
...πππ...
Ada rasa takut di hati Grace ketika melihat foto Fayra dengan perut besarnya itu. Namun, dia sudah berkata bahwa dia harus menerima kenyataan terburuk walaupun terasa pahit.
"Sam, temui lah dia. Kamu harus menemui nya, Fayra pasti sedang mengandung anakmu." Ucap Grace dengan berat hatinya, dia berusaha menunjukkan sebuah senyuman di bibirnya.
"Grace maafkan aku, aku akan pergi menemuinya." Sam menatap Grace dengan rasa bersalah.
"Tidak apa-apa, aku akan menunggumu. Aku juga akan menyambut nya, Sam." Grace tersenyum pahit, matanya mulai berkaca-kaca. "Ya sudah, cepatlah pergi ke Inggris! Bicaralah padanya dan bawa dia pulang!" seru Grace pada suaminya.
Sam hanya mengangguk pelan, dia pun pergi ke kamar mandi dan membersihkan dirinya terlebih dahulu. Setelah itu Sam meminta bantuan pada Ray, untuk meminjam helikopter pribadi nya agar cepat sampai ke Inggris. Tak lama kemudian, Sam menerima pesan dari Andrews, alamat lengkap tempat tinggal Fayra.
Fayra, aku akan menemui mu. Sam melihat foto Fayra di ponselnya. Dia masih menyimpan foto foto Fayra.
Sam berangkat memakai jet pribadi yang dia pinjam dari Ray, dia juga membawa beberapa orang bersamanya. Berjaga-jaga kalau Fayra menolak pergi bersamanya.
****
πMallπ
Tisha baru saja selesai membelikan anaknya video game edisi terbaru dan terbatas itu. Ray sangat senang karena ibunya membelikan Rasya video game.
"Ma, makasih ya udah beliin aku video game." Rasya tersenyum senang sambil membawa tas kertas di tangannya.
"Sama sama sayang, tapi kamu harus ingat kalau-"
"Aku akan tetap mempertahankan gelar juara ku! Belajar dengan baik, dan tidak lupa shalat! Janji ma!" Rasya memangkas ucapan Tisha, dia tersenyum lebar.
"Baiklah, seperti nya kamu sudah paham. Sayang, jangan dulu pulang ya.. mama mau beli dulu baju sebentar."
"Baju buat dede bayi ma?" tanya Rasya semangat.
"Iya, sama baju buat mama juga. Baju-baju mamah udah gak muat. Yuk, kita pergi dulu ke toko baju!" Tisha menggandeng tangan Rasya, mereka berjalan menuju ke toko baju ibu dan anak.
Tisha dan Rasya memilih-milih baju di dalam toko itu. Ketika sedang memilih baju, Rasya melihat ada papa nya di toko perhiasan di sebelah toko baju itu, bersama Gerry dan seorang wanita berambut pendek.
Itu kan papa? Kenapa papa bersama wanita lain?
__ADS_1
Rasya mulai menajamkan pandangannya melihat papa nya bersama wanita itu. Sementara Tisha masih sibuk memilih baju yang akan dia beli, seperti nya dia tidak melihat suaminya disana.
Di toko perhiasan itu Ray dan wanita itu terlihat sedang memilih kalung, dia memegang kalung. Kemudian Ray memasangkan kalungnya ke leher wanita itu. Mereka berdua tersenyum satu sama lain, Rasya kesal melihat nya.
"Papa sama wanita itu! Huh! Kenapa papa ketawa-ketawa sama wanita itu? Siapa wanita itu?!" Rasya gemas dan ingin melabrak papa nya.
"Sayang, kamu ngapain disana?" tanya Tisha heran melihat anaknya berdiri di depan pintu toko.
Rasya menoleh ke arah Tisha, dia langsung menghampiri Tisha dan memeluknya. "Haha gak apa-apa ma, aku lagi lihat pemandangan aja. Oh ya ma, mama udah selesai belanja nya?" tanya Rasya sambil memegang tangan mama nya.
Aku gak boleh biarin mama sama Dede bayi melihat papa sama wanita lain. Nanti mama sama dede bayi bisa sedih.
"Udah sayang, yuk kita pulang!" Seru Tisha mengajak anaknya pulang.
Ketika Tisha mulai melangkahkan kakinya, Rasya menahan Tisha dan menarik tangannya. "Hehe, mama aku belum selesai memilih baju nya lho. Jangan dulu pulang ya!"
