Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 177. Menengok bayi


__ADS_3

...Yang masih dibawah umur atau yang lagi puasa harap menyingkir dulu dari chapter ini ya πŸ™...


...πŸ€πŸ€πŸ€...


Hati Ray berdebar-debar dengan tingkah tidak biasa istrinya yang begitu agresif menyerang dirinya. Sedangkan dia harus menahan semua hasratnya karena keadaan istrinya yang sedang hamil.


Sungguh semua ini adalah siksaan yang indah untuknya, siksaan yang sulit dia tolak. Nalurinya sebagai laki-laki dan suami, sudah tidak bisa ditunda lagi. Pasalnya, dia sudah menahan diri untuk tidak menyentuh istrinya selama 4 bulan awal kehamilan.


"Sayang, kalau kamu terus seperti ini.. aku akan-" Ray masih berusaha menahan diri ketika tubuhnya habis ditelusuri oleh bibir cantik itu. Dia takut jika sembarangan bergerak, akan melukai perut buncit istrinya.


"Akan apa? Aku kan sudah bilang kalau kamu boleh memakannya."


"Aku sudah ke-kesulitan untuk menahannya. Kumohon jangan begini sayang."


"Kalau begitu jangan ditahan! Lakukan saja!"


Cup


Cup


Suara kecupan terdengar jelas di telinga Ray, dibawah tubuhnya ada Tisha yang sedang sibuk menelusuri tubuh kekar itu dengan bibir dan lidahnya. Rambut panjang nya menjuntai ke tubuh Ray, semakin membuat ibu hamil itu terlihat semakin cantik


Tangan nakal Tisha mulai membuka celana suaminya, melorotkan nya pelan-pelan. Dia melihat di bawah sana ada bagian tubuh mengeras yang membutuhkan pelepasan. "Jangan ditahan lagi sayang" lirih nya lembut, sambil memandangi bagian tubuh itu dengan wajah mesumnya, dia tersenyum manis seraya menggoda pria yang berada dibawah tubuhnya itu.


Ray tidak percaya kalau Tisha ada istrinya yang dia kenal, dia berfikir kalau istrinya ini sedang kerasukan oleh sesuatu yang agresif. "Apa kamu bukan istriku? Kenapa kamu seperti ini? Katakan sebenarnya kamu siapa!"


"Aku istrimu.."


"Istriku itu pemalu dan sedikit galak, dia tidak akan melakukan hal-hal seperti ini."


"Ubahlah image itu, karena aku sekarang adalah Tisha berani." Tisha menatap suaminya dengan tatapan membara, dia menyungging senyuman seksinya. Kemudian bibir nya kembali melahap bibir Ray, dia bergerak aktif menyerang suaminya lebih dulu.


"Hmphh!"


Sial! Tubuhku sudah tidak bisa menahannya lagi, gawat! Pekik nya dalam hati.


Saat mereka sedang berciuman, Ray bangkit dan duduk, dia membalikkan tubuh Tisha menjadi berada dibawah tubuhnya. "Eh! Kenapa aku jadi dibawah? Bukankah aku harusnya diatas?" Tisha terkejut karena suaminya membalikkan keadaan.


"Maaf sayang, kamu tidak bisa diatas. Bahaya untuk bayi kita. Jadi, aku akan tetap memimpin."


"A-Apa?"


"Aku akan bermain lembut."

__ADS_1


Ray memulai aksinya dengan kecupan kecupan kecil di tubuh Tisha. Memerhatikan gerakan demi gerakan yang dia lakukan, takut takut kalau dia menyakiti perut buncit itu. Tangan nakal nya bermain-main dengan dua buah gunung yang menyembul itu. Dia menyentuhnya dengan penuh perasaan, membuat wanita itu memekik kecil. Sesekali Tisha menggelinjang kegelian oleh gerakan suaminya. Terlebih lagi ketika kepalanya terbenam di sekitar dua gunung nya.


"Ah.. haahhh.." Wanita itu mendesah kenikmatan. Dia merasakan ada sesuatu yang basah di bagian bawah milik nya.


"Pelan-pelan saja ya sayang, aku tidak akan terburu-buru. Agar tidak sakit, pemanasan nya harus lebih lama." Ray mendongakkan kepalanya ke arah Tisha.


"Iya, terserah kamu." Jawab Tisha seolah memasrahkan dirinya untuk menuntaskan kewajiban nya sebagai istri.


Pria itu beralih kebagian bawah, dia melewati perut buncit istrinya. Kemudian dia mulai melorotkan segitiga pengaman milik istrinya, yang melindungi milik Tisha. Ray menatap milik istrinya yang sudah begitu basah dan becek itu.


Ray tersenyum dan menatap Tisha, sebelum dia memulai aksinya dibawah sana. Dia mencium perut buncit itu. "Sayang, papa boleh kan masuk ke dalam sini? Kamu gak akan kenapa-napa kan? Papa mau tengok kamu sebentar.." dia melontarkan pertanyaan pada perut buncit istrinya itu.


