
Wanita itu mengunci pintu kamarnya dengan kesal setelah mendorong pintu itu sehingga menimbulkan suara gaduh. Dia kesal pada suami dan anaknya yang bertengkar hanya karena hal sepele.
"Hah, mereka sangat menyebalkan! Hanya karena hal sepele, mereka seperti anak-anak! Ah ya, Rasya ku kan masih anak-anak. Nah ini kak Ray? Dia kan sudah dewasa dan berumur, seharusnya dia mengalah!" Gerutu nya tak henti sampai dia berbaring di ranjang nya, lalu menarik selimut.
Tok, tok, tok
"Sayang..sayang buka pintunya dong..sayang.." suara Ray terdengar dari luar pintu kamar.
Tisha masih terbangun dengan wajah kesal dia duduk di ranjang. "Haihh.."
"Ma, mama buka pintunya dong..Rasya sama papa mau bicara nih.."
"Kalian jangan ganggu mama, tidur saja berdua sana!" seru Tisha kesal.
Deg!
Ray dan Rasya sama-sama khawatir mendengar suara Tisha yang masih kesal. Mereka saling melirik, sambil bertanya-tanya di dalam hati nya. Apa yang harus mereka lakukan untuk membuat Tisha tidak marah lagi.
"Apa mama mu memang selalu galak seperti ini?"
"Iya, mama memang selalu galak dan mudah marah! Tapi kalau lagi baik, mama pasti baik banget.."
Tidak ku sangka Tisha bisa berubah menjadi sangat galak. Padahal dulu dia adalah wanita lemah lembut dan penyabar. Kucing kecil itu sudah berubah menjadi kucing garong. Ray menggeleng-geleng tidak percaya dengan sikap Tisha yang sekarang.
"Papa kenapa?"
"Rasya sayang, gimana caranya buat mama kamu gak marah lagi?"
"Besok juga mama pasti sudah baikan, mama kan marah gak suka lama-lama. Udah pa, kita tidur aja!" Rasya menguap, dia sudah tau sikap mama nya jika sedang marah tidak akan lama.
"Tapi.. papa gak bisa biarkan mama kamu tidur sendirian, papa kan mau buat adik bayi sama mama kamu." bisik nya pada anak berusia 5 tahun.
"Jadi papa sama mama harus tidur di dalam kamar yang sama?" tanya Rasya dengan wajah polosnya.
"Iya, makanya bantu papa ya! Supaya bisa berbaikan dengan mama malam ini.."
Rasya merenung berfikir, "Gimana kalau buatkan mama muffin coklat, mama pasti suka!"
"Muffin coklat?"
Ah benar juga, Tisha kan suka makanan yang manis-manis. Jika aku buatkan dia makanan yang manis-manis, dia pasti akan memaafkan ku, kan? Tapi kemampuan masak ku itu..
Sementara itu di dalam kamar, Tisha keheranan karena tidak mendengar suara Ray dan Rasya lagi. Tisha mengira kalau Ray dan Rasya pasti sudah tidur di kamar yang lain. Akhirnya Tisha memutuskan untuk berbaring dan berniat tidur.
Beberapa menit kemudian, Tisha mencium bau gosong yang aneh. Bau itu membuatnya terbangun, "Apa terjadi kebakaran?"
Dia beranjak dari ranjang dan segera berlari keluar kamar. Menuju bau terbakar di arah dapur, dia takut kalau dapurnya kebakaran. Dan benar saja, disana sudah ada asap mengepul berasal dari microwave.
"Uhuk..uhuk..ada apa ini?" tanya Tisha pada Ray yang sedang berdiet di depan microwave dengan wajah cemong.
"Gagal lagi...gagal lagi.." gumam Ray sambil melihat kue gosong di dalam microwave.
"Kamu mau membakar dapur ya? Ya ampun, kamu mengulangi masa lalu. Kan aku bilang kamu jangan masuk ke dalam dapur!" Tisha melihat kue yang gosong itu. Dia sudah mengingatkan Ray berkali-kali untuk jangan menyentuh dapur lagi.
"Tapi aku ingin membuat kue untuk kamu, kamu malah memarahiku.." Ray menundukkan kepalanya dan terlihat sedih.
Tak tega melihat Ray bersedih, Tisha pun meminta maaf lalu menghibur suaminya. "Ya sudah tidak apa-apa, aku akan membereskan nya." Tisha kembali tersenyum pada pria yang sedang cemberut itu.
