
...❤️❤️❤️...
Setelah malam berhasil melewati surga ke tujuh, Ray dan Tisha sama-sama tertidur lelap. Walaupun Ray masih ada rencana untuk melakukan nya sampai pagi, tapi dia sadar kalau Tisha tidak bisa mengimbangi stamina nya di ranjang dan selalu berolahraga.
Meski begitu, Ray puas karena sudah melewatkan malam itu bersama Tisha. Bersatu bersama orang yang dia cintai, alangkah bahagianya dia.
Sinar mentari masuk melalui celah jendela kamar tersebut, dan burung mulai berkicau saling bersahutan. Menandakan kalau hari sudah pagi. Suasana pagi dengan kicauan burung terdengar, jarang sekali terjadi di kota. Tapi, hotel yang mereka tempati adalah hotel yang berada di daerah cukup terpencil.
Ciak..ciak..ciaakk!!
"Ehm..," Tisha mulai membuka matanya. Tubuhnya terasa sangat pegal-pegal hasil perhelatan semalam bersama Ray.
Pria itu, apa dia binatang buas? Apa dia berniat membunuhku? Tubuhku seperti habis di tabrak truk tronton! Apa ini yang namanya remuk?
"Kamu sudah bangun, sayang?" Ray menyambut istrinya dengan senyuman lebar. Pria itu terlihat segar bugar, seperti tidak terjadi apa-apa.
Ray sedang berbaring di ranjang, dengan tangan yang menyangga kepala. Memamerkan keindahan tubuhnya.
Tisha mengusap-usap matanya beberapa kali, meyakinkan dirinya kalau ini bukan mimpi. Ray berada di sebelahnya, dan dia sudah menjadi istrinya.
Ya Tuhan! Dia sangat tampan. Kedua mata cantik berwarna hitam itu membulat menatap suaminya.
"Ehm, kak.."panggil nya.
"Ray! Sudah kubilang semalam, panggil namaku!" Ray menegaskan nama panggilannya.
"Ray.." lirihnya dengan suara lembut.
Deg!
Jantung Ray berdegup kencang begitu mendengar suara Tisha memanggil namanya.
"Tisha sayang," Ray menatap nanar pada wanita yang berbaring disampingnya.
Benar-benar pagi yang indah, seperti berada di surga. Melihat bidadari cantik ada di hadapan ku.
"A-apa?" Tanya Tisha gugup. Dia melihat tatapan suaminya persis seperti tatapan semalam yang sudah menyiksa nya, membuat tubuhnya jadi remuk karena cinta.
Tatapan itu.. bahaya..
Tisha membalikkan tubuhnya ke arah lain, guna menghindari tatapan nanar suaminya yang membara.
Satu tangan Ray melingkar di tubuh Tisha yang hanya di tutupi oleh selimut itu. "Ray, jangan.."
"Memangnya aku mau apa? Cepat, lihat dulu padaku!"
"Kamu pasti mau macam-macam lagi kan? Enggak, aku gak mau!' Tisha menolak menoleh ke arah suaminya.
"Sumpah! Aku tidak akan berbuat macam-macam, sekarang balikan saja tubuhmu ya?" Pinta Ray lembut.
"Aku gak percaya,"
"Aku sudah bersumpah!"
"Hmphh, baiklah kalau begitu. Tapi, kalau kamu macam-macam awas ya! Tubuhku sudah remuk karena ulah mu semalam," ucap Tisha mengeluhkan kejadian tadi malam.
__ADS_1
"Remuk apanya? Aku ingat jelas kalau kamu mendesah dan mengerang keras, itu karena kamu merasa puas dengan pelayanan suamimu!" Ray memeluk Tisha lalu membalikkan tubuh Tisha hingga kedua wajah mereka bertemu.
"Perkataan mesum macam apa itu!" Bibir nya mengerucut, kening berkerut ketika pria itu bicara padanya.
Ray tertawa lebar, tangannya mengelus rambut panjang istrinya, "PFut..haha, kamu terlihat seperti Garfield kalau sedang marah begini,"
"Garfield? Terus kenapa? Apa aku jelek kalau lagi marah-marah?" Tanya Tisha kesal.
"Tidak, kau imut, menggemaskan, cantik, manis, bahkan sampai membuatku ingin melahap mu sekarang juga," Ray mendekati Tisha dan menghimpit tubuh istrinya.
"Ray, jangan! Sudah ah!" Tangannya mendorong tubuh Ray, seraya menolak permintaan suaminya.
"Izinkan aku melakukan ini saja, kalau tidak jantungku akan meledak," goda Ray pada istrinya.
"Ah? Kamu mau melakukan apa?" Tanya Tisha sambil menatap dalam suaminya.
Cup!
Pelan-pelan, Ray membenamkan bibir nya pada kening Tisha. Tisha terpesona dengan sikap romantis Ray.
"Apa aku pernah menyelamatkan dunia di kehidupan ku sebelumnya?" Tisha tersenyum , kemudian memeluk tubuh kekar suaminya.
"Memangnya kenapa?" tanya Ray.
"Karena aku bisa meruntuhkan tembok es yang ada di dalam hatimu," jawab Tisha percaya diri.
