
Hai Readers.. apa kabar semuanya? Semoga sehat selalu ya...Ada yang kangen Tisha dan Ray? Ataukah kangen dengan Fayra, Derrick? Atau Rasya yang bikin gemes?
Jangan lupa komen, like, gift dan vote nya yaβ€οΈβ€οΈπ ada spesial Chapter untuk kalian..
...πππ...
Dua minggu setelah Tisha melahirkan bayinya, rupanya Tisha dan Ray masih belum memikirkan nama untuk anak perempuan mereka. Malam itu Ray terlihat duduk dengan bingung.
"Sayang," panggil Ray pada istrinya yang sedang menggendong anak perempuan mereka.
"Ya sayang?" sahut Tisha sambil menoleh pada suaminya yang sedang duduk di sofa.
"Ngomong-ngomong kita belum kasih nama anak perempuan kita ya?"
"Astagfirullah, ya sayang benar. Aku hampir saja melupakannya dan selalu memanggil anak kita princess," ucap Tisha menyadari bahwa dia belum memberi nama anaknya.
Ray menepuk jidat, "Haah.. orang tua macam apa kita ini sayang?" Ray menggelengkan kepalanya.
"Princess nya mama, maafkan mama sama papa ya belum kasih kamu nama. Kelahiran kamu adalah kejutan untuk kami berdua, karena mama dan papa sangat senang atas kelahiran kamu.. jadi kami lupa hal penting itu. Maafkan mama sayang," Tisha merasa bersalah, dia mendaratkan bibirnya pada pipi lembut si bayi. Mengecupnya penuh rasa kasih sayang.
"Sayang, apa boleh aku yang memberikan nama untuk putri kita?" tanya Ray sambil tersenyum pada istrinya. Yang memberikan nama Rasya adalah Tisha dan dia ingin kalau putrinya memakai nama darinya.
Ibu dua anak itu tersenyum lebar, dia mempersilakan Ray untuk memberikan nama,"Tentu saja sayang, kalau kamu sudah terpikirkan nama yang bagus...katakan saja,"
"Terimakasih sayang, aku akan memikirkannya dulu matang-matang nama yang cocok untuk putri kita.." Ray memegang dagunya, dia terlihat sedang berfikir.
Nama apa ya yang cocok untuk putriku yang manis ini?
Keesokan harinya, Ray masih belum menentukan nama yang cocok untuk si kecil mungilnya. Dia kebingungan mencari nama yang cocok. Pagi itu Tisha membangunkan Ray yang bangun terlambat karena kurang tidur memikirkan nama untuk bayinya.
__ADS_1
"Sayang, bangun.. sudah siang nih.." ucap Tisha sambil menggoyangkan tubuh suaminya.
"Hem...aku masih ngantuk sayang, ini kan hari libur.. jadi gak apa-apa ya bangun siang?" Pria itu masih bergelut dengan selimut, bantal dan guling. Matanya masih tertutup rapat, suaranya mengeram. Dia sangat ngantuk setelah semalaman mencari nama untuk putrinya.
Cup!
Tisha mencium wajah suaminya, dari mulai mata, hidung, pipi, kemudian sampai ke bibirnya. "Sayang, bangun dong...katanya kamu mau nge-gym sama pak Sam dan Kak Derrick, gimana sih? Sayang.." Tisha membenamkan kepalanya pada wajah sang suami, hingga Ray kegelian karena rambut panjang sang istri yang terurai di wajahnya.
Hup!
Ray menangkap Tisha dan membuat istrinya berada dibawah tubuhnya. "Sayang, kamu jangan bermain api deh.. ini belum lewat 40 hari," Ray menatap wanita yang berada dibawah tubuhnya itu dengan nanar. Walaupun sudah melahirkan dua anak, Tisha tetap cantik dan bentuk tubuhnya tidak beda jauh dari sebelumnya. Hanya saja dia menjadi lebih berisi sehabis melahirkan.
"Siapa yang bermain api? Aku hanya mencoba membangunkan mu saja," Tisha terkekeh, hari jemarinya menelusuri dada bidang Ray yang telanjang karena baju tidur Ray menunjukkan tubuh bagian tengahnya.
