
...🍂🍂🍂...
Enam tahun sudah berlalu, di sebuah rumah sederhana yang terletak di daerah pedesaan. Terlihat seorang anak kecil sedang asyik bermain sendiri di taman yang ada di depan rumahnya. Entah apa yang ia pegang tangannya itu seperti sibuk mencari-cari sesuatu.
“Rasya! Ayo makan dulu nak!”
Begitu mendengar suara ibu nya yang memanggil, anak laki-laki yang bernama Rasya itu segera menyembunyikan benda yang ia pegang. Ternyata itu adalah sebuah ponsel, Rasya memasukkan ponsel itu ke dalam sakunya.
“Iya ma, bentar lagi aku masuk” jawab Rasya pada ibunya yang sedang berdiri diambang pintu. Dan ibunya adalah Latisha Anindita.
“Ya udah,mama tunggu di dalam ya nak” Tisha tersenyum pada anaknya yang baru akan menginjak usia 5 tahun.
Tisha memberi nama anaknya Rasya, anak itu memiliki wajah yang rupawan, bulu mata lentik, hidung mancung, bola mata berwarna coklat muda dan kulit nya bersih. Semua orang bilang kalau ia sama sekali tidak mirip dengan ibunya.
Tisha masuk ke dalam rumah lebih dulu. Sementara Rasya masih berada di luar rumah, Rasya bernapas lega karena ibunya tidak tahu bahwa dirinya membawa ponsel.
Tisha sudah mengingatkan agar Rasya tidak bermain gadget karena Tisha lebih senang jika Rasya bergaul dengan buku-buku pelajaran dibandingkan anak zaman sekarang yang memilki ketergantungan pada gadget, contohnya kecanduan game online. Nyatanya Rasya mengambil ponsel ibunya bukan untuk bermain game, tapi ada tujuan lainnya.
“Sebelum mama tau, aku harus segera menyimpan ponsel mama ke tempatnya.Tapi, aku belum menemukan satupun petunjuk di dalam sini tentang papa. Jika om Zayn bukan papaku, lalu siapakah papaku? Mengapa mama tidak pernah bilang soal papaku dan selalu bilang tidak tahu? Apa benar aku adalah anak haram, seperti kata teman-temanku?” gumam Rasya dengan wajah yang sedih.
Rasya berjalan gontai tanpa semangat dan masuk ke dalam rumahnya. Diam-diam Rasya menyimpan kembali ponsel Tisha ke kursi, tempatnya semula.
“Rasya sayang, ayo nak! Mama sudah siapkan makanan kesukaan kamu, nasi goreng
spesial telur ceplok dan sosis merah” ucap Tisha sembari menyambut anaknya, ia
tersenyum hangat lalu duduk di meja makan.
Disisi lain ada seorang wanita yang sedikit lebih tua dari Tisha, duduk di samping Tisha. Perempuan itu tersenyum pada Rasya dan menepuk kepalanya dengan penuh kasih sayang.
“Ayo makan dulu jagoan nya tante” ucap perempuan itu pada Rasya
“Ya ma, ya tante” jawab Rasya sambil duduk di kursi dengan wajah
cemberut
Pokoknya aku harus tanyakan soal papaku, aku harus tau siapa papaku sebenarnya.
__ADS_1
Aku bukan anak haram. Rasya kesal karena ia selalu di ejek teman-temannya di sekolah, bahwa ia adalah anak haram dan tidak punya ayah.
Ada apa ya dengan Rasya? Tadi pas
berangkat sekolah dia baik-baik aja, kenapa sekarang wajahnya ditekuk begitu
ya?
Tisha melihat wajah cemberut Rasya yang tidak seperti biasanya. Bukan hanya Tisha saja yang merasakan sikap aneh Rasya, tapi perempuan yang duduk di samping Tisha juga merasakan hal sama. Kedua wanita itu terlihat cemas pada Rasya.
Perempuan yang dipanggil tante oleh Rasya itu bernama Fayra, dia adalah kakak sepupu Zayn yang selama ini membantu Tisha dan Rasya selama berada di luar negeri.
Selama kurang lebih 5 tahun lamanya, Tisha dan anaknya tinggal bersama Fayra. Dalam masa-masa sulitnya, Fayra selalu ada untuk membantunya. Tisha merasa seperti punya saudara perempuan.
