Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 171. Keanehan Tisha


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Pagi itu Tisha protes pada suaminya, dia mencium bau yang membuat perutnya bergejolak. Sontak saja wanita itu menutup hidung dan mulutnya.


"Kamu! Parfum apa yang kamu pakai sih?!" tanya Tisha tak enak ketika dia berdekatan dengan suaminya.


"Sayang, kamu tau kan aku gak suka pakai parfum. Paling cuma pakai deodoran aja, kenapa sih kamu? Akhir-akhir ini sensitif sama bebauan?" tanya Ray pada istrinya heran. Ray mendekati istrinya yang sedang berdiri jauh darinya itu karena mencium bau.


Tisha berjalan mundur, dia masih memegang hidungnya. "Jangan dekat-dekat! Aku gak mau dekat-dekat sama kamu! Kamu bau!" Ujar nya pada sang suami.


"Sayang, aku mau peluk kamu lho?" Ray mengernyitkan dahinya, dia merasa kecewa ditolak oleh Tisha. Padahal dia sudah merentangkan kedua tangannya untuk mendapat pelukan pagi seperti biasanya.


"Jangan dekat-dekat aku lagi! Kamu bau!" Wanita itu berlari keluar dari kamar dan menghindari suaminya.


Seperti biasanya Rasya dan Ray sudah berada di meja makan lebih dulu. Sementara itu Tisha sendiri sibuk menyiapkan roti dengan selai coklat dan keju untuk suami dan putranya.


"Sst..hey! Jagoannya papa!" bisik Ray pada putranya yang duduk tepat disebelah nya.


"Iya Pah? Ada apa? Kok bisik-bisik gitu?" tanya Rasya keheranan.


"Sstt.. jangan berisik. Papa mau tanya, apa papa bau?" tanya Ray pada putranya, sambil mengendus bau tubuhnya sendiri. Matanya melihat ke arah Tisha yang masih sibuk mengolesi roti dengan selai.


"Bau? Enggak tuh!" jawab Rasya yakin. "Memangnya kenapa papa tanya gitu?" Rasya bertanya lagi.


"Mama kamu bilang kalau papa bau, padahal kan enggak!" Ray memonyongkan bibirnya, sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Iya pa, mama juga pernah bilang kalau ada bau aneh di kamarku. Tapi gak ada apa-apa yang bau disana. Mama jangan aneh dan sensitif sama bau-bauan pa.." Rasya ikut menceritakan keanehan mama nya pada mama nya.


"Papa setuju, mama kamu jadi aneh!" Ray mengangguk-angguk. Rasya juga ikut mengangguk.


"Kenapa kalian bisik-bisik seperti itu? Apa pria zaman sekarang juga bergosip?" tanya Tisha pada kedua pria yang terlihat sedang kasak-kusuk di depannya itu. Wanita itu jadi lebih galak dari sebelumnya.


"Gak ada apa-apa kok!" Jawab Rasya dan Ray kompak. Mereka menunjukkan senyuman mereka.


"Ya sudah ayo makan, mama yang akan antar kamu ke sekolah hari ini." Tisha mulai tersenyum tipis, dia meminta Rasya untuk memakan rotinya.


Ketika Rasya dan Ray sedang memakan roti, Tisha asik sendiri memakan salad buah. Rasya dan Ray heran melihat aktivitas Tisha yang tidak seperti biasanya.


Ray dan Rasya saling melirik satu sama lain dengan bingung.


"Sha, kamu bisa sakit perut loh udah makan buah pagi-pagi.." Ray mencemaskan kesehatan istrinya.


"Gak tau kenapa aku lagi pengen salad buah. Gak apa-apa dong Jarang-jarang." Dengan lahapnya Tisha memakan salad buah itu, wajahnya tampak berseri dan lebih bercahaya dari sebelumnya.


"Ya sudah deh, hati-hati aja sakit perut ya." kata Ray yang sudah mengingatkan istrinya.


"Huum" jawab Tisha sambil tersenyum.


Akhir-akhir ini Tisha rajin sekali mandi dan berdandan, setiap keluar rumah Tisha selalu memakai make up. Hal ini dianggap keanehan oleh Ray dan Rasya.