Mata Tisha beralih pada jari-jari Ray yang terbakar. "Ah.. apa yang terjadi? Kamu terluka, kak? Kenapa bisa terluka begini?" tangan Tisha memegang jari-jari Ray yang merah, menatapnya dengan cemas.
Sungguh bahagia hati nya mendapatkan perhatian dari istrinya, dan dia mengira kalau Tisha sudah memaafkannya. "Tanganku memegang microwave yang panas, jadi seperti ini.." dia menunjukkan wajah memelas ingin dikasihani oleh Tisha.
"Aku ambilkan salep dulu ya untuk mengobati lukamu," wajah khawatir itu masih terlihat pada Tisha.
Ray memegang tangan Tisha, dia tersenyum licik, "Sayang, gak usah pakai salep. Pakai mulutmu saja!"
"Hah? Apa maksud kamu? Udah ah aku mau ngambil dulu salep dikotak obat!" Tisha bergerak buru-buru, tapi Ray tetap memegang tangannya. "Ada apa?"
"Luka di jariku hanya bisa di obati pakai mulut mu, ayo Tisha.. cepat, aku kesakitan." Ray tersenyum manis.
Akhirnya Tisha meladeni ucapan suaminya, "Dengan cara apa? Gimana caranya?" tanya Tisha.
"Tiup jariku yang terluka!" jawab Ray tegas.
"Ya ampun, kamu seperti anak ke-"
"Cepetan dong sakit!" Ray memangkas ucapan Tisha yang belum selesai. Dia bertingkah manja pada istrinya.
Tisha menggelengkan kepalanya, dia tak percaya bahwa suaminya bertingkah manja lagi. Tisha meniup jari Ray yang terluka. "Pwuhh.. pwuhhh.., gimana? Udah baikan?" tanya Tisha sambil menoleh ke arah suaminya, yang sedang menatap dirinya.
__ADS_1
"Belum," Pria itu geleng kepala sambil tersenyum.
"Belum? Tuh kan, aku bilang juga apa.. harus diolesi salep!"
"Sekarang pakai lidahmu untuk mengobati nya,"
Tisha terperanjat mendengar nya,"Ah? Apa?"
"Jilat jari ku yang terluka, aku yakin setelahnya akan lebih baik." Ray tersenyum tanpa merasa bersalah.
"A-aku, kamu.."
Hanya minta dia menjilat jari saja, Tisha langsung merasa aneh. Ada sesuatu di dalam hatinya.
"Tisha.. tanganku sakit, tolong jilat.."
"Kamu mesum deh, udah ah aku mau ambil salep."
Pantas saja aku merasa ada yang aneh? Ternyata dia sekarang sangat mesum.
"Sha.." Ray memegang erat tangan Tisha, menatapnya dengan nanar.
"Kamu tidak akan melepaskan ku kalau aku belum melakukan nya kan?" Tisha bertanya dengan tajam.
"Benar, kamu tau aku dengan baik kan?" Ray tersenyum lebar, berharap Tisha melakukan apa yang dia mau.
Tanpa banyak bicara, Tisha memasukkan jari-jari Ray yang terluka ke dalam mulutnya. Lidahnya menjilat ketiga jari itu.
Gawat! Kenapa aku tiba-tiba merasa panas?
Kepanikan melanda di dalam diri Ray, dia menelan saliva nya kuat-kuat. Gerakan Tisha menjilati jarinya, telah membangunkan sesuatu yang tidak seharusnya. Ya, ini memang salahnya karena membuat istrinya melakukan hal itu.
Ray termenung, dia terperangah, Tisha masih menjilat jarinya. "Kak, sudah lebih baik kan?"
"Haahh..haaahh.." Ray berusaha mengatur napasnya yang terengah-engah.
Tanpa banyak bicara, tangan kekarnya menangkup tubuh Tisha dan mengendong nya tiba-tiba. "Ahh! Kak, apa yang kamu lakukan?!"
"Ayo ke kamar, aku tidak tahan lagi." ucap Ray dengan wajah merah membara dan tatapan nanar yang ditujukan untuk istrinya.
"Ah! Apa? Jangan!" Tisha langsung terkejut dan menolak ketika tatapan mata yang mengajak itu menghampiri dirinya.
"Jangan apa? Melayani suami adalah kewajiban mu, menolaknya berarti kamu berdosa!" seru Ray yang ingin melakukan nya lagi, setelah dua hari dia melakukan nya tanpa henti di hotel.
