
πππ
Rupanya upaya Tisha untuk menemui Zayn tidak berhasil. Lantaran di depan apartemen Zayn dipenuhi para wartawan dan penggemar Zayn. Tisha pun terpaksa kembali ke rumah keluarga Argantara, dia memutuskan untuk bicara dengan Zayn lewat telpon saja.
Di dalam rumah, tepatnya ruang tamu..
Ray terlihat sedang bermain mobil-mobilan kecil dengan Rasya, tampaknya ayah dan anak itu sudah berbaikan. Begitulah pikir Tisha dalam hatinya.
"Assalamualaikum.."
"Waalaikum salam"jawab Ray dan Rasya bersamaan.
"Mama, sudah pulang lagi?"tanya Rasya, "Mama udah ketemu om Zayn? siapa pacar om Zayn, ma?" tanya nya lagi pada Tisha.
Ray memasang telinga nya baik-baik untuk mendengarkan jawaban Tisha.
"Mama tidak bisa menemuinya ada banyak wartawan disana" jawab Tisha sambil merebahkan tubuhnya di sofa.
Sudah kuduga dia tidak akan bisa menemuinya. Ray tersenyum senang mendengar Tisha gagal menemui Zayn.
"Oh ya!! mama lupa mau membeli bajumu, kamu kan cuma bawa dua baju!" Tisha baru teringat bahwa tadi siang dia ingin belanja baju, tapi dia lupa.
"Ya sudah kita beli bersama saja, mall masih buka kok jam segini" ucap Ray sambil melihat jam dinding menunjukkan pukul 4 sore.
"Aku beli sendiri saja, kamu jaga Rasya" Tisha beranjak dari kursinya
"Kenapa kita tidak pergi bersama saja? mama, papa sama aku" usul Rasya pada kedua orangtuanya.
Akhirnya Tisha, Ray dan Rasya pergi ke mall bersama-sama. Tisha mengambil troli, sekalian dia akan belanja makanan kesukaan Rasya. Dengan manjanya Rasya meminta di naikan ke atas troli.
"Ma, pa, aku mau naik ke atas troli?" pintanya dengan rengekan gemas pada Tisha dan Ray
"Sayang, kamu sudah besar. Masa mau naik troli belanja? kamu gak malu, apa?" tanya Tisha tak habis pikir, akhir-akhir ini sikapnya manja semenjak ada Ray.
HAP
Ray menaikkan tubuh kecil itu ke atas troli yang dipegang oleh Tisha. Tisha hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Ray dan Rasya yang sebelas dua belas.
"Horayy!! makasih papa baik" Rasya mengangkat kedua tangannya di atas, anak itu tersenyum lebar. Menunjukkan bahwa dia bahagia naik ke atas troli.
"Kenapa kamu memanjakan dia? nanti dia jadi makin manja" ucap Tisha pada Ray.
__ADS_1
"Aku memang ingin dia begitu dan aku memang ingin memanjakan dia" jawab Ray sambil tersenyum pada anaknya
"Ma! pa! ayo dong dorong trolinya!" seru Rasya tak sabar untuk berjalan dengan troli itu.
"Ya, ya.. mama memang gak bisa menang dari kamu" Tisha tersenyum lembut. Bersama-sama Tisha dan Ray mendorong troli itu.
Mereka memilih-milih bahan makanan dan cemilan yang kebanyakan nya untuk Rasya. "Tisha kamu mau beli apa? bukankah kamu suka yang pedas-pedas?" tanya Ray pada Tisha
"Tidak perlu" jawab Tisha masih dingin dan menjaga jarak seperti biasanya.
Sebenarnya kapan kamu membuka hatimu untukku?. Ray memandangi Tisha dengan sedih, berharap Tisha akan segera melihatnya. Sudah dua hari Ray tinggal bersama Tisha dan Rasya, namun belum ada kemajuan juga. Tidak ada tanda-tanda jelas kalau Tisha membuka hati padanya. Ada kalanya Tisha perhatian pada Ray namun dia masih jaim.
Rasya melihat sebuah tempat permainan, dia ingin menaikinya. Anak itu pun meminta diturunkan dari troli nya. Dengan perhatian, Ray menggendong Rasya membantunya turun dari troli.
"Kamu mau kemana sayang, kok minta turun?" tanya Ray heran
"Aku mau kesana pa, ayo kita kesana! aku beluk pernah ke tempat permainan sama papa" ajak Rasya sambil memegang tangan papa nya seraya merengek-rengek.
"Iya ayo kita kesana tapi gak sekarang karena mama kamu masih belanja. Udah mama kamu belanja, kita pergi kesana bersama-sama ya" jelas Ray sambil mengelus kepala Rasya dengan lembut
"Gak mau! aku mau nya sekarang!" seru Rasya setengahnya berteriak. Hingga orang-orang yang berada disana melihat ke arahnya.