__ADS_1


Bahkan Tisha juga yang tidak pernah pergi ke salon, sekarang dia pergi ke salon. Dia juga membeli beberapa pakaian baru, kosmetik, dia tidak sederhana seperti sebelum nya. Tentu saja Ray selalu mengabulkan permintaannya. Dia juga senang kalau istrinya meminta sesuatu darinya, dan sesuatu yang bisa dia kabulkan. Keanehan Tisha tidak hanya disana, Tisha bahkan pernah membuat desert tengah malam, bahkan dia merengek kalau dia ingin Boba pada tengah malam.


Sesampainya di kantor, Ray melamun dan kepikiran dengan tingkah Tisha yang semakin aneh. Bahkan dalam beberapa terakhir Ray tidak bisa menyentuh nya.


Pergi kamu dari sini! Kamu bau! Aku mau tidur sendiri!


Kata-kata Tisha yang mengusir nya terngiang-ngiang di kepalanya. Sudah 4 hari pasangan suami istri itu tidak tidur bersama di dalam satu ranjang. Tisha selalu mengatakan kalau dia merasa mual di dekat Ray.


"Pak, maaf...mungkinkah ada yang menganggu bapak?" tanya Gerry tepat setelah dia keluar dari ruang rapat bersama bosnya itu.


"Banyak yang menggangguku." jawab Ray gusar.


"Apa itu tentang tuan muda Rasya? Atau bu Latisha?" tanya Gerry pada bosnya itu, dia sudah tau pasti masalah hidupnya berkaitan dengan istri atau anaknya.


"Aku tidak tau mau cerita darimana, kalau aku ceritakan padamu apa kamu bisa memberiku solusi?" Ray menatap Gerry.


"Sebisa mungkin saya akan membantu bapak walau itu hanya dengan doa" jawab Gerry sambil tersenyum lebar dan profesional.


"Pintar sekali ya kamu jawabnya!" Ray mendelik tajam ke arah Gerry.


"Hehe, kalau begitu apa masalah bapak? Siapa tau saya bisa membantu?"


Gerry yang selalu bersama Ray selama bertahun-tahun, tentu saja selalu berbagi suka dan duka tanpa sadar. Ray juga terlihat terbuka pada Gerry. Meskipun dia selalu memarahi nya, bukan berarti dia benci padanya. Itu dia lakukan karena dia mendisiplinkan karyawan nya dan bersikap tegas.


Ray memberitahu Gerry tentang sikap aneh Tisha, dia meminta pendapat Gerry. Layaknya meminta pendapat pada saudara nya sendiri.


"Hahaha.. bapak jangan over thinking dulu. Menurut pendapat saya, keanehan Bu Tisha adalah salah satu gejala yang baik. Karena salah satu hal itu pernah dialami istri saya ketika dia mengandung Maura." jelas Gerry sambil tersenyum, di memberikan pendapat nya tentang Tisha..


"Ah? Apa? Gejala apa maksud mu?" tanya Ray tak paham apa yang dibicarakan oleh Gerry.


"Cobalah bapak periksakan Bu Tisha ke dokter, maka dokter akan tau jawaban pastinya." Gerry tersenyum bijak.


Semoga saja dugaan ku benar.


"Dokter? Ya, kamu benar.. seperti nya Tisha butuh dokter!" seru Ray setuju dengan saran Gerry untuk memeriksakan Tisha ke dokter. "Nanti aku akan mengajaknya ke dokter sepulang kerja. Kalau dia masih menolak, aku akan bawa dokternya ke rumah! Pokoknya hari ini penyakit nya harus ditemukan!" gumam Ray dengan wajah serius.


Disisi lain Gerry hanya tersenyum melihat wajah serius Ray. Dia menahan tawa, karena menurut dirinya sesuatu yang terjadi pada Tisha bukanlah penyakit.


****


Setelah mengantar Rasya ke sekolahnya, Tisha pergi ke supermarket untuk belanja kebutuhan yang sudah habis. Dia belum bekerja setelah keluar dari perusahaan Apparel desain. Lagi-lagi kepalanya berkunang-kunang tak tau kenapa.


"Uh.. dasar deh, sudah minum obat sakit kepala tapi masih belum mereda!!" gerutu Tisha sambil memegang kepalanya. Satu tangan lainnya membawa troli untuk barang belanja yang akan dia bawa.


