
...πππ...
Tisha berjalan di dalam kegelapan, dia berusaha mencapai daun pintu. Dia semakin panik mendengar suara-suara yang berada di luar ruangan itu.
"Ya Allah, bagaimana ini? Kok pintu nya gak bisa dibuka?" Tisha kebingungan dan semakin panik karena pintu ruangan itu tak bisa dibuka dan terkunci dari luar.
Tak lama setelah itu, Tisha berhasil membuka pintunya. Dia merasa aneh karena pintu nya tertutup dan terbuka sendirinya, dia melihat lampu masih belum menyala. Tidak ada satu orang pun terlihat disana.
"Lho? Kenapa tidak ada satu orang pun terlihat disini? Bukankah tadi banyak suara-suara ribut, lalu kenapa lampunya masih mati?" Wanita hamil itu mengerutkan keningnya, dia pun kembali masuk ke dalam ruangan tempat suaminya terbaring.
Tisha terkejut mendapati lilin-lilin menyala di ruangan itu dan dia lebih tercengang begitu melihat ranjang pasien kosong tanpa ada Ray diatasnya.
"Kak Ray?" Tisha terperangah, dia mencoba menerka apa yang terjadi disana. Tapi, otaknya tak sampai dan dia masih berada dalam kebingungan.
Tisha menoleh ke atas ranjang itu, dia mengambil secarik kertas diatas bantal dan disana ada tulisan. "I'm sorry,"
"Ada apa ini?" Tisha keheranan, dia pun berjalan menelusuri cahaya lilin. Dia semakin terkejut melihat ada tulisan di atas kepalanya, "Terimakasih sudah menungguku,"
"Maaf sudah membuatmu menangis,"
Mata Tisha berkaca-kaca melihat tulisan-tulisan itu, saat dia berjalan beberapa langkah lagi ke depan. Tiba-tiba saja lampu menyala semua, dia melihat sang suami berdiri di dekat balkon ruangan itu dengan tongkat bantu jalan di tangannya.
Hati Tisha berdebar kencang melihat suaminya dalam keadaan mata yang terbuka berada di hadapannya. Tisha menangis, dia kehilangan kata-kata. Bagaimana bisa suaminya masih hidup sedangkan belum lama dokter mengatakan kalau sang suami tak bisa bertahan lagi?
"Selamat ulang tahun, sayang," suara lembut Ray mengalun indah terdengar di telinga sang istri. Di samping Ray ada kue ulang tahun di hiasi lilin dan makan malam romantis.
"Ka-kamu...."
"Maafkan aku Tisha, maaf dan-" Ray menatap sang istri dengan rasa bersalah.
Tisha berlari sambil menangis, dia menghampiri Ray dan langsung memeluk suaminya dengan rasa haru bahagia. "Ini bukan mimpi, kan? Ini benar-benar kamu, kan? Kamu baik-baik saja? Hiks...hiks..," Tisha memeluk suaminya semakin erat, dia berharap semua ini bukan mimpi.
Ray membalas pelukan sang istri sambil menangis, dia tersenyum lebar.
Sentuhan ini nyata, apa aku tidak bermimpi?
Tisha melepaskan pelukan itu, tangannya meraba-raba wajah Ray. Dari mulai mata, hidung, bibir, telinga, bahkan sampai ke leher. Terakhir dia mencubit pipi sang suami dengan keras.
__ADS_1
"Ahhhh.. aw! Sakit Sha," Ray meringis kesakitan.
Tisha melihat pipi Ray memerah akibat dicubit olehnya. "Kamu, kamu benar-benar masih hidup? Kamu sudah sadar dan kamu-" Tisha mencubit kedua pipi kurus Ray dengan gemas dan kesal.
"Sa-sayang, sakit dong!" Gerutu Ray merasa kesakitan dengan cubitan maut sang istri.
"Kamu jahat! Rasanya aku sudah hampir mati, apa kamu mengerjai ku? Puas kamu membuatku menangis dan sedih, hah?" Ucapnya sambil memukul-mukul tubuh sang suami, dengan tangisan dan kekesalan yang mencuat dari dalam hatinya.
"Maafkan aku sayang," Ray memasrahkan dirinya mendapat pukulan dan kemarahan dari Tisha.
"Kamu..kamu keterlaluan! Aku benci kamu, aku benci kamu!" Tisha memukul-mukul Ray semakin keras.
"Ya kamu benci aku, tapi aku cinta kamu," Ray tersenyum, dia menahan tawa melihat kemarahan istrinya. Dia sangat merindukan Tisha, karena dia koma untuk waktu yang lama.
"Di dalam waktu seperti ini, kamu masih ada waktu untuk bercanda? Kamu benar-benar bebal!" Tangan Tisha masih memukul-mukul tubuh Ray, sambil menangis.
