Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 107. Permainan Zee


__ADS_3

...๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€...


Tisha dan Ray tiba disebuah gudang kosong, tempat yang disebutkan oleh Zevanya. Bersama anak buah Ray, mereka mencari Rasya dan Zevanya.


"Bos, kami tidak menemukan siapapun di tempat ini. Kami yakin tempat ini kosong" ucap seorang pria berpakaian hitam dengan tegas melapor pada Ray


"Kalian sudah menelusuri semua tempat?" Tanya Ray meyakinkan


"Sudah bos, tidak ada tanda siapapun pernah ada disini" jawab si pria berpakaian hitam itu.


Tisha semakin panik, Rasya tidak ada ditempat itu. Apakah Zevanya mempermainkan nya? Sebenarnya apa yang ingin dia rencanakan? Pikirnya dalam hati.


"Tisha, Zevanya tidak ada disini" Ray memberitahu Tisha


"Ya, aku juga tidak menemukan Rasya ataupun Zevanya disini. Apa maksudnya dia melakukan ini? Apa dia ingin mempermainkan kita? Ataukah Zevanya sudah ada niat untuk mem...mem.." Tisha terlihat galau, dia tak sanggup melambangkan kata-kata nya


"Itu tidak akan terjadi! Bukankah dia menginginkan kamu? Saat ini dia pasti sedang bermain-main dengan kita" kata Ray yakin bahwa ini adalah prank yang di siapkan Zevanya.


Drettโ€ฆ


Dreet..


Ponsel Tisha berbunyi, dengan cepat dia merogoh ponsel di dalam tas nya dan mengangkat telpon itu tanpa melihat siapa yang menelpon nya.


"Halo" jawab Tisha buru-buru


"Kamu sudah datang? Gimana? Apa anak haram mu ada disana?" Tanya Zee dengan wajah senang


"Aku sudah datang kemari tapi tidak ada kamu dan Rasya disini! Apa kamu bermaksud mempermainkan ku?!" Tisha kesal. Ray bisa menebak dengan siapa Tisha bicara dengan melihat wajah Tisha.


"Baiklah, sekarang aku serius. Datanglah sendiri ke jalan xxxx, jangan bawa Ray atau anak buahnya apalagi polisi. Karena aku akan tau dan anak kamu yang akan menanggung akibatnya" ancam Zee pada


Dia tau kalau aku datang bersama kak Ray dan anak buahnya? Karena itulah dia menghindar? Tisha terpana mendengar ucapan Zee yang tau segalanya


"Ba-baik, aku akan datang sendiri. Tanpa kak Ray, anak buahnya maupun polisi"


"Wanita j*l*ng! Dengarkan aku baik-baik, aku tidak bodoh" kata Zee dengan suara yang tegas dan menyeramkan


"...." Tisha tidak bicara dan dia langsung menutup telponnya dengan menahan kesal.


Ray bertanya apa yang dikatakan Zevanya padanya. Tisha mengatakan segalanya bahwa Zevanya bersembunyi dan memindahkan Rasya dari tempat itu karena dia tau kalau Tisha datang bersama Ray juga anak buahnya. Tisha pun meminta agar Ray dan anak buahnya tidak ikut campur dalam hal ini.

__ADS_1


Anehnya Ray langsung setuju dan dia tidak berdebat dengan Tisha seperti biasanya. Ray tau Tisha adalah orang yang keras kepala, makanya dia membiarkan Tisha melakukan apa yang dia inginkan dan mengiyakan nya begitu saja.


Tisha pergi menaiki mobil taksi seorang diri tanpa menyebutkan kepada Ray dimana lokasi tempat nya akan bertemu Zee, sementara Ray dan anak buahnya hanya melihat dari belakang.


"Bos, apa bos tidak akan mengikuti nyonya? Apa bos akan membiarkan nyonya pergi seorang diri?" Tanya seorang anak buahnya, bernama Jefry


"Bodoh, mana mungkin aku membiarkan istri dan anakku berada dalam bahaya. Kita ikuti dia, diam-diam" ucap Ray memerintah pada anak buahnya


"Baik bos!" Jawab anak buahnya patuh


Beberapa menit kemudian, Tisha sampai disebuah tempat seperti antah berantah. Tempat yang tidak terawat dan berada di pinggir hutan. Dia sempat tidak yakin kalau tempat itu adalah tempat yang diminta Zevanya untuk bertemu.


Tisha masuk ke sebuah gedung berlantaikan 3, gedung kosong yang pembangunan nya tidak diselesaikan. Dia melangkah menaiki anak tangga, suasana disana sungguh mencekam karena hari ternyata sudah mulai gelap.


Ternyata Zee tidak hanya seorang diri disana, ada tiga orang berbadan besar berada bersamanya yang entah siapa.


"Wow, berani juga kamu datang sendiri kesini" Zee bertepuk tangan memberi selamat pada Tisha dan memuji keberanian nya.