Wanita itu melanjutkan belanja nya setelah kepalanya merasa lebih baik. Dia melihat satu bungkus permen susu berbentuk hewan di dalam salah satu tempat makanan. Dengan semangat Tisha mengambilnya, namun ada satu tangan lagi yang mengambil nya. Hingga mereka berdua mengambilnya bersamaan.


"Maaf ya, tapi saya duluan yang mengambil ini!" protes Tisha pada seseorang yang mengambil permen nya.


"Maaf, tapi saya yang lebih dulu melihatnya.. jadi permen ini punya sa-"

__ADS_1


Pria itu menghentikan kata-kata nya begitu melihat ke arah Tisha. Dia adalah Derrick. Tisha semakin sebal melihat Derrick ada disana. Dia memanfaatkan Ray yang sedang menatapnya, kemudi dia mengambil satu bungkus permen itu. Tisha melangkah pergi sambil membawa troli nya, dia acuh pada Derrick.


Derrick termangu diam, dia semakin merasa kalau Tisha mirip dengan adiknya. "Tunggu! Apa kamu suka permen susu sapi itu juga?"


SRET!


Tisha membalikkan badannya ke arah Derrick, kemudian dia bertanya."Apa anda bicara pada saya?" tanya Tisha dengan wajah polosnya.


"Memangnya aku bicara dengan siapa lagi? Tidak ada seorang pun disini selain kamu." ucap Derrick pada wanita itu. "Apa bisa kita bicara sebentar?" tanya Derrick dengan suara lembut.


"Kenapa? Apa kamu mau melempar ku dengan vas bunga lagi?" tanya Tisha sedikit sinis.


"Kamu sangat sarkastik, bukankah kamu sendiri yang bilang untuk melupakan masa lalu?" Derrick tersenyum pada Tisha.


"Baiklah, ayo bicara!"jawab Tisha setuju.


Lagipula kalau ada apa-apa, aku tinggal panggil suamiku saja. Atau bodyguard nya kak Ray yang bersembunyi di sekitar sini.


"Kita bicara sambil makan cemilan di restoran itu!" seru Derrick sambil menunjuk ke arah sebuah restoran kecil di dalam mall itu.


"Baik, tapi saya akan menyelesaikan dulu belanjanya. Anda bisa menunggu kan?"tanya Tisha dengan suara dingin nya.


"Tentu," jawab nya setuju.


πŸ€ Di rumah Grace dan Sam πŸ€


Terjadi keributan besar antara Grace dan Sam. Sam marah pada Grace karena dia menuduh Grace meminta Fayra pergi keluar negeri. Pertengkaran itu terdengar oleh anaknya.


"Ini semua pasti karena kamu! Aku tidak bisa menemukan Fayra dimana pun? Kamu pasti tau dimana dia, kan?" tanya Sam sambil menggoyang-goyangkan tubuh Grace. Sam terlihat emosi.


"Cukup! Aku gak tau dimana dia! Kamu jangan terus seperti ini!" Grace emosi pada Sam yang terus menuduhnya.


"Kamu.. kamu pasti yang memintanya pergi, kan! Setelah sekian lama dia kembali, aku harus kehilangan dia lagi!!" Sam berteriak marah pada Grace.


Brak!


"Lagi-lagi papa dan mama bertengkar? Kenapa sih Ma, pa?!" tanya sekarang gadis remaja berseragam putih biru di dekat pintu rumah. Gadis remaja itu menangis melihat kedua orang tua mereka bertengkar.


Padahal dulu mama dan papa baik-baik saja. Lalu kenapa sekarang begini!


"Milena?" Grace menyeka air matanya, dia langsung menghampiri anaknya. "Sayang, kenapa kamu sudah pulang lagi?"


Sam juga langsung bersikap seperti biasa. Dia menghampiri Milena. "Sayang, wajah kamu pucat..apa kamu sakit?"


Ketika Sam akan meraih pipi anak nya, Milena langsung buang muka. Dia terlihat marah pada papa nya. "Papa benar-benar egois!Papa tidak sayang padaku dan mama lagi! Papa.. akhhhhhh.."


Milena memegang dadanya, tubuhnya ambruk tidak sadarkan diri. Sam menopang tubuh Milena. "Milen!!" Sam dan Grace panik melihat anaknya tiba-tiba tidak sadarkan diri.


...---***--...

__ADS_1


__ADS_2