
...πππ...
Pagi itu Ray bersama Gerry sudah menjemput Rasya di rumahnya. Tisha heran karena Ray datang sangat pagi, sedangkan dia akan pergi pukul 10 nanti.
"Kenapa kakak kesini pagi sekali untuk menjemput Rasya? aku kan sudah bilang kalau aku yang akan mengantarkan Rasya kesana" Tisha heran
"Gak apa-apa, kamu selesaikan saja urusanmu di kantor dan di sekolah Rasya. Bukankah kamu akan ke sekolah Rasya dulu? tenang saja, Rasya biar aku yang urus" Ray menggandeng tangan Rasya dengan lembut.
"Ya sudah kalau itu mau kamu. Rasya sayang, jangan nakal ya sama papa" Tisha membungkukkan sedikit badannya dan berbicara dengan putra kecilnya itu, mengingatkan Rasya agar tidak nakal.
"Iya ma" jawab anak itu patuh
"Jangan buat papa mu kesusahan, dia tidak baik seperti mama," Tisha tersenyum pada anaknya, sambil melirik ke arah Ray
"Papa pasti lebih baik dari mama, papa selalu membolehkan aku melakukan apa saja dan memanjakan ku" kata Rasya yang senang akan ikut papa nya ke kantor
"Hah, kita lihat saja nanti apa papa mu akan kuat dengan kamu, sayang" Tisha tersenyum ke arah Ray, senyuman tipis yang mengundang pertanyaan.
"Tenang saja, kamu fokus saja dengan urusan mu. Asalkan jangan berkeliaran dengan pria lain" kata Ray terang-terangan dan jujur, dia melarang Tisha untuk bertemu dengan pria lain
"Aku memang akan bertemu dengan pria lain, lalu kenapa?"
"Woah.. siapa pria itu?" tanya Ray tidak senang
"Bos ku, dia kan seorang pria" jawab Tisha sambil tersenyum santai
"Apakah dia masih muda? apa dia lajang?" tanya Ray curiga
"Mana kutahu. Aku kan belum bertemu dengannya" jawab Tisha senang mendengar Ray cemburu padanya.
Entah kenapa aku senang melihat kamu cemburu seperti ini. Apa hatiku mulai terbuka lagi untuk kamu, kak?
"Ehem! pak, maaf menganggu obrolan manis bapak dan Bu Latisha.. tapi kalau bapak terus mengobrol, bapak akan segera terlambat" kata Gerry menyudahi obrolan romantis Tisha dan Ray. Dia mengingatkan bos nya bahwa pekerjaan sudah menanti di kantor.
"Iya baiklah, kurasa aku harus segera pergi. Rasya, ayo sayang kita main di kantor papa" ajak Ray pada putra kecilnya itu
__ADS_1
"Oke pa, mama...Rasya berangkat dulu ya" Rasya mencium tangan mama nya dengan sopan. "Assalamualaikum ma"
"Waalaikumsalam, jangan nakal ya" Tisha tersenyum
"Aku berangkat dulu ya Tisha" Ray tiba-tiba mendekat ke arah Tisha dan memberanikan dirinya untuk mencium kening Tisha.
CUP
"Ciee.. mama papa..!!" Rasya tersenyum lebar melihat kedua orang tuanya. Gerry juga ikut tersenyum melihat tindakan Ray.
Mama sama papa semakin dekat, pasti mereka akan kembali bersama kan? Ya Allah.. tolong satukan mereka. Si kecil itu berdua supaya mama dan papa nya bisa segera bersama,dia ingin keluarga yang lengkap.
Tisha langsung memegang keningnya, kedua matanya membulat, wajahnya tampak syok. "Apa yang.. apa yang kamu lakukan?!" Tisha kesal dan memukul tangan Ray
"Gak apa-apa, silahkan kalau mau pukul aku. Yang penting aku udah dapat, ciuman selamat jalan berenergi itu" Ray tersenyum genit, dia mengedipkan sebelah matanya dengan maksud menggoda wanita itu.
"Hah! kamu!" Tisha kehabisan kata-kata, dia tak habis pikir mengapa Ray bisa melakukan itu. Dia terkejut, "Sangat tidak tahu malu!" oceh Tisha pada Ray
"Tidak masalah, mau kamu panggil aku tidak tahu malu atau apapun. Aku bahagia bisa melihat kamu sekarang" ucap Ray sambil tersenyum. Tisha segera memalingkan wajahnya dengan gaya jaim nya, sebenarnya dia malu.
