
πππ
"A-Apa kamu bilang nak?" tanya Ray meyakinkan dirinya sendiri dengan apa yang baru saja dia dengar dari mulut si bocah imut
"Cium mama juga pah" bisik Rasya sambil tersenyum, matanya menatap penuh harapan.
"Mama mu bisa membunuh papa kalau dia tau nanti, kamu tau kan mama mu sangat galak"Ray duduk jongkok di depan Rasya
"Gak papa pah, asal jangan ketahuan saja. Bukannya papa juga mau mencium mama?" tanya Rasya dengan polosnya.
"Papa gak bisa sayang, maaf ya"
Tisha akan ngamuk kalau dia tau aku mencium nya sama seperti terakhir kali.Marahnya dia benar-benar menyeramkan sekarang. Ray ingat saat di New York dulu, dia mencium Tisha secara paksa dan dia mendapatkan tamparan keras juga kata-kata pedas darinya.
"Papa jahat.. katanya papa sayang padaku dan mama. Masa menunjukkan kasih sayang saja menolak..Hmphh" Rasya menyilangkan kedua tangan di dada, bibirnya mengerucut kesal.
"Sayang bukannya gitu" Ray serba salah
"Mama papa orang lain saja selalu saling mencium. Ciuman kening dan ciuman pipi.. kenapa papa dan mama tidak?" tanya Rasya dengan polos. Rasya selalu melihat orang tua lain saat mengantar temannya ke sekolah selalu mendapatkan ciuman penuh kasih sayang, dia ingin melihat Ray dan Tisha melakukan nya juga.
Karena kami bukan dalam hubungan orang tua seperti pada umumnya, aku dan mama mu bukan lah suami istri. Haihh.. aku harap aku bisa mengatakan nya pada mu nak, tapi sepertinya aku hanya bisa membatin saja. Namun bagaimana jika Rasya terus mengoceh dan dia tidak tidur kalau kami terus berdebat disini?
Ray bingung menghadapi anaknya itu, pikirnya lebih mudah menghadapi persentasi di kantor daripada bocah berusia 5 tahun.
"Baiklah papa akan memberikan ciuman selamat tidur untuk mama mu, tapi setelah ini kami tidur dan berhentilah mengoceh" Ray melihat ke arah Tisha, bicaranya masih berbisik-bisik
Rasya mengangguk dengan wajah yang bahagia karena keinginan nya terpenuhi. Ray pun mulai duduk di sudut ranjang sebelah Tisha. Wanita itu masih tenggelam dalam tidur lelapnya, sehingga tak sadar bahwa ada Ray mendekati nya.
Sementara si bocah kecil menantikan kedekatan papa dan mamanya. Kasih sayang kedua orang tua yang sangat dia nantikan. Hati Ray jadi sedih mengingat bahwa dirinya kehilangan orang tua sejak kecil, dia kurang kasih sayang dan akhirnya menjadi pribadi yang tertutup. Dia tidak mau hal yang sama terjadi pada putranya, kesepian dan hidup dalam kegelapan. Dia ingin memberikan banyak kasih sayang pada anak nya itu dengan berlimpah ruah, bahkan jika puteranya meminta bintang di langit pasti dia akan mengabulkan nya.
Ray mendekati Tisha, bibirnya yang lembut mendarat di kening Tisha. Tangan kokoh itu menyingsingkan rambut Tisha yang panjang ke belakang.
CUP
__ADS_1
Kecupan hangat penuh cinta, itulah namanya.
"Sudah ya Rasya?" tanya Ray berbisik pada Rasya
"Belum" Rasya menggeleng-gelengkan kepalanya
"Apa lagi?" tanya Ray
"Ucapkan selamat malam dan selamat tidur dulu" jawab Rasya kekeh dan mengangguk angguk
"Ya ampun anak ini.." Ray tersenyum lembut, kemudian bibirnya mendekati telinga Tisha. Dia mulai berbisik, "Tisha, selamat tidur dan beristirahat"
"bilang juga, aku sayang kamu" bisik Rasya dengan senyum jahilnya.
"Rasya!" seru Ray
"Ish... cepetan pah, kalau papa gak bilang juga,, aku gak mau bobo" demo Rasya pada papa nya
"Baiklah baiklah! kamu menang, papa kalah" Ray mengalah pada anaknya. Dia berbisik lagi pada Tisha "Tisha selamat malam, aku sayang kamu"
Setelah itu Ray pergi meninggalkan kamar itu dengan malu, Rasya tersenyum bahagia dan pergi tidur. Ketika Rasya pergi tidur, sang mama terbangun sambil memegang dadanya.
