
πππ
Jika memang benar, Tisha mengandung.. apa yang harus aku lakukan?. Bu Fani gemetar ketakutan, menanti jawaban putrinya yang mungkin sangat tidak ia harapkan itu.
Mendadak bibirnya membeku, lidahnya kaku. Rasanya sulit menjawab pertanyaan dari ibunya. Padahal hanya sebuah pertanyaan yang sederhana, tapi kenapa hatinya sangat degdegan. Apakah itu karena Tisha melihat ibunya yang terlihat tegang menatap ke arahnya?
Tisha berjalan menghampiri ibunya yang duduk di atas ranjangnya. Mata sang ibu berkaca-kaca menatap ke arah Tisha. Sementara Arya kebingungan saat melihat wajah ibunya yang terlihat tegang.
"Latisha Anindita! jawab? berapa lama kamu tidak mendapatkan menstruasi mu?!" Bu Fani membentak anaknya yang hanya diam saja saat ditanya.
"Ibu.. ibu kenapa sih bicaranya bentak bentak gitu?" tanya Arya kebingungan melihat ibunya yang terlihat emosional
"Hampir tiga bulan bu" jawab Tisha dengan suara yang pelan
"Astagfirullah hal adzim.. tiga bulan kamu tidak mendapatkan menstruasi mu dan kamu baru bilang sekarang?!" Bu Fani memegang kedua tangan Tisha dengan erat, matanya menatap tajam ke arah anaknya.
Aku tau seminggu sebelum Tisha bercerai dari Ray, aku melihat ada beberapa bekas merah di tubuhnya. Apa Tisha benar-benar melakukan nya dengan si bajingan itu?!
"Ibu aku gak papa, aku selalu minum pil nya. Itu tidak mungkin terjadi, ini hanya masuk angin biasa dan soal aku tidak mendapat haid ku itu karena aku sedang stress banyak pikiran" jawab Tisha yang juga ragu dengan keadaan nya sendiri. Tisha tersenyum pahit, ia tak bisa membayangkan apapun selain meyakinkan dirinya sendiri bahwa dirinya sedang masuk angin dan stress.
Tidak, aku baik-baik saja. Aku tidak mungkin..
"Jadi kamu memang pernah melakukannya? berapa kali kalian melakukannya?" tanya Bu Fani dengan helaan napas panjangnya, dia tampak frustasi mendengar kata-kata Tisha. Kemungkinan Tisha untuk hamil sangat besar.
"..." Tisha enggan menjawabnya, kepalanya menunduk lemah dengan pertanyaan ibunya
"Tisha, jawab ibu!!" seru Bu Fani dengan suara yang meninggi
"Dua kali" Akhirnya Tisha menjawab dengan suara yang lemas.
"Apa kamu selalu meminum pil nya?" tanya Bu Fani yang terdengar seperti introgasi
"Pil apaan sih? melakukan apa??" Arya mengernyitkan dahinya, mata nya melirik ke arah Bu Fani dan Tisha yang sedang dalam pembicaraan serius mereka.
Mereka ngomongin apaan sih? kelihatannya serius banget.
Lagi-lagi Tisha diam, tak menjawab pertanyaan ibunya dengan cemas. Kini wajah Tisha terlihat sedih, berbeda dengan yang tadi.
"Tisha jawab!!" teriak Bu Fani
"Aku pernah melewatkan nya, satu hari Bu" jawab Tisha
DEG!
Jantung Bu Fani berdegup sangat kencang mendengarnya. Tanpa banyak bicara, ia mengambil tas nya dengan wajah yang diliputi keresahan.
__ADS_1
"Cepat berpakaian yang benar! ayo kita ke rumah sakit sekarang!" ajak Bu Fani dengan buru-buru
"Rumah sakit? apa Tisha sakit parah?" tanya Arya cemas
"Arya, kamu pergi bekerja saja jangan banyak tanya!" ujar Bu Fani pada anak sulungnya itu
Tisha tidak bicara, ia menurut saja pada ibunya. Mereka pun pergi ke rumah sakit untuk melakukan tes pada Tisha. Kini Tisha mulai resah kalau ketakutan nya akan terjadi, karena ia merasa ada sesuatu di dalam tubuhnya itu.
πππ
Di rumah keluarga Argantara, Zee dan semua anggota keluarga Argantara sedang makan siang bersama. Disana juga ada Ray dengan wajah dingin dan cueknya. Sama sekali tidak ada kebahagiaan di wajahnya itu, padahal ia akan menikah 3 hari lagi.
"Ray, kamu sudah fitting baju pengantin mu?" tanya Pak Faisal
"Sudah" jawab Ray sambil memakan makanan nya pelan-pelan.
"Undangan bagaimana?" tanya Pak Faisal sambil melihat ke arah Dean dan Ray.
"Papa tenang saja, undangan sudah disebar oeh Daniah, Nico dan Armand " jawab Dean pada papa nya itu, Dean tersenyum seperti biasanya.
"Terimakasih Daniah, Nico dan Armand" ucap pak Faisal dengan sedikit senyum di wajah keriputnya itu.
Ray akan mengambil minum, lalu Zee menyerobot mendahului Ray mengambil minum untuk Ray.
