
#Masih Flashback
Dean Daniah tercengang melihat ke arah Pak Faisal. Mereka sudah ketahuan masuk ke dalam ruangan itu.
"Pa-papa.." Dean tergagap, wajahnya pucat pasi melihat sang papa ada disana.
"Kalian benar-benar keterlaluan!" Pak Faisal menatap anak dan menantunya dengan tajam. Dia menghampiri Daniah dan Dean, lalu mengambil surat itu dari tangan Daniah. "Kalian mau mengambil surat ini? Beraninya kalian!"
"Papa yang keterlaluan, papa tidak adil! Bagaimana bisa papa memberikan Ray dan anaknya harta warisan yang begitu banyak sedang aku dan keluargaku bahkan tidak mendapatkan setengahnya!" protes Dean pada papa nya soal harta warisan dan surat wasiat.
"Papa bukannya tidak adil sama kamu dan keluarga mu, papa melakukan ini karena papa tau kalau kamu dan keluarga kamu tidak bisa menjaga kondisi keuangan dengan benar. Perusahaan memang pantas papa berikan untuk Ray" jelas Pak Faisal jujur. Dia pernah sempat memberikan tanggungjawab perusahaan Dean, tapi dibawah kepemimpinan nya perusahaan itu malah jatuh.Begitu pula dengan Armand dan Niko yang tidak bisa mengurus perusahaan sebaik Ray.
Kalau masalah perusahaan, pak Faisal memang orang yang tegas. Tidak peduli mau pada keluarga atau orang lain, dia tidak segan-segan memberikan Reward kepada orang yang pantas dan hukuman kepada orang yang bersalah.
"Alah...! Bilang aja kalau papa itu pilih kasih kan? Dari dulu papa memang selalu seperti ini, hanya pada Raymond dan kedua orang tuanya saja papa bersikap baik. Lalu kenapa papa memungut ku kalau sikap papa seperti ini?" tanya Dean tidak terima di anak tiri kan oleh papa nya.
"Dean Argantara! Papa tidak pernah membedakan antara kamu dan Raphael, kalian berdua adalah anak anak papa"
"Kalau papa tidak membedakan, lalu kenapa surat wasiat papa isinya seperti itu?" Daniah tersenyum sinis.
Mereka pun menjadi berdebat, Daniah dan Dean ingin merebut surat wasiat itu dan mengubahnya. Pak Faisal tidak tahan, marah dengan anak dan menantunya, dia membawa surat itu dan hendak berjalan ke lantai bawah.
"Pa! Kembalikan suratnya lalu ubah kembali surat itu!" titah Dean kepada pak Faisal.
"Papa pikir kamu menyayangi papa dengan tulus, ternyata selama ini kamu hanya mengincar harta papa saja!" Pak Faisal kecewa, dia marah kepada anaknya.
"Untuk apa aku tulus pada papa yang tidak pernah tulus padaku? Toh aku ini hanya anak yang papa pungut dari panti asuhan" Dean sedih karena statusnya hanya anak pungut di dalam keluarga Argantara.
"Kamu benar-benar keterlaluan!" Sakit hati Pak Faisal mendengar kata-kata Dean.
"Kalau begitu papa mati saja!" gumam Dean pelan, tatapan nya mengarah tajam pada Pak Faisal.
Entah apa yang merasuki nya, dengan sengaja Dean menumpahkan semua di kekesalan nya pada pria itu dengan mendorongnya dari lantai dua. Pak Faisal terjatuh dengan tubuh yang terguling-guling di tangga.
BRUGH
__ADS_1
BRUGH!
"Papa! Sayang, apa yang kamu lakukan?!" Daniah terbelalak melihat sang suami mendorong papa mertuanya.
"A-aku.." Dean akhirnya sadar dengan apa yang dia lakukan. Segera pasangan suami istri itu menuruni tangga dan berjalan menghampiri pak Faisal yang sudah terkapar tak berdaya.
Tap, tap, tap
Daniah dan Dean menghampiri pak Faisal. "Dean...ka..mu.." Pandangan pria tua itu mulai buyar, melihat Dean dan Daniah ada disisinya.
"Papa yang memaksaku melakukan ini!" Dean tidak mau disalahkan, walaupun matanya berkaca-kaca menatap pria tua itu.
Pak Faisal memegang tangan Dean dengan sedikit tenaga yang ia miliki. Kepalanya berdarah-darah, dan darah itu
"De..an..kamu.. adalah.. anak..kan..dung..ku" ucap pria tua itu terbata-bata. Kemudian Pak Faisal menutup matanya, tangannya terkulai lemas.
Deg!
