Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 104. Rasya hilang


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Beberapa menit sebelum nya, Rasya sedang asyik bermain lempar bola bersama pak Ujang. Disana juga ada pak Faisal yang tak jauh dari tempat Rasya bermain.


"Ayo pak Ujang, tendang nya jangan pelan-pelan dong! yang keras!" seru Rasya pada pak Ujang yang menendang bola nya pelan-pelan.


"Iya baiklah tuan muda kecil" jawab Pak Ujang sambil tersenyum dan setuju pada anak kecil itu.


Ketika sedang asyik menendang bola, tiba-tiba ada sebuah suara ledakan di belakang halaman rumah. Sontak saja hal itu membuat orang-orang yang di perintahkan Ray menjaga rumah, berlarian ke halaman belakang untuk melihat apa yang terjadi.


Mereka yang sedang sibuk, meninggalkan Rasya sendirian di depan rumah, kemudian Zee datang menyergap anak itu dan membekap mulutnya dengan kain.


"Dasar para pengawal bodohnya tidak tertolong!" seru Zee sambil membawa anak itu masuk ke dalam mobilnya dengan paksa.


"Hmphh!!! hmphh!!" Rasya berusaha memberontak, namun Zee mencengkram tubuh nya dengan kuat.


Mama, papa, kakek buyut!! Rasya berteriak di dalam hatinya.


Perlahan kesadaran Rasya mulai menghilang, entah apa yang di campurkan Zee ke dalam sapu tangan itu. Rasya terjatuh lemas tidak sadarkan diri, kemudian Zee membawanya dengan mobil entah kemana. Zee mengemudikan mobilnya dengan kencang, tak lupa dia memakai topi dan masker.


Tak lama setelah itu, Pak Faisal, pak Ujang serta orang-orang suruhan Ray berlari ke depan rumah. Mereka tidak melihat Rasya disana, semuanya menjadi panik.


"Tuan muda kecil! tuan muda kecil menghilang tuan besar!!" seru Pak Ujang panik karena tidak menemukan Rasya di dalam rumah.


"Cicit ku.. kemana dia?" Pak Faisal bingung dan panik karena Rasya tidak ada dimana-mana.


"Pah, Niah udah cari di dalam rumah. Rasya gak ada" lapor Daniah pada pak Faisal


Baguslah kalau anak itu pergi, lagian buat apa dia ada disini cuma ganggu pemandangan aja. ucap Daniah dalam hatinya


"Gimana ini??" Pak Faisal memegang kepalanya, dia tampak syok karena cicitnya hilang.


"Papa, papa gak papa? Niah.. bawa papa ke dalam ya?" tanya Daniah sambil memegang tangan pria tua itu


"Tapi bagaimana dengan Rasya? dia belum ketemu juga" Pak Faisal merasa kepalanya penat.

__ADS_1


"Jangan khawatir pak, ini tugas kami untuk mencarinya. Kami akan cari ke sekitar jalan" ucap seorang pria berpakaian hitam pada Pak Faisal.


"Iya, tolong beri laporan pada ku ya" pesan Pak Faisal pada orang-orang berpakaian hitam itu


"Baik pak!" jawab orang-orang itu patuh


Mampus lah kami kalau terjadi sesuatu pada tuan muda Rasya. batin seorang pria panik karena anak yang dia jaga menghilang.


30 menit sudah berlalu, belum ada tanda-tanda keberadaan Rasya di sekitaran komplek itu. Orang-orang Ray yang berjumlah lebih dari 10 orang itu tidak bisa menemukan Rasya. Mereka pun mengecek CCTV komplek dan disana terlihat kalau Rasya dibawa oleh seseorang memakai baju hitam, bertopi, dan memakai masker. Plat nomor mobilnya juga ditutup tapi oleh si penculik itu


Mereka takut untuk melapor lebih dulu pada Ray, jadi mereka meminta pak Faisal yang menelpon Tisha mengabarkan kalau Rasya di culik.


****


Tisha jatuh lemas setelah mendengar anaknya menghilang. Dia syok dan tubuhnya mulai roboh, Ray menahan tubuh Tisha dengan kedua tangannya.


Ponsel Tisha jatuh ke lantai. PRAKK


"Hey! Tisha ada apa? Rasya kenapa?" tanya Ray pada Tisha cemas mendengar nama Rasya di sebut.


