
...πππ...
Dia mengambil ponselnya yang berada diatas meja, kemudian mengangkat telpon dari nomor yang tidak dikenal itu.
"Halo" jawab Tisha.
"Maaf, apa ini benar Bu Latisha?" terdengar suara seorang wanita.
Wanita itu tersentak kaget mendengar suara yang terdengar familiar itu. "Bu Lisa?"
Mama Zevanya menelpon nya, mau apa dia?
"Apa hari ini kamu ada waktu?" tanya Bu Lisa.
"Saya ada waktu setelah pulang kerja" jawab Tisha singkat.
"Bisakah kamu mampir ke rumah sakit dulu?"
"Siapa yang sakit Bu?" tanya nya cemas.
"Zee, dia sedang di rawat. Saya mohon, datanglah kemari dan bawa anak mu juga" ujar Bu Lisa, seraya memohon pada Tisha.
"Baiklah Bu, nanti saya dan Rasya akan kesana"
"Terimakasih Latisha" Bu Lisa menyunggingkan sedikit senyum di bibirnya.
Setelah memutuskan panggilan itu, Tisha terdiam dan terlihat berfikir. Hatinya bertanya-tanya, mengapa Bu Lisa mengajaknya bertemu lagi dengan Zee?
Fayra dan Rasya melihat Tisha dengan heran, kening mereka sama-sama berkerut.
"Siapa yang telpon ma?" tanya Rasya penasaran.
"Gak penting kok, udah habiskan sarapan nya. Mama yang akan antar kamu ke sekolah hari ini," Tisha tersenyum sambil mengusap kepala anaknya.
Seperti nya Kak Ray akan terlambat, dia bahkan tidak membalas pesanku. Tisha gelisah karena Ray tak kunjung membalas atau membaca pesannya. Padahal tadi malam Ray bilang kalau dia akan mengantar jemput Tisha dan juga Rasya.
"Ada apa Tisha?" tanya Fayra yang juga penasaran.
"Tidak ada apa-apa kak" Tisha memilih bungkam, dia tidak mau membicarakan Zee di depan Rasya dan Fayra. Wanita itu duduk dan memakan sarapannya.
Fayra melihat cincin tersemat di jari Tisha, dia tersenyum pahit. Dia sudah tau akan begini jadinya, Ray kembali pada Tisha. Sedangkan Zayn hanyalah bertepuk sebelah tangan, dia kasihan pada Zayn.
"Jadi, kapan kamu dan dia akan menikah?" Fayra tersenyum tipis, matanya mengarah pada cincin di jari manis Tisha.
__ADS_1
"Siapa yang mau nikah ma? Mama sama papa mau menikah lagi?" Rasya melirik ke arah mama nya, menatap Tisha dengan penasaran.
"Ah.. iya, mama dan papa akan segera menikah lagi" jawab nya jujur.
"Yee!! Mama sama papa mau menikah lagi.. Horayy!!" Rasya tersenyum girang, ketika mama nya mengatakan bahwa dia akan menikah lagi dengan papa nya. Rasya bahkan sampai berlari-lari di sekitar sana saking senangnya.
"Jadi itu keputusan yang sudah kamu ambil dengannya? Tisha, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kamu...semoga kamu bahagia" Fayra berdoa tulus untuk kebahagiaan Tisha dan Ray
"Iya kak, tolong jangan beritahu dulu Zayn tentang ini" pinta Tisha pada Fayra, dia bermaksud memberi tahu sendiri pada Zayn tentang hubungan nya dengan Ray.
"Baiklah, aku tau Tisha" kata Fayra sambil tersenyum.
Ketika akan berangkat bersama dengan mobil milik Fayra, telpon Tisha lagi-lagi berbunyi. Dari nomor yang tidak dikenal juga, Tisha langsung mengangkat nya.
"Halo"
"Tisha, ini aku..."
"Kak Grace?"
Deg!
Perasaan Fayra tidak enak mendengar nama Grace di panggil oleh Tisha. Hatinya tersentak kaget, dia teringat dengan kejadian tadi malam ketika sedang bersama Sam. Kejadian dimana mereka berciuman.
"Tante, Tante kenapa? Tante sakit ya?" Rasya peka terhadap perasaan Fayra, apalagi setelah melihat wajahnya yang pucat pasi.
"Tan-tante gak apa-apa sayang, yuk masuk mobil" ajak Fayra pada Rasya.
