Tahanan Cinta CEO

Tahanan Cinta CEO
Bab 85. Video Call


__ADS_3

Tisha bingung siapa yang dimaksud nenek sihir oleh Rasya dan kemana Ray pergi? sudahlah, dia tidak berkomentar atau bertanya apa-apa lagi karena dia takut disangka peduli oleh Ray.


Tisha fokus saja mengurus Rasya yang kakinya masih sakit. Setelah mengantar Rasya ke kamar mandi dengan memapahnya, Tisha dan Rasya duduk di sofa yang ada di kamar itu. Tisha pergi mandi sebentar, kemudian setelah selesai mandi, ia memeriksa ponselnya yang baru saja di charge dan menyalakan nya.


Begitu banyak pesan masuk dari Fayra dan Zayn."Banyak sekali pesan masuk dari Zayn?"


Drett..


Drett..


๐ŸŽถ๐ŸŽถ๐ŸŽถ


Zayn Calling..


Zayn video call?


Tisha terlihat ragu untuk mengangkat video call dari Zayn itu. Namun, dia tetap mengangkat nya juga karena Tisha belum bilang apa-apa pada Zayn soal kepergian nya ke Indonesia.


"Assalamualaikum Zayn"


"Waalaikumsalam, Tisha..kenapa kamu tidak membalas pesanku dan kenapa telpon mu mati? apa kamu dan Rasya baik-baik saja?" tanya Zayn dengan suara cemas dan wajah cemasnya juga terlihat di ponsel Tisha.


"Aku dan Rasya baik-baik saja kok, maaf ya kami pergi tanpa mengabari mu. Habisnya aku buru-buru dan ini mendadak" jelas Tisha pada di pria yang selalu dianggap sebagai sahabat nya itu.


"Syukurlah kalau kalian baik-baik saja. Aku sudah dengar dari kak Fayra kalau kamu pergi ke Jakarta karena ada yang mau gusur makam Almh. ibu dan Alm kakak kamu? kamu tau siapa yang mau gusur nya?" tanya Zayn yang menaruh curiga bahwa seseorang sengaja melakukan nya.


"Pegawai pemerintah yang menghubungi ku katanya tanah makam itu adalah tanah pemerintah" jelas Tisha sambil duduk di samping Rasya


"Tisha, apa mungkin seseorang sengaja melakukan nya agar kamu bisa dan Rasya pergi ke Jakarta?" tanya Zayn


"Kamu sedang mencurigai siapa Zayn?" tanya Tisha menebak-nebak


"Entahlah, mungkin si licik itu" Zayn tertawa sinis, dia membicarakan rival cintanya.


"Aku tau dia licik tapi dia tidak akan melakukan itu, apalagi ini soal tanah makam ibu dan kakak ku"


"Tisha, jika kata-kata ku benar bahwa dia yang melakukan nya dengan sengaja. Apa kamu tidak akan marah?" tanya Zayn tegas


"Tentu saja aku marah, aku pasti sangat marah. Tapi dia tidak melakukan nya kan" jawab Tisha yang sudah menaruh sedikit kepercayaan pada papa dari anak nya itu.


Zayn mencurigai kak Ray...tapi itu tidak mungkin. Aku tau dia licik, tapi dia tidak akan pernah melakukan sesuatu seperti itu.


"Oh ya, Rasya mana?" tanya Zayn pada Tisha

__ADS_1


Tisha mengarahkan ponselnya pada Rasya yang sedang duduk di sofa dengan satu kaki nya terangkat ke meja.


"Om Zayn!!" Rasya melambaikan tangannya ke arah Zayn, anak itu tersenyum ceria.


"Rasya!! kamu kenapa sayang? kaki kamu kenapa di gips?" tanya Zayn langsung terkejut melihat sebelah kaki Rasya yang di gips.


"Aku jatuh habis di dorong sama nenek sihir, kaki ku sakit banget om" Rasya mengadu pada Zayn


"Nenek sihir??!"


Jadi nenek sihir yang dimaksud Rasya adalah Zevanya?. Tisha melihat ke arah Rasya


"Siapa yang melukai kamu nak? nenek sihir itu, siapa dia?! sini bilang sama om!" seru Zayn pada Rasya


"Aku gak tau siapa nama si nenek sihir itu, tapi mama pasti tau. Kayanya mama dan nenek sihir itu saling kenal" jawab anak itu polos


"Tisha, siapa yang sudah mendorong Rasya??!" tanya Zayn yang cemas dengan kondisi Rasya.


"Zayn kita bicara di luar. Rasya sayang, kamu tunggu disini sebentar ya. Mama mau bicara dulu sama om Zayn" ucap Tisha sembari tersenyum dan menepuk kepala Rasya dengan lembut.