Deg!


Langkah Tisha terhenti saat melihat Zee dan ketiga orang pria bertubuh besar itu, tampak seperti preman. Tisha sempat berdebar melihat pria-pria itu, namun dia sudah memantapkan hatinya untuk menolong Rasya.


"Dia ada disana" tunjuknya pada sebelah kiri ruangan itu.


Tisha melirik ke arah kiri Zevanya, dia melihat Rasya diikat disebuah kursi dengan mulut terikat solatip.


"hmphh!! Hmphh!!" Rasya menggeleng-gelengkan kepalanya, seolah mengisyaratkan sesuatu


Mama, mama jangan kesini ma..mama jangan kesini! Wanita ini gila ma! Ucap anak berusia lima tahun itu dalam hatinya.


"Rasya! Sayang!!" Seru Tisha tak tega melihat anaknya di perlakukan kasar seperti itu, tanpa pikir panjang dia berlari menghampiri anaknya.


Langkahnya terhenti saat kedua orang pria bertubuh besar itu menghalangi jalannya. "Minggir kalian! Jangan halangi jalanku!" Seru Tisha sambil mendorong kedua pria itu dengan sekuat tenaganya.


Kedua pria itu tidak mau menyingkir, Zee tersenyum santai melihatnya. "Kalian tidak mau menyingkir ya??"


Dengan galak Tisha menendang bagian anu kedua pria itu, memakai tendangan maut nya.


Bugh!


bugh!

__ADS_1


"Arrggh!!! Si*l*n! Apa yang kamu lakukan pada burungku?" Pria satu merintih kesakitan sambil memegang bagian tengah tubuhnya.


"Wanita ini benar-benar mengesalkan!" Seru pria dua sambil mendorong Tisha hingga wanita itu jatuh tengkurap di depan Rasya.


BRUGH!


"Ahhh!!"


Mama!. Teriak Rasya panik di dalam hati melihat mama nya terjatuh.


Ketiga pria bertubuh besar itu tertawa melihat Tisha terjatuh sampai lututnya terluka.


"Selamat datang di dalam permainan ini Latisha. Judul permainannya adakah kasih sayang ibu pada anaknya, tujuannya adalah mengukur seberapa besar cinta ibu kepada anaknya, dan cinta mu terhadap anak haram mu" Zee mendekati Tisha yang terduduk di lantai, dengan sepatu heels nya dia menginjak tangan Tisha.


"Arrgh!!! Lepaskan!!" Tisha memberontak dan menggigit kaki Zevanya agar kaki nya menyingkir dari tangannya. Tisha melihat telapak tangannya yang berdarah.


"Auww!! Galak sekali sih! Ya sudah, aku tidak akan melayani mu dulu. Aku lebih suka bermain-main denganmu" Zee tersenyum menyeringai pada Zevanya


"Kamu mau apa sih??!" Tanya Tisha emosi, dia berdiri tegap di depan Zee.


"Hahaha.. lewati jalanan itu, jika kamu berhasil aku akan membiarkan kamu dan anakmu bebas hidup-hidup dari sini" Zee menunjuk ke sebuah jalan penuh bara api yang sudah disiapkan anak buah Zee untuk Tisha.


"Untuk apa aku melakukan nya? Aku melakukan itu kalau aku sudah gila!" Tisha berlari ke arah Rasya, namun langkah nya terhenti saat salah satu anak buah Zee melukai Rasya dengan sengaja. Bahkan membuka solatip hitam yang terpasang di mulut Rasya agar suara nya terdengar.


"Ahh!! " Rintih Rasya kesakitan karena tangannya di sayat oleh silet


"Ka-kamu sudah gila!! Kenapa kamu melukai anak kecil??! Lepaskan dia! Lepaskan!!" Teriak Tisha sambil berusaha menggapai ke arah Rasya, hatinya seperti tertusuk pedang melihat anaknya disakiti oleh orang-orang itu. Tisha sendiri di hadang oleh kedua orang lainnya yang memegang tangannya.


"Lewati jalan itu! Lalu anakmu tidak akan terluka!" Ujar Zee pada Tisha.


Tanpa basa-basi, Tisha berjalan menuju ke arah bara api. "Mama! Jangan ma.. jangan!!" Teriak Rasya


Tisha baru melangkahkan satu langkah diatas bara api itu, dia menahan sakit dan panasnya api yang membakar telapak kakinya. Semua itu demi Rasya, sementara Zevanya tertawa puas melihat Tisha menderita.


Sebelum Tisha melangkah lebih jauh, suara sirena polisi terdengar disana.


Wiuw...wiuww..


...****...


...Maaf ya untuk dua bab ini agak acak acakan, soalnya author baru pulang dan ngebut ngetiknya ๐Ÿคญ...

__ADS_1


__ADS_2