Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 123. Bimbang


__ADS_3

like tembus 150, komen 25! Author up lagi


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Sam menatap Tisha dengan pandangan terkejut, dia juga melihat Rasya yang sedang bersamanya. Dia bertanya-tanya siapa anak yang ada disampingnya?


"Latisha? Mantan istri Ray?" tanya Sam pada Tisha, dia terkejut melihat Tisha masih hidup.


Sam menjelaskan apa yang terjadi sebelum kesalahpahaman semakin melebar. Bahwa dokter itu salah paham tentang dia yang adalah suami Fayra. Untuk mengalihkan pembicaraan, Sam bertanya tentang kabar Tisha dan siapa anak kecil yang ada disampingnya.


"Aku pikir kamu sudah tiada, kamu kan sudah dimakamkan. Aku juga menghadiri pemakaman mu saat itu" Sam terheran-heran


"Sebenarnya aku tidak meninggal, aku pergi ke luar negeri bersama anakku" Tisha terlihat bingung bagaimana menjelaskan situasinya, dia melihat ke arah Rasya yang sedang menunggu Fayra siuman.


"Sudahlah, yang penting kamu masih hidup. Lalu anak itu.. apakah anak itu adalah bocil nya si Ray?" tanya Sam dengan menyunggingkan sedikit senyum di bibirnya, dia melihat ke arah Rasya yang rupanya sangat mirip dengan Ray.


"Iya, dia anak ku dan kak Ray" jawab Tisha


"Jadi saat itu kamu sedang hamil? Aku senang kamu baik-baik saja dan anak itu juga" Sam tersenyum tulus, dia senang karena Ray bisa kembali bertemu dengan anak dan wanita yang dia cintai. Maka kesempatan Ray untuk bersama dengan Tisha dan Rasya terbuka lebar, tidak seperti dirinya yang tidak bisa bersama wanita yang dia cintai.


***


Beberapa saat kemudian, Fayra mulai membuka matanya perlahan-lahan. Dia melihat ada Rasya dan Tisha disampingnya.


"Tante Fayra udah bangun?" tanya Rasya menyambut Fayra yang baru saja siuman


"Eh? Rasya sayang? Kenapa kamu ada disini?" tanya Fayra heran melihat Rasya ada di depannya.


"Kak Fayra sudah siuman, Alhamdulillah.." ucap Tisha dengan melihat gadis itu sudah siuman


Fayra terdiam, dia mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya. Terakhir kali dia melihat Sam, mengingat pria itu wajah Fayra memerah karena marah.


Aku sangat yakin kalau aku melihat Sam, apa itu hanya ilusi ku? Memikirkan nya saja membuatku kesal!


"Ma, kayanya Tante Fayra demam deh. Wajahnya merah" kata Rasya cemas melihat wajah Fayra yang memerah, terutama bagian pipi.


"Kak Fayra, aku akan panggilkan dokter ya!" Tisha beranjak dari tempat duduknya, kemudian Fayra menahan tangan Tisha.


Fayra meminta Tisha dan Rasya untuk membawanya pulang ke rumah mereka karena dia baik-baik saja. Ketika berjalan keluar dari rumah sakit, Sam mengejar Fayra dari tempat parkir mobil di rumah sakit.


"Tunggu! Mbak Fa-Fayra!" seru Sam berteriak memanggil Fayra, sebenarnya dia enggan memangil gadis itu dengan sebutan mbak.


Mbak Fayra? Bagus sekali Sam, jadi kamu gak mau kenal lagi sama aku? . Fayra melirik ke arah Sam, menatap pria itu seolah dia adalah orang asing.


"Pak Sam? Bukannya dia sudah pulang ya?" gumam Tisha pelan. Padahal sebelumnya dia yakin melihat Sam sudah pergi, ternyata dia masih ada di depan rumah sakit.


"Ada apa ya pak?" tanya Fayra sambil tersenyum tipis

__ADS_1


"I-ini tas anda tertinggal" jawab Sam dengan suara gugup nya dia mengembalikan tas selempang milik Fayra yang tertinggal di mobilnya.


