Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 145. Gagal romantis tapi berhasil


__ADS_3

❤️❤️❤️


Tisha tersenyum manis, marahnya hilang begitu dia melihat cincin itu. Kata-kata Ray yang gugup juga membuatnya ingin tertawa. Pria itu seperti nya sedang melamar dirinya.


Ray berdiri mematung, kakinya agak gemetar. Dia menantikan jawaban dari Tisha atas permintaan nya untuk menikah. Ya, Ray memang tidak pandai berbasa-basi, dia juga bukan tipe pria yang romantis. Semua yang direncanakan hari ini juga karena bantuan Gerry sekretaris nya.


Seumur hidup, dia belum pernah melamar seorang wanita. Meski Tisha bukanlah cinta pertamanya, tapi Ray sudah memastikan dan memantapkan hatinya bahwa Tisha adalah yang terakhir untuknya.


"Meski ku bukan yang pertama di hatimu, tapi cinta ku terbaik untukmu.. meski ku bukan bintang di langit, tapi cinta ku yang terbaik" Ray memberanikan dirinya bicara tentang sepotong puisi yang dia baca di buku milik Gerry.


"PFut.. haha"


Ray terpana melihat wanita itu malah menertawakan nya, dia sedang mencoba romantis dengan membaca puisi. Lalu apa ada yang lucu sehingga Tisha tertawa?


"Ada yang lucu kah? Aku ini sedang melamar mu" Ray kikuk sendiri, ya dia tidak bisa romantis seperti apa yang sudah diajarkan oleh Gerry. Otaknya blank seketika, berhadapan dengan gadis cantik itu.


"Darimana kamu belajar kata-kata itu? Seingatku, kamu tidak suka musik" Tisha masih tertawa.


"Memangnya kenapa? Penting ya kata itu dari mana?" tanya Ray ngambek.


Menyebalkan, kenapa jadi seperti ini? Gagal romantis!. Ray merasa sedih dan kesal karena dirinya gagal menciptakan lamaran romantis, tapi malah membuat Tisha tertawa.


"Loh? Kenapa jadi kamu yang marah?" tanya Tisha keheranan.


"Udah lah, kamu mau gak nikah sama aku?!" Tanya Ray sesuai dengan gayanya yang memaksa, tidak lembut dan bersikap lembut seperti tadi.


"Kalau aku bilang tidak mau, gimana?" tanya Tisha menggoda Ray yang sedang kesal itu.


"Tidak mau ya? Kalau begitu aku akan menahan mu, memaksamu, supaya kamu mau menikah denganku" kata Ray sambil memegang tangan Tisha.


"Lamaran macam apa ini?" Tisha menggeleng-geleng, dia tersenyum menahan tawa.


Ray merasa malu karena acara romantis yang sudah dirangkai untuk Tisha, hancur karena dirinya sendiri. "Cepet! Pakai cincin nya!" Demi menutupi rasa malu itu, Ray bersikap tegas dan memaksa Tisha memakai cincinnya.


"Kak, kamu sedang melamar ku kan?"tanya Tisha.


"Kenapa kamu tanya gitu? Memangnya aku lagi ngapain?!" Suara Ray mulai meninggi, dia kesal karena malu pada dirinya sendiri.


Untung saja tidak ada Rasya disini, kalau di melihatku. Mungkin dia akan. menertawakan ku,dimana wibawa ku? Dimana kehormatan ku? Papa nya benar-benar tidak berguna!. Rasanya pria itu ingin bersembunyi di sebuah lubang untuk menyembunyikan dia dari rasa malu.


"Kalau begitu katakan lagi, yang benar.. kali ini aku akan mendengarkan nya baik-baik"


"Aku sudah kesulitan mengatakan nya dan kamu ingin aku mengatakan nya lagi? Apa sekali saja gak cukup?!" Ray marah-marah.


"Oh, ya sudah.. aku akan pergi saja" Tisha cemberut, dia pun melangkah pergi dengan kesal.

__ADS_1


Ray menahan tangan Tisha, "Kamu gak boleh pergi sebelum memakai cincinnya!"


Lagi-lagi sikap diktator dan egois Ray kembali hadir, Tisha tidak senang dengan hal itu. Dia memutuskan untuk pergi.


"Tisha!" Ray memeluk lalu mencium bibir wanita itu, hingga Tisha terkesiap sampai menjatuhkan buket bunga dan kotak cincin yang dibawanya.


"Hmmphh!"


Lagi-lagi dia mencuri bibirku.


Ciuman itu tidak berlangsung lama, Ray langsung melepasnya. Dia memegang kedua tangan Tisha dengan erat.


"Sha, pakai dulu cincinnya" ucap Ray dengan suara yang sedikit lembut.


"Kalau kamu mau melamar ku, katakan yang benar!" seru Tisha tegas, "Apa sulit ya bilang cinta?"


"Ehm.." Ray kembali gugup.


"Aku benar-benar pergi" ancam nya kesal melihat Ray diam saja.


"Oke.. Tisha, aku cinta kamu, will you marry me?" tanya Ray sambil berlutut di depan Tisha, membuka kotak cincin itu.


Deg!


"Kak Ray..."


