Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 182. Aku menemukan mu


__ADS_3

...Kini 'ku menemukanmu...


...Di ujung waktu 'ku patah hati...


...Lelah hati menunggu...


...Cinta yang selamatkan hidupku...


...Kini 'ku t'lah bersamamu...


...Berjanji 'tuk sehidup semati...


...Sampai akhir sang waktu...


...Kita bersama 'tuk selamanya...


...Kini 'ku menemukanmu...


...Di ujung waktu 'ku patah hati...


...Lelah hati menunggu...


...Cinta yang selamatkan hidupku...


...πŸ€πŸ€πŸ€...


Begitu melihat istrinya pingsan, Ray segera memanggil dokter ke rumah. Dia takut kalau pergi ke rumah sakit, Tisha akan kabur darinya. Kini Tisha terbaring tidak sadarkan diri di ranjang empuk di kamarnya sendiri.


Dokter Haris ada disana untuk memeriksanya. "Dokter, bagaimana keadaan Tisha? Dia dan anak kami baik-baik saja kan?" tanya Ray cemas, sambil memegang tangan istrinya, dia setia duduk disamping Tisha.


"Seperti nya Bu Tisha mengalami syok dan stress, tapi syukurlah bayinya baik-baik saja. Saya harap hal ini tidak terjadi lagi, karena ini bisa berbahaya untuk Bu Tisha dan bayinya. Tolong ya jaga kondisi kesehatan Bu Tisha yang sedang hamil, kondisi mental dan kesehatan tubuh nya sangat penting untuk perkembangan bayi." Jelas dokter Haris pada Ray.

__ADS_1


"Ya baik dok.." jawab Ray patuh.


"Kalau Bu Tisha terlalu syok dan stress, bisa berakibat keguguran. Mohon untuk pak Ray menjaganya ya." Dokter Haris menitipkan pesan pada Ray. Ray mengangguk pelan.


Dokter Haris meresepkan beberapa vitamin dan makanan yang cocok untuk mengurangi stress dan syok pada Ray. Ray segera memerintahkan orang-orang nya untuk membeli vitamin dan makanan itu.


Sementara dia menunggu Tisha yang masih belum sadarkan diri. Tangannya masih menggenggam tangan Tisha. "Sayang, aku minta maaf. Aku memang bodoh, aku salah.. aku minta maaf sayang.."Ray menangis, menyesali semua kesalahan nya yang sudah mengkhianati janji nya sendiri. Janji untuk selalu jujur, terbuka, setia, dan dia mengingkari semuanya.


Perlahan-lahan Tisha membuka matanya, dia melihat langit-langit kamar. Langit-langit yang familiar untuknya, dia yakin kalau dia sedang berada di kamarnya.


Dia merasakan punggung tangannya basah dan hangat, dia melirik pada seseorang yang sedang memegang tangannya. Orang itu adalah suami nya yang sedang menangis. Tisha melirik dingin ke arah suaminya yang menunduk sedih.


"Sa-sayang, kamu sudah sadar?" tanya Ray sambil menatap istrinya. Tisha menepis tangan Ray, dia tidak bicara sepatah katapun. Wanita itu langsung memalingkan wajahnya dari Ray.


Sakit hati dan takut, ketika dia mendapatkan sikap dingin dari istrinya. "Sayang, apa kamu haus? Apa kamu lapar? Mau aku ambilkan makanan?" tanya Ray perhatian.


Tisha buang muka, matanya melirik ke arah yang lain. Tidak ada sepatah katapun dari bibirnya. Padahal suaminya sedang bertanya, tapi dia bungkam.


Berulang kali Ray menyakiti hatinya, baru saja mereka berbaikan. Kenapa masalah datang kembali? Sebenarnya ini salah siapa? Hanya air mata mengalir dari pipi wanita itu, menjadi jawaban nya. Bahwa Tisha sudah sangat sakit hati dengan sikap Ray padanya. Ray menyeka air mata itu, lagi-lagi Tisha menepis tangannya dan buang muka.


