
πππ
"Pak, kamar saya ada di sebelah. Kalau bapak perlu sesuatu bapak bisa menghubungi saya" ucap Gerry berpamitan pada Presdir nya
"Baiklah. Oh ya Gerry kalau kamu mau turun ke bawah, bawakan makan siang ku dan dua bungkus rokok" titah Ray pada Gerry, sambil merebahkan tubuhnya yang lelah itu di ranjang empuknya.
"Baik pak" jawab Gerry patuh
Ini masih siang dan pak Presdir sudah mau merokok. Gerry cemas karena Ray selalu merokok.
Gerry pergi meninggalkan kamar itu untuk melaksanakan apa yang diperintahkan Ray padanya.
Hari masih siang dan Ray merasa sayang kalau harus berada di dalam kamar hotel seharian. Setelah makan siang, Ray memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar hotel menikmati pemandangan indah disana.
Ray sudah bersiap-siap memakai baju casual nya, kemeja lengan pendek celana jeans.
"Pak, apa bapak yakin tidak perlu saya temani?" tanya Gerry
"Aku hanya akan berjalan-jalan di sekitar sini, aku tidak memerlukan mu untuk menyetir. Kamu selesaikan saja tugas dariku, file yang menumpuk itu" ucap Ray pada Gerry
"Baiklah pak.." jawab Gerry sambil menghela napasnya.
Padahal aku ingin ikut jalan-jalan tapi malah harus mengerjakan tugas yang menumpuk. Gerry cemberut, ia tau kalau Ray sengaja melakukannya karena balas dendam pada Gerry yang sudah mengatakan kalau Ray agak terganggu.
****
Ray berjalan-jalan di sekitar hotel itu, menikmati pemandangan yang masih asri. Pemandangan yang jarang ditemukan di kota-kota besar. Saat sedang berjalan-jalan, ia melihat seorang anak laki-laki berwajah tampan sedang membeli es krim di salah satu kedai yang ada disana.
Anak itu fasih berbahasa Inggris, walaupun wajahnya menunjukkan jelas kalau dia adalah orang asia. Ray memandangi Rasya dari kejauhan.
Kalau anakku ada disini, pasti dia sebesar anak itu kan? lucu sekali. batin Ray membayangkan kalau anaknya dan Tisha ada bersamanya. Hatinya perih saat melihat sosok Rasya dari kejauhan.
Ray menyebrang jalan.
"Mama kemana sih lama banget?" gerutu Rasya sambil duduk di kursi yang ada di depan kedai itu. Sambil menjilat eskrim coklatnya dengan lahap, sampai belepotan kemana-mana.
Ray berjalan lewat ke arah sana dan tak sadar ia menjatuhkan dompetnya. Rasya melihat dompet yang terjatuh itu, lalu ia mengambil dompet itu.
Kasihan om itu, ini dompetnya. batin Rasya sambil memungut dompet itu ditangannya, ia juga menjatuhkan eskrim nya.
"Sir! wait!!" teriak Rasya sambil berlari menghampiri Ray yang masih belum jauh. Rasya berlari tanpa melihat-lihat jalan dan rambu-rambu lalu lintas disana.
BRUM
BRUM
Ray mendengar panggilan dari Rasya, ia membalikkan badannya dan berlari menghampiri Rasya yang hampir tertabrak mobil.
"Hampir aja!" ucap Rasya lega karena ia ditolong oleh Ray
Ray menggendong anak berusia kurang lebih 5 tahun itu dengan cepat menghindari mobil. Lalu Ray membawanya ke pinggir jalan.
__ADS_1
Ya Allah, perasaan aneh apa ini? kenapa aku merasa seperti tidak asing dengan anak ini? batin Ray merasakan hal yang tidak biasa saat ia menggendong Rasya dan menatap matanya.
"Kamu memanggilku? ada apa?" tanya Ray sambil tersenyum pada anak kecil itu
"Om, orang Indonesia juga??" tanya Rasya dengan wajah polosnya
"Iya. Terus kamu kenapa mengejar ku? apa ada yang mau kamu katakan padaku?" tanya Ray sambil menurunkan Rasya hingga kaki kecil nan imut itu menapak di aspal.
"Om menjatuhkan ini" ucap anak kecil itu sambil menyerahkan dompet berwarna hitam pada Ray
Ray mengambil dompetnya, ia memeluk dompet itu erat-erat. Merasa bersyukur karena dompetnya tidak hilang.
"Ya ampun, terimakasih ya anak manis. Dompet ini sangat berharga untuk om" ucap Ray sambil menghela napas lega. Ray mengecek isi dompetnya, foto Tisha masih ada disana.
Foto Tisha ada disini, tapi dimana foto anakku? batin Ray dengan wajah panik
"Om cari apa? apa ada yang hilang om?" tanya Rasya dengan wajah cemas menatap wajah Ray yang terlihat panik.
"Kamu lihat gak ada foto yang jatuh, fotonya warna hitam?" tanya Ray panik sendiri
"Maaf om, aku gak buka dompet om jadi aku gak tau. Ada foto yang hilang ya om?" tanya Rasya lagi, ia ikutan cemas melihat Ray cemas
"Iya itu foto yang paling penting untuk om san satu satunya" Ray menggaruk-garuk kepalanya dengan bingung.
Foto anakku.
"Mungkin jatuh disana om, ayo kita cari disana om" ucap Rasya seraya menunjuk ke arah kedai eskrim yang tadi disana.
"Iya mungkin jatuh disana" jawab Ray
GREP
Ray menggendong Rasya di tangannya. Rasya terlihat senang digendong oleh Ray. Entah kenapa Rasya tidak menghindar dari orang asing itu. Padahal mama nya selalu mewanti-wanti agar ia tidak dekat dengan orang asing.