"Ya?" Ray menengadah ke arah Tisha.


"Aku gak bisa" jawab Tisha dengan wajah sedihnya.


Ray langsung terperanjat, dia berdiri dan menatap gadis itu dengan mata yang berkaca-kaca.


"Gak bisa apanya?" Ray takut, dia menatap Tisha penasaran.


"Aku gak bisa menolak kamu" jawab Tisha lalu tersenyum.


"Kamu ini ya, apa kamu sedang mengerjai ku?!" Ray yang tadinya takut, kini mulai tersenyum lega. Dia sadar kalau Tisha sedang menggodanya.


"Haha, habisnya kamu lucu sekali sih. Kamu mau mencoba jadi romantis? Itu sama sekali bukan gayamu, apa-apaan bunga bunga ini? Makan malam di taman? Dengan wajah kaku mu itu, kamu tidak akan bisa"


"Lalu aku harus bagaimana? Perempuan kan suka dengan hal yang romantis, jadi aku dan Gerry merencanakan semua ini. Ternyata aku malah mengacaukan nya.. aku minta maaf Tisha.." gerutu Ray sedih karena lamarannya gagal menjadi romantis.


"Cukup jadi dirimu sendiri, kamu gak perlu jadi orang lain. Yang tadi itu tidak sesuai dengan gayamu, aku lebih suka kamu jujur.. kak" Tisha tersenyum lembut, tatapan nya menyiratkan cinta yang dalam pada Ray.


"Kalau begitu, kamu mau pakai cincinnya?" Ray kembali tersenyum, dia menunjukkan cincin itu pada Tisha.

__ADS_1


"Kalau kamu yang memakaikannya, tentu saja aku mau" jawab Tisha dengan senang hati, artinya dia menjawab ya atas lamaran Ray kepada nya.


Ray mengigit bibir bawahnya, dia mengambil cincin itu dan menyematkan nya di jari manis Tisha. Cincin itu pas sekali, Tisha tidak percaya kalau Ray bisa membeli cincin yang pas dengan ukuran jarinya.


Dia terpana dan takjub, cincin indah itu kini telah mengikat nya menjadi calon istri dari Raymond Argantara, yang pernah menjadi suaminya.


"Wow, cincinnya pas sekaligus. Bagaimana bisa kamu tau ukuran jariku? Kapan kamu mengukurnya?" tanya Tisha heran.


"Saat kita berada di pesawat dan kamu sedang tidur, aku memegang jarimu diam-diam. Setelah itu aku memesan kan cincin itu untuk kamu" jawab Ray jujur.


"Di pesawat? Sudah lama sekali, dan sejak saat itu kamu sudah memikirkan untuk menikah kembali denganku?"


"Tentu saja, sejak pertama kali bertemu dengan mu lagi.. niatku memang menikahi mu, apalagi kita sudah punya Rasya" kata Ray sambil tersenyum, dia memeluk Tisha dengan lembut. Mereka berdua terlihat sangat bahagia, kini tinggal lah mereka melangsungkan hari pernikahan.


Yah, walaupun aku gagal romantis.. tapi aku berhasil, Tisha sudah setuju untuk kembali menikah denganku. Tisha, aku janji di kehidupan pernikahan kita kali ini.. aku akan menunjukkan semua kasih sayang ku padamu, aku akan membagikan cinta untuk mu dan anak-anak kita.


****


Rumah Tisha..


Rasya masih belum tidur, dia berjalan mondar-mandir menunggu mama nya pulang dengan membawa kabar baik.


"Apa papa berhasil melamar mama? Awas saja kalau papa tidak berhasil! Aku akan mencari papa baru saja!" gerutu anak itu resah memikirkan mama dan papa nya.


"Rasya, ayo tidur ini sudah malam. Mama dan papa mu pasti akan pulang terlambat" kata Fayra pada anak itu.


"Ya udah deh Tante, aku bobo dulu. Kalau mama udah pulang, kasih tau aku ya" kata Rasya yang sudah ngantuk, jam dinding juga sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Rasya melangkah menuju ke kamarnya


"Iya sayang, cuci kaki, cuci tangan, dan berdoa dulu!"


"Siap Tante!" seru Rasya patuh.


Di usianya yang akan menginjak enam tahun, Rasya sudah mulai mandiri. Dia tidur sendiri tanpa mama nya, namun terkadang dia manja saat sedang sakit ingin ditemani mama nya. Untuk anak seusianya, Rasya adalah anak yang cerdas. Di sekolahnya dia selalu meraih juara kelas, tapi dia juga adalah anak yang jahil.


Ting Tong!


🎶🎶🎶


Fayra beranjak dari tempat duduknya, dia melangkah ke arah pintu setelah mendengar bel,"Itu pasti Tisha, tapi kenapa dia memencet bel? Bukannya dia bawa kunci?" Fayra heran.


Fayra membuka pintunya, di depannya ternyata bukanlah Tisha. Melainkan seorang pria tampan yang dia kenal.


"Kamu! Ngapain kamu kesini?!" tanya nya dengan suara sini, tanpa sambutan ramah kepada pria itu.


...---***---...

__ADS_1


__ADS_2