Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 185. Godaan rumah tangga


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


"Bu, Bu Tisha..apa anda baik-baik saja?" Gerry terpana melihat raut wajah Tisha yang terlihat menyeramkan.


"Saya sangat baik-baik saja, terimakasih sudah memberitahu ku ya." Tisha tersenyum menyeringai, tapi wajahnya terlihat kesal.


Ah! Apa Bu Tisha tidak tau tentang hal ini? Lalu apa yang dia tau?. Gerry semakin tegang. Dia takut dengan ancaman Afrika, kutub Utara yang sering disebutkan oleh Ray. Matilah dia jika itu terjadi.


Aku harus tenang, aku tidak boleh emosi. Walaupun ibu hamil cenderung sensitif, tapi aku harus berkepala dingin. Kalau aku emosi, bayi ku bisa kenapa-napa. Baiklah Latisha Anindita, tenang.. tanyakan baik-baik padanya. Tegas, tapi jangan emosi! Tisha mengambil dan menghela napas sampai beberapa kali, dia berusaha mendinginkan kepalanya. Namun, pikiran negatif masih membayangi nya.


Mau apapun alasannya, tidak pantas seorang pria yang sudah menikah jalan berduaan dengan wanita lain. Apalagi sampai berbohong pada istrinya! Begitulah pikir Tisha di dalam hati.


"Bu Tisha!"Gerry merinding melihat raut wajah Tisha.


"Pak sekretaris, tunggu disini. Saya akan membuat dia pergi bekerja secepat nya. Lagi pula saya sedang malas melihat wajahnya hari ini." Gerutu Tisha kesal pada suaminya.


Gerry bergidik melihat wanita itu


Tisha menghampiri suaminya yang sedang menyiram tanaman di halaman belakang. Ray langsung sumringah melihat Tisha datang kepadanya. Dia berfikir kalau Tisha sudah memaafkan nya. Tapi, apa yang dia pikirkan itu salah besar!


"Sayang, akhirnya kamu datang juga. Hehe.." Ray nyengir sambil memegang teko air.


"Apa kamu gak akan pergi bekerja?" tanya Tisha dengan gaya berkacak pinggang. Dia menatap suaminya dengan tajam.


"Aku sudah bilang kalau aku akan bekerja kalau kamu memberikan ku senyuman semangat." Jawab Ray serius.


"Kalau kamu tidak pergi bekerja sekarang juga, aku tidak akan memberikan kamu kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Pergilah selagi aku masih baik!"


"Kamu mau memberikan ku kesempatan untuk menjelaskan semuanya?" tanya Ray sambil tersenyum tipis.


"Ya, termasuk kamu pergi ke toko perhiasan bersama perwakilan dari CY fashion itu dan memilihkan nya kalung." Tisha menyindir suaminya. Dalam lubuk hatinya, sebenarnya dia tidak ingin marah. Tapi, Ray terus memancing emosinya.


Kening Ray berkerut, dia menaikan alisnya. Darimana Tisha tau hal itu? "Toko perhiasan? Apa Rasya yang mengatakan nya sama kamu?"


"Oh, jadi Rasya juga tau. Hanya aku yang tidak tahu, haahh.." Tisha menghela napas panjang, dia berusaha menekan emosi nya. Wanita hamil itu juga mendesis kesal.


"Apa Gerry yang bilang??!" Ray menebak kalau Gerry yang mengatakan nya pada Tisha. "Dia mengatakan hal tidak perlu." Gumam Ray pelan.


"Jangan salahkan pak sekretaris! Dia hanya mengatakan kebenaran yang tidak kamu katakan padaku. Pergilah ke kantor, bukankah kamu ada janji penting dengan wanita itu?" sindir nya sinis.


"Tisha..dia dan aku hanya rekan bisnis." Ray meraih tangan Tisha, seraya membujuk istrinya.


Tisha melepaskan tangannya dari genggaman Ray, "Kita bicarakan ini saat kamu pulang nanti. Kasihan pak sekretaris menunggumu.Dan jangan marahi dia, atau mengancam nya ke Afrika! " Ucap Tisha bijaksana dan berusaha menekan emosi.


"Bagaimana aku bisa pergi kalau kamu seperti ini?" tanya Ray sedih.


"Kamu harus bertanggungjawab atas pekerjaan kamu, jangan sampai masalah pribadi membuat kamu melupakan tanggungjawab kak. Hidup banyak orang yang bekerja di Argantara grup bergantung padamu! Dewasalah!" Jelas Tisha tegas dan lugas. Mengingatkan tanggungjawab Ray sebagai Presdir perusahaan besar, dimana banyak orang bergantung pada dirinya.


