
...πππ...
Gerry, Anna dan Maura tiba di rumah sakit. Maura langsung berlari menghampiri Ray, Daniah dan Dean yang berada di luar ruangan tempat Rasya di periksa. Sementara Tisha menemani Rasya di dalam sana.
"Om, gimana keadaan kak Rasya? Kak Rasya gak apa-apa kan?" Maura bertanya pada Ray keadaan Rasya.
"Maaf sayang, om belum tau karena Rasya masih ada di dalam sama tante Tisha. Rasya masih diperiksa sama dokter," jelas Ray pada anak perempuan yang manis itu.
"Om Ray maafin Maura ya, hiks..hiks.."Maura menangis, seraya memohon maaf pada Ray.
"Kenapa kamu minta maaf sama om?" Ray mengerutkan keningnya, dia heran kenapa Maura meminta maaf padanya.
"Gara-gara aku kak Rasya di gigit ular, harusnya aku saja yang digigit.. kalau kak Rasya meninggal, aku gak akan nikah seumur hidupku!" Maura menangis tersedu-sedu.
"PFut.." Ray dan Dean tertawa mendengar ucapan anak kecil itu.
"Maura apa yang kamu katakan? Kak Rasya akan baik-baik saja!" Anna segera menutup mulut anaknya, dia malu pada Ray dan semua orang disana.
Anak ini ya ampun!
"Maafkan saya pak Presdir, anak saya telah membuat keributan!" Gerry memohon maaf kepada bos nya itu.
"Tidak apa-apa, anakmu sangat menggemaskan Gerry. Aku jadi berharap kalau anakku yang lahir nanti adalah perempuan," Ray mendekati Maura, dia menyeka air mata gadis kecil itu. "Kakak Rasya akan baik-baik saja, kamu tenang ya!"
"Kalau kakak Rasya menjadi cacat, aku mau mengurusnya seumur hidup! Aku akan bertanggungjawab, om!" kata Maura tegas.
Anna dan Gerry hampir terjengkang mendengar ucapan anaknya yang baru berusia 5 tahun itu.
"Hahahaha, Ray.. anakmu dilamar tuh," Dean tertawa terpingkal-pingkal, sambil menepuk bahu Ray.
Ray tidak tahan menahan tawanya juga. Akhirnya dia tertawa, sambil mencubit gemas pipi Maura. "Lucu banget sih kamu sayang. Nanti aku dan Tisha akan punya satu yang seperti kamu,"
Syukurlah pak Ray tidak marah. Gerry bernapas lega karena Ray tidak marah dengan ucapan putrinya.
Beberapa menit kemudian, pintu ruangan itu terbuka, Rasya keluar dengan menggunakan kursi roda ditemani Tisha dan seorang dokter. Maura langsung bersembunyi dibelakang mama nya.
Kaki kanan Rasya di perban dengan rapi, wajah anak itu terlihat pucat. "Gimana keadaan Rasya?" tanya Daniah pada Tisha.
"Rasya udah gak apa-apa tante," jawab Tisha.
"Bapak dan ibu tenang saja, untungnya Rasya tidak digigit oleh ular beracun. Tapi gigitannya cukup dalam, jadi untuk sementara waktu Rasya tidak boleh banyak menggerakkan kakinya karena ada tulangnya yang sedikit retak. Lebih baik Rasya menggunakan kursi roda dulu, dalam dua hari ke depan, insyaallah kakinya akan segera sembuh," jelas sang dokter pria itu ramah.
"Alhamdulillah.. syukurlah," Ray tersenyum lega.
Semua orang disana bernapas lega mendengar Rasya yang baik-baik saja. Rasya melihat ke arah Maura yang bersembunyi dibelakang Anna. "Hey! Kamu!" Rasya memanggil Maura dan menatap gadis itu dengan tajam.
__ADS_1
"Maura sayang, kamu dipanggil kakak Rasya tuh! Bukan kah tadi kamu terus menanyakan tentangnya?" tanya Anna pada anak nya.
"A-aku.." Maura memegang tangan mama nya dan memalingkan wajah dari Rasya.
Kak Rasya pasti membenciku, aku kan sudah membuatnya terluka.
Rasya mengerutkan keningnya, dia tak terima kalau Maura memalingkan wajah darinya. Beraninya dia memalingkan wajah dariku!
"Bukankah tadi kamu bilang kamu akan bertanggungjawab?" tanya Rasya pada Maura.
"Ah? Aku-" Maura terlihat gugup.
"Terus kenapa kamu sembunyi disitu seperti tikus kecil?" tanya Rasya tidak senang. "Kemari lah!"
Tisha tersenyum sendiri, melihat sikap anaknya. Dia mirip sekali dengan kak Ray.
Maura keluar dari persembunyiannya, dia menghampiri Rasya dengan kepala yang menunduk. "Kamu gak senang aku baik-baik saja? Apa kamu ingin aku mati?" tanya Rasya menggerutu, karena Maura tidak melihat ke arahnya.