"Aku duduk di kursi belakang ya Tante" Rasya menawar duduk di kursi belakang.
"Di depan dong! Kamu pikir tante supir kamu, cepat duduk di depan!" titah Fayra pada bocah itu.
"Huh! Ya sudah deh" Rasya patuh berjalan dan masuk ke dalam mobil, tepat di jok sebelah tempat kemudi.
Fayra menatap penasaran ke arah Tisha yang masih bertelepon dengan Grace, dia ingin tau apa yang mereka bicarakan. Tak lama setelah itu Tisha juga naik ke dalam mobil, dia memangku Rasya di pangkuan nya.
"Kita ke sekolah Rasya dulu ya kak" ujar Tisha pada Fayra.
Tangan Fayra gemetaran, dia merasa berdosa karena semalam sudah melakukan kontak fisik dengan suami orang lain. Padahal Sam yang memulainya. Sebenarnya rasa bersalah di hati Fayra muncul karena dia masih mencintai pria beristri itu.
"Kakak, kakak gak apa-apa?" Tisha melirik ke arah Fayra, tangannya gemetar dan wajahnya menunjukkan keresahan.
"Ayo berangkat"
__ADS_1
Fayra memilih bungkam untuk mengakhiri pembicaraan, dia ingin bertanya pada Tisha tentang Grace, namun dia tidak mempunyai keberanian.
****
Fayra, Tisha mengantarkan Rasya ke sekolahnya. Setelah itu mereka pergi ke kantor masing-masing. Namun sebelum itu, Tisha menitipkan makan siang untuk Ray pada Gerry.
Ternyata Ray terlambat bangun, makanya dia tidak bisa mengantar Tisha dan Rasya. Ray datang ke kantornya pukul setengah 9 pagi, tidak seperti biasanya yang datang pukul 7.
"Tadi Tisha kesini?" tanya Ray sambil melihat kotak bekal di mejanya.
"Iya pak, lalu dia pergi lagi. Katanya ini makan siang untuk bapak" jelas Gerry pada Ray.
"Ish.. kenapa aku harus terlambat? Ini semua gara-gara semalam!" gerutu Ray tentang kejadian semalam. Karena kejadian lamaran itu membuatnya tidak bisa tidur sama sekali, akhirnya dia terlambat bangun.
"Jadi semalam sukses kan pak?" tanya Gerry sambil tersenyum.
"Sukses apanya?! Gara-gara ide konyol mu aku ditertawakan oleh Tisha!" Ray menumpahkan semua kekesalan nya pada Gerry.
"Kenapa pak? Apa Bu Tisha tidak suka acara lamaran nya?" tanya Gerry berhati-hati.
"Karena ide mu, aku ditertawakan tau!" keluhnya kesal.
"Tapi acaranya berhasil kan pak?" Gerry tersenyum percaya diri.
Ray terdiam, lalu dia menggaruk kepalanya, "Iya sih berhasil, dia sudah menerima lamaran ku"
"Alhamdulillah pak, kalau begitu.. tinggal acara pernikahan nya kan? Jadi kapan pak?" Gerry semangat bertanya, dia tak sabar ingin menyatukan kembali Tisha dan Ray.
"Pernikahan... dia bilang ingin menunggu satu bulan lagi" gumam Ray sedikit sedih dengan keputusan Tisha untuk menunda pernikahan mereka sampai satu bulan lagi.
"Alasannya ditunda pak?" Gerry penasaran.
"Alasannya sih masuk akal, kakek kan belum lama meninggal. Bahkan belum sampai 3 bulan, jadi dia ingin menunggu sampai semuanya dalam keadaan tenang" Ray setuju dengan alasan Tisha menunda pernikahan mereka, tapi dia agak sedih karena dirinya harus menunggu lagi wanita itu.
"Oh ya pak.. tentang Alm. pak Faisal, saya ingin menyampaikan sesuatu pak" Gerry teringat sesuatu yang berkaitan dengan Alm. pak Faisal.
"Apa? Katakan!"
"Ini tentang pemberitahuan surat wasiat Alm pak Faisal" jelas Gerry singkat.
Ray langsung menatap Gerry, dia terlihat tidak senang dengan topik ini. Wasiat! Adalah pembicaraan yang akan panjang dan panas untuk Ray juga keluarga nya. Terutama om dan Tante nya yang dia tau, mereka gila harta.
...---***---...
__ADS_1