
...πππ...
"Sayang, ayolah?" Ray mengajak istrinya untuk mandi bersama.
"Sekali saja!" jawab Tisha malas.
"Oke," jawab Ray sambil tersenyum lebar.
Pada akhirnya mereka berakhir melakukan nya di kamar mandi. Sambil membersihkan diri sekalian.
Tisha terlihat kesal karena Ray terus menyiksanya, tidak malam tidak pagi, tidak juga dengan siang dan sore hari.Tubuhnya sudah hampir mati rasa.
Wanita itu berbaring di ranjang bersama suaminya. Wajahnya terlihat kesal dan tidak menunjukan kepuasan, yang ada dia malah lelah. "Sayang, kamu marah ya? Aku pijitin deh!" Ray membujuk istrinya yang sedari tadi diam saja.
"Sekali menjadi dua kali, setelah dua kali dengan mudahnya menjadi tiga kali, dan setelah tiga kali.. ah entahlah, aku tidak tahu lagi," Tisha menggerutu pada suaminya itu.
"Maaf sayang, aku tidak bisa menahan diri. Sudah enam tahun aku menahannya, makanya aku jadi..."
"Apa selama enam tahun itu, kamu gak pernah tidur dengan wanita lain?" tanya Tisha sambil menatap suaminya dengan tajam.
"Tidak ada wanita lain! Otakku sudah dipenuhi oleh dirimu, hatiku sudah jadi milikmu, bagaimana bisa aku memikirkan wanita lain apalagi tidur bersama? Kamu tau kan aku mysophobia?" Ray berbicara sungguh-sungguh pada istrinya.
Benar juga, kak Ray bukan pria yang akan memegang orang asing begitu saja.
"Tisha, sayang.."
"Apa sih? Aku mau tidur, aku ngantuk!" wanita itu menarik selimutnya dan berencana untuk tidur sebentar.
"Aku akan memijit mu,"
"Tidak usah!"
"Aku pijit ya?" Ray memegang tangan Tisha dan memijatnya pelan-pelan.
"Kak Ray!" Tisha kesal pada suaminya.
"Oke, baiklah! Tidurlah dulu, aku tidak akan menganggu," Ray mengangkat kedua tangannya, dia menyerah pada Tisha yang marah-marah.
Ini salahku karena terlalu sering melakukan nya, Tisha jadi marah. Tapi kenapa sejak aku bertemu dengannya lagi, dia menjadi lebih galak?
Ray membiarkan Tisha tidur sejenak untuk beristirahat. Ray sendiri berada di balkon kamar hotel itu, dia mengambil ponsel dan emnelon Gerry. Memastikan semua keadaan kantor terkendali.
Gerry mengatakan semua nya baik-baik aja, Rasya juga aman-aman saja bersama istri dan anaknya di rumah.
"Tapi pak.. ada berita lain,"
"Ada apa Gerry?"
"Berita tentang pak Zayn dan Bu Tisha sudah mereda, sekarang muncul berita baru tentang Bu Tisha dan bapak. Semua wartawan dari media ingin mewawancarai bapak dan Bu Tisha , juga tuan muda Rasya,"
"Ambil saja salah satu tawaran dari media itu, aku dan keluargaku akan melakukan wawancara," dengan percaya diri, kini Ray dapat mengatakan bahwa Tisha dan Rasya adalah keluarga nya.
"Baik pak, saya akan mengatur jadwal nya!" jawab Gerry patuh.
"Ah ya, Gerry. Apa dalang dibalik semua ini sudah ketahuan? Orang yang identitasnya tidak sederhana itu?" tanya Ray menanyakan siapa orang yang bisa memblokir media untuk menahan berita dengan begitu mudahnya.
"Saya hanya menemukan sedikit informasi tentang itu pak, dan saya hanya tau bahwa orang itu kemungkinan adalah keluarga kerajaan dari luar negeri," jelas Gerry pada Presdir nya itu.
Ray terpana mendengar nya, jika itu keluarga kerajaan. Maka ini berkaitan dengan identitas Zayn yang katanya mengalir darah biru.
"Kerja bagus Gerry, besok aku akan kembali. Kamu jaga anak ku baik-baik," Ray memperingatkan Gerry untuk menjaga Rasya baik-baik selama dia dan Tisha pergi bulan madu yang hanya dua hari itu.
"Siap pak!" seru Gerry patuh seperti biasanya.
