
πππ
Suara Tisha yang membentak dan emosi yang meluap-luap membuat Rasya syok. Lagi-lagi kata anak haram yang menjadi topik pembahasan, kata yang tidak ingin Rasya dengarkan.
"Darimana kamu yakin kalau anak mu bukan anak haram? hanya karena dia mirip dengan Ray bukan berarti dia adalah anaknya. Ku dengar kamu kabur dan tinggal bersama pria lain di luar negeri? siapa yang bisa menjamin bahwa anak itu adalah anak nya Ray?" tanya Dean panjang lebar
Ada dendam dan rasa iri di setiap kata-kata nya. Dia merasa seperti dianaktirikan oleh papa nya, jadi dia menyerang Ray dan Tisha sebagai pelampiasan amarahnya. Belum lagi kejadian Rasya bisa membuat posisi nya yang sudah terlupakan akan semakin terlupakan.
"Dean Argantara!! jaga bicaramu!! Rasya adalah cicit pertamaku dan dia juga adalah anak Ray dan Tisha!" seru Pak Faisal dengan penuh amarah menatap ke arah Dean
"Mama.. papa, bukannya aku sudah punya papa? kenapa aku masih dipanggil anak haram?" tanya Rasya yang akan menangis
"Tidak sayang, kamu bukan anak haram. Kamu anak papa dan mama, kamu punya orang tua" Tisha mengusap air mata anaknya, hatinya juga terluka mendapatkan hinaan itu. Meski sudah bukan sekali dua kali dia dapatkan, tetap saja hatinya sakit.
Dengan tangan gemas nya menahan marah, Tisha tetap berdiri teguh melawan orang-orang yang menghina putranya. Tidak tahan dengan hinaan dan ejekan Dean tentang Rasya, Tisha mengajukan tes DNA untuk Rasya dan Ray.
"Haha.. saking ingin nya kamu dan anak kamu menguasai harta kekayaan keluarga Argantara, kamu sampai ingin tes DNA?" tanya Dean dengan tawa sinis nya
"Ini bukan soal harta kekayaan, tapi ini soal harga diri dan kebenaran bahwa Rasya benar-benar anak Kak Ray.. saya menantang anda pak Dean" ucap Tisha kesal menatap ke arah Dean.
"Harga diri?" tanya Dean meremehkan ucapan Tisha, menatap nya sinis dari atas sampai ke bawah.
"Lakukan tes DNA, jika memang benar perkataan pak Dean bahwa anak saya bukan anak kandung kak Ray maka saya akan menghilang dari kehidupan kalian semua, tentu saja dengan membawa Rasya. Tapi.. jika tes DNA membuktikan bahwa Rasya adalah anak kandung kak Ray, anda harus berlutut meminta maaf pada saya dan anak saya!!" jelas Tisha dengan kejam dan tegas tanpa keraguan
Daniah, Ray dan pak Faisal tercekat melihat keberanian Tisha. Dimana Tisha yang dulu pernah menjadi istri Ray? Tisha yang lemah lembut dan selalu bersembunyi di belakang Ray, Tisha yang hanya bisa menangis tanpa bisa membalas.
"Hahaha..baiklah, aku terima tantangan mu" ucap Dean menyanggupi permintaan Tisha
__ADS_1
"Kamu tidak perlu melakukan itu, tanpa melakukan tes DNA, aku yakin bahwa Rasya adalah anak kita" ucap Ray penuh keyakinan tanpa ragu
"Benar Tisha, kamu jangan melakukan ini. Kakek juga percaya kalau Rasya adalah cicit kakek. Kamu jangan melakukannya" Pak Faisal
Pasti perasaan Tisha sangat terluka. Pak Faisal sedih melihat Tisha yang semarah itu pada Dean
Sarapan pagi itu berubah menjadi amarah, bahkan Ray yang akan berangkat kerja pun jadi tidak fokus karena memikirkan Tisha dan Rasya.
