Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 181. Aku lelah


__ADS_3

...Kau hancurkan aku dengan sikapmu...


...Tak sadarkah kau telah menyakitiku?...


...Lelah hati ini meyakinkanmu...


...Cinta ini membunuhku...


...πŸ€πŸ€πŸ€...


Tisha tidak langsung pergi ke rumah nya, dia malah mengantar Rasya ke rumah Athar. "Ma, kenapa kita kesini? Bukannya kita mau pulang?" tanya Rasya bingung.


"Sayang, kamu disini dulu sebentar ya. Nanti mama jemput kamu lagi." Tisha meminta anaknya untuk diam dulu di rumah Athar.


Aku harus bicara dengan kak Ray untuk mempertegas semuanya. Dia tidak bisa terus menyakiti ku lagi dan lagi. Aku juga tidak bisa melibatkan Rasya, karena kami pasti akan bertengkar.


"Iya ma, mama nanti jemput aku ya." Rasya yang peka terhadap keadaan, tidak bertanya pada mama nya. Dia patuh pada perkataan Tisha. Rasya memegang tangan mama nya, "Mama sama dede harus baik-baik aja ya.." pinta nya.


"Mama sama dede bayi gak akan kenapa-napa kok. Kamu tenang aja," Wanita hamil itu hanya tersenyum lembut pada anaknya.


Tisha tau kalau anaknya itu sangat peka, dia pasti tau benar apa yang akan terjadi pada kedua orang tuanya. "Rasya, mama berharap kalau kamu bukan orang yang peka." Gumam Tisha sambil mengelus kepala Rasya.


Anak itu menatap mama nya dengan sedih. Tak lama kemudian Bu Eva, mama nya Athar keluar rumah untuk menyambut Tisha dan Rasya.


"Mama nya Athar, saya titip lagi Rasya sebentar ya. Saya ada urusan mendadak."


"Mama Rasya tenang saja, saya akan menjaga Rasya dengan baik. Disini juga ada Athar yang menemaninya bermain."


"Makasih ya Bu Eva, saya akan menjemput Rasya nanti sore."Jelas Tisha pada Bu Eva.


"Baik Bu, ibu selesaikan saja urusan ibu." Bu Eva tersenyum ramah pada Tisha.


Setelah menitipkan Rasya pada Bu Eva, Tisha dan pak Joni kembali ke rumah. Beberapa menit kemudian, sesampainya di depan gerbang. Tisha keluar dari mobil. Dia meminta Joni kembali saja ke rumah Athar untuk menjaga Rasya.


Dia melihat mobil suaminya terparkir sembarangan di depan gerbang. Bahkan bagian belakang mobil Ray hancur entah menabrak apa. Belum lagi pintu rumah itu terbuka lebar, Tisha berjalan masuk ke dalam rumah nya.Dia sudah bisa menebak kalau suaminya pasti berada di dalam sana.


Ray sedang mencari-cari Tisha dan Rasya dengan panik di dalam rumah. Disana juga ada beberapa bodyguard nya yang ikut mencari.


"Kamu mencari siapa?" tanya Tisha yang sudah berdiri dengan wajah dinginnya di depan pintu.


Pria itu langsung menoleh ke asal suara, wajah panik nya berubah menjadi wajah yang lega. Dia berjalan menghampiri istrinya.


"Berhenti disana!" Seru Tisha pada suaminya


"Tisha-" Ray terus melanjutkan langkahnya.


"Kalau kamu melangkah lagi, aku akan sangat marah padamu. Walau sekarang aku sudah sangat marah!" Tisha mengisyaratkan dengan tangan, agar Ray tidak melanjutkan langkahnya. Dia menatap tajam pada suaminya.


Ray menghentikan langkahnya, dia menatap istrinya dengan hati yang berdebar. Berdebar karena takut kalau Tisha akan mengatakan sesuatu yang akan membuat hubungan mereka kembali merenggang. Pasalnya, belum lama berbohong, sekarang Ray berbohong lagi. Sudah wajar bila Tisha marah padanya. Kali ini bahkan Ray tidak sanggup menatap ke arah istrinya, terlebih lagi tatapan itu bukan tatapan cinta tapi tatapan terluka.

__ADS_1


"Aku memberimu kesempatan, kamu punya waktu 2 menit untuk menjelaskan semuanya!" Ucap wanita itu dengan suara yang mulai meninggi.


"Baiklah, aku memang mau menjelaskan nya. Tapi, kamu lebih baik duduk dulu. Kamu akan lelah jika kamu berdiri seperti itu!"


