
...πππ...
Ray, Tisha dan Rasya sarapan pagi bersama. Saat sarapan, Tisha terus melirik Ray dengan tajam. Entah apa yang dia pikirkan.
Pasti Tisha ingin bertanya tentang obrolan ku di telpon. Lebih baik jangan dibicarakan sekarang.
Apa yang dibicarakan nya dan pak sekretaris? Aku yakin ada aku di dalam pembahasan nya.
Rasya merasakan ada yang salah dengan kedua orang tuanya. Yang satu melirik tajam, yang satunya lagi buang muka. Dia merasa bingung, padahal semalam kan sudah berbaikan bahkan orang tuanya tidur di dalam kamar yang sama. Lalu kenapa?
Mama sama papa kenapa ya? Padahal udah baikan, kok malah begini lagi? Kalau gini, gimana caranya aku punya adik bayi?
"Mama, papa!"
"Ya?" dengan kompaknya Ray dan Tisha menoleh ke arah putranya.
"Aku pengen lihat mama sama papa suap suapan!"
"Hah? Kenapa begitu tiba-tiba sayang?"
"Orang tua temanku ada yang suap-suapan, aku mau lihat papa sama mama seperti itu juga. Kenapa? Gak mau?" dengan mata polosnya Rasya menatap kedua orang tuanya. Membuat Ray dan Tisha tidak bisa menolak keinginan nya.
Mereka baru saja bersama ,tentu aja Rasya ingin melihat keharmonisan keluarga nya seperti keluarga yang lain di luar sana.
Tisha pun mengambil sepotong roti, dia menyuapi suaminya dengan perantara tangan. Memang tidak ada yang terjadi, dan semuanya seperti biasa. Hanya saja ada yang berbeda dari sikap Tisha, itulah yang dilihat Rasya.
Ketika Tisha pergi ke kamar mandi sebelum berangkat. Rasya segera mengintrogasi papa nya. Menatap sang papa dengan tajam. "Papa!"
"Ya sayang?"
"Papa ada buat salah apa lagi sama mama?!" tanya Rasya penasaran.
Kenapa anakku bertanya seolah-olah aku selalu membuat masalah? Ray mengerutkan kening, begitu mendengar pertanyaan tegas dari putra nya.
"Papa gak ada salah apa-apa kok. Papa sama Mama baik-baik aja! Semalam kami juga tidak apa-apa!" jelasnya pada sang anak.
"Benarkah? Lalu kenapa mama terlihat aneh? Pasti papa membuat masalah lagi, kan? Awas kalau papa membuat mama sedih!" Ancam nya pada Ray, papa nya sendiri.
Ray terperangah mendengar ancaman dari anak usia 5 tahun yang tak lama lagi masuk sekolah dasar itu.
Anak ini sedang mengancam papa nya?!
"Beneran papa gak ngapa-ngapain mama kamu!" Ray menggelengkan kepalanya.
"Ayo berangkat, sudah siang nih!" Ajak Tisha sambil mengambil tas selempang nya.
"Ya ayo ma!" jawab Rasya sambil tersenyum lebar pada mamanya.
Ray dan Tisha mengantar Rasya terlebih dulu ke sekolah nya. Setelah yakin Rasya aman, dengan perlindungan bodyguard Ray disisinya juga. Ray mengantar Tisha pergi kerja.
Di dalam perjalanan itulah, Tisha memulai percakapan. Dia bertanya pada suaminya tentang pembicaraan nya dan Gerry. Ray beralasan bahwa itu adalah masalah pekerjaan.
"Jelas-jelas ada kata istriku disana! Berarti ada aku kan? Atau itu istrimu yang lain?" tanya Tisha curiga dengan mata tajamnya.
"Istri yang lain? Sayang kok kamu mikirnya gitu sih, gak ada orang lain selain kamu! Masa iya aku punya istri yang lain.. haha" Ray tertawa kecil mendengar ucapan Tisha.
"Aku serius lho, siapa yang tadi malam bilang tentang kepercayaan, kejujuran dan komunikasi? Apa kamu mau begini saja?" wanita itu menyilangkan kedua tangannya di dada.
Harus beralasan apa? Dia gak boleh sampai tau kalau aku menyimpan orang-orang ku di kantor nya untuk mengawasi dia.
"Baiklah, aku mengaku...kalau aku menyelidiki presdir di perusahaan mu!" Ray memutar otak, dia mencari alasan untuk menutupi soal dirinya yang menyuruh orang masuk ke dalam perusahaan Apparel desain untuk mengawasi Tisha.
"Presdir di perusahaan ku?"
