Oh ya kak Fayra, apa mungkin kak Fayra melihat pak Sam?" tanya Tisha pada Fayra, membuat langkahnya terhenti.
Deg!
Wanita itu berdebar, ketika Tisha menanyakan tentang Sam pada Fayra.
"Ke-kenapa kamu menanyakan ini padaku? Mana aku tahu lah!" mata Fayra menatap kemana-mana, dia kelimpungan.
__ADS_1
"Kak Grace kemarin kesini dia curhat padaku katanya pak Sam jarang pulang ke rumah dan sikapnya mulai berubah. Aku coba menghibur nya dan bilang kalo pak Sam mungkin sibuk di kantor. Tapi setelah melihat hari ini dia tidak pulang ke rumah nya sampai membuat kak Grace mencarinya semalaman kemana-mana, aku jadi cemas kalau apa yang dipikirkan kak Grace itu benar," gumam Tisha sambil memakan sarapannya.
"A-Apa yang dipikirkan nya?" tanya Fayra. Dia meras tersindir dengan ucapan Tisha.
"Dia berfikir kalau pak Sam punya wanita lain di luar sana, tapi aku bilang padanya bahwa itu tidak mungkin. Pak Sam dan kak Grace selama ini baik-baik saja tanpa ada masalah, mereka bahkan punya anak bersama..," Tisha memberitahukan curahan hati Grace pada Fayra.
Apa sikap Sam berubah pada istrinya karena kedatangan ku kesini? Ya Allah, seperti nya keputusan ku kemari benar-benar kesalahan besar. Aku harus segera kembali ke tempat dimana seharusnya aku berada.
"oh ya kak..dia juga ingin berkenalan dengan kakak," Tisha tersenyum pada Fayra.
Perasaan wanita itu benar-benar tidak enak, dia hanya menjawab nya dengan senyuman. Dia berlalu dan pergi ke kamarnya dengan gelisah.
****
Seperti biasanya, Ray menjemput Tisha dan Rasya. Ray menceritakan tentang wasiat dari pak Faisal juga pesan untuk Ray kembali menikahi Tisha pada tanggal 01 Juli.
Tisha terkejut bercampur bahagia, karena pak Faisal sampai akhir hayatnya masih memikirkan Ray dan Tisha. Semua itu mematahkan pesan terakhir dari Alm. kakak dan ibu Tisha.
"Jadi gimana? Satu Juli? Kamu siap?" tanya Ray dengan senyuman bahagia menatap calon istrinya.
"3 minggu lagi kan? Baiklah, mari kita menikah," jawab Tisha setuju.
"Alhamdulillah.. akhirnya mama dan papa akan segera menikah, jadi kita bertiga bisa bersama-sama setiap hari," Rasya tersenyum bahagia mendengar kedua orang tuanya akan segera menikah.
Aku jadi punya orang tua yang lengkap sekarang, aku sangat bersyukur..batin Rasya sambil tersenyum senang.
"Iya sayang, kita akan selalu bersama-sama. Dan kita bisa mewujudkan impian kamu untuk punya adik bayi," ucap Ray pada putranya itu
"Kak Ray!" Tisha langsung melotot ke arah Ray.
"Hehe baiklah," Ray nyengir, dan kembali fokus menyetir mobil.
"Horayy! Adik bayi, nanti setelah nikah papa mama harus kasih aku adik bayi ya," Rasya memeluk mama nya dengan gembira.
Ketiga orang yang berada di dalam mobil sedan berwarna hitam itu terlihat bahagia. Kebahagiaan akan segera menghampiri mereka berdua, meski sudah tanpa kedua orang tua. Mereka berencana untuk mengatur pernikahan mereka sendiri.
Ray selesai mengantar Rasya lebih dulu, kemudian dia mengantar Tisha ke kantornya. Tepat di depan kantor Apparel desain..
"Makasih ya sudah mengantarku," Tisha menyunggingkan senyuman indah di bibirnya.
Ray menunjuk ke arah pipinya, "Kiss bye nya mana?" tanya nya manja.
"Apa?"Tisha terpana, tak percaya dengan tingkah laku Presdir Argantara grup itu.
"Tadi kamu kasih kiss bye buat Rasya, buatku gak dikasih juga?" tanya Ray menggoda wanita cantik yang ada di hadapan nya itu.
"Itu berlaku untuk Rasya, kamu enggak ya! Kita belum menikah kak," ucap Tisha sambil melepaskan seat belt yang melingkar di tubuh nya.
"Aku jadi gak semangat ke kantor nih, bekal makan siang gak ada, kiss bye gak ada, gimana dong? Apa aku pulang lagi aja ke rumah ya?" gerutunya pada Tisha.
Dia tersenyum sambil menggelengkan kepala mendengar ucapan manja Ray, "Kakak apa apaan sih, manja tau gak!"
"Kita kan udah bertunangan, masa kiss bye aja tidak mau, aku iri deh sama Rasya yang setiap hari bisa dicium mama nya," gumam nya sebal.
