
Drama? Apa perasaan ku ini adalah drama?.
Zayn tercengang mendengar penolakan itu lagi dari Tisha.
Bukan orang lain yang memintanya menyerah, melainkan Tisha sendiri lah yang memintanya. Makin patah lah hati Zayn mendengar ucapan Tisha, jika Ray mendengarnya dia mungkin akan merasa menang dan mengejek nya mati-matian.
"Tisha.. apa gak bisa kita lebih dari itu?" tanya Zayn dengan harapan Tisha akan memberinya kesempatan
"Zayn.. sebelumnya aku minta maaf, tapi kamu adalah sahabatku yang sudah seperti saudaraku sendiri. Aku tidak mungkin menjalin hubungan dengan kamu" ucap nya dengan berat hati, sebenarnya ia tak mau menyakiti hati Zayn. Tapi jika ia tidak bersikap tegas, Zayn akan terus mengharapkan dirinya.
"Kalau kamu tidak mencintainya, apa kamu akan menerimaku?" tanya Zayn dengan mata yang berkaca-kaca
"Haahh.." Tisha menarik napas dan menghela nya sebelum dia menjawab pertanyaan Zayn, "Tidak Zayn"
JLEB!
Hati Zayn seperti tertusuk pedang mendengar lagi ketika jawaban tidak meluncur dari bibir Tisha. Zayn mengepalkan tangannya dengan gemas dan kesal.
"Zayn, kembalilah pada kehidupan lamamu. Carilah wanita lain yang lebih baik dariku, kamu berhak bahagia tapi bukan dengan aku"
"Aku sudah bilang aku tidak mau!" seru Zayn tegas
Mengapa? Padahal aku sudah berjuang, Tisha masih menganggap ku sahabat? Sebenarnya apa caraku salah untuk mendekati nya? Kenapa aku tidak dianggap sebagai pria?
"Zayn, aku sudah mengatakan apa yang ingin aku katakan. Perasaanku pada papa nya Rasya tidak pernah berubah sedikit pun. Begitu pula dengan perasaan ku sama kamu" Dengan bibir gemetar, dia meluncurkan kata-kata yang bisa mematahkan hati Zayn.
Maafkan aku Zayn, maaf... kata itu hanya terucap di dalam hatinya.
"Kita bicara nanti lagi, ini sudah malam" kata Zayn yang ingin menyudahi pembicaraan itu. Air mata di bawah mata berwarna biru langit itu akhirnya tumpah juga.
"Iya, kamu istirahat ya Zayn" kata Tisha sambil menangis tanpa suara. Dia merasa bersalah karena sudah menyakiti Zayn, tapi dia harus memilih.
Tut..
Daripada menjawab pertanyaan Tisha, Zayn lebih memilih untuk menutup panggilan itu. Tisha sudah menduga kalau Zayn akan bersikap seperti itu, begitulah dia ketika sangat marah dan kecewa. Dia akan memilih diam dengan wajah datarnya.
Setelah telpon itu terputus, Zayn yang selalu bersikap lembut, kini mulai kehilangan kendali. Tangannya yang kekar itu mengacak-acak barang di kamarnya. Barang-barang itu menjadi korban kemarahan dan kekecewaan Zayn.
BRAK
PRANG
"Tidak! Tisha tidak mungkin menolak ku lagi!! Aaarrgghhh!!!!" teriak Zayn frustasi, pria itu jatuh terduduk di lantai. Dengan barang-barang nya yang berserakan di sekitar nya.
Zayn terus terbayang kata-kata Tisha padanya barusan dan itu sangat menyakiti hatinya.
Benar, seperti apa kata kamu..bahwa cinta itu kadang tidak masuk akal dan tidak sesuai logika Zayn! Sama seperti perasaan ku pada kak Ray, aku sempat membenci nya, aku sempat tidak ingin kembali padanya karena dia sudah banyak menyakitiku, tapi aku mencintai nya.. Zayn..
"Kamu tidak mungkin mencintai nya! Mencintai pria seperti itu!" seru Zayn sambil menangis, sekarang dia adalah orang yang patah hati.
Setelah semua yang aku lakukan, kenapa kamu tetap tidak melihatku Tisha?
__ADS_1
Dreet...
Dreet...
πΆπΆπΆ
Sebuah panggilan masuk ke ponsel Zayn, membuat pria itu terperangah sampai menelan ludah melihat nama yang tertera disana.
King calling..
"Ayah?" Zayn melihat ke arah ponselnya, dia terlihat ragu untuk mengangkatnya. Ponsel itu terus berdering beberapa kali seolah minta ingin diangkat.
Tit!
"Halo" jawab Zayn sambil meletakkan ponsel itu ke telinganya.
"Anak si*lan! Kamu pikir apa yang sudah kamu lakukan?!" suara pria terdengar menyentak Zayn dengan kasar.
Zayn terdiam mendengar ocehan pria itu tanpa eskpresi.
"Kamu sudah membuatku sangat malu?! Jika kamu ingin menjadi seorang Presdir, maka jadilah seorang presdir! Inilah sebabnya aku melarang mu menjadi seorang artis! Baru tau rasa kan, kamu?!"
"Bukankah dari dulu saya memang membuat anda malu? Sejak saya dilahirkan ke dunia ini, bukankah saya adalah aib? Aib dari keluarga kerajaan yang terpandang! Sayalah anak haram itu! Lalu kenapa anda bicara seperti ini pada saya seolah anda mempedulikan saya, yang mulia Raja Dominic?" ucap Zayn dengan sarkastik, dia sedih ketika mengucapkan kata-kata itu pada seseorang yang bernama King di ponselnya.