Ya Allah terimakasih, ternyata suamiku masih hidup dan kembali. Ya Allah terimakasih, karena ini bukan mimpi.
Setelah lelah menangis dan memukul-mukul tubuh suaminya, mereka berpelukan mesra. Pelukan penuh cinta dan kerinduan, seperti sudah lama tidak bertemu.
"Tidak, ini semua salahku. Maaf karena aku sudah terlalu lama meninggalkan kamu dan anak-anak kita, aku minta maaf karena berbohong. Kalau sejak awal aku tidak berbohong, semua ini tidak akan terjadi," Ray juga menyadari kesalahannya pada Tisha. Dia berjanji akan selalu bersikap jujur pada Tisha dan tidak akan berbohong lagi.
Tisha juga berjanji bahwa dia akan bersikap bijak dalam menghadapi masalah, tidak akan pergi dari rumah lagi tanpa izin dari suaminya. Keduanya sama-sama tersenyum lebar.
Kemudian Ray mengajak Tisha duduk di kursi yang sudah disediakan di dekat balkon. Tisha tidak percaya Ray masih sempat membuat prank untuknya, bahkan Ray ingat hari ulang tahun Tisha yang bahkan dia sendiri tidak ingat.
Ray menceritakan pada Tisha kalau dia sudah sadar dari tadi pagi dan saat itu hanya Gerry yang tau tentang nya. Dia pun meminta Gerry menyiapkan acara kejutan ulang tahun untuk Tisha secara mendadak.
"Jadi kamu sudah sadar dari tadi pagi dan kamu pura-pura meninggal? Apa kamu bekerjasama dengan dokter untuk mengerjai ku?!" Tisha melotot ke arah suaminya dengan tajam.
"Sayang maafkan aku, aku kan ingin membuat kejutan untuk kamu!"
"Iya kamu membuatku terkejut, aku hampir terkena serangan jantung! Bagaimana kalau aku dan anak kita terkena serangan jantung beneran?" Gerutu Tisha sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
Tiba-tiba Ray duduk berlutut di depan sang istri yang sedang duduk di kursi. Ray melihat perut istrinya yang sudah membesar, sejak terakhir dia melihatnya perut itu masih belum terlihat terlalu buncit. "Hai kacang junior nya papa, papa disini sayang? Sudah lama papa tidak menyapa kamu, kamu baik-baik saja kan? Kamu gak rewel kan? Papa kangen sama kamu sayang, apa kamu kangen sama papa?" Ray mengelus perut itu, kemudian dia menciumnya.
Ray terperangah merasakan tendangan di perut sang istri, dia sangat bahagia merasakan respon dari ayahnya. "Aduhduh," Tisha tersenyum, merasakan ada gerakan diperutnya.
__ADS_1
"Anak kita bergerak barusan kan? Dia menjawab pertanyaan ku," Ray mendekatkan telinganya ke arah perut buncit itu. Dia tersenyum lebar, merasakan tendangan si bayi.
"Iya dia bergerak, seperti nya dia memang merindukan kamu kak," Tisha tersenyum sambil memegang perutnya.
Setelah saling mencurahkan rindu, Tisha dan Ray merayakan ulang tahun Tisha disana. Tisha meniup lilin yang ada diatas kue, dia berdoa di dalam hatinya agar keluarga nya selalu sehat, selamat dan bahagia.
"Selamat ulang tahun sayang," Ray mencium kening istrinya dengan lembut.
Kemudian Ray menyanyikan sebuah lagu untuk Tisha, sambil memainkan gitar. Kali ini dia tidak mau gagal romantis sama seperti saat Ray melamar Tisha dulu. Walau tulang-tulang nya masih kaku sehabis bangun dari koma, tapi Ray ingin memberikan kejutan untuk istrinya.
πΆπΆπΆ
Berakhir sudah pencarian cintaku
Jiwa ini tak lagi sepi, hati ini telah ada yang miliki..
Tiba diriku di penghujung mencari cinta
Diri ini tak lagi sepi, kini aku tak sendiri.
Aku akan menikahi mu aku akan menjagamu
Ku 'kan selalu di sisimu seumur hidupmu.
Aku akan menyayangimu ku kan setia kepadamu,
Ku kan selalu disisi mu seumur hidupmu..
πΆπΆπΆ
Kebahagiaan Tisha sungguh berlipat ganda, di hari ulang tahunnya, sang suami telah siuman dalam keadaan baik-baik saja. Alangkah bahagianya dia mendapatkan kesempatan kembali membangun keluarga kecilnya yang bahagia. Kali ini dia tidak akan melahirkan sendirian, karena ada sang suami disisinya.
Cintanya telah kembali, cintanya telah pulang kepadanya.
Apakah mereka telah sampai pada penghujung cinta? Ataukah konflik masih terus berlanjut setelah ini?
...---***---...
__ADS_1