Entah kenapa ucapan Ray pada perut buncitnya, malah membuat Tisha tertawa kecil. "Apa ada yang lucu?"


"Hahaha, tidak apa-apa hanya saja aku merasa lucu. Kamu meminta izin pada anak kita seperti itu, bilangnya menengok."


"Tentu saja menengok, lalu aku harus bilang apa? Memasukan?" Ray menunjukkan senyuman menggodanya.


Wajah Tisha memerah mendengar ucapan suaminya yang terdengar vulgar ditelinga nya itu, "Kamu sangat mesum!"


"Siapa yang awalnya menggoda ku? Bukannya kamu yang mesum?" Ray tersenyum tipis. "Tisha, aku mulai ya. Aku akan cepat menyelesaikan nya, aku takut kamu kedinginan."


Tisha hanya mengangguk mendengar ucapan suaminya, tentu saja hatinya juga berdebar. "AHHHHHH.. Ahhhh.."


Dia menghentikan aktivitas nya, kemudian mendongak ke arah Tisha."Tahan! Sebentar lagi! Masih kurang basah," Terlihat di lidah dan sudut bibirnya ada cairan berwarna vanilla.


Setelah yakin pemanasan sudah cukup, Ray mulai membenamkan miliknya dengan gerakan perlahan dan hati-hati ke dalam milik istrinya.


"Sudah masuk!" ucap Ray sambil menatap istrinya.


Benda itu melesat masuk ke dalam pintu milik Tisha. "Akhhhhhh!! Sakit!" Tanpa sadar, Tisha menjambak rambut suaminya.


Kenapa sangat menyakitkan? Apa karena sudah lama tidak melakukan nya?


"Apa sakit sayang? Aku akan mengeluarkan nya!" Ray panik mendengar istrinya kesakitan.


"Tidak kak! Tidak akan sakit kalau kamu menggerakkan nya! Kumohon gerakan, cepat!" Seru nya terburu-buru.


Sang suami tidak bicara lagi, dia memulai aksinya yang paling penting. Menggoyangkan pinggulnya berirama mengikuti alur yang ada, mengikuti ritme yang naik turun. Tak lupa mereka juga memperhatikan perut yang buncit itu.


Beberapa menit kemudian mereka sampai di puncak nya, mungkin surga ke tujuh. Kedua nya mengerang panjang setelah menikmati malam bersama melalui penyatuan tubuh. Malam itu hanya berlangsung selama 20 menit, Ray tidak mau berlama-lama membuat istrinya kedinginan.


Setelah melakukan nya, dengan perhatian Ray membersihkan tubuh istrinya dan membantu istrinya berpakaian. Terlihat lelah dan puas di dalam wajahnya pasangan suami istri yang baru saja melakukan hubungan itu.

__ADS_1


"Terimakasih cantik sudah melayaniku, terimakasih malam ini." ucap nya sambil menyentuh kening istrinya dengan bibir itu. Ray menyunggingkan senyuman bahagia.


"Maafkan aku tidak bisa maksimal melakukan nya."


"Tidak sayang, aku sudah puas kok. Sayang, apa kamu lapar? Mau aku buatkan makanan?" Ray menawarkan makanan pada Tisha.


"Membuatkan ku makanan? Terakhir kali kami membakar dapur. Masih berani membuatkan ku makanan?" sindir Tisha sambil tersenyum mengejek suaminya.


"Hem lagi-lagi kamu mengejek ku, awas ya nanti kalau aku sudah bisa masak! Baru tau rasa kamu!" Ray menyentil kening Tisha dengan gemas.


"Huh! Tadi kamu mencium keningku, sekarang kamu menyentil nya?" Gerutu Tisha sambil memegang keningnya.


"Habisnya kamu sih!"


Dreet..


Dreet..


🎢🎢🎢


"Itu suara ponsel siapa?" Tisha beranjak duduk dan bersandar di ranjang nya. Mencari-cari asal suara dering ponsel itu.


"Itu suara ponsel mu, sayang. Siapa yang menelpon mu malam-malam begini?" Ray menyerahkan ponsel Tisha pada pemilik nya. Tisha mengambil ponsel itu, Ray memintanya untuk loud speaker.


Dari nomor asing?


Tisha melihat nomor depan yang menelponnya itu adalah +44. Kode nomor telpon dari Britania raya.


Tut..


"Halo,"


"Halo Tisha, apakabar si unyu ku?"


Suara tidak asing itu membuat Ray dan Tisha terpana. "Kak Fayra!"


...---***---...


Hai Readers! Jangan lupa dukung karya author ya, like, komen, kasih gift, dan kasih vote nya juga boleh..😍πŸ₯°πŸ˜˜β˜ΊοΈ Author sangat berterimakasih atas dukungan kalian. πŸ™β˜ΊοΈ jangan lupa juga rate 5 nya!


Yup sambil nunggu up lagi boleh mampir kesini ya😍😍


__ADS_1


__ADS_2