"Lho? Tadi kamu bilang katanya kamu bosan dan ingin cepat pulang, kok sekarang mau pilih baju?" Tisha mengerutkan keningnya, dia menatap bingung pada putranya itu.
"Ehm, aku gak jadi bosannya ma. Aku mau pilih baju dulu, ayo mama temenin aku!" Rasya menunjukkan mode imutnya, dia memelas dan memegang tangan Tisha dengan manja.
"Hehe iya ma!" Rasya nyengir dan membawa mama nya kembali masuk ke dalam toko.
Papa! Awas aja ya nanti saat di rumah! Rasya marah di dalam hatinya. Dia melirik pada papa nya yang sedang bersama wanita cantik itu.
Rasya mengulur waktu, agar papa nya bisa pergi dari sana dan mama nya tidak melihat papa nya bersama wanita lain. Setelah berlama-lama di dalam toko itu, Rasya hanya memilih satu baju yang dia pilih secara asal. "Kamu ini lama-lama di dalam toko, cuma pilih satu baju? Dasar.." Tisha menggelengkan kepalanya.
"Maaf ya ma, hehe." Rasya merasa bersalah karena membuat mama nya berlama-lama disana.
Syukurlah papa sama wanita itu sudah tidak ada disana. Rasya lega karena papa nya tidak terlihat lagi di toko perhiasan itu, dia mengira papa nya mungkin sudah pergi dari mall itu.
"Sayang, seperti nya mama sama dede bayi lapar. Kamu lapar juga gak? Kita makan dulu yuk?" Wanita hamil itu mengajak anaknya untuk makan siang terlebih dulu, karena waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang.
Rasya mengangguk setuju dengan ajakan mamanya, dia juga lapar karena cape mengulur waktu di dalam toko. Mereka pun sampai di tempat makan fried chicken yang berada di dalam mall itu, karena Rasya ingin makan ayam tepung.
"Kamu mau duduk dimana sayang?" tanya Tisha pada anaknya.
"Kita duduk di dekat pintu saja ya ma!" Rasya menunjuk ke arah tempat duduk di dekat pintu keluar.
__ADS_1
"Ya udah, mama mau ke kamar mandi dulu ya. Kamu tunggu disana, jangan kemana-mana." Tisha mengingatkan anaknya untuk tidak pergi sembarangan.
"Siap ma!" Rasya duduk dengan patuh di tempat duduk yang ada di dekat pintu.
Tisha melangkah menuju ke toilet wanita, dia masuk ke dalam sana dan melihat wanita berambut pendek sedang membenarkan riasan wajahnya. Wanita itu terlihat cantik dan muda, bahkan memakai pakaian seksi yang tampak elegan.
Tisha dan wanita itu keluar bersamaan dari toilet. Wanita berambut pendek itu duduk di sebuah meja, disana ada Ray juga. Tisha tercengang melihat wanita itu bersama suaminya.
"Kak Ray? Mengapa dia ada disini dan siapa wanita itu?" tanya Tisha sambil mengerutkan kening, melihat suaminya duduk berduaan dan terlihat sedang makan bersama dengan wanita berambut pendek itu.
Wanita itu menenangkan pikiran nya yang sudah mulai mengarah ke arah negatif, dia pun bersembunyi di dalam toilet dan menelpon Ray. Entah apa yang akan dia lakukan.
Dreet..
Dreet..
πΆπΆπΆ
"Halo sayang." Ray dengan cepat menjawab telponnya.
"Kamu dimana?" tanya Tisha sambil melirik ke arah suaminya.
"Jam segini tentu saja aku di kantor, ada apa sayang?" tanya Ray balik.
"Oh, kantor ya." Bibirnya membulat, dia melihat kearah suaminya yang sedang berada bersama perempuan cantik itu.
"Iya sayang. Apa kamu dan Rasya ada di rumah?" tanya Ray dengan suara ramah seperti biasanya.
"Iya, aku dan Rasya di rumah." Jawab Tisha dengan suara dingin. Dia tersenyum pahit menelan kebohongan suaminya.
"Sayang, kamu kenapa? Ada apa dengan suaramu? Apa kamu sakit?" tanya Ray perhatian.
"Gak apa-apa. Udah dulu ya, kayanya kamu lagi sibuk." Tisha menutup telponnya tanpa menndengar apa yang akan dikatakan Ray.
Dengan mudahnya kamu berbohong, kenapa kak? Bagaimana bisa kamu berbohong dengan tenang seperti itu?
...---***---...
__ADS_1