"Ce-cepat pergi sana!" usir Tisha pada Ray
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di gedung pusat perusahaan Argantara grup. Semua karyawan melihat ke arah Ray yang sedang menggandeng tangan Rasya. Mereka mulai berbisik-bisik, dan bertanya-tanya siapa anak yang dibawa oleh Presdir mereka itu.
"Siapa anak itu ya? imut sekali" kata seorang karyawan wanita gemas pada Rasya
"Dia mirip sekali dengan pak Presdir, bukankah begitu?" ucap seorang karyawan wanita lainnya yakin, bahwa Rasya mirip dengan Ray.
"Sudah jelas anak itu pasti anak pak presdir, tapi siapa ibunya ya?" tanya seorang wanita lainnya penasaran dengan siapa ibu Rasya.
Mereka bertanya-tanya, siapa ibu dari anak yang dibawa oleh Ray. Apakah itu Zevanya? atau Latisha yang pernah menjadi istrinya? ataukah Ray punya istri baru? Namun, seperti nya tidak mungkin Ray punya istri baru karena tidak ada beritanya sama sekali.
Rasya, Gerry dan Ray naik lift bersama menuju ke ruangan Ray. "Papa, ternyata papa kaya ya" Rasya melihat-lihat gedung mewah itu sebelum masuk ke dalam lift.
"Kamu baru tau ya papa kaya?" tanya Ray pada putranya yang polos
__ADS_1
"Iya, aku baru tau. Om Zayn juga kaya pa, kata Tante Fayra.. om Zayn itu adalah keturunan anggota keluarga kerajaan Inggris. Hebat kan pah?" Rasya berkata dengan polosnya, dia tidak tahu bahwa kata-kata nya bisa membuat Ray kesal
Kenapa Rasya membicarakan dia? ya ampun. Ray langsung diam menahan kesal ketika putranya membahas Zayn.
Kenapa aku merasa dingin disini? aku harap lift segera terbuka. batin Gerry yang merinding berada di dekat Ray. Dia merasakan kalau presdir nya sedang menahan amarah.
"Kenapa papa diam saja? Om Zayn, hebat kan pa?" tanya Rasya melihat papa nya yang terdiam
Aduh nak, apa kau tidak mengerti situasi? kenapa memuji saingan papa mu seperti itu? begitulah kata-kata yang ingin Gerry sampaikan kepada Rasya yang dengan polosnya memuji Zayn di depan Ray.
"Iya, dia hebat. Tapi papa lebih hebat, papa lebih tampan dan lebih kaya darinya"
"Benarkah? aku pikir om Zayn lebih tampan dari papa" Rasya berkata jujur dan berfikir kalau Zayn lebih tampan dari papa nya.
"PFut" Gerry sekuat tenaga menahan tawanya mendengar ucapan Rasya tentang Zayn dan Ray.
Ray sendiri sudah mulai gemas dengan kata-kata jujur anaknya yang menyakitkan itu. Tangannya terkepal seperti ingin memukul orang.
Ting!
Lift itu pun berhenti di lorong tempat Ray bekerja. Ruangan eksklusif dan mewah Presdir Argantara grup. Lagi-lagi Rasya terpana melihat keindahan dan kemewahan gedung berlantai 10 itu. Rasya langsung berlari ke arah kaca dan melihat ke bawah dari atas sana.
"Wah! aku benar-benar berada di gedung paling tinggi" Rasya terkagum-kagum
"Kamu akan betah disini nak, ayo ikut ke ruangan papa" ajak Ray pada putranya, dia masih memasang senyum manis.
"Gak mau, aku mau disini! aku mau lihat disini" kata Rasya keras kepala membantah papa nya
"Pemandangan di dalam lebih bagus untuk dilihat loh, ayo nak" Ray menggandeng tangan Rasya, tapi Rasya menepisnya.
"Ih! papa kenapa sih, aku kan sudah bilang gak mau!" seru Rasya keras kepala dan tetap melihat ke arah jendela.
Ray terperangah dengan sikap Rasya, apakah ini yang Tisha maksud harus tahan dengan sikapnya? Dia baru tau kalau anaknya sangat keras kepala.
Dan disinilah penderitaan satu hari Ray dimulai...
__ADS_1
...--***--...
Hai Readers! jangan lupa dong like dan komen nya, kalau berkenan kasih gift dan vote nya juga ya biar author makin semangat β€οΈβ€οΈπ