Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 65. Pertemuan


__ADS_3

🍁🍁🍁


"Maaf ya, om antar kamu sampai sini aja. Kamu bisa ke dalam sendiri kan?" kata Ray sambil memegang kedua tangan Rasya, dan menatapnya dengan lembut.


"Iya om gak papa, om kan ada rapat penting.. aku bawa foto mamah, aku tinggal kasih tau aja aku nyari mama. Aku duluan ya om" Rasya langsung berlari masuk ke dalam rumah sakit.


Ray dan Gerry melihat nya dengan cemas, "Pak, apa gak papa anak itu sendirian?" tanya Gerry yang juga cemas melihat Rasya berlari ke dalam area rumah sakit yang luas itu


"Kamu khawatir juga padanya kan? apalagi aku.. seperti nya aku harus mengantarnya pada mama nya" gumam Ray yang cemas karena Rasya seorang diri mencari nama nya


"Tapi pak, rapat nya bagaimana?" tanya Gerry


"Di undur saja bisa, kan?" Ray menatap tajam ke arah Gerry.


"Baiklah pak" jawab Gerry


Pak Presdir terlihat peduli sekali pada anak itu. Gerry masuk ke dalam mobil itu dan melihat tas gendong Rasya yang ada disana.


"Pak, ini tas milik anak imut itu" Gerry menyerahkan tas gendong milik Rasya pada Ray yang akan menyusul Rasya masuk ke dalam rumah sakit. "Ngomong-ngomong pak, anak itu agak sedikit mirip dengan bapak" Gerry mengutarakan pendapatnya tentang Rasya dan Ray.


Ray terdiam, hatinya mengatakan bahwa ia setuju dengan apa yang dikatakan Gerry. Ray mengambil tas Rasya lalu mulai melangkahkan kakinya, namun selembar foto jatuh dari tas Rasya yang resleting nya terbuka.


Gerry memungut selembar foto itu."Pak, ini ada yang jatuh!" Ray menoleh ke arah Gerry, ia baru sadar kalau resleting tas itu terbuka.


Gerry terkejut melihat foto itu, matanya membulat kaget."Pak, ini.. bukannya ini foto.."


Ray mengambil foto itu dari tangan Gerry, ia tercengang. Kaget bukan main melihat foto itu, foto dari wanita yang ia cintai dan selama ini ia cari.


Ini Tisha... jadi anak itu adalah..


Tangan Ray gemetar, jantungnya berpacu menjadi lebih cepat. Tanpa bicara sepatah kata pun, Ray berlari menyusul Rasya dan berlari ke dalam rumah sakit yang luas itu.


Gerry mengekori Ray dari belakang setelah ia memarkirkan mobilnya dengan benar. Gerry tau benar, bahwa Ray mungkin akan lama berada di rumah sakit.


Ray mencari-cari keberadaan Rasya disana, ia tak percaya bahwa Rasya mungkin adalah putranya dan Tisha adalah ibunya. Matanya berkaca-kaca, ia mulai menyusuri setiap ruangan di rumah sakit itu. Mencari Rasya dan Tisha.


"Gerry, kamu pergi juga! cari anak itu atau Tisha, mereka pasti ada di rumah sakit ini!" ujar Ray pada Gerry


"Baik pak, saya akan pergi kebagian resepsionis untuk menanyakan ruangan Bu Tisha" jawab Gerry patuh.

__ADS_1


Gerry dan Ray berpencar untuk mencari keberadaan ibu dan anak itu. Ray terlihat panik, ia masih memegang foto Tisha dan tas milik Rasya. Berharap kali ini harapan dan doanya terkabul.


***


Tisha yang baru saja bangun dari tidur nya, melihat ke arah ruangan serba putih di sana. Tisha pasti berada di rumah sakit, ia sudah menebaknya.


"Uh.. "Tisha memegang perutnya yang masih terasa sakit.


"Bagaimana bisa Rasya menghilang? apa mungkin dia kesini??!" tanya Farhan pada seseorang yang sedang bertelepon dengannya.


"Apa? Rasya hilang?? apa maksudnya?" tanya Tisha terkejut mendengar ucapan Farhan tentang anak nya yang hilang.


Farhan menoleh ke arah Tisha yang duduk di ranjang nya. Farhan terkejut dan baru tau kalau Tisha sudah sadar dan mungkin wanita itu mendengar ucapannya.


"Pak Farhan lagi nelpon siapa? apa maksudnya Rasya hilang?!" Tisha panik langsung beranjak dari ranjangnya dan berdiri memegang selang infus nya.


"Tisha.. kamu tenang dulu ya, kamu baru saja selesai operasi" ucap Farhan yang berupaya menenangkan Tisha.