"Jangan terlalu percaya diri! Sekalipun kamu adalah anak haram, kamu adalah keturunan keluarga kerajaan dan kamu adalah satu satunya anak laki-laki ku. Sekarang selesaikan tugas mu menjadi Presdir grup Apparel selama 3 bulan, keluar dari dunia hiburan selamanya! Dan kembalilah untuk menduduki tahta! Ingatlah ini Zayn, kalau kamu bukan keluarga kerajaan dan kalau kamu bukanlah anak dari wanita yang aku cintai, aku juga tidak mau peduli padamu!!" jelas pria itu dengan suara yang meninggi, dia memaki anaknya itu dengan kasar.
Deg!
"Hey! Apa kamu mendengar ku?!" tanya Dominic dengan suara lantang nya
Zayn tidak bicara, dia diam saja dengan wajah marahnya.
"Ini pasti karena wanita itu kan? Kamu jadi lebih keras kepala seperti ini?!" tanya Dominic tegas
"Siapa maksud anda?"tanya Zayn terpana dan akhirnya dia angkat bicara.
"Janda satu anak, dia tinggal bersamamu dan Fayra kan?" tanya Dominic dengan seringai di bibirnya.
"Jangan ganggu dia!" seru Zayn pada ayahnya.
"Kalau kamu tidak ingin aku menganggu nya, maka hentikanlah keras kepalamu ini!" bentak Dominic kepada putra nya.
Tut..Tut..Tut...
Sebelum Zayn ingin bicara menyanggah perkataan ayahnya. Telpon itu sudah diputus oleh Dominic. Zayn panik, dia berusaha menelpon lagi ayahnya tapi tidak diangkat.
"Selama ini aku terlalu membebaskan anak itu sehingga dia berbuat seenaknya. Siapa lagi yang akan mewarisi tahta ini jika bukan dia? Dia adalah satu satunya anak laki-laki ku" gumam Dominic geram dengan perilaku Zayn. Dominic keluar dari ruangan yang berlapis emas itu, dia tinggal di istana yang megah dan mewah.
Terlihat beberapa penjaga berjaga di luar ruangan itu dan memberi hormat padanya. "Salam yang mulia"
"Panggilkan Roberto kemari!" titah nya pada salah seorang pengawal
__ADS_1
"Baik yang mulia" jawab pengawal itu patuh.
Setelah itu beberapa menit kemudian, datanglah seorang pria bertubuh tinggi, berkulit coklat, memiliki warna berwarna hijau, menghadap pada Dominic. Dia memberi salam pada Dominic.
"Yang mulia memanggil saya?"
"Benar, aku ingin kamu pergi ke Jakarta.. awasi anakku disana. Sekalian cari tau informasi tentang gadis yang disukai Zayn" titah Dominic pada pengawal nya itu. "Dia sudah banyak mempengaruhi putraku"
"Baik, akan saya laksanakan yang mulia" jawab Roberto patuh.
****
Keesokan harinya, pagi itu Ray sudah berada di depan rumah Tisha. Dia menunggu Rasya dan Tisha, Ray berniat mengantar mereka ke sekolah baru Rasya dan hari itu adalah hari pertama Rasya bersekolah di Indonesia, negerinya sendiri.
"Asyik, hari ini aku pergi sekolah! Sekolah baru!" Rasya terlihat bahagia, dia menggandeng tangan mama nya sambil berjalan ke luar rumah dengan tas gendongnya.
"Iya sayang, kamu jangan nakal ya di sekolah baru nanti" Tisha mengingatkan anaknya untuk tidak nakal di sekolah
"Rasya gak akan nakal ma, Rasya kan mau dapat banyak teman baru" Anak itu tersenyum lebar
"Bagus, anak mama pintar" Tisha tersenyum pada anaknya
"Kalian akhirnya keluar juga" kata Ray yang tampak sedang bersandar di mobilnya.
"Papa!" Rasya berlari memeluk papa nya, tak lupa dia mencium punggung tangan Ray seraya memberikan salam.
"Jagoan papa! Hari ini mau sekolah ya? Kenapa seragam nya bukan merah putih?" tanya Ray heran
"Kak Ray, kamu ngakak deh! Rasya kan masih TK, satu tahun lagi dia baru masuk SD" jawab Tisha sambil tertawa kecil
"Oh begitu ya, pantas saja badannya kecil" kata Ray sambil melihat anaknya yang kecil itu, "Jadi dia baru berusia 5 tahun" Ray tersenyum dan menggandeng tangan Rasya
"Tahun depan usiaku enam tahun kok pah" Rasya tersenyum.
"Sudah dulu ngobrol nya, kita bisa terlambat nih" ucap Tisha pada ayah dan anak itu
"Ayo pah, ma" Rasya tersenyum, dia menggandeng tangan papa dan mama nya bersamaan.
Kita terlihat seperti keluarga...tenang saja Tisha..Rasya.. setelah ini aku akan mewujudkan keluarga bahagia. Ray tersenyum bahagia merasakan kehangatan itu, ketika tangan nya dan tangan Tisha menggandeng tangan Rasya. Terlihat seperti sebuah keluarga bahagia.
Tisha juga tidak menolak, dia berjalan bersama Ray dan Rasya menuju ke mobil. Di belakang mereka ada Fayra yang melihat dengan tatapan tidak senang.
"Zayn.. aku yakin kamu gak punya kesempatan, bagaimana bisa kamu memisahkan mereka?"
...---***---...
Readers! makasih banyak untuk dukungan kalian ya, vote, gift, komen dan like nya π€π€βΊοΈ mohon maaf bila ada typo atau kesalahan dalam alur ceritanya.. π
Kalau mau author up lagi, boleh komen βΊοΈ
Sambil nunggu up, author ada rekomendasi novel bagus untuk kalian π€π
__ADS_1