Ray memegang tangan istrinya yang nakal itu, "Tisha, memang benar kalau kamu membangunkan ku. Tapi yang bangun, yang itu..ini berdiri," Ray tersenyum jahil membalas godaan istrinya. Bibirnya mengecup lembut bibir Tisha, dia melorotkan baju Tisha. Sontak saja wanita itu menjadi panik, dia tidak bermaksud menggoda suaminya.
"Kak Ray... kamu mesum.. hentikan! Nanti anak-anak melihat," Tisha mulai panik dan mendorong-dorong tubuh suaminya, dia merasakan sesuatu yang keras menabrak perutnya.
"O..oke.. aku minta maaf, ampun deh..aku gak akan godain kamu," Tisha mendorong suaminya dengan sekuat tenaga. Hingga Ray terjengkang ke belakang. Dia segera beranjak dari ranjangnya dengan buru-buru.
"Kamu mau kemana sayang? Sudah menggodaku, tidak mau bertanggungjawab?" Ray membuka bajunya dengan sengaja. Dia menyeringai menatap sang istri.
"Ti-tidak, aku minta maaf sayang!" Seru Tisha sambil berlari keluar pintu dengan wajah memerah. "Ka-kamu cepat mandi sana! Pakai air dingin," ujarnya pada sang suami.
"Iya sayang, iya..air dingin," jawab Ray sambil mengedipkan matanya pada Tisha.
"Ka-kamu mesum.. bajumu sudah ada diatas sofa, setelah itu kamu keluar untuk sarapan dulu ya!" Titah Tisha.
Tisha sudah melarikan diri dari Ray, kemudian Ray pergi ke kamar mandi untuk mendinginkan tubuhnya yang panas. Dia senyum-senyum sendiri melihat wajah Tisha yang panik, ketakutan, dia merasa istrinya sangat lucu.
__ADS_1
Setelah Ray selesai mandi, dia sarapan bersama keluarga kecilnya. Selain keluarga kecilnya, disana juga ada anak-anak lain selain Rasya dan si bayi. Mereka ikut sarapan bersama di rumah itu.
"Selamat pagi papanya Rasya," sapa Maura pada Ray yang baru akan bergabung duduk di meja makan. Maura mencium tangan Ray dengan sopan.
"Eh ada Maura, ada Athar sama Doni juga.." Ray melirik pada Athar dan Doni yang sudah duduk di meja makan. Disisi lain ada Tisha sedang menimang-nimang bayi perempuannya.
"Pagi om," sapa Doni dan Athar.
"Pagi juga Doni, Athar." Sahut Ray sambil duduk di kursi.
Kebayang deh kalau aku punya banyak anak seperti ini, aku pasti diberkati oleh yang maha kuasa. Tapi.. aku kasihan pada Tisha kalau dia harus merasakan rasa sakit itu lagi. Baiklah Rasya dan princess saja sudah cukup.
"Sayang, kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" tanya Tisha heran melihat suaminya tersenyum senyum melihat anak-anak yang sedang duduk dimeja.
"Ah enggak apa-apa sayang," jawab Ray.
Ray dan Tisha melihat Rasya bermain akrab dengan Athar, Doni dan Maura. Sebelum berangkat nge-gym dengan Sam yang sudah berada di depan rumah. Ray ingin menggendong anaknya lebih dulu. "Princess papa, papa berangkat dulu ya..kamu baik-baik sama mama," Ray menimbang anaknya dengan hati-hati.
Bayi perempuan yang cantik itu menyunggingkan sedikit senyum di bibirnya, menyapa papanya. "Sha, kamu lihat itu?"
"Iya, anak kita tersenyum.."
"Ah..ini sangat tidak nyaman karena dia belum punya nama, sebentar lagi acara syukuran anak kita," Ray terlihat berfikir.
Dia menatap bayinya dalam-dalam. Wajah anaknya bersinar cerah seperti mentari pagi. Tiba-tiba terlintas sesuatu dipikiran Ray, "Eliana.. ehm.." Ray bergumam.
"Sayang? Kamu ngomong apa sih?" tanya Tisha melongo.
"Aresya Eliana Zaara Argantara.. itu nama anak kita, sayang!"
__ADS_1
"Eh?" Tisha terpana mendengar nama yang dikatakan suaminya.
...----****---...