Dean terpana mendengar ucapan terakhir pak Faisal padanya sebelum pria tua itu tidak sadarkan diri. Bukan hanya Dean yang terkejut, tapi Daniah juga.
"Papa bilang aku..."Dean menatap papa nya dengan mata berkaca-kaca.
Ting Tong!
Bel rumah itu berbunyi, Daniah segera mengajak suaminya bersembunyi. Naik ke lantai atas seolah tidak ada yang terjadi. Dan saat itulah, Tisha, Rasya dan Bi Ani datang.
#END FLASHBACK
Kata-kata terakhir pak Faisal sebelum pria tua itu tidak sadarkan diri, membuat Dean kepikiran. Dia yakin tidak salah dengar, bahwa papa nya mengatakan kalau dia adalah anak kandung.
"Papa.. jangan mati dulu, papa harus menjawab pertanyaan yang akan dibenak ku.. papa harus menjawab nya" gumam Dean resah.
****
Malam itu di penjara, Zee sedang meringkuk sendirian dan kesepian di dalam kegelapan. Harapan nya untuk kembali hidup normal berada di dalam cahaya, sudah tidak ada lagi.
__ADS_1
Tahun-tahun nya yang sia-sia, ingin dia akhiri sekarang juga. Zee meminta sipir penjara untuk mengambilkan secarik kertas dan sebuah bolpoin, dia menulis sesuatu di dalam sana.
"Bu, tolong sampaikan surat ini pada mama saya. Bilang padanya mulai besok dia tidak usah datang kesini lagi" pesan Zee sambil tersenyum pada sipir penjara wanita itu.
"Baik" jawab sipir penjara sambil mengambil surat itu, lalu melangkah pergi meninggalkan Zeevanya.
"Syukurlah, akhirnya aku melepaskan semua beban di hatiku. Baguslah, karena aku tidak menjadi jahat sampai akhir.. haha.. semoga Ray bisa bahagia bersama Tisha dan anak mereka. Mama, aku minta maaf" Zee menangis melihat ada secercah cahaya bulan dibalik tembok jeruji besi itu menyinari wajahnya.
Zee mengeluarkan silet yang dia sembunyikan, dia memegang silet itu dengan tangan gemetar. Zee melihat orang-orang yang satu sel dengannya dengan tatapan kosong.
Gadis cantik itu tersenyum pahit dengan berurai air mata, sebelum membenamkan silet pada urat nadinya.
SRET
Darah mengalir keluar dari tangan cantik itu, dia menangis sambil memegang tangannya. Tak lama kemudian tubuhnya ambruk ke lantai yang dingin itu.
"Maafkan aku ma, selamat tinggal" Zee tersenyum pahit, perlahan-lahan gadis itu mulai kehilangan kesadaran nya. Sebelum dia menutup mata, dia melihat bayangan sang mama berada di depan nya. "Jangan menangis ma, ini adalah hal yang harus aku lakukan untuk menebus semua kesalahan dan dosa ku. Mama harus bahagia karena aku ikhlas Ma.."
Zee tidak sadarkan diri, dengan tangan yang bersimbah darah. Dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri di dalam penjara, dengan dalih menebus dosa.
****
Keesokan harinya, pagi itu Bu Lisa sudah memasak makanan kesukaan Zevanya. Dia akan membesuk anaknya di penjara sebelum putusan pengadilan dijatuhkan padanya 3 hari lagi.
"Zee pasti akan menghabiskan makanan ini. Dia kan paling suka semur telur buatan ku. Sudah lama, aku tidak memasak untuknya karena dia selalu saja bermain di luar sana mengejar Raymond" Ketika Bu Lisa akan memasukan makanan itu ke dalam rantang, tak sengaja tangannya terluka oleh minyak panas.
"Zee!" Tanpa sadar dari mulut Bu Lisa, keluar nama Zevanya. "Ada apa denganku?" Bu Lisa memegang dadanya, dia merasa ada sesuatu yang salah. Semacam firasat tidak enak.
Segera setelah selesai memasak dan memasukkan masakan itu ke dalam rantang. Bu Lisa langsung pergi ke penjara untuk mengunjungi anaknya.
Di depan penjara itu, Bu Lisa melihat mobil ambulan terparkir tidak benar dan menghalangi mobil yang lain untuk masuk.
"Apa ada yang meninggal ya? Mengapa ada ambulan?" tanya Bu Lisa bertanya-tanya.
Saat Bu Lisa akan masuk ke dalam penjara, beberapa petugas ambulan mengangkut seseorang diatas tandu. Orang-orang disana kasak-kusuk melihat mayat itu.
__ADS_1
Perhatian Bu Lisa teralihkan begitu melihat gelang ditangan mayat yang sedang dibawa petugas ambulan itu.
...---***---...