Ray setuju, kalau yang dikatakan Tisha memang benar. Dia mempunyai tanggungjawab besar sebagai Presdir perusahaan besar. Dia pun berganti pakaian dan segera pamit pada istrinya. Gerry juga masih menunggunya disana.


"Sayang, aku pergi." Ray pamit pada Tisha yang sedang duduk dan tangannya merajut sesuatu. Tisha masih mengabaikan Ray, dia tidak menjawab suaminya. "Sayang.."


Wanita itu mendongakkan kepalanya, dia tersenyum terpaksa agar Ray cepat pergi dari sana. "Cukup kan?"


Ray tersenyum, kemudian dia mencuri ciuman kening dan ciuman pada pipi Tisha.


Cup!


"Kak Ray!" Tisha terkejut dengan serangan tiba-tiba dari suaminya itu.


"Aku akan jelaskan semuanya saat pulang nanti ya. Kamu jangan kemana-mana, atau aku akan mengurung mu!" Ray tersenyum, dia mengancam istrinya untuk jangan pergi keluar rumah. Ray masih memiliki rasa takut, kalau suatu saat nanti Tisha pergi darinya.


"Terserahlah!" Tisha memalingkan matanya ke arah yang lain.

__ADS_1


Kemana aku bisa pergi, hanya kamu tempatku kembali. Hanya kamu lah rumahku, kamu dan Rasya adalah alasan ku berada di dunia ini.


"Aku cinta kamu, Sha." ucap Ray lembut sambil tersenyum.


Seperti nya masalah ini harus melibatkan Bu Stefani. Karena Tisha akan terus marah kalau masalah nya tidak segera diluruskan. Ya, ini memang salahku karena membohongi nya. Dia terluka karena kebohongan ku.


Ray dan Gerry dalam perjalanan menuju ke kantor untuk rapat. Hari itu sudah sangat siang, karena sebelumnya Ray menolak pergi ke kantor.


"Gerry!" panggilnya pada Ray.


"Ya-ya pak?" Jawab Gerry gelagapan, tiba-tiba saja tubuhnya berkeringat tanpa sebab. Bukan tanpa sebab, tapi sebenarnya dia takut.


Tuhan.. apakah pak Presdir sudah tau apa yang aku katakan pada Bu Tisha? Apa dia akan mengirim ku ke Afrika?


"Terimakasih."


"Hah? Ya pak?" Gerry ternganga mendengar ucapan terimakasih dari Presdir nya dan bukan makian.


"Entah apa yang kamu katakan pada istriku, dia jadi mau bicara padaku dan memberikan ku kesempatan untuk menjelaskan."


"Ah i-iya pak, saya juga minta maaf karena saya mencoba untuk membantu bapak. Bapak tidak akan mengirim saya ke Afrika kan?"


"Haha, mana mungkin? Seperti nya kamu memang harus terus berada disisi ku sampai tua. Semoga kamu kuat ya bertahan dengan ku, dan maafkan aku selama ini aku selalu memaki mu." Ray tertawa kecil. Dia merasa sangat bersyukur karena ada Gerry disisinya.


"Saya akan tetap bersama bapak! Sampai saya tua pak, saya janji!" Gerry tersenyum haru, hatinya tersentuh mendengar ucapan Ray.


Gerry terharu, dia tidak percaya kalau Ray bisa mengucapkan terimakasih dan maaf padanya. Dia merasa kalau Presdir nya itu sudah lebih dewasa dan bijak karena menikah dengan Tisha.


"Pak presdir, apa saya boleh bicara sesuatu pada bapak?" tanya Gerry tiba-tiba.


"Silahkan." Jawab Ray yang siap menerima kritik dan saran.


"Menurut saya, Bu Tisha berhak marah pada bapak. Karena tidak seharusnya bapak berbohong kepada Bu Tisha. Suami-istri itu harus saling terbuka pak, setiap hubungan rumah tangga pasti tidak luput dari masalah. Mungkin ini godaan untuk rumah tangga bapak, dan ada baiknya kalau bapak membatasi diri berinteraksi dengan wanita lain."


"Bapak sudah menikah, sudah punya anak. Mau itu hubungan bisnis, bapak tidak seharusnya berduaan dengan wanita lain apalagi sampai memilihkan kalung. Istri mana yang tidak akan terluka hatinya, jika melihat suaminya seperti itu."


"Tapi aku hanya bermaksud baik membantunya Gerry," Ray terlihat bingung.


"Haa.. coba deh kalau posisi nya dibalik, bagaimana kalau Bu Tisha yang pergi berbelanja dan makan berduaan dengan pria lain." Gerry mencoba menceritakan pengalaman nya.