"Iya, hari ini Presdir baru Apparel desain akan tiba. Aku meminta Gerry menyelidiki nya, dan orang itu.."
__ADS_1
"Apa kamu mengenalnya?"tanya Tisha yang percaya pada Ray.
"Ya, dia bukan orang baik. Aku harap kamu menghindar darinya." Ray mengingatkan Tisha untuk menghindar dari atasan barunya.
"Jadi dia siapa? Apa kenalan mu atau musuh?" tanya Tisha penasaran dengan sosok Presdir barunya ini.
"Pokoknya hubungan nya dan aku kurang baik. Ada baiknya kalau kamu tidak terlibat dengannya, tapi karena kamu bekerja disana..aku mengerti. Kamu tidak boleh dekat dengannya sayang,"
"Ya deh, kalau kamu belum bisa cerita ya gak apa-apa. Aku akan menjauhinya seperti apa yang kamu mau,"
"Makasih sayang, kamu sangat pengertian."
Tidak apa-apa, orang-orang ku yang nanti bekerja disana akan berusaha menjauhkan mu dari nya.
"Kita suami istri, jadi harus pengertian kan?" Tisha tersenyum dan kecurigaan nya pada Ray telah mereda.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di depan kantor Tisha. Tisha hendak keluar dari mobil, dia berpamitan pada suaminya.
"Kak, aku pergi bekerja dulu ya." Tisha meraih tangan Ray dan mencium punggung tangan suaminya dengan sopan.
"Iya sayang. Oh ya, jangan lupa besok ada wawancara dengan salah satu media." ucap nya mengingatkan.
"Heem, aku gak lupa kok. Ya udah aku berangkat dulu!" tangan Tisha hendak membuka pintu mobil, kemudian Ray menarik tangan Tisha hingga wanita itu kembali duduk di jok mobil. "Ada apa?" dia menengadah.
"Kiss bye isi daya dulu! Sekarang udah bisa kan?" pria itu menunjuk pipi nya dengan senyuman manja.
Tisha menggeleng-geleng, dia tersenyum manis. Kemudian bibirnya mendekati pipi sang suami. Ray sengaja berbalik agar bibirnya yang tersentuh, alhasil mereka jadi berciuman.
"Hmph!!"
Tangan Ray meraih tubuh mungil istri nya, memeluknya dengan lembut. Bibirnya terbenam di dalam bibir berwarna merah itu.
"Katanya mau kiss bye! Oh, aku merasa ditipu!" Pekik nya terkejut.
"Ya sudah, aku tidak akan mempermasalahkan nya. Aku berangkat ya!"
Hihi, ada noda lipstik ku disana. Biarkan saja ah!. Tisha cekikikan di dalam hatinya, melihat noda lipstick miliknya belepotan di sudut-sudut
bibir suaminya.
"Hati-hati saja, bayaran nya cukup memuaskan! Aku akan minta lagi nanti malam." Pria itu tersenyum puas.
Tisha mengepalkan kedua tangannya, "Mati saja lah kamu!"
Ray pergi ke kantornya, Tisha juga masuk ke dalam gedung kantornya. Kini semua orang sudah tau kalau dia adalah istri Raymond Argantara karena berita yang berada di media sosial. Semua orang memperlakukan nya dengan berbeda. Ada yang menunjukkan benci dan ada yang semakin mendekatinya.
"Padahal kamu gak usah repot-repot bekerja seperti ini, Tisha...kamu tinggal diam di rumah saja, suamimu itu Raymond Argantara, pria paling hebat dan kaya." jelas Nia pada Tisha yang sedang duduk di meja kerja nya.
"Benar, kalau aku jadi kamu aku akan diam saja di rumah dan melahirkan banyak anak untuknya.. haha.." Erika salah satu teman dekat Tisha. Dia bercanda pada Tisha.
"Dia juga meminta ku seperti itu, tapi dia tau kalau ini adalah cita-cita ku sejak dulu. Jadi mau tidak mau dia harus setuju," jawab Tisha sambil tersenyum ramah.
"Oh begitu ya. Aku gak nyangka kamu pernah bercerai dengannya dan sekarang menikah lagi. Benar-benar kisah cinta yang seperti drama." Erika tersenyum tulus.
"Heem, kami berpisah selama enam tahun karena sebuah kesalahpahaman dan-"
"Semua orang ayo berkumpul! Presdir baru sudah datang, kita harus menyambut nya!" Seru Riani, ketua tim desain utama.