"Ini sayang" Zee tersenyum manis dihadapan calon suaminya itu
Zee tersenyum pahit, terlihat kesedihan dimatanya dengan perlakuan Ray yang sering menyakiti hatinya. Meski sudah biasa Ray bersikap begitu, tapi tetap saja Zee merasa sakit hati.
Seandainya kamu tidak salah paham padaku saat itu, apa kamu masih akan tetap mencintaiku dan seperti dulu? Aku memang berpacaran dengan Presdir itu tapi aku tidak pernah tidur dengannya. Karena aku hanya ingin tidur denganmu dan aku hanya mencintai mu saja. Tidak bisakah kamu melihatku Ray.. bahkan setelah kita tidur bersama pun, kamu masih saja begini.
"Uwekk.. uwekkk.." Zee tiba-tiba saja mual-mual. Semua orang disana kaget melihatnya, apalagi Bu Daniah dan pak Faisal.
"Zee, kamu kenapa sayang?" tanya Daniah dengan menunjukkan wajah cemasnya di depan Zee.
"Aku gak papa Tante.. uwekkk.. uwekk.." Zee menutup mulutnya dan mual-mual semakin parah
Apa jangan-jangan dia.. tidak! jika dia hamil, maka tidak akan ada kesempatan untuk suami dan kedua anakku untuk mendapatkan perusahaan lagi. batin Bu Daniah panik melihat Zee yang mual-mual.
"Ray cepat kamu bawa Zefanya ke rumah sakit!"
"Cuma mual mual doang kenapa harus dibawa ke rumah sakit?" tanya Ray cuek melihat Zee yang mual-mual.
"Kamu bawa dia ke rumah sakit Ray!!" ujar pak Faisal panik
"Ya ampun, oke deh. Asalkan kakek jangan ngomel-ngomel terus, nanti penyakit jantung kakek kambuh lagi" Ray malas sekali mengurusi Zee, jika bukan karena kakeknya. Ray tidak akan pernah peduli pada Zee.
__ADS_1
Ray, Zee dan seorang supir pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan. Zee berterimakasih pada Ray karena pria itu mau mengantarnya ke rumah sakit. "Kalau bukan karena kakek, aku juga malas meladeni kamu"
Lagi-lagi hati Zee sakit mendengar kata-kata ketus dari Ray. Tapi ia tetap menahannya demi satu kata cinta, yang mungkin terdengar bodoh untuknya.
Sesampainya di rumah sakit, Zee segera memeriksakan dirinya ke dokter umum. Ray menemaninya disana, Ray duduk di ruang tunggu. Setelah diperiksa oleh dokter itu, Zee melihat di meja dokter itu ada amplop panjang bertuliskan nama Tisha diatasnya.
Latisha Anindita? bukankah ini nama si cewek kampung itu? Ah mungkin bukan Latisha yang itu? pikir Zee di dalam hatinya.
"Bu Zefanya, kenapa anda melamun? saya akan membacakan hasil pemeriksaan anda nanti" ucap dokter wanita itu dengan senyum ramahnya.
"Iya dokter saya akan segera keluar" jawab Zee sambil tersenyum, ia masih menatap ke arah amplop itu dengan mata penasaran.
Aku harus melihatnya.
Dengan sengaja Zee pura-pura pusing dan mengacak-acak meja dokter itu. Beberapa berkas dan kertas di meja itu jatuh ke lantai dan berserakan. Seorang suster dan dokter kelimpungan melihat kertas-kertas yang berterbangan.
Dengan cepat Zee mengambil surat yang bertuliskan nama Tisha, ia membuka nya dan membacanya dengan cepat.
...Nama : Latisha Anindita...
...Usia : 22 tahun...
...Hasil pemeriksaan : 99,9 % positif hamil...
...Usia kandungan 8 minggu...
Zee langsung memasukan kembali hasil pemeriksaan itu ke dalam amplop setelah membacanya. Zee tersenyum pahit, ia pun memberikan amplop itu pada dokter.
"Maaf ya dok, saya gak sengaja" ucap Zee sambil tersenyum pada dokter
Dia bukan Latisha yang itu kan?
"Gak papa bu, ibu silahkan tunggu diluar ya" jawab Dokter itu ramah.
Zee keluar dari ruangan itu dengan wajah yang cemas. Zee takut kalau Latisha di dalam amplop itu adalah mantan istri dari calon suaminya. Zee kaget saat melihat Tisha dan ibunya sedang duduk di ruang tunggu, refleks Zee bersembunyi. Zee bersyukur karena pada saat itu Ray sedang tidak ada disana.
Apa dia benar-benar hamil dan itu pasti anak Ray, kan?. Mata Zee membulat kaget melihat kedua wanita itu masuk ke dalam ruangan.
Tisha dan Bu Fani masuk ke dalam ruangan itu setelah nama Tisha dipanggil oleh dokter. Dengan hati berdebar, Tisha dan Bu Fani bersiap-siap menerima hasil pemeriksaan Tisha.
"Selamat, anda akan menjadi seorang ibu, Bu Latisha" ucap dokter itu sambil menyerahkan amplop panjang bertuliskan nama Tisha di atas nya.
DEG!
Bagaikan disambar petir, Tisha dan Bu Fani langsung tercengang. Mata mereka membulat secara bersamaan.
__ADS_1
"A-Apa?" Tisha terpana mendengarnya.
...---***---...