"Oke, aku tau kamu masih marah dan kamu masih belum memaafkan ku. Aku tau kamu butuh waktu, tapi aku tidak bisa membiarkan kamu keluar dari rumah ini. Akan aku terima semua perlakuan mu padaku, karena aku berhak mendapatkan nya. Sayang, aku akan ambilkan cemilan kesukaan kamu."


Ray keluar dari kamar itu, dia hendak mengambil cemilan kesukaan Tisha di dapur. Tisha melihat punggung suaminya dengan tatapan sakit hati dan wajah yang terluka.


"Kenapa kamu masih belum berubah? Atau apa memang kita sudah tidak cocok bersama? Apa seharusnya kita tidak kembali bersama? Karena setiap kita bersama pasti selalu ada luka, selalu ada masalah.. salahkah aku berpikir seperti ini, ya Allah?" Gumam Tisha sambil menangis. Meratapi masalah rumah tangga mereka yang tidak ada habisnya itu.


Memang dalam kehidupan rumah tangga, tidak selalu berjalan mulus. Pasti ada masalah nya, tapi kenapa masalah Ray dan Tisha selalu saja ada. Membuat Tisha berfikir bahwa kembali bersama nya adalah hal yang salah.


πŸ€InggrisπŸ€


Sam sampai dengan cepat ke negara itu, hanya butuh waktu 7 jam untuk sampai kesana dengan jet pribadi yang dia pinjam dari Ray. Waktu di Inggris lebih lambat 7 jam dari waktu Jakarta. Saat ini di Inggris masih jam 10 pagi.

__ADS_1


Sam langsung pergi ke alamat yang diberikan oleh Andrews, tempat dimana Fayra tinggal. Hati Sam berdebar kencang, ada rasa takut di hati nya bertemu kembali dengan Fayra. Tapi, dia juga rindu bercampur senang saat akan bertemu dengan wanita yang dia cintai.


"Apa benar ini alamatnya?" tanya Sam pada salah satu anak buah Ray yang ikut dengannya. Dia melirik ke sebuah rumah sederhana berwarna hijau, dengan pagar berwarna putih di depannya. Rumah itu di kelilingi tanaman dan bunga mawar berwarna putih, bunga kesukaan Fayra.


"Benar pak, ini alamatnya." jawab salah satu anak buah Ray.


Sam melirik ke arah rumah itu, matanya berkaca-kaca. Fayra, jadi selama ini kamu bersembunyi disini?


Pria itu tercekat melihat Fayra dan seorang wanita baru saja keluar dari rumah. Dia kaget melihat Fayra secara langsung, apalagi melihat perut buncit itu.


"Bu Fayra, biar saya yang membawanya!" kata Nuri menawarkan diri untuk membawa teko air penyiram tanaman itu.


"Tidak usah Nuri, kamu kerjakan saja pekerjaan kamu di dapur." ucap Fayra sambil tersenyum pada Nuri.


"Benar tidak apa-apa Bu?" tanya Nuri.


"Tidak apa-apa, ini gak berat kok." jawab Fayra sambil berjalan, dia berniat menyiram tanamannya. Nuri pun pergi masuk kembali ke dalam rumah untuk menyelesaikan pekerjaan nya.


"Aduh, bagaimana bisa kau lupa menyiram tanaman? Maafkan aku ya bunga bunga ku!" Gumam wanita itu pada bunga bunga nya. Dia merasa bersalah pada tanaman tanaman nya.


"Kamu memilih tempat persembunyian yang bagus." ucap Sam sambil mendekati Fayra yang sedang menyiram tanaman. Sam menatap Fayra dengan penuh kerinduan.


Deg!


Fayra tersentak kaget, matanya membulat, dia menjatuhkan teko air nya ke tanah. Begitu dia melihat mantan kekasihnya dan ayah dari anaknya berada di depannya. Fayra takut, terlebih lagi ketika perut buncitnya sudah tidak bisa disembunyikan lagi. Refleks, Fayra memegang perut buncitnya itu.


Ya Tuhan! Apa aku sedang bermimpi? Sam, ada disini?


"Fayra, akhirnya aku menemukan kamu"


"Sa-Sam!" Fayra berjalan mundur, menghindari pria yang menatapnya dengan sedih itu.

__ADS_1


...---***---...


__ADS_2