Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 188. Kehilangan istri


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Atas permintaan Tisha, Derrick berjanji akan merahasiakan tempat persembunyian nya. Namun Derrick menyarankan pada Tisha agar tidak bersembunyi terlalu lama. Derrick takut kalau wanita itu mengambil kesempatan mendekati Ray karena Tisha tidak ada.


Tisha tercengang mendengar nya, seperti nya dia setuju bahwa yang dikatakan Derrick itu benar. Pikirannya yang tadi ingin pergi satu minggu, dia urungkan menjadi 3 hari saja.


"Baiklah, aku akan pulang. Apa tidak apa-apa kalau aku meninggalkan dua ibu hamil disini?" tanya Derrick yang agak cemas karena hanya ada dua ibu hamil di dalam apartemen itu.


"Tidak apa-apa, kami akan baik-baik saja." Jawab Fayra yakin.


"Itu benar, kami akan saling menjaga." Jawab Tisha sambil tersenyum dan mengangguk setuju.


"Oke,lalu apa kalian sudah menyiapkan amunisi untuk bersembunyi?" tanya Derrick sembari berfikir.


"Amunisi?" Tisha dan Fayra saling melirik satu sama lain, apa maksud Derrick dengan amunisi?


Amunisi yang dimaksud oleh Derrick disini adalah makanan dan persediaan selama mereka bersembunyi. Tisha dan Fayra yang sama-sama kabur, sama sekali belum memikirkan itu. Akhirnya Derrick lah yang mengurus dua wanita hamil itu, dia membeli makanan di supermarket yang ada di dekat sama untuk Tisha dan Fayra.


"Sha, apa hubungan mu dengan pak Derrick? Mengapa kamu terlihat akrab dengannya? Apa jangan-jangan dia sama kamu ada.."


"Itu tidak seperti apa yang kakak pikirkan. Kak Derrick sudah menjadi kakak ku, dia tidak punya pikiran seperti itu padaku. Terjadi banyak hal setelah kakak pergi, singkatnya.. kak Derrick awalnya dendam pada Kak Ray karena kematian adiknya. Karena aku mirip dengan adiknya, dia meminta ku menjadi adiknya. Ya begitulah hubungan kami sekarang, kakak dan adik." Jelas Tisha secara singkat padat dan jelas pada Fayra.


"Oh begitu ya, jadi tidak ada perasaan seperti itu?" tanya Fayra sambil duduk berbaring di sofa.


"Kenapa kak? Dia masih lajang lho!" Tisha langsung menangkap sinyal antara Fayra dan Derrick yang tadi saling bertatapan.


Fayra tercekat menndengar perkataan Tisha, "A-Apa sih yang kamu bicarakan Sha? Apa maksud kamu bicara begitu?"


"Kak, tidak ada yang tidak mungkin. Jodoh kan tidak ada yang tau. Atau mungkin kakak masih menyukai pria itu?"


"Tentu saja tidak! Perasaanku padanya sudah lama mati sejak dia mengambil kehormatan ku. Dan kurasa aku sudah tidak bisa mencintai ataupun dicintai lagi, bagaimana pun juga aku adalah wanita hamil tanpa suami, tanpa menikah. Kupikir aku akan hidup berdua saja dengan anakku selamanya." Fayra memiliki pikiran pahit kalau dia akan hidup berdua saja dengan anaknya selamanya. Tanpa ada suami ataupun dicintai oleh seorang pria. Fayra berfikir dirinya akan bahagia.


"Kakak jangan bicara begitu. Kakak dan anak kakak berhak bahagia, kakak berhak dicintai dan mencintai. Pasti kakak akan punya seseorang yang mencintai kakak dengan tulus. Hanya saja waktunya belum datang." Tisha berusaha menghibur Fayra yang tidak percaya diri untuk bahagia. Fayra merasa dirinya kotor karena sudah hamil di luar nikah, apalagi dengan suami orang.


Mau seperti apapun dia, mau dia berkata tidak bersalah. Dia tetaplah seorang pelakor jika dia menikah dengan Sam. Fayra tidak mau hal itu terjadi, apalagi melihat Grace yang sangat mencintai Sam. Kehadiran nya dan anaknya hanya akan menghancurkan sebuah keluarga. Tisha mulai berfikir bagaimana kalau dia menjodohkan kakak nya Derrick dengan Fayra.