"Hey nak, apa kamu tidak takut?" tanya Ray sambil melangkah ke arah kedai itu dan menggendong Rasya. Jika ada orang yang melihat itu, sekilas mereka akan disangka sebagai ayah dan anak.
"Takut apa om?" tanya Rasya
"Takut padaku" jawab Ray
"Kenapa aku harus takut sama om?" tanya Rasya dengan mata polosnya menatap Ray dan dahi yang mengernyit.
"Bisa saja aku penculik anak, penjahat yang menjual organ tubuh manusia. Kamu gak takut digendong olehku? kamu kan tidak tau siapa aku, nak" Ray tersenyum pada anak yang berada di dalam gendongannya itu
"Haha.. kata mama takut itu sama Tuhan, om.. bukan sama manusia" jawab Rasya sambil tertawa mendengar pertanyaan Ray padanya.
"Kamu pintar sekali jawabnya ya, mama papa mu pasti bangga punya anak secerdas kamu. Untungnya kamu bertemu denganku dan aku bukan orang jahat. Tapi, lain kali kamu tidak boleh sembarangan menerima uluran tangan orang lain" jelas Ray sambil menurunkan Rasya di kursi di depan kedai eskrim.
Rasya terdiam wajah nya jadi sedih karena Ray menyinggung soal mama papa pada nya. Rasya membantu Ray menemukan foto yang dimaksud itu.
Rasya menemukannya di dekat kedai dan langsung memberikan nya pada Ray.
__ADS_1
"Makasih banyak ya nak, Alhamdulillah sudah ketemu fotonya" Ray segera memasukkan foto USG itu ke dompetnya.
"Kata om ini foto yang penting, tapi gambarnya cuma titik kaya biji kacang" gumam Rasya pada foto USG itu.
" Dulu aku juga pernah menyebut foto ini seperti biji kacang, kenapa kita samaan ya? tapi nak, ini benar-benar foto yang penting untuk ku. Ini adalah foto anakku yang hilang" jelas Ray pada Rasya yang tidak tau menahu tentang foto USG itu.
Kenapa aku merasa dia agak mirip denganku?. Batin Ray merasakan ada sesuatu antara Rasya dan dirinya.
"Anak? foto biji kacang itu?" tanya Rasya tak percaya bahwa foto itu adalah seorang anak
"Percuma saja aku jelaskan padamu, kamu juga tidak akan mengerti" Ray tersenyum lalu menepuk
"Apa om kira aku ini bodoh? aku ini juara satu di kelasku. Ayo jelaskan, apa maksud foto biji kacang itu? kenapa disebut sebagai anak?!" Rasya berkacak pinggang, ia membanggakan dirinya sendiri. Sebagai anak usia 5 tahun memang daya keingintahuan nya sangat besar,ia mudah penasaran terhadap sesuatu yang baru.
"PFut..nak, sudahlah jangan dibahas lagi. Oke, karena kamu sudah membantuku aku akan membelikan kamu eskrim. Eskrim mu tadi jatuh kan?" tanya Ray mengalihkan pembicaraan
Rasya mengangguk angguk, ia baru ingat kalau eskrim nya memang jatuh saat dia mengejar Ray tadi. Ray membelikan eskrim untuk Rasya, bahkan si pemilik kedai itu merasa bahwa Rasya dan Ray terlihat agak mirip seperti ayah dan anak.
Ray merasa ia mempunyai ikatan yang aneh dengan anak laki-laki yang baru saja ditemuinya itu.
Mereka makan eskrim bersama dan duduk di kursi itu ,sambil mengobrol ringan.
"Oh ya om, om lagi liburan ya disini?" tanya Rasya polos, sambil menjilat eskrim nya
"Enggak, om disini lagi urusan bisnis" jawab Ray yang juga sedang menjilat eskrim nya.
Kenapa ya anak ini terasa tidak asing bagiku?
"Em... apa om lama disini?" tanya Rasya sambil menatap Ray yang duduk disampingnya
Kok aku ngerasa nyaman ya dekat sama om ini. Beda kalau sama om Zayn.
"Ya, sekitar seminggu lah. Kenapa nak?" tanya Ray penasaran
"Kalau om ada waktu, om main ke rumahku ya" jawab Rasya
"Rumah kamu? dimana rumah kamu?" tanya Ray
"Tuh.. ada di ujung jalan sana, ada taman yang banyak tumbuhan ilalang nya. Rumah ku ada disana" oceh Rasya pada Ray seraya menunjuk ke ujung jalan yang lumayan jauh dari sana.
"Wow.. itu jauh banget. Kamu jalan kaki kesini?" tanya Ray sambil melihat ke arah satu rumah yang ada di tengah-tengah taman.
"Enggak lah, aku sama mama naik mobil" jawab Rasya sambil tersenyum nyengir
Ray berinisiatif mengusap noda eskrim di wajah Rasya dengan tisu basah. Ia mengusap nya dengan lembut. "Oh ya, terus Mama mu dimana? apa dia meninggalkan kamu sendiri disini?" tanya Ray tiba-tiba marah pada mama Rasya yang bahkan tidak tau siapa.
"Enggak om, mama lagi ke kamat mandi. Tadi katanya mama sakit perut. Wajahnya pucat banget, kasihan.. jadi aku dititipin sama pak Sean dulu"
*Sean : pemilik kedai eskrim
"Terus papa kamu mana?" tanya Ray pada Rasya
__ADS_1
"Papa ya? papa ku... dia..."
...---****---...