
...πππ...
"Ray, kalau kamu yakin bahwa dia masih hidup. Seharusnya kamu bangkit. Jangan seperti ini, kamu hanya menyiksa dirimu sendiri. Kamu harus bangkit dan mencarinya. Kamu bilang dia bersembunyi, kan?" tanya Sam sambil menepuk pundak Ray, seraya membujuknya agar kembali bangkit dari keterpurukan.
Sam prihatin dan sedih, sahabatnya yang dulu bersinar kini terlihat seperti gelandangan. Semangat hidup Ray sudah hilang, karena wanita yang bernama Latisha Anindita.
"Sayang, kok kamu ngomong gitu sih? kamu malah bikin dia tambah gila!" bisik Grace pada suaminya. Kata-kata suaminya pada Ray hanya akan membuat Ray semakin berharap kalau Tisha masih hidup. Menurut Grace, kata-kata Sam pada Ray itu salah.
"Grace, kamu diam dulu ya sayang. Sekarang hanya kata-kata yang bisa menyadarkan nya. Kita harus mempercayai apa yang dia percayai dulu" Bisik Sam pada istrinya
Ray, aku tidak menyangka kamu akan sangat hancur kehilangan nya. Aku akan membantumu Ray, kamu harus bangkit. Hidup masih terus berjalan. Sam menatap Ray yang sedang mengisap rokoknya. Kebiasaan yang tak pernah Sam lihat sebelumnya dari Ray si anti merokok.
"Kamu juga percaya kan? Latisha itu tidak meninggalkan dunia ini, dia hanya sedang bersembunyi. Sam kamu percaya kan?" tanya Ray sambil memegang tangan Sam
"Iya aku percaya, makanya kamu jangan begini terus. Pergilah bekerja, makan lah dengan baik, lalu kamu juga harus semangat. Kamu ingin mencarinya kan?"
Menyedihkan sekali sahabatku ini, dia seperti sudah terkena gangguan jiwa. Apa aku akan seperti ini juga saat Grace meninggalkan ku? tentu saja aku akan gila. batin Sam yang juga membayangkan bila ia kehilangan istrinya.
"Ya, tentu saja aku mau!" jawab Ray semangat
"Kalau begitu kamu harus semangat, hidup lah dengan normal Ray" Sam tersenyum pada sahabatnya yang galau itu
Setelah saran dan dukungan dari Sam, Grace, juga Andrew. Ray kembali bangkit dari keterpurukan nya, walaupun begitu ia masih tetap merasa sedih sesekali ia teringat Tisha dan bayi mereka.
Rasa rindu itu seperti ingin membunuhnya, Ray berada di ruang hampa setiap kali ia pulang ke rumahnya yang biasa selalu ada Tisha yang menyambutnya. Kini rumah itu kosong melompong, hanya ia sendiri disana. Di ruang gelap, sama seperti hatinya yang kosong dan gelap tanpa kehadiran Tisha.
__ADS_1
1 bulan sudah berlalu, Ray menjalani kehidupan tanpa ada Tisha. Ray sudah kembali akal sehatnya, ia menjalani aktivitas nya seperti biasa. Bekerja, makan, namun tanpa hati. Selama 1 bulan itu Ray mengalami insomnia yang parah dan sering mengonsumsi obat tidur. Dokter Harun juga sering memeriksa kondisi Ray, terutama kondisi mentalnya.
Dan pada suatu malam, Ray pulang dari kantornya. Ia membuka pintu rumahnya, di dalamnya tampak hampa dan sepi.
"Kak Ray, kamu sudah pulang?" Tisha tersenyum menyambut kepulangan Ray.
DEG!
Jantung Ray berdebar sangat kencang!
Ray terkejut melihat sosok Tisha berada di depannya. Wanita itu tersenyum lebar pada Ray, senyuman yang sudah lama ia rindukan.
"Tisha, kamu sudah pulang.." Ray menatap gadis itu seraya berjalan menghampiri nya.
"Tidak! jangan mendekat! kamu disitu saja kak Ray!" Tisha melarang Ray mendekat ke arahnya.
"Maafkan aku kak Ray, aku dan anak kita tidak mau hidup bersamamu lagi" Tisha tersenyum pahit kemudian tangan nya mengelus perut datar itu dengan lembut.