"Oh, terimakasih" jawab Fayra singkat dan dingin


Tisha melihat ada keanehan pada Fayra dan Sam, dia pun memutuskan untuk bicara dan memperkenalkan mereka"Oh ya kak Fayra, kenalkan ini Pak Samuel"


"Tisha, kamu kenal orang ini?" tanya Fayra sambil melihat ke arah Tisha dengan tajam


"Iya, pak Sam adalah sahabat baik Kak Ray. Aku sudah mengenalnya sejak lama. Ah ya, pak Sam.. kenalkan ini kak Fayra, kakak yang selalu menjagaku dan Rasya selama berada di luar negeri" Tisha tersenyum dan memperkenalkan kedua orang itu.


"Kenalin, nama aku..." Sam bersiap mengulurkan tangannya untuk berjabatan tangan dengan Fayra.


"Tisha, aku pusing.. aku jalan duluan ya" Fayra memegang kepalanya, tanpa melihat ke arah Sam yang sudah mengulurkan tangan padanya.


Berkenalan dengannya? Hah! Aku tidak mau kenal lagi dengannya. batin Fayra penuh kemarahan


Fayra dengan sengaja mengabaikan Sam, dia berjalan mendahului Tisha, Rasya dan Sam. Hati Sam sedih melihat sikap Fayra padanya, dia melipat kembali tangannya yang sempat terulur itu dengan wajah kecewa.


Sam, kamu pantas diabaikan seperti ini.


Tisha dan Rasya merasa heran dengan sikap kedua orang itu. Mereka merasa kalau Fayra dan Sam terlihat seperti orang yang bertengkar. Sam pamit pada Tisha setelah diabaikan oleh Fayra, dia masuk ke dalam mobilnya dengan kesal.


"Ma, tante Fayra sama om itu kenapa ya?" tanya Rasya bingung, "Mereka kaya lagi musuhan, ya ma"


"Kenapa mama juga merasakan hal yang sama? Padahal mereka kan gak saling kenal ya" Tisha juga terlihat bingung dengan sikap Dan dan Fayra, seperti ada sesuatu diantara mereka.


Hari itu Tisha, Rasya dan Fayra pulang ke rumah yang Tisha dan Rasya tempati. Fayra kagum dengan rumah tua yang sederhana itu. Pemandangan disekitar nya terlihat masih asri, cocok untuk menenangkan pikiran.


"Tante, Tante tunggu disini ya.. Rasya mau biarkan kopi kesukaan Tante"


"Memangnya kamu bisa buat kopi?" tanya Fayra seraya memegang rambut Rasya dengan lembutnya.


"Aku bisa kok, tunggu ya Tante" jawab Rasya semangat dan yakin, dia tersenyum cerah seperti biasanya.


"Oke deh, buatkan yang hangat ya" pesan Fayra pada bocah itu.


"Biar mama saja yang buatkan kopinya, kamu duduk saja bersama Tante Fayra disini" kata Tisha yang khawatir kalau Rasya membuat kopi


"Mama aja yang disini temenin Tante Fayra, aku mau ke dapur buatkan Tante kopi! Aku bisa kok ma!" Rasya meminta pada ibunya untuk dibiarkan membuat kopi


"Baiklah, air panas nya ada di dispenser ya jangan ambil air panas dari termos, kamu gak bisa mengangkatnya" pesan Tisha pada anaknya yang akan membuat kopi


"Oh ya, mama mau dibuatkan apa?" tanya Rasya pada mama nya


"Enggak usah sayang" jawab Tisha sambil tersenyum hangat pada buah hatinya.


Rasya mengangguk, kemudian dia berjalan ke arah dapur dan dengan senang hati dia membuat kopi untuk Fayra. Sementara Tisha dan Fayra duduk di sofa, mereka mengobrol tentang kedatangan Fayra ke Indonesia.