"Pria lain siapa yang pergi belanja dan makan dengan istriku?!" Ray sudah ngegas duluan.


"Misalkan pak Zayn. Bagaimana kalau pak Zayn jalan pergi berduaan dengan Bu Tisha dengan alasan bisnis, lalu makan bersama atau pergi ke toko perhiasan dan membantu memilihkan kalung? Lalu Bu Tisha berbohong pada anda. Bagaimana perasaan bapak saat itu?" Gerry mencoba memutar balikkan pikiran Ray, membuka pikiran nya.


"Aku akan membunuh si Zayn!" Ray gemas dan marah hanya dengan mendengar nama nya saja. Dia tidak bisa membayangkan bila Tisha bersama Zayn dan membohonginya. "Aku juga akan marah pada Tisha karena merasa terkhianati." Lanjutnya.


"Ya kan? Perasaan Bu Tisha saat ini sama seperti itu." Gerry tersenyum bijak.


"Jadi menurutmu aku salah?" tanya Ray.


"Iya jelas lah, bapak salah." jawab Gerry tanpa ragu.


"Lalu apa kamu punya saran agar Tisha tidak marah padaku lagi?" Ray menyilangkan kedua tangannya di dada, menantikan saran dari sekretaris nya itu.


"Maaf pak, tapi saya hanya punya satu saran. Ajak Bu Stefani menjelaskan semuanya, lalu kurangi interaksi dengan wanita lain." Jelas Gerry tegas.


Ray terlihat berfikir, tiba-tiba dia menanyakan pada Gerry. Apakah dia bisa membatalkan kontrak dengan CY fashion dan berapa kerugian yang akan di tanggung oleh Argantara grup bila kerjasama nya batal. Gerry terkejut dan tidak percaya, bahwa Ray berfikir sejauh itu agar Tisha tidak marah lagi. Gerry memberikan saran lagi pada Ray, bahwa hal ini harus dibicarakan lagi dengan Tisha. Karena kerjasama dengan CY fashion memiliki banyak keuntungan jika diteruskan dan banyak kerugian jika dibatalkan. Belum lagi, nama baik Argantara grup juga dipertaruhkan.


Ray tampak bingung, karena jika kerjasama itu diteruskan maka dia mau tidak mau akan terus bertemu dengan Stefani. Wanita yang membuat istrinya cemburu. Kemudian Ray mengambil keputusan untuk mencoba memberikan penjelasan pada Tisha lewat Stefani, rekan bisnisnya itu.


Sebelum akan bertemu dengan Stefani untuk urusan bisnis, Ray menelpon dulu pada istrinya. Agar Tisha tidak salah paham lagi.


"Sayang, makasih udah mengangkat telpon ku." Ucap Ray lega karena telponnya diangkat oleh Tisha walaupun wanita itu dalam keadaan marah.

__ADS_1


"Ya, ada apa?"


"Aku akan bertemu dengan Bu Stefani, tidak berduaan kok. Aku, Gerry dan beberapa orang-orang dari perusahaan juga ada disana."


"Lalu?"


"Tentu saja kamu harus tau kemana suamimu akan pergi."


"Jadi, apa sekarang kamu sedang meminta izin padaku?" tanya Tisha heran.


"Tisha, aku tau kesalahan ku dan aku juga tau kalau kamu masih marah. Kamu berhak untuk marah, nanti aku akan jelaskan semuanya. Maafkan aku.." Ray bicara dengan suara penuh penyesalan.


"Kalau tidak ada yang mau kamu bicarakan lagi, aku tutup telepon nya."


"Hem iya, kamu dan anak kita baik-baik ya." Ucap Ray lembut.


Tut!


Tanpa mengucapkan apapun lagi, Tisha langsung menutup telponnya lebih dulu. Ray menghela napas, dia sudah tau akan begini jadinya. Setelah rapat dengan Stefani, Ray meminta pada Stefani untuk bertemu dengan Tisha dan menjelaskan kejadian kemarin. Stefani setuju untuk mendatangi Tisha, sekalian meminta maaf pada wanita hamil itu.


"Saya tidak tau kalau istri bapak sangat pencemburu. Tampaknya istri bapak sangat mencintai bapak." Stefani tersenyum menyeringai


"Tentu saja, kami saling mencintai. Tapi sebenarnya dia tidak akan semarah itu, ini adalah salah saya yang telah berbohong untuk memberinya kejutan. Saya mohon maaf, Bu Stefani harus terlibat." ucap Ray sopan.


"Tidak apa-apa, karena saya sudah terlibat. Mau bagaimana lagi." Stefani tersenyum palsu.