"Kenapa kamu bicara seperti ini? kamu mencintai ku kan? dan aku juga mencintaimu, lalu kenapa kamu tidak mau hidup bersamaku? kita sudah mempunyai anak. Mari kita hidup bersama, kita menikah lagi ya?" tanya Ray pada Tisha yang terlihat pucat dan sedih
"Aku tidak mau hidup bersamamu lagi setelah semua yang kamu lakukan! menikah saja dengan Zefanya mu itu! kamu hanya mempedulikan nya saja, bukan aku dan anak kita" Tisha tersenyum sinis, matanya menatap tajam Ray penuh amarah.
"Aku peduli padamu! aku peduli pada mu dan anak kita! kamu salah paham Tisha...Zee tidak hamil, dia berbohong. Aku tau kamu marah dan aku minta maaf atas semua yang aku lakukan padamu. Aku berjanji aku akan menebusnya, tahun-tahun kita bersama, aku akan membuat mu bahagia setiap hari. Maka dari itu berikanlah aku kesempatan ya??" Pinta Ray seraya memohon pada Tisha, Ray menangis melihat sosok Tisha menatap marah padanya.
Hatinya seolah tercabik-cabik melihat sorot mata dari gadis yang ia cintai itu. Sorot mata penuh kebencian.
__ADS_1
"Haa.. kesempatan? kamu tidak punya kesempatan itu lagi. Dua tahun lebih aku menunggumu kak Ray, menunggu kamu menyambut cintaku. Tapi, waktu selama itu saja tidak cukup untuk membuatmu melihatku. Kamu hanya mencintai wanita lain" Tisha menangis, tangannya masih memegang perut datarnya itu.
"I-itu dulu, sekarang aku mencintaimu aku sadar aku sadar aku sangat mencintaimu. Tisha aku mohon.. aku mohon..." Ray menyesali semua perbuatan nya di masa lalu pada Tisha. Ray ingin memperbaiki semuanya, ia ingin membahagiakan Tisha dan calon anaknya.
"Jangan memohon kak Ray! kamu bahkan tidak pantas untuk memohon! hiduplah sendiri! hiduplah dalam penyesalan!" Tisha menangis marah melihat Ray.
"Aku tidak mau hidup sendiri! aku tidak mau!" teriak Ray pada sosok wanita yang ada di hadapannya, masih berderai air mata.
"Aku membenci mu! aku sangat membencimu!" Tisha berteriak penuh emosi pada Ray.
Entah dari mana api itu berasal, semua nya tidak masuk akal. Api membara membakar tubuh Tisha dan membuat Ray panik.
"Tisha! Tisha!! anakku!!" Ray berteriak ketakutan melihat Tisha di lalap api.
"Kami sudah mati dalam hidupmu, jadi lupakan lah kami" Tisha tersenyum pahit, ia menangis sesaat sebelum api itu menghanguskan nya dan membuat Tisha menghilang begitu saja.
"Jangan tinggalkan aku!! jangan!!" teriak Ray sambil menangis meraung-raung.
Ray terbangun dari tidurnya, tubuhnya berkeringat dingin. Ternyata ia hanya bermimpi. Ray berusaha mengatur napasnya, ia mengambil segelas air minum yang ada di meja. Pria itu beranjak dari tempat duduknya.
"Sudah kuduga, seharusnya aku jangan tidur" ucap Ray sambil membuang obat tidur yang ada di meja itu ke tempat sampah.
Bagaimana aku bisa tenang Tisha? aku takut menutup mataku, atau juga takut untuk membuka mataku. Semua itu karena kamu, kamu berhasil membuatku semakin ini. Kamu harus kembali untuk bertanggungjawab. Kamu harus membuatmu tidur nyenyak, kamu harus segera pulang.
Hati Ray perih melihat foto Tisha yang sedang tersenyum bahagia di meja kamarnya. Ray memegang foto itu, menatap nya dengan sedih "Bagaimana bisa kamu tersenyum seperti itu? setelah membuatku tersiksa seperti ini"
__ADS_1
Kapan kamu pulang? dimana kamu dan anak kita sebenarnya? apa kamu baik-baik saja? aku yakin kamu masih hidup. Satu keyakinan inilah yang membuatku bertahan. batin Ray yang yakin pada dirinya sendiri.
...---***---...