
...๐๐๐...
"Apa ada lagi yang harus saya lakukan pak?" tanya Dion kepada pria yang duduk di kursi Presdir itu.
"Beritahu pada karyawan lain untuk merahasiakan identitas ku terutama nama" Zayn tersenyum pada Dion, gayanya terlihat berbeda dengan sosok sebelumnya sebagai seorang publik figur.
"Tapi semua orang pasti tau siapa bapak, bapak kan artis terkenal" kata Dion. Ya, siapa juga yang tidak mengenal Zayn Alterra di negara itu? namanya masih saja viral walaupun dia sudah mengatakan mundur dari dunia hiburan. Wajah yang mencolok membuatnya akan mudah dikenali semua orang.
"Ya, aku tau dia dan semua karyawan di perusahaan ini akan tau. Tapi jangan sampai mereka tau sekarang, sampai dia datang... identitas ku tidak boleh ketahuan. Paham?"
"Baik pak" jawab Dion kepada presdir barunya itu.
Aku benar-benar tidak habis pikir dengan pak Zayn, dia melepaskan mimpinya untuk seorang wanita. Aku jadi penasaran wanita seperti apa Bu Latisha Anindita ini, apakah dia cantik? ataukah dia sangat menarik? sehingga bisa membuat pak Presdir tergila-gila padanya.
"Kamu sudah boleh pergi" titah Zayn pada sektretaris nya, dia juga akan melakukan tugasnya sebagai Presdir Apparel desain di hari pertama masuk kerja.
"Ma-maaf sebelumnya pak, apakah saya boleh minta sesuatu pada bapak?" Dion berjalan mendekati Zayn dengan ragu-ragu, dia membawa sebuah buku binder dan bolpoin ditangannya.
"Ada apa ya?" tanya Zayn dengan wajah ramahnya.
"Maaf kalau saya lancang pak, jika boleh.. saya ingin meminta tanda tangan bapak" jawab Dion seraya meminta pada Zayn
Zayn tersenyum hangat, "Baiklah, dimana aku harus tanda tangan?" Zayn setuju
"Bapak baik sekali, pantas saja anak saya sangat mengidolakan bapak!" Dion langsung menyerahkan buku binder milik anaknya itu dan bolpoin. Dion senang karena Zayn bukanlah artis sombong seperti artis artis lainnya, Zayn adalah orang yang rendah hati dan ramah.
Zayn mengambil bolpoin lalu membuka buku binder itu. Dia melihat banyak foto-foto nya di dalam sana, Zayn terpana karena disana juga ada fotonya saat zaman SMA, ketika tubuhnya masih gemuk.
Dia juga heran karena anak sekretaris nya itu memiliki foto foto jadulnya.
"Kalau boleh tau anak pak Dion, dia berusia berapa tahun?" tanya Zayn sambil menandatangani buku buku binder itu
"Anak saya berusia 16 tahun, dia adalah fans berat bapak. Dia bahkan mengumpulkan foto-foto bapak dan selalu menghadiri konser bapak"
"Oh? benarkah? berarti dia masih sekolah ya?" tanya Zayn penasaran
Dia pasti fans ku dari kecil, aku pikir tidak akan ada fans yang usianya begitu muda seperti dia. Rata-rata fans ku kan usianya 20 tahunan.
"Iya pak, anak saya baru kelas 2 SMA. Begitu mendengar saya akan bekerja di bawah pak Zayn Alterra, saat mendengar nama bapak..anak saya langsung semangat dan meminta saya untuk meminta tanda tangan bapak...dia bahkan selalu memutar lagu-lagu bapak" Dion semangat menceritakan tentang putrinya itu.
__ADS_1
"Benarkah? seperti nya dia adalah fans beratku" Zayn tersenyum dan masih menandatangani buku binder itu.
"Itu benar sekali pak.. tapi belakangan ini dia sedang sedih pak" Dion tersenyum tipis
"Mengapa?"
"Dia sedih karena melihat bapak mengundurkan diri dari dunia hiburan, katanya bapak adalah panutannya" kata Dion menyayangkan Zayn harus mundur dari dunia hiburan.
Deg!
Ada perasaan tidak nyaman ketika Zayn mendengar ucapan Dion. Wajahnya berubah menjadi sedih. Dia teringat masa-masa nya ketika menjadi seorang publik figur.
Ini kehidupan ku sekarang, demi Tisha dan Rasya aku akan melakukan apapun.