Setelah itu pembicaraan mereka usai dengan masuknya sebuah telpon dari Zayn ke ponsel Ray.
"Panjang umur," gumam Ray dengan senyuman tipis di bibirnya.
Ray mengangkat telpon dari Zayn dengan cepat, rival cintanya. "Halo"
"Raymond,"
"Ya, ini aku. Ada apa?" tanya Ray dengan suara dinginnya menyambut pria itu.
"Selamat atas pernikahan kalian," Zayn tersenyum tulus.
"Haa.. apa kamu tulus memberikan selamat pada kami?" sindir Ray pada Zayn, dia tersenyum menyeringai.
"Sebenarnya aku masih berat mengatakan semua ini. Karena aku merasa kalau kalian sangat tidak cocok, wanita seperti Tisha berhak untuk mendapatkan pria yang lebih baik dari mu," Zayn mengutarakan keraguan hatinya pada Ray. Zayn masih merasa kalau Ray bukanlah pria yang tepat untuk Tisha, sahabatnya.
"Kamu mau memberi selamat atau mengajak ribut?!" tanya Ray kesal.
"Ha, kamu masih saja emosian sama seperti dulu. Raymond, walaupun aku tidak suka padamu...tapi hanya kamu yang bisa menjaga Tisha dan Rasya, maka tolong jaga Rasya dan Tisha dengan baik..," Zayn tersenyum pahit, air matanya berlinang ketika dia mengatakan itu.
"Kenapa aku seperti mendengar kata-kata perpisahan darimu? Apa kamu mau pergi?" tanya Ray ketika dia mendengar ucapan Zayn seolah sedang berpamitan padanya.
__ADS_1
"Peranku menjaga mereka sudah berakhir, aku hanya menjaga jodoh dan takdir mu. Kamu sudah menang Raymond, kamu selalu memang di hati mereka," Zayn perih mengatakan hal berat itu. Dia mengakui bahwa dia hanya sekedar teman untuk Tisha, bukan siapa-siapa. Hatinya sakit melihat berita tentang pernikahan Tisha dengan Ray.
Walau begitu dia ingin melepaskan perasaan itu dengan mengutarakan nya pada Ray.
"Jadi kamu sadar kalau dia bukan untukmu? Baguslah, kalau kamu sudah sadar." Ray tersenyum lembut mendengar ucapan Zayn.
"Maka dari itu! Kamu harus menjaga mereka dengan baik, kalau aku tau kamu membuat mereka menangis ataupun melukai mereka.. maka aku akan mengambil mereka kembali darimu," Zayn mulai tersenyum, dia menyeka air matanya dan memandang sebuah koper besar berwarna hitam.
"Haha...aku tidak akan membiarkan kamu sampai mengeluh padaku, aku janji padamu akan menjaga mereka dengan baik. Aku tidak akan melepaskan mereka lagi," Ray sangat percaya diri.
Karena aku akan menggenggam erat mereka berdua di tanganku. Ray merasa bahwa Zayn benar-benar menyerah kali ini dan melepaskan Tisha.
"Baik, sampaikan salam ku pada Tisha dan Rasya," Zayn bicara dengan suara yang lembut.
"Kamu mau kemana?" tanya Ray penasaran kenapa Zayn pamit kepadanya.
"Kenapa kamu perhatian sekali padaku?" tanya Zayn sambil tertawa kecil.
"Cih! Lucu sekali! Siapa juga yang peduli padamu? Aku bertanya karena Rasya pasti akan menanyakan mu nanti, jangan salah paham!" Seru Ray tegas.
"Aku akan pergi ke tempat yang seharusnya. Mungkin juga aku tidak akan pernah bertemu dengan kalian lagi. Tapi, dimana pun aku berada..aku akan selalu memantau kalian! Kalian harus hidup bahagia," Zayn berdoa setulus hatinya untuk kebahagiaan Ray dan juga keluarganya.
"Akan aku sampaikan pesan mu pada istri dan anakku, semoga kamu juga menemukan hidup baru yang lebih indah.. dan terimakasih sudah melepaskan Tisha," Ray bicara dengan nada ramah pada Zayn, tidak seperti biasanya yang selalu marah dan sinis.
"Tidak, jangan berterimakasih padaku. Bukan aku yang melepaskannya, tapi sejak awal dia memang milk mu!" Zayn tersenyum, dia menatap jam ditangannya.
