Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 40. Dibalik duka ada..


__ADS_3

🍁🍁🍁


Bu Fani dan Arya terlihat sedih melihat Tisha yang tidak bicara apa-apa. Mereka sudah tau tentang pernikahan kontraknya dan Ray, apa mereka akan memanfaatkan ini untuk mendapatkan lebih banyak uang dari Ray? begitulah pikir Tisha.


Apa yang aku lakukan selama ini? ibu macam apa aku ini? kenapa aku begitu tega pada putriku sendiri? dia sudah melakukan semuanya demi keluarga kami, dia bahkan menikah dengan pria ini demi membayar hutang. Dan si pelakor ini memanggil putriku pelacur?. Bu Fani mendengus kesal, ia mengepal tangannya erat-erat. Dia ingin sekali memukul Zee, tapi yang dikatakan tidak sepenuhnya salah. Yang salah disini adalah Ray dan dirinya sendiri yang sudah menjerumuskan anaknya dalam pernikahan neraka itu.


Mata Bu Fani berkaca-kaca menatap ke arah Tisha, ia memperhatikan betapa kurusnya Tisha. Berbeda saat ayahnya masih hidup, Tisha jelas tidak terlihat bahagia dengan kehidupan nya saat ini. Bu Fani jadi teringat dengan ceramah pak ustad saat ia dan Arya mengikuti pengajian di mesjid tempat mereka menginap.


Aku pikir Tisha menikah dengan nya karena beruntung' dan karena mereka memang saling mencintai. Tapi, itu demi membayar hutang? mengapa ada pernikahan seperti ini? apa itu semua karena hutang-hutang ku?. Arya membeku, ia tak mampu menatap adiknya itu.


Mereka kenapa ya? apa mereka terkejut? mereka kasihan padaku?. Batin Tisha heran melihat kebisuan Bu Fani dan Arya.


Untuk menyudahi keributan di pagi hari itu, Ray mengusir Zee. Awal dari keributan yang terjadi, Zee tidak terima diusir oleh Ray. Karena ia datang ke rumah Ray setelah mendapat persetujuan dari kakek, untuk berangkat bekerja bersama dengan Ray.


Ray tidak bisa mengusir Zee begitu saja, karena kakek nya berpesan agar tidak membuat Zee tersinggung. Jika Zee tersinggung, maka Bu Lisa akan melakukan sesuatu yang lebih menyebalkan lagi.


Zee yang terus menempel pada Ray, membuat situasi rumah itu menjadi tidak nyaman. Bu Fani juga menunjukkan rasa tidak senang dengan sikap Ray yang berdekatan dengan wanita lain meskipun ada Tisha disana.


"Ibu mertua, kakak ipar, ayo kita sarapan bersama" ajak Ray pada Bu Fani dan Arya yang masih berdiri mematung


Ada apa dengan tatapan mereka padaku? apa mereka marah? wajar saja sih, itu karena Zee ada disini. batin Ray heran melihat ibu mertua dan kakak iparnya masih berdiri mematung di dekat Tisha.


"Sayang, jangan makan makanan kotor ini. Aku bawain kamu sarapan yang bergizi dan bersih" Zee tersenyum dan membuka kotak yang ia bawa. Dengan sengaja Zee membuang semua makanan yang sudah disiapkan Bu Fani dan Tisha atas meja, ke tempat sampah.


Bu Fani dan Tisha sakit hati melihat masakan mereka dibuang oleh Zefanya ke tempat sampah.


Tisha, bagaimana bisa kamj menahan ini semua? apa selama dua tahun itu kamu mendapatkan perlakuan seperti ini? lalu kenapa kamu tidak menangis?. Batin Bu Fani sakit hati melihat wajah putrinya tanpa eskpresi


Ingin rasanya aku memukul si Ray dan wanita jal*ng itu!. Arya juga ikut merasakan kesal melihat Ray dan Zee. Memang ikatan keluarga dan darah tidak akan ada yang bisa membantah atau memutusnya.


"Zefanya! apa yang kamu lakukan? kamu sudah gila ya? apa yang kamu lakukan di rumah orang lain, HAH?!!" kemarahan Ray mulai meledak melihat kelakuan Zee yang sudah di luar batas.


Ray tidak tahan lagi, ia pun menyeret Zee keluar dari apartemen nya. Tapi Zee tidak mau pergi, ia mengatakan bahwa ia akan pergi bersama Ray.


Supaya Zee tidak membuat rusuh lagi, Ray memutuskan untuk pergi ke kantor lebih awal dan mengantar Zee lebih dulu.


"Ibu mertua, kakak ipar, saya pamit dulu. Kalau ada apa-apa, kalian bisa menghubungi saya"

__ADS_1


"Seperti nya tidak perlu, karena kamu juga sibuk dengan calon istri kamu" kata Bu Fani sambil tersenyum sinis pada menantunya itu. Tisha terpana dan merasa senang, ia tak menyangka bahwa ibunya akan membelanya.


Sikapnya jadi berbeda dari sebelumnya. batin Ray merasa tidak nyaman


"Itu benar, Ray akan sibuk denganku mulai sekarang" kata Zee menimpali ucapan Bu Fani


"Oh ya kakak ipar, jika kamu ingin bekerja di perusahaan Argantara. Kamu bisa mulai bekerja dari sekarang, Gerry akan mengurus semua prosedur nya" kata Ray pada Arya ramah


"Tidak perlu, aku akan melamar kerja di tempat yang lain" jawab Arya ketus


Kakak juga membelaku?. batin Tisha semakin senang mendapat pembelaan dari kedua anggota keluarga nya.