****
Setelah melalui hampir 30 menit dalam perjalanan, Ray sampai di kantornya. Dia memulai aktivitas seperti biasa bersama Gerry, begitu juga dengan karyawan lainnya yang melakukan tugas mereka masing-masing. Ketika dia datang ke kantor, semua orang membungkuk dengan hormat kepadanya dan memberi salam selamat pagi.
"Selamat pagi pak" sapa karyawan karyawannya
"Pagi" Ray tersenyum dan menjawab sapaan karyawan nya itu
"Apa kalian lihat itu? pak Presdir tersenyum?" tanya karyawan wanita berambut pendek tak percaya melihat Ray tersenyum apalagi menjawab sapaan mereka.
"Ya, aku melihat nya!"
"Apa matahari terbit dari Utara??" tanya seorang wanita terlihat kebingungan.
"Seperti nya suasana hati pak Presdir sedang bagus" ucap seorang karyawan lainnya sambil tersenyum senang.
Ray dan Gerry naik ke lantai atas. Tak hentinya Ray tersenyum sendiri mengingat kejadian tadi pagi saat Tisha malu-malu padanya. Perhatian tapi jaim, itulah Tisha yang sekarang.
"Gerry, kamu sudah mengirimkan bunga itu ke alamat yang aku berikan?" tanya Ray sambil duduk di mejanya dan melihat beberapa dokumen tertumpuk disana.
"Sudah pak, beres" jawab Gerry sambil tersenyum
"Bagus, kamu selalu melakukan pekerjaan mu dengan baik. Lalu bagaimana dengan masalah Zevanya? kapan sidang nya akan dilakukan?" tanya Ray yang sebenarnya malas bertanya tentang Zevanya, jika bukan karena Tisha dan Rasya dia tidak mau menanyakannya.
"Akhir minggu ini pak" jawab Gerry
__ADS_1
"Beritahu pak Prapto, pastikan dia tetap mendapatkan hukuman mati" kata Ray dengan wajah yang menyeramkan, dingin, sangat murka hanya memikirkan Zevanya saja.
Karena Tisha sudah memutuskan hukuman Zevanya padaku, maka terserah aku dia mau dihukum bagaimana. Lebih baik memusnahkan dia selamanya. batin Ray sudah bertekad ingin memusnahkan Zevanya.
"Baik pak, saya akan segera memberitahukan pada pak Prapto" jawab Gerry sambil mencontreng contreng jadwal yang tertera di tab yang dia bawa.
"Lalu, apa kamu sudah mencari tau dimana tempat Tisha akan bekerja?" tanya Ray
"Saya tidak tahu pak" Gerry menggeleng
"Maka tugasmu untuk mencari tau"
"Saya juga harus mencari tau pak?" tanya Gerry
"Kamu bodoh sekali! baru sekali aku puji kamu langsung jadi lemot begini? tentu saja kamu harus cari tau! aku mau sore ini juga dapat laporan tentang Tisha bekerja dan dimana anakku akan bersekolah" Ray tidak mau tau, dia ingin laporan tentang Tisha dan Rasya secepat.
Dasar pak presdir ini posesif sekali, padahal tinggal bertanya saja dimana bu Tisha bekerja dan dimana tuan muda Rasya sekolah. Aku kan jadi tidak susah susah begini, masih saja ada tsundere tsundere nya.gerutu Gerry dalam hatinya
"Heh! ngapain kamu masih disini? ah... jangan-jangan kamu sedang mengutukku di dalam hatimu ya?" tuduh Ray melihat sinis pada Gerry yang melamun dengan wajah muram nya.
"Mana berani saya begitu pak, kalau begitu saya akan segera memberikan laporan kepada bapak jika saya sudah mendapatkan informasi nya" Gerry tersenyum profesional di depan Ray
Beratnya pekerjaan ini. keluh Gerry dalam hatinya, dia melangkah keluar dari ruangan itu.
"Oh ya, Gerry!"
"Ya pak?" Gerry membalikkan badannya secepat kilat
"Rapat dengan Presdir Apparel desain itu, kapan akan dilakukan?" tanya Ray
"Maaf pak, baru saja sekretaris nya memberitahu saya kalau rapatnya di undur ke hari esok. Karena ada pergantian Presdir baru hari ini"
"Begitu ya? Presdir baru?" Ray tampak berfikir, ia penasaran siapa Presdir baru dari perusahaan besar yang sudah mendunia itu. Perusahaan yang berada di bawah naungan keluarga kerajaan Inggris.
...---****---...
Hai Readers! author ada rekomendasi novel yang bagus bangetโบ๏ธ mampir ya, jangan lupa kasih love, like, komen nya juga
__ADS_1