"Dasar..ckckck.."
Tisha mencium kedua jarinya, kemudian dia meletakkan kedua jari itu pada pipi Ray dengan lembut. Wajah nya merona, dia sendiri yang melakukan dan dia sendiri yang malu dengan tindakan nya.
"MUACH... udah puas kan kiss bye nya?" Tisha menirukan suara kecupan, dia tersenyum manis.
"Oke, setelah aku menikah aku akan minta banyak. Kamu harus bersiap-siap," Ray menatap calon istrinya dengan tajam, tapi senyuman masih terlihat dibibir nya.
"Aku akan menantikan itu. Kalau begitu, aku pergi dulu ya," Tisha pamit sambil membuka pintu mobil.
__ADS_1
"Baiklah, kalau ada apa-apa kabari aku ya," Ray ingin menjadi orang yang diandalkan untuk Tisha.
"Siap!" seru Tisha patuh.
Wanita itu keluar dari mobil Ray, dia berjalan bersama karyawan lainnya dan masuk ke dalam kantor. Namun, sebelum melangkah masuk ke dalam kantor. Seseorang menyeret Tisha ke tempat yang sepi, dia adalah gadis berseragam putih abu, dengan rambut panjang yang diikat.
"Kirana? Kenapa kamu ada disini?" tanya Tisha keheranan melihat Kirana ada disana, juga menyeretnya pergi.
"Kakak, aku mau bicara sebentar sama kakak!" pinta Kirana dengan mata berkaca-kaca.
"Baiklah, tapi jangan lama-lama ya. 5 menit lagi aku masuk kerja," seperti biasanya Tisha tersenyum hangat pada gadis itu.
"Jadi gini kak, aku mau tanya...kenapa kakak menolak kak Zayn?" tanya Kirana sambil memainkan kukunya, dia terlihat sedih.
Tisha terperangah mendengar pertanyaan dari gadis itu. Lebih tepatnya, kenapa gadis itu bisa tau kalau Zayn menyukainya dan seberapa besar gadis remaja itu tau tentang hubungan mereka?
Wajahnya menjadi serius, "Kirana, darimana kamu tau semua ini?" tanya nya.
"Kemarin aku gak sengaja lihat kalian berduaan di kantor," jawab gadis itu.
"Kamu melihat apa saja? Atau kamu mendengar apa saja?" tanya Tisha khawatir kalau ada yang menyebarkan berita tentang Zayn.
"Aku dengar semua, dan aku lihat kak Zayn mencium kakak!" seru Kirana setengah berteriak.
"Kirana, jangan berteriak seperti itu! Nanti ada yang dengar!" seru Tisha meminta Kirana bicara pelan-pelan.
"Maaf Kak, aku janji gak akan kasih tau siapa-siapa! Tapi, aku mau kasih tau kakak kali selain aku ada seseorang yang mengawasi kakak dan kak Zayn saat itu. Aku takutnya orang itu wartawan, atau fans kak Zayn!" Kirana memberitahu pada Tisha bahwa ada orang selain dirinya yang berada di sana.
Setelah hampir 5 menit berbicara dengan Kirana, bisa kembali masuk ke dalam kantor. Dia bergegas pergi menuju ke ruangan Zayn, untuk memberitahukan info penting ini kepadanya.
****
Sementara itu, Ray juga baru sampai di kantornya. Dia segera masuk ke dalam ruangan tempatnya bekerja. Wajah nya terlihat cerah dan bahagia, dia melihat ke arah jendela sambil menikmati kopi yang diseduh kan oleh Gerry.
"Cuaca hari ini sangat indah, seindah hatiku saat ini, ucap Ray sambil memandang ke arah luar jendela, melihat langit yang mending disertai petir.
Jederrrrr!!!!
Cuaca hari ini sangat indah? Apa Presdir sudah benar-benar kehilangan akal? Cuaca buruk seperti ini disebut indah? Benar-benar deh, cinta mengubah segalanya. Gerry menatap melihat sikap aneh Ray, namun dia senang karena hari itu tidak terkena marah olehnya.
Baru saja tenang, sebuah berita menghebohkan masuk ke dalam ponsel Gerry, lebih tepatnya media sosial miliknya.
Tring!
πΆπΆ
Gerry melihat ponsel nya, membuka apa isi berita menghebohkan itu.
"Ketenangan sebelum badai, sebentar lagi badai.." gumam Gerry tercengang melihat berita di ponselnya itu.
"Gerry, ada apa?" tanya Ray menatap tajam ke arah Gerry yang sedang melihat ponselnya.
"I-ini pak.." Gerry memberikan ponselnya pada Ray.
Mata nya terbuka lebar begitu dia melihat berita yang ada di ponsel milik sekretarisnya itu. "Sialan!"
Ray melempar ponsel itu ke tembok, hingga kini ponsel nya menjadi rongsokan.
Praakkkk!!!
"Pak!! Itu ponsel baru saya pak!!" Gerry meringis melihat ponsel nya yang hancur di lantai.
...---***---...
__ADS_1