
...πππ...
Selagi Rasya bersama dengan Ray, Tisha memanfaatkan waktu untuk bersih-bersih rumah, setelah itu dia pergi ke sekolah Rasya untuk menyerahkan formulir pendaftaran.
"Ternyata baru jam delapan, aku ngapain dulu ya? ngomong-ngomong gimana kabar kak Ray, apa Rasya rewel? ah sudahlah, dia pasti bisa mengatasi nya kalau dia bilang bisa pasti bisa. Setelah ini aku harus bersiap ke kantor, tapi sebelum itu aku harus membeli bahan makan siang dan untuk makan malam nanti" kata Tisha sambil tersenyum santai.
Wanita itu pergi ke supermarket dan membeli bahan makanan untuk makan siang dan makan malam. Ketika sedang asyik berbelanja, dia mendapatkan telpon dari Fayra.
"Halo Assalamualaikum kak Fayra" sapa Tisha pada orang yang menelpon nya itu.
"Waalaikumsalam Tisha! bagaimana bisa kamu pindah tanpa memberitahu ku lebih dulu? bahkan Rasya juga sudah pindah sekolah kan?" tanya Fayra ngambek, bibirnya mengerucut sebal.
"Maaf kakak, aku sempat lupa mau bicara sama kakak. Maaf banget" Tisha memohon maaf pada Fayra, dia lupa untuk memberitahukan pada Fayra bahwa dia sudah pindah ke Indonesia dan memutuskan menetap di Jakarta.
"Aku bakal maafin kamu kalau kamu kasih tau dimana tempat tinggal kamu dan si unyu ku kecil nyebelin itu!" seru Fayra tegas
"Baiklah kak, akan aku kirimkan alamat nya. Tapi, apa kakak mau kesini?" tanya Tisha
"Ehm...itu masih dirahasiakan ya" Fayra tersenyum, dia masih tutup mulut.
"Hem...kakak ini, aku kangen kakak.."Tisha tersenyum lembut saat berbicara dengan gadis yang tinggal bersamanya itu.
"Aku juga Tisha, cepat kirimkan alamatnya padaku!" seru Fayra tidak sabar ingin tau dimana tempat tinggal Tisha dan Rasya.
"Oke kak, udah ini aku kirimkan ya" jawab Tisha dengan senang hati
"Oh ya Tisha, mana si unyu imut ku? aku mau denger suara nya dong!" kata Fayra yang merindukan suara Rasya, sudah seminggu Fayra tidak melihat ataupun suara Rasya dan dia rindu sekali pada anak itu
"Maaf kak, tapi Rasya gak ada disini. Dia sama papa nya ikut ke kantor" jawab Tisha
"Oh gitu ya, ya udah nanti sampaikan peluk cium ku untuk si unyu ku ya" Fayra tersenyum pahit, suaranya terdengar kecewa.
Zayn, kamu tidak lihat apa? kesempatan untuk kamu itu tipis sekali. Kamu masih saja mengharapkan nya.
"Iya kak, udah dulu ya! aku mau lanjut belanja lagi" kata Tisha lalu menutup telponnya.
Tut..
Fayra melihat kopernya, dia sudah bersiap untuk pergi ke Jakarta dan menemui Tisha juga Rasya disana.
"Zayn, kakak akan membantu semoga cinta kamu dapat terwujud" kata Fayra sambil mengepalkan tangannya dengan semangat. "Lagipula pria itu tidak ada apa-apa nya dibandingkan dengan kamu, Zayn ini bantuan terakhir kakak untuk kamu"
...****...
Kantor Argantara grup, ruang presdir...
Tidak cukup dengan membantah perkataan papa nya, Rasya juga membuat ulah di kantor karena bosan. Ray masih bisa bersabar dengan sikap Rasya, dia menahan diri dari marahnya dari tadi.
Anak ini, akhirnya dia diam juga setelah ku berikan tablet. Daritadi dia rewel terus, mirip siapa sih dia? mengapa dia begitu keras kepala?. Ray menghela napas panjang, dia tak mengira bahwa anak yang terlihat kalem itu bisa sangat rewel dan manja padanya.