Ini sudah waktunya..
"Iya.. seandainya kita bisa mengobrol dengan nyaman seperti ini. Mungkin kita akan jadi teman baik," Ray tersenyum tulus.
"Aku juga berfikir hal yang sama. Nah, sudah waktunya.. aku akan pergi," Zayn tersenyum sedih, "Hadiah pernikahan untuk kalian sudah aku kirimkan ke rumah mu, semoga kalian suka! Dan ada hadiah yang kamu akan suka," Zayn berusaha tersenyum ditengah kepahitan nya.
"Terimakasih,"
Ray lega karena Zayn sudah menyerah pada Tisha dan Rasya. Kini gangguan pebinor yang akan menganggu rumah tangga nya, sudah tidak ada lagi.
Saat itu juga, Zayn dan Farhan pergi ke luar negeri. Pada akhirnya Zayn harus kembali ke tempat yang seharusnya dia berada.
"Tisha, aku hanya bisa menyimpan kamu sebagai kenangan saja. Kamu harus bahagia bersama pilihanmu" gumam Zayn sebelum dia naik pesawat. Zayn memegang gelang rajutan berwarna warni seperti pelangi ditangannya, dia memakai gelang itu.
Gelang yang mengingatkan nya pada masa lalu. Kenangannya dan Tisha.
#Flashback
Sekitar 13 tahun yang lalu...
Zayn yang saat itu bertubuh gemuk dan terlihat culun dengan kacamatanya hitamnya, sering di bully oleh teman-temannya. Bahkan dipalak oleh anak-anak lainnya.
"Mana uang nya hah!"
"Ma-maaf, tapi hari ini aku gak bawa uang jajan," Zayn menunduk ketakutan begitu melihat ada 5 orang teman sekelas nya memalak lagi dirinya.
"Bohong! Terus tadi Lo jajan pakai apa?!" salah seorang pria itu menarik kerah baju Zayn.
"A-aku tidak bohong!" Zayn menyangkal. Orang-orang itu menggeledah bahkan sampai membuat kancing bajunya.
"Si gendut ini main-main nih sama kita,"
"Dimana Lo sembunyiin uang nya?!" teriak seorang pria berbadan lebih besar dan lebih tinggi dari yang lainnya. Wajahnya terlihat sangar.
Zayn gemetar ketakutan. Dengan paksa kelima orang itu membuka baju seragamnya.
"KYAAAaaattttt!!"
Seorang gadis yang memakai rok dan celana olahraga panjang, muncul entah darimana, dia seperti terbang dari awan dan mempersiapkan kakinya untuk menendang salah satu pria yang membully Zayn.
Brugh!!
Dua dari kelima orang pria itu roboh oleh tendangan mautnya.
"Kalian pasti gangguin dia lagi! Sudah kuduga! Kali ini, aku bakal laporkan kalian sama guru!" Tisha menyingsingkan lengan bajunya.
"Woah.. si cewek sangar! Pengacau Lo!"
"Pergi dari sini! Atau aku teriak!"
"Cabut guys, males gue berurusan sama cewek kaya Lo," ajak seorang pria yang di duga ketua geng itu.
Mereka berlima pergi dari sana, meninggalkan Tisha dan Ray berdua saja.
"Kalau kamu digangguin kaya gitu, harusnya ngelawan dong. Jangan diem aja, kalau kamu diem aja..yang ada mereka semakin menjadi-jadi. Kalau kamu gak bisa melawan, kamu mending lari aja. Oh ya, kamu gak apa-apa?" tanya Tisha sambil mengulurkan tangannya pada Zayn.
"I-iyahhh, aku gak apa-apa," Zayn memegang tangan Tisha dan mulai berdiri tegap, "Kamu hero ya?" Zayn menatap Tisha dengan kagum.
"Ah apa?"
__ADS_1
"Ah enggak, aku gak bilang apa-apa kok!" Zayn menggeleng-geleng.
"Uang kamu gak diambil sama mereka kan?" tanya Tisha dengan gaya tomboy nya.
"Enggak, ma-makasih ya,"
"Iya sama-sama," jawab Tisha sambil tersenyum.
Zayn tersenyum juga, dia tak menyangka kalau Tisha yang dirumorkan sebagai wanita preman ternyata tidak seperti itu.