"Apa??! Rasya hilang? Rasya diculik??!" Ray tercengang mendengar nya. Hatinya bagai tersambar petir di siang bolong, baru saja dia bahagia karena pelaku dan dalang dari kecelakaan itu sudah ditemukan. Tapi, sekarang hatinya kembali jatuh mendengar anaknya diculik.


"Itu pasti Zevanya.. itu pasti Zevanya, kak" kata Tisha yakin bahwa yang menculik putranya adalah Zee.


"Tidak akan aku biarkan! aku akan membunuhnya kalau dia berani melukai Rasya!! Tisha, kamu jangan cemas.. aku antar kamu pulang ya" Ray berusaha tenang meski dalam kondisi emosi, dia khawatir pada Tisha yang sedih dan panik.


"Pulang? aku harus cari Rasya! aku gak mau pulang kak" Tisha menangis dan memegang erat tangan Ray, dia panik khawatir pada anaknya yang akan diapa-apakan oleh Zee.


"Tisha, kamu pulang aja ya. Aku, polisi dan anak buah ku akan mencari Rasya dan wanita itu. Kamu tunggu saja di rumah" ucap Ray perhatian dan lembut pada Tisha.


"Gak mau! aku mau cari anakku! aku takut dia kenapa napa" kata Tisha kerasa kepala, dia kekeh ingin mencari anaknya.


Ray kalah dari keras kepala perempuan itu, akhirnya dia luluh juga dan mempersilahkan Tisha ikut bersamanya mencari Rasya. Mereka berdua pun keluar dari kantor polisi dan naik ke dalam mobil.


Wajah Tisha masih tegang, dia tak bisa menghentikan rasa paniknya. Dia berusaha sekeras mungkin menahan air mata nya. "Tisha, tenang.. Rasya akan baik-baik saja"

__ADS_1


"Baik-baik saja bagaimana?! Wanita itu bahkan berani membunuh ibu dan kakakku, tidak menutup kemungkinan bahwa dia akan melakukan... melakukan..." Tisha tidak sanggup lagi berbicara, dia tak bisa membayangkan lebih jauh lagi bagaimana Rasya akan di perlakukan oleh Zee.


Tangan Ray menyentuh pipi Tisha, jari-jari nya menyeka air mata Tisha dengan lembut. "Tidak akan terjadi sesuatu pada Rasya! aku janji anak kita akan baik-baik saja, kamu tenang dulu ya. Jangan berfikiran yang buruk" Ray mencoba menenangkan Tisha.


"Tapi.. anak kita.." Tisha masih meringis dan menangis.


Pasti ada yang dia mau, makanya dia menculik Rasya, tapi kenapa dia belum menelpon ku atau menelpon Tisha. Ray bingung karena tidak ada kabar dari Zee.


Saat keadaan Tisha sudah sedikit tenang, Ray bersiap menancapkan gas melajukan mobilnya. Tepat ketika mobil Ray akan melaju, seorang wanita paruh baya menggedor-gedor kaca mobilnya.


Duk


Duk


Duk


"Raymond! buka pintunya!" seru wanita itu


Ray menekan tombol menurunkan kaca mobil nya, dia melihat jelas siapa wanita itu. Dia adalah Bu Lisa. Tisha juga mengenalinya, sebagai ibu Zevanya. Pertanyaan nya, kenapa Bu Lisa datang ke kantor polisi dan kenapa dia ingin bicara dengan Ray.


"Ada apa Bu Lisa?" tanya Ray tidak menyambut kedatangan Bu Lisa.


"Saya perlu bicara dengan kalian berdua, mari kita bicara sebentar" pinta Bu Lisa dengan wajah cemas.


"Maaf, tapi kami sibuk dan buru-buru" Ray menaikkan kembali kaca mobilnya, namun Bu Lisa menahan kaca mobil itu.


SRET


"Kak Ray, turunkan kaca mobilnya! nanti bu Lisa bisa terluka!" seru Tisha panik melihat Bu Lisa memegang kaca mobil yang dinaikan oleh Ray.


SRETTt..


Ray kembali menurunkan kaca mobilnya, dia melihat Bu Lisa dengan tatapan sinis. "Kalian mencari anak kalian kan? saya mungkin tau dimana dia berada, tapi bisakah kita bicara lebih dulu?" ajak Bu Lisa pada Ray dan Tisha.


Ray dan Tisha melihat ke arah Bu Lisa bersamaan.

__ADS_1


...---****---...


__ADS_2