__ADS_1


Fayra dipindahtugaskan ke Jakarta oleh bos nya, dia akan bekerja di perusahaan makanan yang ada di kota tersebut. Jadi dia akan tinggal di Jakarta untuk seterusnya. Mengetahui hal itu, tentu saja Tisha sangat senang karena dia tidak sendirian berada di rumah.


Kemudian topik pembicaraan pun berubah menjadi ke arah Zayn. Sosok pria yang sudah berbuat banyak untuk Tisha dan putranya. "Tisha, apa benar kamu gak ada perasaan apa-apa sama Zayn?"


"Kakak, kenapa kakak menanyakan itu lagi?" tanya Tisha bingung setiap Fayra menanyakan bagaimana perasaan nya pada Zayn


"Tisha.. aku hanya bicara realistis dan sesuai logika saja. Apa kamu mau kembali bersama ayah nya Rasya? Pria yang sudah berselingkuh dan menyakiti kamu dimasa lalu?"


"Untuk itu.. aku masih belum memutuskan, tapi aku sedang memberikannya kesempatan. Bagaimana pun juga kak Ray adalah ayahnya Rasya"


"Yang aku maksudkan bukan itu Tisha. Fakta tentang Raymond adalah ayahnya Rasya tetap tidak berubah, tapi yang aku tanyakan adalah perasaan mu padanya dan pada Zayn itu seperti apa" jelas Fayra yang ingin tau perasaan Tisha dan Ray juga pada Zayn


Tisha menelan ludah, wajahnya tampak bingung kalau ditanya soal Zayn. Kalau soal Ray, dia yakin bahwa masih ada cinta dihatinya untuk ayah dari anaknya itu. Walaupun Ray sudah menyakiti nya berulang kali, tapi Tisha tetap mencintai nya.


Lalu soal Zayn? Bagaimana?


"Tisha, kenapa kamu malah diam?" tanya Fayra sambil menatap Tisha


Semua perjuangan mu akan sia-sia Zayn, kalau Tisha tidak memiliki sedikit perasaan sama kamu. Lalu bagaimana aku akan membantumu?. Batin Fayra bingung bagaimana membantu Zayn, karena Tisha terlihat tidak memiliki perasaan lebih pada sepupunya itu.


Tap, Tap, Tap


Rasya datang menghampiri mereka sambil membawa nampan berisi dua gelas kopi. Nampan itu terlihat berantakan karena basah dan ketumpahan kopi.


"Kopinya datang nih" kata Rasya sambil meletakkan dua gelas itu di depan meja.


"Makasih ya sayang" Tisha menyambut anaknya dengan senyuman.


"Makasih banyak unyu nya Tante, kamu pintar banget deh! Gemesin kalau lagi imut kaya gini" Fayra tersenyum melihat anak itu, dia mencubit pipi Rasya yang chubby. Pipi itu sudah lama tidak dia cubit.


"Adududuh... sakit tante" rintih Rasya dengan bibir mengerucut nya.


"Gemoy nya Tante..gemoy banget!!" Fayra menikmati mencubit pipi Rasya dengan gemas.


Tisha merasa bersyukur karena dengan adanya Rasya, dia tidak perlu menjawab pertanyaan Fayra. Sebenarnya, hatinya juga bingung terhadap perasaan nya pada Zayn. Zayn sudah banyak membantunya, dia juga mengatakan cinta pada Tisha. Dia sudah menolak pria itu, tapi Zayn sampai melepaskan impiannya demi Tisha dan membuat dirinya merasa bersalah.


Lalu Tisha harus bagaimana?


Dreet...


Dreet..


🎡🎡🎡


Ponsel Tisha berdering, dia melihat ada pesan masuk ke ponselnya. Yang berasal dari Zayn dan Ray.


...---****---...

__ADS_1


Readers! Maaf author telat up nya, anak saya sedang kurang sehat 😘πŸ₯Ί mohon doanya ya untuk kesembuhan anak saya πŸ™πŸ€§


Jangan lupa like, komen nya ya πŸ₯°


__ADS_2