"Tidak usah banyak bicara! Jelaskan saja sekarang, kalau kamu tidak mau aku berdiri lebih lama disini." Tatapan mata Tisha untuk suaminya, adalah tatapan mata 6 tahun yang lalu ketika mereka bercerai, tatapan mata yang menyiratkan perpisahan mereka. Ada luka di dalam matanya.


"Tisha, wanita itu adalah rekan bisnisku. Aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa, papa nya juga rekan bisnisku, disana kami hanya bicara soal bisnis." Ray memberikan penjelasan pada Tisha.


Tisha tersenyum sinis, "Bicara soal bisnis di dalam mall, lalu makan berduaan? Begitu maksudmu? Apa kamu sedang berbohong lagi padaku?"


"Aku tidak berbohong! Dia memang rekan bisnisku, kalau kamu tidak percaya kamu bisa tanya Gerry!" Ray menepis pertanyaan Tisha yang terdengar seperti tuduhan itu.


"Kalau dia hanya sekedar rekan bisnis, kenapa harus makan berduaan? Kenapa kalian harus tertawa tawa seperti itu?"


"Sayang, aku mengerti kamu cemburu dan marah. Tapi, aku dan dia tidak hanya berdua..aku bersama Gerry juga, hanya saja saat itu Gerry sedang berada di parkiran." Jelas Ray pada Tisha.


"Oke, jadi kalian tidak hanya berduaan..aku percaya. Tapi, ada yang tidak aku mengerti darimu." Kedua bola mata Tisha mulai berkaca-kaca.


Saliva nya naik turun melihat istrinya yang terlihat marah, kecewa dan sakit hati padanya. Penjelasan itu terdengar seperti sebuah alasan.


Tisha menghela napas, dia menahan air matanya sekuat tenaga. "Aku gak ngerti kenapa kamu harus bohong? Kenapa kamu harus membohongi ku lagi dan lagi?!"


"Tisha, aku tidak bermaksud membohongi mu. Aku berbohong karena aku ingin membuat kejutan untuk kamu, aku membelikan ini untuk kamu.Tolong, dengarkan aku dulu!" Ray mengeluarkan sebuah kotak merah panjang di dalam saku jas nya. Ray membuka kotak itu dan menunjukkan sebuah kalung di dalam kotaknya.


Air mata sudah terlanjur mengalir, hati wanita itu sudah terlanjur terluka oleh kebohongan suaminya. "Kamu, memilih kalung untukku bersama wanita itu? Apa kamu paham apa maksudku? Mengapa aku semarah ini?!"


Ray berjalan mendekati Tisha, dia ingin mengusap air mata itu. Tapi Tisha menolaknya, dan mendorong suaminya. "Tisha aku tau letak kesalahan ku sekarang, aku minta maaf.. aku minta sudah berbohong sama kamu. Aku cuma-"


Emosi Tisha meledak, dia tidak tahan dengan kebohongan yang dibuat oleh suaminya. Wanita hamil itu menangis terisak-isak, dia sangat kesal hatinya melihat Ray bersama dengan wanita lain. Ini bukan hanya masalah cemburu, tapi kejujuran Ray padanya. Mengapa Ray harus berbohong dengan alasan ingin memberi kejutan?


"Tisha, sayang.. maafkan aku.. aku benar-benar salah. Aku benar-benar salah! Kumohon jangan menangis lagi karena ku, kamu boleh memakiku. Kamu boleh marah padaku, kamu boleh melakukan apa saja, tapi jangan menangis.." Ray mengatupkan kedua tangannya, seraya memohon maaf pada istrinya. Dia tidak sanggup melihat Tisha menangis, terlebih lagi ketika wanita itu sedang mengandung.


Bruk!


Ray menjatuhkan dirinya, berlutut di depan Tisha. Dia takut Tisha meninggalkan nya seperti di masa lalu.


"Aku lelah kak, tolong katakan padaku bagaimana cara mengakhiri nya? Katakan padaku, aku harus sesakit apa lagi hatiku menghadapi kamu?!" Tisha menangis, dia memegang kepalanya. Rasanya sesak di dada, cemburu, kesal, kecewa dan sedih. Semua itu dirasakan nya di dalam hati.


"Tidak! Apa maksud kamu bicara seperti ini? Tidak ada yang harus diakhiri! Tidak ada!" Ray mendongakkan kepalanya, dia sangat takut dengan kata berakhir itu. "Aku minta maaf Tisha, aku minta maaf.. kumohon.." Ray menyesali semua kebohongan nya.


"Aku lelah kak! Aku lelah padamu!" Tisha mendorong suaminya dengan marah.


Kalau aku tidak seperti ini, kamu tidak akan pernah sadar.