"Tidak! Aku senang kakak baik-baik saja," ucap Maura dengan bibir nya yang mengerucut.
"Ya, aku memang baik-baik saja. Jadi kamu gak usah sedih dan merasa bersalah," Rasya tersenyum lembut dan mengelus kepala Maura.
Maura menangis, kemudian dia memeluk Rasya. "Maafin aku kak Rasya, untunglah kakak gak mati huhuuuhuuhuu.."
"Bodoh! Aku gak mati," ucap Rasya dengan suara ketus seperti biasanya.
Sikapnya yang tsundere seperti ini, dia benar-benar mirip dengan pak Presdir.
Rasya dan kedua orang tuanya pulang ke rumah. Maura menangis karena enggan berpisah dari Rasya dan ingin merawat Rasya, tapi mama nya melarang karena Maura harus mengerjakan PR yang belum selesai.
πSatu bulan kemudian...
Setelah kejadian itu, Maura sering bermain ke rumah Rasya. Disana juga ada Athar dan Doni yang suka bermain dengan Rasya. Mereka menjadi dekat dan menjalin pertemanan.
"Lucu sekali ya mereka," ucap Tisha sambil menyimpan segelas teh di meja. Dia melihat keempat anak yang sedang bermain di halaman belakang.
"Ya mereka sangat lucu dan menggemaskan. Sayang, bagaimana kalau kita punya 4 anak?" tanya Ray seraya menggoda sang istri.
"Empat? Bukannya kamu pernah bilang mau dua saja?" Tisha duduk disamping suaminya.
"Aku sudah memikirkan nya baik-baik, rasanya rumah tetap sepi kalau kita punya dua anak saja," ucap Ray sambil tersenyum pada istrinya.
"Aku sih terserah kamu," ucap Tisha setuju-setuju saja dengan saran Ray. "Oh ya sayang, aku mau ke rumah kak Fayra dulu ya,"
"Kamu mau ke rumah Fayra? Di hari libur seperti ini, saat suami kamu ada di rumah?" tanya Ray langsung cemberut mendengar istrinya akan pergi menemui Fayra.
__ADS_1
"Aku gak lama kok sayang, mau ngantar makanan aja. Sambil melihat keadaan nya, kasihan kan kak Fayra tinggal sendirian,"
"Kan ada si Derrick itu, bukankah mereka sudah bersama?"
"Kak Fayra masih belum menerimanya, sudah ya aku mau pergi," Tisha mengambil tangan suaminya lalu menciumnya.
"Sayang, aku temani ya!" Seru Ray sambil beranjak dari tempat duduk itu.
"Udah kamu disini aja, tunggu saja anak-anak itu ya," ucap Tisha sambil tersenyum.
Ray berada di rumah, sementara Tisha pergi ke rumah Fayra yang tak jauh dari rumah mereka yang masih satu kompleks. Tisha ditemani Joni, sambil membawa makanan di rantang untuk Fayra.
Tisha yang perutnya sudah besar itu, berjalan menuju ke rumah Fayra yang tampak sepi. "Assalamualaikum kak Fayra!"
Ting tong!
π΅π΅
Tisha memencet bel rumah Fayra beberapa kali. Tidak ada jawaban dari wanita itu, Tisha mulai cemas dengan keadaan nya. "Apa kak Fayra gak ada di rumah? Apa kak Fayra baik-baik saja?" tanya Tisha kebingungan.
"Tisha?" Derrick sudah berdiri di belakang Tisha.
"Kak Derrick?"
"Kamu mau menemui Fayra juga?" tanya Derrick.
"Iya, tapi pintunya gak dibuka-buka. Aku udah pencet beberapa kali," Tisha bingung dan khawatir.
"Tunggu!" Derrick mengeluarkan sebuah kunci di tangannya. Dia membuka pintu rumah Fayra dengan kunci. Tisha terpana karena Derrick punya kunci rumah Fayra.
"Kak Derrick! Bagaimana bisa kakak punya kunci rumah kak Fayra?" tanya Tisha tak percaya.
"Aku menggandakan nya, jangan bilang bilang padanya ya!" Derrick meminta Tisha merahasiakannya dari Fayra.
"Ternyata kak Derrick itu penguntit ya!" Seru Tisha sambil menggelengkan kepalanya. Dia pun melangkah masuk ke dalam rumah Fayra.
Derrick dan Tisha terkejut melihat Fayra tergeletak tak berdaya di lantai, sambil memegang perutnya. Tubuh wanita hamil itu berkeringat.
"Ya Allah! Kak Fayra,"
"Fay, kamu kenapa?" tanya Derrick sambil menatap Fayra dengan cemas.
"A-aku terpeleset, te-terus.. aahhhh!!"
"Seperti nya kak Fayra akan melahirkan!" Tisha melihat lantai basah dan ada darah juga yang mengalir dari tubuh Fayra.
__ADS_1
...---***---...