"Be-besok aku bekerja! Besok aku-"
Tisha terkesiap dengan mendaratnya ciuman di bibir dari suaminya. "Akhph!!"
"Mau di dapur atau dikamar?" tanya Ray yang tidak mau ditolak. Dia dan istrinya masih berada di area dapur. Tisha melihat kesana kemari dia takut kalau Rasya bangun karena suara berisik mereka.
"Ka..mar.."
"Bagus!" Ray menyunggingkan senyuman liciknya.
"Ta-tapi, jangan berisik.. nanti Rasya dengar, dan jangan lama-lama!" Wanita itu menatap tajam suaminya.
Pria itu hanya mengangguk patuh. Dia membawa istrinya ke dalam kamar, kemudian menuntaskan hasrat yang terbangun di dalam sana. Beruntung nya kamar itu kedap suara dan jaraknya jauh dari kamar Rasya, hingga suara teriakan dan erangan Tisha juga suaminya tidak terdengar. Terlebih lagi anak itu juga tertidur sangat pulas.
Anggukan patuh itu ternyata hanya sekedar anggukan saja, nyatanya Tisha dibuat lelah sampai dini hari. Dia kesulitan bangun dari tempat tidurnya, sementara Ray hanya tersenyum penuh kepuasan.
"Ini tidak adil!" ucap nya sebal mengarah pada sang suami.
"Apanya sayang?" Ray memainkan rambut panjang Tisha. Dia tidak memakai baju atasan, hingga otot-otot nya yang sixpack itu terlihat.
"Kamu bahkan tidak lelah.. sama sekali..hahh.." Tisha berbaring dengan tubuh tengkurap, napasnya terengah-engah. Dia terlihat lelah, keringat di wajahnya bercucuran.
"Itu karena kamu tidak rajin berolahraga, makanya kamu cepat lelah," dengan perhatian Ray memijat punggung istrinya yang serasa mau remuk itu.
"Bukannya aku yang tidak rajin berolahraga, tapi kamu nya yang terlalu kuat. Pokoknya aku mau kita mengatur jadwal tidur kita!"
"Kenapa diatur? Hal seperti ini tidak bisa diatur, sayang.." Dengan sengaja Ray menindih tubuh Tisha dari belakang.
Wanita itu terkejut, ketika ada benda keras menyentuh bagian belakang tubuhnya. "Kenapa masih keras?! Cepat menyingkir lah dari tubuhku!" Tisha ketakutan dengan benda keras milik suaminya itu.
"Kenapa? Kamu takut?" Ray menggoda istrinya, hembusan napas dari bisikan Ray itu berhembus di leher Tisha.
Wanita itu mendorong Ray dengan tenaganya yang tersisa. "Tidak! Jangan menggodaku lagi, nanti pagi aku harus bekerja dan mengantar Rasya ke sekolah.."
"Oh ya, soal bekerja..kenapa kamu tidak tinggal di rumah saja? Kamu hanya perlu menungguku pulang, melayaniku, menjaga anak kita, dan melahirkan anak kita. Kamu tidak perlu bekerja keras."
__ADS_1
"Kak.." tatapan tajam mengarah dari mata nya kepada Ray, seolah tak mau dibantah.
"Baiklah, aku tidak akan melarang mu. Maaf ya, aku tidak bermaksud untuk melarang mu. Aku hanya ingin kamu mengambil jalan mudah, kamu istriku...istri Raymond Victor Argantara, kamu bisa mendapatkan semuanya hanya dengan meminta tanpa perlu bekerja keras." jelasnya dengan suara lembut dan tangan membelai rambut Tisha.
"Sayang, aku tau aku bisa mendapatkan segalanya hanya dengan meminta. Ini bukan soal kerja keras. Tapi ini soal kepuasan hati dan cita-cita ku..selama ini aku tidak bisa mewujudkannya dan aku baru bisa mewujudkannya sekarang. Aku mohon dan aku janji, bahwa pekerjaan ku tidak akan membuat kewajiban ku sebagai seorang istri dan seorang ibu terlantarkan." pinta nya kepada sang suami.
Ray menghela napas, walau hatinya berat. Dia merelakan istrinya untuk kembali bekerja menggapai mimpinya. Ray setuju asalkan Tisha menepati janjinya.
"Baiklah.."
"Benarkah boleh?" mata nya berbinar-binar menatap sang suami.
"Tapi selain janji itu. Kamu harus berjanji lagi satu hal padaku."