"Apa yang dia lakukan? apa yang dia katakan? ada apa juga dengan jantungku ini??!" wajah Tisha memerah, dia memegang kedua pipinya. Ternyata wanita itu terbangun sejak tadi, apakah dia juga mendengarkan kata-kata Ray dan Rasya?
Keesokan harinya, Tisha selesai memandikan dan membantu Rasya berpakaian meski anak itu menolak untuk dibantu. Tisha mulai kebingungan karena dia tidak membawa banyak baju Rasya, ini berarti dia terpaksa membeli baju untuk Rasya. Pikirannya juga masih memikirkan tentang makam Bu Fani dan Arya yang katanya akan digusur namun belum ada kabar juga.
Tisha dan Rasya turun dari lantai atas setelah dipanggil Bi Ani atas titah pak Faisal untuk sarapan bersama. Disana ibu dan anak itu melihat semua keluarga Argantara berkumpul di meja makan. Dean, Daniah, Pak Faisal dan Raymond sudah menunggu disana.
"Tuan besar, saya sudah panggil Bu Tisha dan tuan muda" Bi Ani berucap sembari membungkukkan setengah badannya dengan hormat di depan pria tua itu
"Terimakasih Bi Ani" jawab pak Faisal dengan senyuman ramah di wajah keriput nya itu. Bi Ani pamit undur kebelakang, Pak Faisal segera menyuruh Tisha dan Rasya untuk duduk.
Dengan tingkah gemasnya Rasya menyapa semua orang yang ada disana. "Halo kakek buyut, papa ..selamat pagi" sapa Rasya ramah
__ADS_1
"Pagi juga Rasya" jawab Ray dan Pak Faisal dengan ramahnya
Rasya melihat ke arah Daniah dan Dean yang sejak tadi mengacuhkan nya. Dengan ramah dan sopan Rasya menyapa kedua orang itu bersama kaki kecilnya yang masih sulit berjalan "Halo om.. Tante.., saya Rasya. Kita belum kenalan ya kemarin?" tanya Rasya
"...." tidak ada suara yang keluar dari Daniah maupun Dean, mereka hanya melihat Rasya dengan tatapan kurang menyenangkan
Anak haram ini, beraninya bicara padaku. gerutu Dean kesal
Sifat Bu Daniah dan pak Dean, ternyata masih sama. Tisha terlihat kesal karena anaknya diacuhkan
"Rasya, mereka bukan om dan Tante. Tapi panggil mereka nenek dan kakek" ucap Tisha membenarkan ucapan anaknya yang keliru menganggap Dean dan Daniah adalah saudara papa nya.
"Maaf ma, Rasya gak tau. Selamat pagi kakek, nenek" jawab nya sambil nyengir dan mengambil tangan Dean untuk menciumnya. Namun Dean menepisnya.
"Jangan pegang-pegang aku, kamu kotor!" Dean melotot pada anak kecil yang akan mencium tangannya itu.
"Dean kamu kenapa sih?" tanya Pak Faisal marah
"Aku hanya tidak mau disentuh oleh orang yang berasal dari bibit bebet bobot kotor" ucap nya dengan sinis
"Tapi.. tanganku bersih kok, aku udah mandi" ucap Rasya polos sambil melihat tangannya yang bersih tanpa noda sedikitpun.
BRAKK!!
"Cukup om! pagi-pagi begini kenapa om sudah buat masalah?!" Ray menggebrak meja, dia tidak tahan lagi dengan anaknya yang dihina itu.
"Jaga mulutmu Dean!" seru Pak Faisal menatap tajam pada anak angkatnya itu
"Papa juga mau membela anak haram ini? anak yang tidak jelas asal-usulnya dari mana!" Dean mempertanyakan status Rasya yang tiba-tiba muncul sebagai anak Ray
"Pak Dean Argantara!! anak saya bukan anak haram!!" teriak Tisha yang juga mengamuk ketika anaknya dipanggil sebagai anak haram lagi.
Suasana pagi yang dingin, kini berubah menjadi panas. Mata Rasya berkaca-kaca mendengar pertengkaran, perdebatan orang dewasa itu.
__ADS_1
...--+***---...