Tisha menjalani kehidupannya tanpa seorang suami dan ayah anaknya.Tisha tidak tahu menahu sosok seperti apa ayah dari anak yang ia besarkan. Karena Zayn sama sekali tidak pernah memberitahukannya pada Tisha. Wanita itu hanya memiliki asumsinya sendiri kalau anaknya pasti sangat mirip dengan papanya,
karena Rasya sama sekali tidak memiliki kemiripan dengannya.
Dari siang sampai malam, Rasya terus cemberut. Seperti sedang marah pada seseorang dan pada sesuatu. Tisha dan Fayra mulai membicarakan perilaku aneh Rasya.
“Tisha, ada apa dengannya?” Tanya Fayra penasaran
“Bertengkar? Tidak ada tuh, tadi dia masih anteng-anteng aja tuh makan es krim sama aku” Fayra mengernyitkan dahinya, ia berfikir tentang apa yang membuat sikap Rasya seperti itu. Tapi, ia tak menemukan hal yang ganjil pada Rasya sebelumya.
“Kalau begitu aku akan bertanya padanya saja” ucap Tisha yang cemas pada anaknya itu.
Tisha masuk ke dalam kamar anaknya, terlihat Rasya yang baru saja selesai mengerjakan Pr nya.
KLAK
“Sayang, kamu udah selesai mengerjakan pr nya?” Tanya Tisha sambil duduk di sudut ranjang tempat tidur Rasya, menatap Rasya dengan lembut.
“Baru aja selesai ma” jawab Rasya malas
“Sya, apa mama ada salah sama kamu?” Tanya Tisha dengan wajah cemasnya
“Kenapa mama ngomong gitu?” Tanya Rasya balik
__ADS_1
“Terus kamu kenapa sayang? Dari tadi kamu diem terus,kaya orang yang marah. Kalau ada sesuatu ngomong dong, nak” pinta Tisha pada putranya penuh perhatian
Entah kenapa melihat Rasya yang diam seperti ini saat marah mengingatkan ku pada seseorang, tapi aku lupa siapa orangnya. Batin Tisha bingung melihat Rasya
“Kalau aku ngomong ada yang salah dan ada yang mau aku tanyakan, apa
mama bakalan jawab?” Tanya Rasya dengan tatapan mata yang tajam pada mama nya
Kebenaran soal papa, aku harus cari tau.
“Ya, mama pasti jawab kalau mama tau jawabannya”
“Mama janji, mau jawab jujur? Kalau gak jujur, mama akan menanggung akibatnya loh?” Tanya Rasya lagi setengah mengancam mama nya
“Pfutt.. sayang, apa kamu mengancam mama? Kamu mirip siapa sih?” Tisha
tertawa mendengar ancaman dari seorang anak yang berusia 6 tahun. Bahkan anak
itu memiliki mata dan kata-kata tajam. Sangat berbeda dengan Tisha yang lembut dan sabar.
“Ya itulah salah satu yang mau aku tanyakan ma, sebenarnya aku mirip siapa? Karena semua orang bilang kalau aku sama sekali tidak mirip dengan mama.” ucap Rasya dengan wajah serius dan mata yang penasaran, “Siapa papa ku,ma?” Tanya Rasya lagi
“Lagi-lagi kamu menanyakan ini. Mama sungguh tidak tau sayang, mama tidak tahu siapa papa kamu” jawab Tisha jujur
“Lalu apakah aku anak haram?” Tanya Rasya polos, matanya mulai berkaca-kaca seperti akan menangis. Tidak tega melihat anaknya seperti itu, Tisha mencoba menghibur anaknya. Ia memegang tangan kecil menggemaskan itu,
“Kamu bukan anak haram, nak! Bukan!” seru Tisha meyakinkan anaknya
“Kalau aku bukan anak haram, pasti aku punya ayah kan? Siapa papa ku, ma? Siapa? Hiks.. “ air mata Rasya tumpah tak tertahankan, ia tak tahan dengan ejekan teman-temannya di sekolah yang menghina, mengejeknya sebagai anak haram.
“Mama bersumpah! Mama tidak berbohong, mama tidak tau siapa papa kamu” jawab Tisha sambil menyeka air mata Rasya dengan kedua tangannya dengan lembut. Hatinya seperti disayat melihat anaknya menangis.
“Lagi-lagi mama berbohong! Kenapa sih mama selalu seperti ini? Kalau mama gak mau jujur soal papa ya udah!” Rasya menangis tersedu-sedu, suara nya terdengar marah.
Semoga dengan begini, mama mau jujur soal papa. Batin Rasya yang ingin
mendengar tentang sosok papanya. Matanya menatap tajam sang mama
__ADS_1
...-----------***----------...