Seperti nya ini yang dimaksudkan oleh Tisha untuk sabar menghadapi kelakuan Rasya. Ray akhirnya mengerti apa maksud kata-kata Tisha padanya. Dan benar saja, anak itu membuat ulah di kantornya.
Baru beberapa menit tenang dan tidak rewel, Rasya kembali merengek pada papanya.
__ADS_1
"Papa! aku mau eskrim"' rengek nya pada Ray yang sedang sibuk menandatangani dokumen dokumen menumpuk di meja nya.
"Sebentar ya sayang, papa sedang bekerja. Kamu bisa tunggu sebentar kan?" Ray masih fokus pada dokumen-dokumen di mejanya, konsentrasi nya hampir buyar oleh anak itu
"Papa! aku mau nya sekarang.. ayo pah sekarang belinya..." rengek Rasya manja sambil memegang tangan Ray dan menarik-narik tangannya.
"Nanti ya sayang, kamu tidak lihat papa lagi sibuk? dari tadi kamu rewel terus deh!" Ray menyimpan bolpoin nya, dia mulai emosi pada anaknya itu.
Gerry yang duduk di meja lain mendengar ucapan Ray yang sedikit meninggi. Baru 1 jam saja menjaga Rasya dia sudah kesal.
Akhirnya pak Presdir meledak juga. batin Gerry tak berani berkomentar apapun. Dia juga menyaksikan betapa rewelnya Rasya saat berada disana, mengacak-acak barang yang ada disana, bertingkah manja pada Ray, merengek dan keras kepala.
"Kalau papa gak mau nganter aku beli eskrim ya udah! aku minta aja om Zayn yang antar beli eskrim nya, om Zayn selalu mau kalau ngantar aku beli eskrim" keluh Rasya sambil menyilangkan tangannya di dada. Kemudian dia mengacak-acak dokumen di meja yang sedang di kerjakan oleh Ray. Hingga dokumen dokumentasi itu berserakan di lantai.
Ya Allah, apa semua anak kecil seperti ini?
Ray memegang kepalanya, dia gusar dan sudah penat dengan kelakuan anak itu. Apa begini rasanya mengurus anak? apalagi Tisha sudah mengurus Rasya sejak dalam kandungan, betapa rewelnya dia saat masih kecil, atau bagaimana cara menenangkan nya? Ray sudah ketinggalan banyak masa kecil Rasya, kini dia menyadari bahwa perjuangan seorang ibu begitu besar untuk anaknya. Terutama Tisha yang membesarkan anaknya seorang diri.
"Baiklah sayang, asalkan kamu tidak menyebut nama om Z itu.. papa akan mengantar kamu beli eskrim" Ray tersenyum, dia menahan amarahnya.
"Benarkah? papa mau mengantar aku beli eskrim?" tanya Rasya bersemangat dengan mata yang berbinar-binar
"Iya ayo" Ray beranjak dari tempat duduknya kemudian ia meraih tangan Rasya dan menggandeng nya, "Gerry, tolong bereskan dokumennya!" titah Ray pada Gerry untuk membereskan dokumen berserakan yang ada di meja nya.
"Baik pak" jawab Gerry patuh
Ya ampun, aku lah yang kena imbasnya. batin Gerry merasa nasibnya ngenes
Aku harus membuat konferensi pers untuk mengumumkan tentang Rasya. Semua orang harus tau kalau Rasya adalah anakku. Tapi, apa Tisha akan setuju dengan semua ini?
"Papa! papa eskrim nya mencair tuh!" seru Rasya seraya menunjuk ke arah eskrim cone papa nya yang mulai mencair. Rasya menjilat eskrim lezat dengan rasa vanilla itu.
"Ah iya sayang, maaf papa tidak fokus"Ray kembali memfokuskan dirinya pada eskrim yang sedang ia nikmati. "Oh ya sayang, kita masuk ke dalam yuk! sebentar lagi papa ada rapat penting"
"Iya pah, ayo" jawab Rasya patuh, dia baru saj menyelesaikan makan eskrim nya
Sudah dibelikan eskrim, anak ini jadi sedikit patuh. Dasar!. Ray menggandeng tangan Rasya dengan penuh kasih sayang. Tak lupa Ray mengusap noda eskrim di wajah Rasya dengan lembut dan penuh perhatian.