****


Malam itu Ray dalam perjalanan pulang ke rumah, dia terlihat lelah dan menyetir sendiri. Ray mampir dulu ke toko bunga yang masih buka, dia juga pergi ke supermarket dan membeli cemilan untuk anak dan istrinya dengan harapan bahwa Tisha akan segera melunak.


"Untunglah toko bunga masih ada yang buka. Dan bunga nya masih segar, pasti Tisha akan senang. Semoga dia segera memaafkan ku." Ray meletakkan bunga mawar pink itu di jok sebelah nya. Ray kembali menyetir mobil, pikirannya melayang kesana kemari karena Tisha masih marah padanya.


Inginnya dia membatalkan kerjasama dengan CY fashion, tapi hal itu tidak mungkin dilakukan nya. Argantara dan CY Fashion sudah terikat kontrak selama 4 bulan. Jika salah satu dari pihak melanggar kontraknya, sanksi yang diterima tidaklah mudah. Bukan hanya masalah uang, tapi masalah integritas perusahaan dan juga hukum.

__ADS_1


Perusahaan Argantara akan dianggap memikirkan perasaan pribadi dan mengesampingkan bisnis, jika membatalkan kerjasama itu. Maka tidak akan ada perusahaan lain yang bekerjasama dengan Argantara grup.


"Baiklah, jika tidak bisa dibatalkan. Aku hanya perlu menghindari Bu Stefani saja. Kedepannya tidak boleh berbohong sekecil apapun itu, aku harus jujur. Kalau aku meminta maaf dengan sungguh-sungguh, Tisha akan luluh.. pasti.." Ray terlihat was-was, dia takut kalau Tisha masih marah padanya.


Mobil Ray sudah sampai di depan rumah, dia memarkirkan mobilnya dan memasukkan nya ke dalam garasi. Ray keluar dari mobilnya sambil membawa bunga dan keresek putih di tangannya.


"Bismillah, Tisha tidak akan marah lagi. Bismillah, Raymond!" Ray berusaha meneguhkan hatinya, menenangkan dirinya yang sedang berdebar karen resah.


Ray memasuki rumahnya, dia melihat Rasya sedang menangis sendirian. "Huhuuuhuuhuu..mamah.. mama.."


"Rasya, kamu kenapa sayang?" tanya Ray yang cemas melihat anaknya menangis.


"Mama.. mama gak ada.. mama gak ada pa!" Rasya menangis, dia mengadu kepada ayahnya bahwa mamanya tidak ada di rumah.


"Gak ada gimana maksud kamu?" Ray menyeka air mata Rasya dengan kedua tangannya.


Kemudian pria itu menyimpan buket bunga dan kresek berisi makanan di meja. Ray berjalan menuju ke kamarnya, dia melihat lemari baju yang terbuka dan koper milik istrinya yang sudah tidak ada di sana. Ray panik dan segera melihat lemari baju yang terbuka itu, dia tidak melihat ada baju Tisha di dalam lemari bajunya. Tidak ada satupun baju Tisha disana.


"Tisha..kemana Tisha? Sayang! Sayang!!" Ray mulai berteriak panik, dia mencari istrinya ke setiap sudut rumah itu.


Seperti apa yang di perkirakan oleh Tisha dan Derrick, bahwa Ray sudah mulai menggila. Rasya melihat papa nya yang begitu panik sampai memanggil polisi. Dalam hatinya dia merasa bersalah, karena dia tau mama nya pergi.


"Rasya, kamu tenang ya sayang, papa akan segera menemukan mama dan adik bayi," Ray berusaha menenangkan Rasya yang harus berhenti menangis.


Bukankah perkataan itu harusnya cocok untuk papa? Papa yang harus tenang, papa sampai membawa-bawa polisi. Bagaimana ini? Aku harus kasih tau Mama, atau..


"Papa, mama mungkin sedang menenangkan dirinya dan butuh waktu sendirian. Mama pasti akan kembali pa, mama kan sama dede bayi dan aku juga ada disini..jadi mama gak akan pergi lama."


Semoga papa mengerti apa maksudku, karena sebenarnya mama pergi hanya untuk menenangkan dirinya dan mama akan segera kembali.


Ray mencengkram kedua tangan putranya dengan erat, matanya memancarkan perasaan panik, takut, dan cemas. "Enggak! Mama kamu kalau sudah pergi seperti ini, dia mungkin gak akan kembali! Atau dia akan pergi lama! Papa harus segera menemukan nya!" Suara Ray meninggi, dia menangis mengingat masa lalu saat dia kehilangan Tisha dan Rasya 7 tahun yang lalu.