"Apa?"
"Ingat yang kita katakan setelah pernikahan? Kepercayaan, kejujuran, komunikasi, kesetiaan, tidak boleh ada yang ditutupi. Kamu paham?" Tangan Ray mendongakkan dagu istrinya.
"Aku janji akan menepati semuanya, kamu juga ya.." Tisha memeluk suaminya dengan perasaan bahagia.
Ya, kalau begini caranya aku harus meminta Gerry untuk menempatkan beberapa orang di Apparel desain supaya bisa memantaunya.
****
Pagi pun telah tiba, walau lelah setelah pekerjaan nya bersama sang suami tadi mala. sampai dini hari. Tisha tetap bangun pagi, dia menyiapkan sarapan di dapur itu untuk pertama kalinya lagi setelah dia bercerai dari Ray. Sebelum itu dia membereskan kekacauan yang dibuat Ray semalaman.
Ada rasa rindu ketika dia memasak di rumah itu, banyak kenangan indah bersamanya dan Ray disana. Kompor, microwave, peralatan dapur masih sama walau ada beberapa yang berubah.
Pagi itu juga bi Ani datang untuk membantu Rasya dan Tisha. Dia dipanggil Ray untuk membantu pekerjaan rumah dan tugas intinya adalah menjaga Rasya selama Tisha dan Ray pergi bekerja.
"Nyonya Tisha, biar saya yang bantu tuan muda untuk buku-buku nya." ucap Bi Ani sambil tersenyum lebar.
"Iya Bi, maaf ya ngerepotin." Tisha masih sibuk dengan urusan memasaknya. Dia tersenyum ramah pada asisten rumah tangga nya itu.
Bi Ani membantu Tisha untuk membereskan buku-buku sekolah Rasya. Tak lama setelah itu, Tisha menyajikan makanan di meja. Dia mengajak bi Ani sarapan bersama juga.
Tisha pun masuk ke kamar suaminya, untuk mengajaknya segera sarapan. Namun langkah nya terhenti saat mendengar suaminya sedang menelpon.
"Jadi sudah kamu siapkan semua nya? Apa kamu yakin dia orang yang bisa dipercaya?" tanya Ray pada seseorang yang sedang bicara dengan nya di telpon.
Kak Ray seperti nya sedang serius menelpon.
"Apa?? Benarkah dia yang akan menjadi Presdir nya? Kamu yakin kamu tidak salah?" Ray terperangah, dia bicara setengah berteriak.
("Saya yakin pak, dan hari ini dia mulai masuk ke perusahaan Apparel desain")
Ray menelan saliva nya, hatinya berdebar entah apa sebabnya. Ketika mendengar ucapan Gerry tentang Presdir baru di Apparel desain.
"Baiklah, siapkan orang untuk masuk ke dalam sana. Pria dan wanita, pastikan orang-orang ini terlatih dan cerdik! Kamu paham?"
("Baik pak")
"Jangan biarkan istriku sampai tau!" ujar nya pada Gerrry.
Cekret..
"Apa yang tidak boleh aku tau kak? Sampai tau apa?" tanya Tisha yang sudah berdiri di depan pintu kamar, dia menatap suaminya dengan wajah bingung. Dia ingin tau apa yang dibicarakan suaminya dengan Gerry.
"Sa-sayang.." Ray membalikkan badannya, dia langsung menutup panggilan nya dari Ray.
"Kamu bicara soal apa sama pak sekretaris? apa ada sesuatu yang gak boleh aku tau?" tanya Tisha dengan kening berkerut.
"Ah...itu.."
Gawat! Tisha seperti nya mendengar bagian itu, kalau dia tau aku menyimpan orang-orang untuk mengawasinya. Dia pasti marah. Ray gelagapan di depan istrinya.
"Papa mama! Ayo sarapan bersama, nanti keburu siang dan terlambat!" Rasya tiba-tiba sudah berada ditengah kedua orang tuanya.
"Ah ya, ayo kita sarapan bersama!" Ray menggandeng tangan Rasya dan pergi keluar dari kamar itu.
Makasih sayang, kamu sudah menyelamatkan papa!
Ray berterimakasih pada Rasya di dalam hatinya. Sementara itu Tisha sedikit kesal karena pertanyaan nya di abaikan.
...---****--...
Hai Readers! Sambil nunggu up novel ini.. mampir ke karya temanku yuk ๐ punya nya kak Kisss..
__ADS_1