Gawat ini! seperti nya Tisha mendengar semuanya. Zayn bisa marah padaku.


Tisha mengambil telpon dari tangan Farhan sambil meminta maaf karena tidak sopan, oa langsung berbicara dengan orang yang ada di telpon itu.


"Eh.. eh Tisha?!"


"Tisha.. maafin aku, tadi aku pergi ke minimarket sebentar untuk membeli sarapan saat Rasya sedang tidur. Lalu saat aku kembali Rasya sudah tidak ada. Tapi sepertinya Rasya pergi ke rumah sakit untuk nemuin kamu deh" jelas Fayra merasa bersalah


"Oh gitu kak, ya udah gak papa kak. Aku akan cari dia, dia pasti udah sampai di rumah sakit. Rasya kan orangnya nekad" ucap Tisha sambil mengatur emosinya.


"Tisha maafin aku! aku akan cari Rasya di sekitar sini" kata Fayra merasa bersalah


Setelah itu Tisha menutup telponnya, ia mengatur napas dengan menghela napas. Perutnya masih terasa berdenyut, sisa sisa operasi yang baru saja dijalani nya semalam.


"Tisha kamu tunggu aja disini, biar saya yang cari Rasya"


"Saya mau cari Rasya juga, pak Farhan" ucap Tisha sambil mendorong selang infus nya


"Kamu baru saja selesai operasi!"


"Enggak, aku mau cari Rasya" ucapnya tegas.

__ADS_1


"Ya udah, kita ke depan barengan ya.." ucap Farhan


Tisha dan Farhan keluar dari ruang rawat itu. Farhan dan Tisha berpencar mencari Rasya di sekitar sana. Saat belum jauh berjalan, Tisha melihat Rasya yang sedang berjalan sendirian ke arahnya.


"Mama!!" teriak Rasya senang melihat mama nya.


"Rasya!!" Tisha tersenyum bahagia melihat anak nya. Rasya menghampiri Tisha dan memeluknya dengan erat.


Di belakang Rasya ada Ray yang berdiri mematung melihat pemandangan itu. Tanpa sadar air matanya mengalir. Melihat perempuan yang ia rindukan, dan ia pikir sudah mati ada di depannya bersama seorang anak laki-laki yang mirip dengannya.


Gerry melihat Ray dari belakang, ia terkejut melihat Tisha yang masih hidup sedang memeluk Rasya penuh kasih sayang. Dan Rasya memanggil Tisha dengan sebutan mama. Sungguh! adegan ini seperti dalam drama yang terlihat secara real.


Di rumah sakit itu, akhirnya Ray bisa kembali bertemu dengan Tisha.


"Ya Allah.. itu Bu Tisha dan anak imut itu adalah.." gumam Gerry yang sudah mulai kehabisan kata-kata


Syukurlah, kamu masih hidup. Dan anak kita juga masih hidup..Ray menangis.


Pria itu memberanikan dirinya untuk menghampiri Tisha, memastikan apakah yang dilihatnya itu mimpi atau nyata. Kini Ray sudah berdiri di depan Tisha dan Rasya.


"Rasya sayang, kamu nekad banget sih! gimana kalau kamu kenapa-napa?!" Tisha kesal dan cemas pada Rasya yang berani pergi sendirian ke rumah sakit


"Habisnya aku cemas, katanya mamah di operasi. Jangan marahin aku ma.." pinta Rasya seraya merengek kepada ibunya


Rasya melihat ke arah Ray, "Om eskrim! mama, ini om yang aku ceritakan itu, dia yang udah nganter aku ke rumah sakit" Rasya memperkenalkan Ray pada ibunya


Tisha menatap Ray heran, karena Ray menatapnya dengan tatapan aneh penuh kerinduan. Bibir Ray masih membeku, hanya saja matanya mengeluarkan air. Saking bahagianya, mungkin Ray tidak bisa berkata-kata lagi.


Tisha.. ternyata kamu.. kamu..


"Makasih ya bapak sudah.."


GREP


"Tisha, ini benar-benar kamu? kamu masih hidup?? Ya Allah syukurlah.. terimakasih kamu dan anak kita masih hidup" Ray memeluk Tisha dengan penuh kerinduan di dalam hatinya, air matanya mengalir deras.


Mengapa pria ini memeluk ku dan memanggil namaku?. Tisha hanya menatap blank kebingungan.


Anak kita? apa maksud om eskrim anak kita? siapa anaknya?. Rasya terlihat seperti berfikir keras.

__ADS_1


Disisi lain Rasya melihat itu dan kebingungan, Gerry juga ada disana.


...---***---...


__ADS_2