"Bukan pernah menyelamatkan dunia. Tapi kamu sudah menyelamatkan ku dari kegelapan," kata Ray sambil tersenyum.
"Hehe, seperti nya begitu,"
"Benar, aku sangat lapar! Aku kehilangan banyak tenaga karena semalam bintang buas sudah menyerang ku,"
"Binatang buas yang tampan, gagah dan memuaskan," Ray mencubit gemas hidung Tisha.
"Cih! Percaya diri sekali kamu," ucap Tisha sambil tersenyum bahagia.
Kebahagiaan pagi hari yang indah, mereka bisa saling melihat satu sama lain. Kini mereka sudah bersama-sama dalam ikatan pernikahan.
Indah sekali, ya Tuhan.. jangan sampai kebahagiaan ini berlalu. batin Ray bahagia bisa memiliki Tisha di sisinya.
Sebagai bentuk pertanggungjawaban, Ray mengantar Tisha ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Bahkan pria itu melakukan hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya, menyiapkan air panas dan sarapan pagi sendirian.
Setelah selesai berdandan dan berpakaian lengkap, Tisha dan Ray berencana untuk sarapan pagi.
"Eh? Mana sarapannya?" tanya Tisha heran melihat meja kosong, "Aku yakin loh, disini tadi ada makanan!"
"Eng-enggak ada kok, kamu salah lihat kali!" Ray terlihat gugup.
"Aku yakin ada makanan disini, kamu sendiri kan yang bilang kalau kamu membuat sarapan pagi untukku di dapur hotel?" Tanya Tisha yakin melihat makanan di meja itu.
Itu karena aku membuangnya. batin Ray teringat masakan gosongnya.
Ray diam dan tidak menjawab. Tisha pun mencari cari di sekitar sana sarapan yang dibuat oleh Ray dari mencium baunya. Tisha menemukan di ruangan lainnya, ada sebuah keresek hitam.
Ray meminta Tisha untuk tidak membuka tas keresek itu, tapi Tisha tetap membukanya. Disana terlihat ada 2 roti panggang yang gosong dan telur mata sapi gosong juga.
__ADS_1
"Kayanya ini enak, kebetulan aku lapar sekali," ucap Tisha sambil memakan roti gosong itu.
"Sayang, jangan dimakan! Itu rasanya tidak enak!" Ray melarang Tisha memakan roti gosong itu.
"Nyam..nyam," Tisha memakan roti gosong itu sambil tersenyum paksa.
Rasanya benar-benar buruk, lain kali dia tidak boleh menyentuh dapur. Tisha merutuki makanan itu di dalam hatinya.
"Hentikan! Jangan dimakan, kita sarapan di kantin hotel saja, aku akan pesankan yang kamu mau," Ray berusaha mengambil roti itu dari tangan istrinya, dia merasa bersalah karena dia belum bisa memasak dengan baik.
"Tidak perlu, kita makan ini saja!" Seru Tisha sambil menikmati rotinya. Ray juga ikut memakan roti yang satunya lagi.
Rasanya buruk sekali!
"Uwekk! Ini sangat tidak enak, cepat buang roti mu juga!" Ray mengambil roti milik Tisha yang tinggal satu gigitan lagi.
"Tidak apa-apa ini tidak begitu buruk kok," jawab Tisha tidak apa-apa.
"Apa? Jadi ini sangat buruk ya?" Ray menunduk sedih karena secara tidak langsung wanita itu mengatakan kalau masakannya tidak enak, "Aku memang tidak berguna, memasak saja tidak bisa!" Ray menggerutu.
"Hehe, iya sayang kamu memang tidak hebat dalam memasak tapi itu bukan berarti kamu tidak berguna. Setiap orang tidak hebat dalam segala hal," wanita itu menasehati suaminya dengan lembut dan bijak.
Ray mendekati Tisha, tangannya mengunci kedua tangan cantik itu, "Kalau kamu menatapku seperti itu, aku jadi semakin ingin memakan mu,"
"Kak Ray! Ini masih pagi,"
"Tidak, ini sudah malam," Ray mendekatkan wajahnya, terlihat jelas niatnya ingin mencium bibir itu. Namun, terdengar sebuah dering dari ponsel milik Ray.
🎵🎵🎵
Dreet..
Dreet..
"Ray, angkat dulu telponnya," Tisha menutup bibir Ray dengan telapak tangannya.
"Nanti saja, itu pasti tidak penting," hanya tinggal beberapa inci lagi bibir itu akan bertemu dengan bibir cantik istrinya. Tapi....
Dreet..
Dreet..
🎶🎶🎶
"Tidak penting bagaimana? Dia terus menelpon mu!" Ujar Tisha sambil mendorong tubuh suaminya.
"Ah! Akan ku bunuh dia kalau ini tidak penting," Ray menggerutu kesal pada dia yang entah siapa menghubungi nya.
Ray mengambil ponselnya, dia melihat tulisan Gerry disana.
Ku bunuh kau Gerry! Ray menatap ponselnya dengan marah.
"Siapa Ray?"
...---***---...
__ADS_1
Jangan lupa like komen gift, favorit dan rate 5 nya Readers!