"Kalau begitu, kita pergi sekarang." Ray mengajak Stefani bertemu istrinya saat itu juga.


Ketika Stefani akan naik mobil Ray, pria itu melarangnya dengan sopan. Ray berkata bahwa hanya boleh ada satu orang wanita yang naik ke dalam mobilnya, yaitu Tisha. Stefani tersenyum pahit mendengar ucapan Ray yang menusuk hatinya. Betapa dia ingin meruntuhkan tembok kesetiaan pria itu. Akhirnya Stefani naik taksi, menuju ke rumah Ray. Wanita itu terlihat kesal dengan penolakan Ray, tapi dia masih tersenyum.


Semakin kamu seperti ini, semakin aku menginginkan mu Raymond.


Mereka pun sampai di depan rumah Ray. Stefani dan Ray segera masuk ke dalam rumah, mereka melihat Tisha sedang merajut syal. Terlihat beberapa kaus kaki bayi dan sweater bayi di sofa itu.


"Selamat siang Bu Latisha." Stefani tersenyum ramah, dia memperkenalkan dirinya."Saya Stefani, rekan bisnis pak Raymond."


Tisha merasakan ancaman di dalam mata Stefani, ancaman yang dia rasakan saat dulu berhadapan dengan Zevanya. "Sayang, ada yang mau dibicarakan Bu Stefani sama kamu." ucap Ray pada Tisha.


"Baiklah, silahkan duduk Bu Stefani." Tisha mempersilakan Stefani untuk duduk di sofa yang empuk itu.


"Terimakasih Bu Tisha." Stefani duduk di kursi ruang tengah rumah itu.


Tisha mencoba mendengarkan penjelasan, dia bahkan membuat minuman untuk tamunya, menemani mereka bicara. Ray juga ikut membantu Tisha membawakan minuman itu.


"Pertama-tama saya minta maaf karena sudah membuat salah paham diantara Bu Latisha dan pak Raymond." Stefani memulai pembicaraan lebih dulu. Dia pun menceritakan semua yang terjadi kemarin pada Tisha, bahwa dia lah yang mengajak Ray pergi bersama ke mall. Tapi mereka tidak pergi berduaan saja karena ada Gerry disana.


Ray awalnya menolak tapi karena pak Wiryawan, ayah Stefani yang meminta Ray untuk menemani Stefani. Saat makan bersama juga, hanya karena membicarakan bisnis. Padahal Tisha ingat benar kalau dia melihat Stefani berada di kamar mandi yang sama dengannya, dan sedang berias seperti seseorang yang akan menggoda pria. Tapi, Tisha tetap bungkam dan menjelaskan penjelasan Stefani sampai akhir. Wajah memelas itu terlihat jelas di mata Tisha. Dia yakin wanita ini punya maksud lain pada suaminya.


"Baik, anda sudah selesai menjelaskan. Saya sudah mendengarkan, kini giliran saya bertanya. Kenapa harus suami saya yang anda ajak ke toko perhiasan itu? Anda kan bisa meminta pria lain untuk menemani anda, jangan bilang anda tidak tau kalau suami saya sudah punya istri?" Pertanyaan itu terdengar sarkastik, ditambah lagi wajah Tisha yang menunjukkan kurang bersahabat.


"Apakah Bu Tisha menuduh saya memiliki maksud tersembunyi? Saya hanya menjalankan perintah ayah saya, untuk pergi bersama pak Ray." Stefani mulai berkaca-kaca, air mata menggenang dibawah matanya, bersiap untuk jatuh.


"Ketika suami saya menolak, harusnya anda menolak juga. Kenapa malah memilih jalan bersama dengan suami saya?" tanya Tisha sinis.


"Hiks.. hiks.. saya tidak percaya, kalau saya dituduh seperti ini." Stefani menangis tersedu-sedu. "Pak Raymond, saya tidak percaya kalau saya dituduh seperti ini oleh istri bapak."


Ray melihat Stefani menangis, tapi dia juga tidak membela Stefani. Apa yang dikatakan Tisha memang benar.


Benar, persis seperti masa lalu. Jadi, kamu ingin merebut suamiku? Kamu tidak akan bisa. Hubungan kami tidak akan pernah putu hanya karena hal seperti ini. Tisha menatap tajam ke arah Stefani. Dia yakin kalau Stefani adalah Zevanya kedua.


...---***---...


Maaf ya kepotong dulu, author lagi kurang sehat. πŸ™β˜ΊοΈ terimakasih buat dukungan kalian ya, berhubung ini hari Senin, boleh gak author minta gift atau vote nya? Komen sama like nya juga boleh πŸ₯°πŸ₯°β€οΈ

__ADS_1


__ADS_2