Wanita itu melangkahkan kaki nya berjalan menuju kamar, Ray mengekori nya dari belakang. Tisha membuka lemari bajunya, dia mengambil koper dan baju-baju di dalam lemari. Kemudian dia memindahkan baju-baju itu masuk ke dalam koper.


"Sayang, apa yang kamu lakukan?!" tanya Ray dengan mata yang terbuka lebar menatap istrinya dengan takut dan cemas. "Kenapa kamu mengemasi baju baju mu?!" tanya nya lagi.


Dia tidak bergeming dan masih melanjutkan aktivitas nya memasukkan masuk ke dalam koper. Setelah baju di dalam lemari itu sudah habis di masukkan ke dalam koper. Tisha menarik koper itu, membawanya keluar dari kamar.

__ADS_1


Ray semakin panik dibuatnya, dia merasa seperti Dejavu. Ray mengejar istrinya yang sudah berada di luar rumah.


"Tisha, kamu mau apa?!"


"Aku mohon, aku ingin sendiri dulu sendiri dulu sekarang. Biarkan aku menenangkan pikiran ku!" Teriak Tisha emosi, dia melanjutkan langkahnya keluar dari rumah itu.


Tidak akan aku biarkan kamu pergi lagi.


"Kalian! Tahan dia! Jangan biarkan dia pergi dari rumah ini satu langkah pun!'' ujar Ray pada ketiga bodyguard nya.


"Baik!" jawab ketiga bodyguard itu patuh, mereka kompak menghalangi jalan Tisha.


Tisha terperangah melihat ketiga bodyguard itu, dia semakin marah pada suaminya. Persis seperti di masa lalu, beginilah cara Ray menahan Tisha disisinya. Tisha merasa Dejavu. Seperti masa lalu yang terulang kembali.


"Apa kamu akan menahan ku lagi?!"


Sisi mendominasi ini, ternyata masih ada pada dirinya. Aku pikir dia sudah menjadi pria yang lembut, sifat pemaksa nya itu masih ada.


"Asalkan kamu tidak pergi dari sisiku, akan aku lakukan apapun. Sekalipun harus mengurung mu!" Ray mengambil koper yang sedang dipegang Tisha, lalu menendang nya sampai koper itu rusak.


BRAK!


"Raymond Argantara! Siapa yang seharusnya marah disini?! Mengapa kamu yang marah?" Tisha emosi menghadapi Ray.


Ray memegang tangan Tisha dan mencengkram nya dengan kuat, "Aku tau kamu sedang marah padaku sayang, tapi kamu tidak boleh pergi! Kamu tidak boleh meninggalkan aku lagi! Tidak!" Ray menatap tajam ke dalam mata Tisha, dia berkaca-kaca. Tidak mau Tisha meninggalkan nya seperti masa lalu.


"Sakit! Lepaskan aku kak, lepaskan! Kamu menyakiti aku!"


"Gak, aku gak akan melepaskan kamu!" Ray menggendong paksa istrinya, kemudian membawa dia masuk ke dalam rumah.


"Lepaskan aku! Lepaskan aku! Kamu pria egois! Kamu pembohong! Aku benci kamu!" Tisha masih terlihat marah, dia menangis sambil memukul mukul suaminya.


Tisha kamu boleh marah, tapi kamu tidak boleh sampai meninggalkan aku lagi. Tidak boleh!


Ray merebahkan tubuh Tisha di atas sofa empuk. Tisha menatap suaminya dengan murka, dia beranjak dari sofa dan mulai berdiri.


"Kamu mau kemana?" Ray memegang erat tangan Tisha.


Tisha menepis tangan Ray dengan emosi. Kepalanya masih panas mendidih dengan kemarahan, dia tidak bisa berhadapan dengan penyebab kemarahan nya itu dan butuh waktu sendiri.


"Latisha Anindita!" Ray membentak istrinya.


Tiba-tiba saja Tisha memegang perutnya, dia meringis kesakitan. "Auw.. ahhh.."


"Sha, kamu kenapa? Tisha..sayang" Ray berdiri tepat dibelakang istrinya. Dia menatap khawatir kepada istrinya.


Tubuh ibu hamil itu ambruk, Tisha tidak sadarkan diri. Ray menahan tubuh Tisha yang roboh. "Sayang! Tisha!!" Ray berteriak panik, dia sadar bahwa dia telah membuat istrinya sangat sakit.


...***...

__ADS_1


Sambil nunggu novel ini up lagi, mampir sini yuk πŸ₯°πŸ₯°πŸ˜˜πŸ˜˜



__ADS_2