Wanita itu pergi ke balkon kamar itu dan berbicara dengan Zayn secara leluasa disana. Tisha pun menjelaskan tentang Rasya yang terluka oleh ulah Zevanya. Hal ini semakin membuat Zayn khawatir pada Tisha dan Rasya karena ibu dan anak itu tinggal di rumah besar Argantara.


Namun Tisha mengatakan pada Zayn bahwa ia memberikan satu kesempatan untuk Ray demi Rasya juga.


"Ini demi Rasya, dia adalah ayah kandung Rasa dan setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua" jelas Tisha pada Zayn


Bohong, ini bukan demi Rasya saja tapi demi diriku.


"Ini demi Rasya atau demi kamu yang memang masih mencintai nya?" tanya Zayn dengan wajah sedihnya.


"Zayn.."


"Aku akan menyusul mu dan Rasya, kamu tinggallah disana untuk beberapa hari. Setelah itu kamu dan Rasya tinggallah bersamaku kalau kamu memang ingin menatap tinggal di Jakarta" Zayn tersenyum pahit, matanya berkaca-kaca melihat ke arah Tisha melalui video call itu.


"Zayn, apa yang kamu katakan?" tanya Tisha yang tidak mengerti apa maksud kata-kata Zayn.


"Saat aku kembali kesana, kamu dan Rasya harus kembali denganku. Kalian harus berada di dekatku" ucap Zayn yang ingin memiliki Rasya dan Tisha untuk dirinya.


"Zayn.. apa yang kamu katakan?"


"Tisha, aku tutup dulu telponnya. Ada beberapa hal yang harus aku lakukan" Zayn menutup telponnya tanpa mengucap salam.


Tisha bingung dengan kata-kata Zayn. Dia mengernyitkan dahi nya dan berfikir keras. Kali ini dia tidak mengerti tentang Zayn dan apa yang ada di pikiran nya.

__ADS_1


****


Sementara itu Ray baru pulang setelah berbicara dengan pak Prapto pengacara keluarga nya. Ray baru saja membicarakan masalah Zevanya dan dia bermaksud menuntut Zevanya karena sudah melukai Rasya hingga kaki nya patah tulang.


Dengan senyum lebar nya dia pulang ke rumah besar Argantara. Padahal sebelumnya dia tidak pernah pulang kesana semenjak Tisha menghilang enam tahun yang lalu.


"Kamu seperti nya sangat bahagia Ray"


"Tentu saja kek, mungkin saja setiap hari aku akan bahagia dan tersenyum lebar seperti ini" ucap Ray sambil tersenyum pada kakeknya yang duduk di kursi roda.


"Baguslah.. karena sudah lama kakek tidak pernah melihat senyuman mu" ucap Pak Faisal bahagia melihat Ray tersenyum


Ini pasti karena Tisha dan Rasya. Ya, memangnya siapa lagi.


"Kakek, ngomong-ngomong dimana istri dan anakku?" tanya Ray pada sang kakek


"Istri dan anakmu? kamu tidak takut Tisha akan marah karena kamu memanggil nya begitu?" tanya Pak Faisal pada cucunya


"Ini rahasia diantara kita saja kek. Tidak lama lagi dia akan kembali padaku dan menjadi istriku" ucap Ray percaya diri


"Kamu sangat percaya diri Ray. Tapi kakek menyukainya. Kakek sangat mendukung kalau kamu kembali lagi dengan Tisha." Pak Faisal tersenyum


"Aku tau kakek akan bicara seperti itu" Ray nyengir


Syukurlah Ray, kamu sudah bisa tersenyum lagi. batin pak Faisal lega melihat cucunya bahagia.


"Oh ya, kamu darimana?" tanya Pak Faisal


"Membereskan sampah" jawab Ray dengan santainya


"Sampah apa?" tanya Pak Faisal


"Kakek tidak perlu tau. Ayo kek kita masuk ke dalam, istri dan anakku pasti ada di dalam kan?" Ray mendorong kursi roda yang di duduki oleh kakek tua itu.


Mereka berdua masuk ke dalam, Ray melihat Tisha dan Rasya sedang duduk di sofa ruang tamu. Disana juga ada Daniah yang sedang menonton TV.


"Kak Ray? kamu sudah pulang?" sambut Tisha pada pria itu walau tanpa senyuman.


"Papa sudah pulang!! horeey" sambut Rasya dengan senyum ceria diwajahnya pada sang papa.


Rasanya bahagia sekali, disambut seperti ini. Aku jadi ingin selalu tinggal di rumah setiap hatinya. Ray membalas senyuman manis putranya.


"Ya, papa sudah pulang. Tisha, aku sudah pulang" ucap Ray sambil memeluk Rasya dan melihat ke arah Tisha.

__ADS_1


...---****---...


__ADS_2