"Lihatlah kak Ray, dia mirip siapa?" sindir Tisha pada papa dari anaknya
"Ayo papa!! ayo ih!!" Rasya terus merengek manja pada papa nya itu, tapi tidak pada mama nya. Tisha sudah bisa menebak kalau Rasya akan bersikap lebih manja lagi karena ada papa nya. Dia selalu seperti itu bahkan pada Zayn tapi manjanya pada Ray sangat lebih-lebih.
"Ya sudah, kamu ajak Rasya pergi kesana. Kau akan menyelesaikan belanjaan nya lebih dulu" ucap Tisha pada Ray
"Oke, pakai ini" Ray merogoh sesuatu di saku jas nya. Terlihat lah dompet berwana coklat, dia mengeluarkan kartu ATM pada Tisha.
"Aku punya uang sendiri kok, tidak perlu" Tisha menolak kartu ATM yang diberikan Ray padanya.
"Kamu ingat, aku pernah bilang kan kalau aku ingin memenuhi semua kebutuhan Rasya. Aku ingin memanjakan nya sebagai ayahnya dan kamu jangan melarangku" ucap Ray tegas
Tisha pun menerima kartu ATM itu lalu bertanya apa sandinya, Ray menjawab sembari berbisik pada Tisha "120810"
Deg!
Tisha terpana mendengar kata sandi ATM milik Ray. Dia juga heran karena Ray percaya padanya, mengatakan kata sandi barang pribadinya begitu saja.
"Kata sandinya.. ini.."
__ADS_1
"Tanggal pernikahan kita" jawab Ray sambil tersenyum
Lidah Tisha membeku mendengar pengakuan Ray. Dia terdiam memegang kartu ATM itu dengan hati yang berdebar dan sedih.
Ternyata kamu selalu mengingat nya. Tentu saja hal ini diucapkan Tisha dalam hatinya
"Papa.. ayo dong!!" ajak Rasya rewel
"Iya ayo sayang, Tisha nanti kamu nyusul ya" ucap Rasya pada mantan istrinya.
Tisha tidak menjawab, dia hanya terdiam di tempatnya dan melihat Ray juga Rasya berjalan bergandengan tangan menuju ke tempat permainan di mall itu.
Selesai belanja, Tisha membayar semua belanjaan dengan kartu ATM yang diberikan Ray. Password nya sesuai dengan yang disebutkan oleh Ray. Lagi-lagi hatinya terhenyak dengan sikap Ray padanya. Perlahan pertahanan hati nya mulai runtuh.
Melihat Tisha kesulitan membawa belanjaan nya, Ray segera membantu Tisha membawakan nya. Karena merasa akan bermain lama di dalam mall, Ray pun meminta agar anak buahnya membawa belanjaan Tisha dan Rasya ke dalam mobilnya.
Kemudian Tisha dan Ray menemani Rasya bermain disana. Rasya terlihat sangat bahagia, karena kali ini dia ditemani oleh orang tua yang lengkap. Rasya menaiki sebuah motor-motoran dan asyik bermain sendiri.
Tisha dan Ray duduk di sebuah kursi panjang sambil melihat Rasya bermain. Ray membawakan sebuah minuman dalam gelas untuk Tisha.
"Nih, es choco lava" Ray menyerahkan segelas minuman berwarna coklat itu pada Tisha.
"Seperti nya enak dan kebetulan aku sedang haus" Tisha langsung menyeruput minuman itu dengan sedotan, dia memang haus karena sudah hampir 1 jam lebih berbelanja disana.
"Kamu gak bilang makasih?" tanya Ray
"Kakak perhitungan sekali sih, apa kamu tidak ikhlas memberikan ku minuman ini?" Tisha mendelik kesal dengan suara ketusnya.
"Hem.. aku ikhlas" jawab Ray sambil menyeruput juga minuman di dalam gelas
"Ya sudah kalau gitu gak usah berterimakasih kan?" tanya Tisha heran
"Benar juga. Seharusnya aku yang berterimakasih sama kamu dan Rasya" Ray tersenyum tipis
"Untuk apa?"
"Terimakasih karena kalian masih hidup dan baik-baik saja" jawab Ray sambil memandang ke arah Tisha dengan lembut. Penuh rasa syukur dari dalam lubuk hatinya.
Tatapan mata tulus dari Ray tidak bisa ditolak oleh Tisha. Tisha juga ikut menatapnya dengan tatapan lembut, menandakan bahwa dia mulai goyah.
"Aku harap kalian bersama ku selamanya" kata Ray berharap.
__ADS_1
"Selamanya?" gumam Tisha pelan dan bingung.
...---***---...