"Sha, kamu baik-baik saja?" tanya Ray sebelum akan berangkat bekerja
"Aku baik-baik saja, tapi aku khawatir dengan Rasya kak. Harusnya aku bisa menahan emosi, entah kenapa aku tidak bisa mengendalikan emosiku akhir-akhir ini" Tisha melihat ke arah Rasya yang sedang asyik bermain dengan pak Faisal di taman belakang rumah dan ada kolam renang disana. Wanita itu khawatir bahwa mental dan psikis nya akan terganggu dengan banyaknya pertengkaran dewasa di sekitarnya.
"Kamu seperti tidak tahu Rasya saja, apa kamu tidak lihat dia sudah tersenyum lagi? bukankah kamu bilang kalau ngambeknya Rasya itu tidak lama" Ray tersenyum melihat ke arah putranya yang sedang bermain lempar bola bersama sang kakek, "Sebaliknya aku mencemaskan kamu"
"Tidak perlu mencemaskan ku, aku baik-baik saja" kata Tisha yang tidak mau dipedulikan oleh Ray
"Dari luar memang, tapi aku gak tau hati kamu" Ray menatap cemas ke arah Tisha.
"Kenapa wajahmu merah? apa kamu demam?" tanya Ray sambil memegang kening Tisha, Tisha menepis tangan Ray.
"Jangan sentuh aku!"
Apa yang dia lakukan semalam? itu sungguh tidak tahu malu. Tapi aku harus pura-pura tidak tahu.
"Oh ya, apa kegiatan mu hari ini?" tanya Ray
"Untuk apa kamu tau? bukan urusanmu" celetuk Tisha sebal
__ADS_1
Aku sudah tau sih kalau kamu akan menemui si penipu makam itu. Tapi aku ingin tau saja dari mulutmu. Maafkan aku ya Tisha, aku berbohong...aku gak tau lagi bagaimana cara mengikat mu dan Rasya di sisiku. batin Ray merasa bersalah
"Baiklah, kalau ada apa-apa kabari aku" Ray pamit sambil tersenyum lebar
Suatu saat nanti dan bahkan tidak lama lagi, setiap pagi hari kamu akan mencium tanganku dan setiap pulang bekerja kamu akan menyambut ku dengan senyuman. Aku selalu menantikan hari itu, dimana aku mendapatkan kembali cinta dari kamu, Sha.
"Hati-hati" ucap Tisha pelan
"Apa kamu bilang?" lirik Ray pada wanita yang berdiri dibelakang nya
"Aku bilang hati-hati" Tisha memalingkan wajahnya
"
Tisha melihat Ray pergi bekerja. Tak lama kemudian Tisha menerima telpon dari kantor polisi berkaitan dengan penelpon yang mengaku akan menggusur makam ibu dan kakak nya.
"Bi Ani!" panggil Tisha pada Bi Ani yang sedang menyiram tanaman, Tisha terlihat terburu-buru
"Ya Bu Tisha, ada apa?" tanya Bi Ani sopan
"Bi Ani, bisa saya titip Rasya sebentar? dia kayanya sedang asik main sama kakek. Saya harus pergi mengurus sesuatu di kantor polisi" jelas nya pada Bi Ani
"Iya Bu Tisha, saya akan menjaga tuan muda Rasya. Bu Tisha tenang saja" ucap Bi Ani menyanggupi permintaan Tisha untuk menjaga Rasya
Sebelum pergi, Tisha berpamitan pada anaknya dan pak Faisal. Pria tua itu mengatakan pada Tisha bahwa Rasya akan baik-baik saja bersamanya. Terlihat jelas kalau Pak Faisal sangat menyukai cicitnya itu. Tisha tidak cemas lagi, dia pun pergi ke kantor polisi.
Sesampainya di kantor polisi, polisi menjelaskan bahwa seorang penipu dengan ancaman pembongkar makam tertangkap dan Tisha dipanggil kesana untuk menjadi saksi. Tisha terkejut karena kedatangan nya ke Jakarta, adalah karena penipuan seorang pria yang ingin meraup uang dari modus pembongkaran makam.
__ADS_1
"Penipuan? aneh sekali, kenapa bisa ada penipu dengan modus pembongkaran makam?" Tisha berfikir keras, dia berada di dalam mobil taksi yang melaju.
...---***---...