****
Tepat pukul 10 pagi, Tisha sudah bersiap-siap memasuki pintu masuk gedung Apparel desain. Tempat dimana dia akan bekerja dan menggapai mimpinya sebagai desainer. Dengan penuh semangat, Tisha masuk dalam sana. Tak hentinya dia berdoa agar diberikan atasan dan teman kerja yang baik di kantor itu.
Saat Tisha akan masuk ke dalam lift, dia melihat seorang gadis cantik, berkulit putih, dan memakai seragam putih abu terlihat sedang berdebat dengan seorang penjaga keamanan.
"Pak! saya gak bohong, ayah saya kerja disini! dia itu sekretaris Presdir!" kata gadis itu pada satpam dengan kesal
"Maaf dek, tapi meskipun begitu.. gak sembarangan orang boleh masuk ke kantor ini" kata pak satpam
"Bekal makan ayah saya ketinggalan, cepetan dong pak! izinkan saya masuk! sebentar lagi saya harus kembali ke sekolah, ini jam istirahat saya" kata gadis itu bersikeras pada pak satpam. Namun si pak satpam dengan tegas melarang nya masuk ke dalam gedung itu.
Uh, gimana ini.. aku mau ketemu sama ayah sekalian lihat Zayn Alterra.
Tisha berjalan menghampiri satpam dan gadis berseragam putih abu itu. Dengan gaya elegan dan berani, dia membantu gadis itu untuk bisa masuk ke dalam gedung menemui ayah nya.
__ADS_1
"Maaf pak saya kenal gadis ini, tolong biarkan dia masuk pak" kata Tisha pada pak satpam
Gadis itu terpana melihat kecantikan Tisha. Cantik sekali, siapa wanita ini ya? apa artis?
"Ibu benar-benar kenal anak ini?" tanya pak satpam
"Benar pak, dek.. nama ayah mu pak Dion kan?" tanya Tisha pada gadis itu
Saat ditanya oleh Tisha, gadis itu malah fokus melihat pada Tisha, tenggelam dalam lamunan nya.
Cantiknya.. sederhana, natural..batin nya masih terpesona pada Tisha
"Dek..kamu gak apa-apa?" Tisha melihat bingung para gadis yang sedang melamun itu.Dia melihat name tag yang ada di seragam nya bertuliskan "Kirana". "Dek, Kirana??!" Tisha sedikit berteriak
"Ah ya! Kirana disini!!" jawab Kirana tegas
Anak ini lucu sekali. batin Tisha sambil tersenyum melihat anak itu.
Tisha berusaha membawa Kirana masuk ke dalam perusahaan itu, mereka naik lift bersama menuju ke kantor Presdir.
"Kakak, makasih banyak ya sudah menolong saya" Kirana tak hentinya mengucapkan terimakasih pada Tisha
"Kamu sudah bilang terimakasih berapa kali? apa gak bosen?" tanya Tisha sambil tersenyum ramah
"Habisnya kakak keren banget sih! udah cantik, pemberani, pasti cewek secantik kakak udah punya pacar kan?" tanya Kirana penasaran, dia mulai ngefans pada wanita bernama Latisha Anindita itu.
"Hehe, kamu ini bisa aja deh. Kamu juga cantik dek, kamu pasti udah punya pacar juga kan?" tanya Tisha penasaran
"Sebenarnya aku punya pacar tapi dalam dunia halu ku, mau tau gak siapa orangnya kak?" Kirana tersenyum ceria
"Siapa?"
"Zayn Alterra!!" jawab Kirana semangat
Zayn?
"Kamu fans nya Zayn?"
"Iya kak aku fans nya, fans beratnya.. oh ya dan apa kakak tau? katanya kak Zayn Alterra itu, dia kerja...."
Ting!
Kata-kata Kirana harus terpotong ketika pintu lift itu terbuka dan mereka sudah sampai ke tempat tujuan.
"Kita sudah sampai" ucap Tisha pada Kirana
"Oh ya kakak cantik, kita belum kenalan" Kirana dengan semangat mengajak Tisha berkenalan
"Namaku Latisha, kamu bisa panggil aku Tisha" Tisha tersenyum ramah
"Aku Kirana kak" jawab Kirana sambil tersenyum ceria.
...---***---...
__ADS_1