"Baik Bu!" jawab para karyawan patuh. Mereka beranjak dari kursi mereka dan menyambut Presdir baru itu di depan kantor. Mereka berbaris dan membungkukkan setengah badan di dalam presiden itu
Terlihat seorang pria tampan dan gagah yang baru keluar dari sebuah mobil mewah. Bersama dengan Dion dan beberapa pengawal di sampingnya. Pria itu memakai kacamata hitam.
Dia berjalan masuk ke dalam kantor tanpa memperhatikan siapapun yang menyambutnya.
"Selamat datang Presdir!"
__ADS_1
Sambutan hangat itu disambut dingin oleh nya, kemudian dia membuka kacamata nya ketika dia melihat Tisha. Matanya menatap wanita itu dengan tatapan aneh, bukan tatapan suka ataupun tidak suka. Tapi, tatapan yang menganalisa.
Deg!
Kenapa aku merasa dia sedang menatapku?
Tisha tercekat, dia berdebar dan menelan ludah, ketika Presdir baru nya itu menatap dirinya dengan tatapan tidak biasa.
Apakah dia wanita nya Ray? batin pria itu tajam.
"Dion!"
"Ya pak, semua orang di setiap departemen! Tidak boleh pulang dulu malam ini!"
"Ya pak?" Dion tak paham apa maksud presdir barunya itu.
"Malam ini, aku akan mengadakan pesta penyambutan kedatangan ku yang diadakan oleh ketua tim Bu Riani."
"Benar pak, saya sudah menyiapkan nya!" jawab Bu Riani, ketika pria itu menoleh ke arahnya.
"Ya, malam ini tidak boleh ada karyawan yang pulang lebih dulu. Sekalipun dia adalah istri pejabat atau istri presiden!" dia melirik tajam ke arah Tisha seolah memusuhinya.
Tisha tercekat lagi, sekarang dia merasa kalau pria itu memusuhinya. Tapi kenapa? Apa ini ada hubungannya dengan yang dikatakan Ray padanya?
Orang ini seperti nya dia memusuhi ku, apa dia musuh kak Ray? Dan dia tau aku adalah istri nya? Ya, siapa juga yang tidak tau kalau aku istrinya, semua orang sudah tau.
Setelah menyambut Presdir baru itu, semua karyawan kembali bekerja ke tempatnya masing-masing. Riani langsung menanyakan pada Tisha apakah dia mengenal Presdir baru itu, karena tatapan nya pada Tisha sungguh berbeda.
"Saya tidak mengenalnya Bu, saya juga tidak mengerti kenapa dia menatap saya seperti itu!" jawabnya bingung.
"Iya, itulah yang membuat saya bertanya. Kenapa dia menatapmu begitu ya? Aneh?" Riani terlihat berfikir.
Disaat bersamaan, ke dalam tim desain datanglah seorang wanita karyawan baru dibawah bimbingan Tisha. Dia adalah Shara.
Sore itu, Tisha menelpon suaminya yang akan menjemput nya sepulang kerja. Dia memberitahu Ray kalau dia akan pulang malam.
"Kenapa sayang?" tanya Ray kecewa dan heran.
"Maafkan aku, untuk malam ini saja aku akan pulang terlambat. Ada makan malam perusahaan, dan aku tidak bisa menolaknya."
Kalau aku melarangnya, dia pasti akan marah. Ya sudah, ada Shara disana yang akan menjaganya.
"Baiklah, jangan pulang terlalu malam. Nanti Rasya akan menanyakan mu"
"Iya sayang, maafkan aku ya. Makan malam nya kalian minta Bi Ani menghangatkannya, aku sudah masak kok tadi pagi." jelasnya pada Ray.
"Hem, sayang.. kamu jangan makan dan minum sembarangan ya! Kalau Presdir baru mu itu menawarkan sesuatu, kamu harus menolak! Paham?!"
Aku ingin datang dan menemaninya, tapi dia pasti marah. Dan Rasya juga tidak ada yang menjaga.
"Iya sayang baiklah, kamu tenang saja."
Malam itu Tisha dan semua karyawan disana pergi makan malam di sebuah restoran mewah. Presdir baru itu yang mentraktir mereka semua untuk makan sepuasnya.
"Diantara kalian pasti belum ada yang tau nama saya kan? Perkenalkan nama saya Derrick Anthony Mackie, saya adalah Presdir baru kalian!"
"Selamat datang pak Derrick!" seru para karyawan disana dengan suara yang lantang menyambut Presdir baru mereka.
...---***---...
Jangan lupa like, vote, gift dan komen nya ya π₯° author mau up lagi nih, tapi mana suaranya?
sambil nunggu up mampir ke karya author kece yang satu ini yukππ₯°
__ADS_1