"Tisha, ayo kita harus berangkat bekerja"


"Aku tidak mau, kamu berangkat saja dengannya"


"Nanti kamu akan terlambat" ajak Ray pada istrinya


"Tidak mau, aku jijik satu mobil dengan kalian" ucap Tisha yang kembali' teringat kenangan buruk suaminya yang tidur dengan Zee.


Jijik?. Ray membeku dan sedih dengan kata-kata dan raut wajah yang ditunjukkan Tisha pada nya. Raut wajah penuh kebencian dan penuh rasa marah.


"Ray, ayo! nanti aku terlambat ke kantor ku!" ajak Zee sambil menarik tangan Ray


Maafkan aku Tisha, sekali lagi maafkan aku. Semoga selama 7 hari ini, kamu bisa memikirkan keputusan mu untuk bercerai. batin Ray menaruh harapan pada Tisha.


"Pastikan kamu datang tepat waktu ke kantor! aku tidak akan mentolerir kalau kamu terlambat, meski kamu adalah istriku" ancam Ray pada istrinya


"Aku tidak akan terlambat" jawab Tisha tegas


Ray dan Zee pergi bersama naik mobil untuk berangkat ke kantor. Tisha menatap kepergian suaminya dan orang ketiga itu dengan rasa sakit hati. Tapi, tak ada setetes air mata yang jatuh dari matanya.


"Bu, kak Arya, aku berangkat kerja dulu ya" kata Tisha sambil mengambil tas selempang dan memakai sepatu pentople nya.


GREP


Bu Fani tiba-tiba menarik Tisha kedalam pelukannya. Bu Fani menangis terisak sambil memeluk putrinya.

__ADS_1


"Kenapa.. hiks.. maafkan ibu Tisha, ampuni ibu.." Bu Fani menangis semakin terisak


"Ibu kenapa?" tanya Tisha kebingungan dengan sikap ibunya


"Kakak juga minta maaf Tisha, ini semua salah kakak..Kamu mendapatkan penghinaan seperti ini semuanya salah kakak.. beraninya wanita itu menghina mu!" Arya menangis dan menatap adiknya dengan penuh rasa bersalah. Arya marah pada Zee yang sudah menghina Tisha


"Kalian kenapa sih?? kenapa malah nangis nangis kaya gini??" tanya Tisha keheranan


Bu Fani dan Arya tak hentinya meminta maaf pada Tisha, hari yang cerah itu pun menjadi mendung di hati Tisha. Padahal ia harus berangkat bekerja, tapi ibu dan kakaknya malah menangis. Mereka berhenti menangis saat Tisha bilang mau memaafkannya.


"Sudahlah, aku tidak apa-apa. Kalian lihat kan? aku bahkan tidak menangis. Aku sudah biasa" Tisha tersenyum di depan ibu dan kakaknya. Tisha tersentuh karena yang ibu dan kakaknya sudah menyadari kesalahan mereka dan masih peduli pada Tisha.


"Tidak menangis bukan berarti tidak sakit. Tisha ayo kita pergi saja dari sini ya, kamu bayar semua hutangmu dengan jual rumah peninggalan nenek kamu. Kamu jangan tinggal disini lagi bersama bajingan itu, dan kamu bercerai saja darinya !" Bu Fani memegang tangan Tisha dengan erat


"Iya, kamu tidak usah khawatir. Aku akan bekerja dan membantu keuanganmu. Masalah tempat tinggal, kita bisa ngontrak untuk sementara waktu. Kamu cepat tinggalkan pria itu! aku tidak sudi adikku dihina seperti itu!" Arya ikut marah karena ia baru tau kalau adiknya hanyalah istri kontrak yang tidak berharga dan tidak dihargai.


Tahan Tisha, walaupun kamu terharu. Kamu gak boleh nangis, kamu harus kuat! Tisha menahan air matanya, ia tak mau terlihat lemah dihadapan ibu dan kakaknya.


"Aku memang akan bercerai dengannya, satu minggu lagi kami akan bercerai. Dan soal hutang, kalian tidak usah cemas. Aku sudah membayarnya" jelas Tisha sambil tersenyum pahit.


Ya Allah... terimakasih karena disaat ini engkau memberikan hidayah pada ibu dan kakakku. Mereka menyesali semua perbuatan mereka, dan aku beruntung karena saat ini mereka ada disisi ku disaat aku tak punya siapa-siapa. batin Tisha merasa bersyukur di dalam duka nya ada hikmah yang terselubung.


Seberapa dalam lukamu itu? kenapa kamu tidak mau membuka mulutmu? kenapa kamu tidak menangis? apa air matamu itu sudah sering jatuh sehingga sekarang sudah terlalu kering untuk menangis? maafkan ibu nak, maafkan ibu..


πŸ€πŸ€πŸ€


7 hari pun telah berlalu..


Ray sudah mengupayakan segala cara untuk mengambil hati Tisha dan kedua keluarga nya. Tapi, Bu Fani, Arya dan Tisha seolah menutup hati dengan apapun yang Ray lakukan. Pria itu berusaha terlihat baik di depan Tisha dan keluarga nya. Namun, hal itu seperti nya tidak membuahkan hasil. Segala cara di lakukan bu Fani agar Ray tidak mendekati Tisha, dan rencana Bu Fani berhasil. Tidak ada kontak fisik antara Ray dan Tisha selama 7 hari itu.


Tisha, Bu Fani dan Arya mengepak semua barang bawaan mereka. Tisha juga membawa surat cerai ditangannya yang sudah ia tandatangani.


"Kali ini jangan robek suratnya lagi" Tisha mengingatkan


"Tidak bisakah kita jangan bercerai?" tanya Ray yang sedih melihat surat cerai di meja.


"Aku tetap pada keputusan awal ku, kita cerai kak.."

__ADS_1


Ray menatap Tisha dengan sedih, ketegasan Tisha sudah membuatnya bungkam.


...---***---...


__ADS_2