Rasya merasa bersalah dan kasihan pada Ray, dia bingung harus berbuat apa. Haruskah dia memberitahu papa nya dimana keberadaan sang mama?


Kenapa papa sepanik ini? Apa papa sangat terluka karena mama dulu pernah pergi darinya? Ya Allah aku harus bagaimana, haruskah aku memberitahu papa dimana mama. Tapi aku takut papa marah.


Akhirnya anak itu memilih bungkam di depan papa nya yang sedang panik kelimpungan dengan kepergian mama nya. Diam-diam Rasya pergi ke kamarnya, dia mengirimkan pesan pada mama nya lewat ponsel nya. Rasya memberitahukan pada Tisha kalau papa nya sampai melapor ke polisi.


"Ya ampun, nomor mama kan tidak aktif! Kenapa aku mengirimkan pesan? Kalau begini caranya, bagaimana aku bisa menghubungi mama!" Gumam Rasya bingung.


Ray meminta para bodyguard nya menjaga Rasya di rumah selagi dia pergi mencari Tisha. Di rumahnya, Sam juga merasakan hal yang sama. Saat pulang kerja dia mengetahui bahwa menghilang dan kabur.


"Pasti kamu kan yang meminta nya pergi? Kamu yang menyuruhnya kabur?" Sam melontarkan pertanyaan yang menuduh kepada istrinya.

__ADS_1


"Sumpah demi tuhan Sam! Aku tidak pernah melakukan itu," Grace hampir menangis di tuduh oleh Sam.


"Lalu kenapa menjaga wanita hamil saja tidak bisa?!" Teriak Sam emosi.


"Dia kabur dengan Tisha! Tisha kemari dan mengalihkan perhatian ku lalu mereka kabur berdua!'


"Tisha? Istri Ray?" Sam terpana mendengar nya.


"Tapi Sam, menurutku lebih baik kamu jangan memaksakan kehendakMu pada Fayra! Biarkan dia memilih jalan nya sendiri."


"Grace kamu tidak tau apa-apa! Jika aku tidak menikahinya, lalu bagaimana dengan bayi yang ada di dalam kandungan nya? Apa dia akan lahir tanpa ayah?" Sam mencoba menekankan pada Grace bahwa dia tidak bisa membiarkan Fayra menanggung rasa malu lebih banyak karena hamil diluar nikah.


Kamu mengatakan semua ini, bukan karena kasihan pada Fayra. Tapi karena kamu masih mencintai nya kan, Sam? Batin Grace sakit hati.


Ucapan Sam membuat Grace terdiam. Kemudian Sam menghubungi Ray dan memberitahukan padanya bahwa Tisha dan Fayra kabur bersama. Mereka pun bekerjasama untuk mencari kedua wanita hamil itu bersama.


Ray dan Sam mencari Tisha dan Fayra ke tempat-tempat yang mereka kunjungi. Tapi, kedua wanita hamil seolah hilang ditelan bumi. Sampai pagi itu mereka tidak tidur dan masih dalam upaya pencarian Tisha dan Fayra.


"Sudah jelas mereka bersembunyi." Sam yakin.


"Benar, bahkan tidak ada laporan dari polisi ataupun jejak." ucap Ray resah gelisah memikirkan istrinya. Ray terlihat lelah, kantung mata hitam nya menebal.


Ini salahku! Bagaimana kalau Tisha pergi jauh? Tapi seperti apa kata Rasya, dia tidak akan pergi jauh. Logikanya mana mungkin Tisha meninggalkan Rasya begitu saja. Pikir Ray dalam hati. Ditinggal Tisha sebentar saja rasanya sudah satu abad untuk dirinya.


Dreet..


Dreet..


🎢🎢🎢


Ponsel Ray berbunyi, dengan lemas dia melihat siapa yang menelpon. Kemudian dia mengangkat nya. "Halo, siapa ini?"


"Pak Raymond, kami dari pihak kepolisian. Kami ingin mengabarkan bahwa kami menemukan jejak keberadaan istri bapak!"


"Apa?!"


...---***---...


Maafkan ya readers! Kemarin author tidak up, karena kesehatan yang sedikit terganggu.. rencana nya mau double up hari ini kalau sempat πŸ₯ΊπŸ₯°πŸ™ Terimakasih ya untuk dukungan kalian.


Oh ya, author ada rekomendasi novel karya kak author Ramanda! Mampir ya readers, ceritanya bagus dan menginspirasi banget πŸ₯ΊπŸ˜πŸ₯°


__ADS_1


__ADS_2