"Ya udah kalau gak apa-apa, syukur deh" Tisha melangkah pergi meninggalkan Zayn sendirian.
"Tu-tunggu! Apa kamu gak jijik sama aku?" tanya Zayn.
"Jijik? Kenapa harus jijik?" tanya Tisha sambil menoleh ke arah Zayn.
"Semua orang menjauhi ku karena aku gendut dan aku juga banyak makan," Zayn menundukkan kepalanya dengan percaya diri.
"Itu kan mereka, bukan aku. Kenapa aku harus menjauhi mu karena hal itu? Apa gendut adalah sebuah dosa besar sampai aku harus menjauhi kamu? Aneh! Kita jangan melihat seseorang dari tampilannya, sebelum tau bagaimana dalamnya," Tisha menasehati Zayn untuk lebih percaya diri dan tidak melihat seseorang dari penampilan nya.
Zayn hampir saja terjengkang mendengar ucapan bijak dari gadis tomboy di depannya itu. Dia terpesona dengan ucapan Tisha.
"Kamu.. kamu harus berteman denganku ya! Terima aku jadi temanmu!" Zayn meraih tangan Tisha, seraya memohon pada gadis itu untuk menjadi temannya.
"Eh..,"
"Please jadi temanku ya? Aku gak punya teman di sekolah ini!" Zayn memelas.
"Oke, kamu boleh menjadi temanku.. tapi, jangan minta uang jajan padaku ya, soalnya aku gak punya uang!" Tisha tersenyum dan bercanda dengan Zayn.
"Malah aku yang akan traktir kamu. Namaku Zayn,"
"Nama yang bagus dan kamu juga ganteng,"
"Cita-cita ku jadi artis lho," Zayn tersenyum lebar mendengar pujian dari Tisha.
"Pasti kamu bisa mewujudkan nya!" Tisha memberikan semangat pada Zayn.
"Makasih, oh ya nama kamu siapa?"
"Latisha Anindita..kamu bisa panggil aku Tisha,"
"Shasa juga bagus," jawab Zayn.
Sejak itu Zayn dan Tisha berteman, bahkan Tisha memberikan gelang buatannya untuk Zayn dan merayakan persahabatan mereka.
#End Flashback
"Izinkan aku menyimpan yang satu ini ya Shasha," Zayn berjalan menuju ke tempat pesawat akan lepas landas. Dia melihat langit Jakarta untuk yang terakhir kalinya. Zayn meninggalkan tanah airnya bersama dengan Farhan.
...****...
Keesokan harinya...
Tisha dan Ray bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta. Pagi itu mereka sarapan bersama di kantin hotel, aroma aroma pengantin baru masih menyeruak diantara mereka berdua.
Masa yang sedang romantis romantisnya. Padahal mereka sudah pernah menikah, namun rasanya sangat berbeda dengan pernikahan pertama mereka.
"Ayo Sha, anak kita sudah menunggu!" Ray tidak sabar ingin bertemu putra nya.
"Iya kak," Tisha menggenggam tangan suaminya, sambil tersenyum lembut. Keduanya pergi masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil itu lah, Ray mengatakan pada Tisha tentang pembicaraan dengan Zayn. Tisha terkejut karena Zayn tidak bicara apa-apa padanya.
"Kak, apa kamu tau kemana Zayn pergi?" tanya Tisha dengan mata yang berkaca-kaca.
"Dia tidak mengatakan nya padaku," jawab Ray sambil menyetir mobil.
"Kalau begitu, ayo cepat kita pulang ke rumah lama dulu!"
"Kita gak akan jemput Rasya dulu?" tanya Ray pada istrinya.
"Oh ya, kita jemput Rasya dulu lalu ke rumah kamu!" seru Tisha buru-buru.
Zayn, apa kamu benar-benar sudah pergi? Kamu pergi Zayn?
"Kita ke rumahku dulu saja, karena jaraknya lebih dekat,"
Aku tau,kamu pasti mau melihat apa yang dikirimkan Zayn. Baiklah, kali ini aku akan membiarkan nya.
Tisha diam saja dengan wajah tegangnya, seperti ada yang mengganjal di hatinya.
Zayn... Hatinya memanggil nama Zayn.
...---***---...
__ADS_1
...Hai Readers! Jangan lupa support nya ya, dengan cara like, komen, vote atau gift π₯Ίπ₯ΊβΊοΈβΊοΈβΊοΈπ€ππ...