
πππ
Gerry sudah membawakan apa yang diminta oleh Presdir nya ke apartemen Ray. Disana terlihat Ray sedang rebahan di sofa dengan penampilan yang acak acakan.
"Presdir, saya sudah membawakan semua yang bapak minta" ucap Gerry sambil menyimpan 2 botol minuman keras yang memiliki kadar alkohol yang tinggi, juga beberapa bungkus rokok.
Apa pak Presdir benar-benar akan meminum semua ini? bukankah itu artinya dia menghancurkan dirinya sendiri?. Gerry menatap Ray dengan cemas
"Bagus" jawab Ray sambil duduk di kursinya. Ray membuka salah satu bungkus rokok, lalu menyalakan sebatang rokok dengan korek api gas miliknya. Ray mengisap rokok itu dengan wajah yang frustasi.
Asap rokok bertebaran di sekitarnya, kaki nya di angkat di meja, tubuhnya rebahan di sofa. Dengan rokok di bibirnya.
"Ternyata merokok bagus juga" Ray tersenyum tipis melihat rokok ditangannya.
Gerry tercekat kaget melihat Ray yang sedang merokok. Ray tidak pernah merokok anti merokok, malah dia menganggap kalau merokok itu tidak baik dan menganggu kesehatan. Lalu kenapa Ray merokok sekarang? Gerry mulai cemas melihatnya, ia tak bisa meninggalkan Ray dalam kondisi seperti itu.
"Ngapain kamu masih disitu, hah?" tanya Ray ketus
"Saya disini, karena siapa tau pak Presdir masih membutuhkan saya" jawab Gerry
Aku disini karena cemas padamu pak. Aku takut kamu melakukan hal yang tidak-tidak, seperti bunuh diri.
"Ah ya benar, Gerry panggil pak Prapto kemari besok"
"Pak Prapto?" tanya Gerry
Pak Prapto itu kan pengacara pak Ray? apa yang akan dilakukan pak Ray dengan memanggilnya? apa pak Ray ingin membatalkan perceraian nya?
"Ya, jika dia ingin bercerai aku akan memberikannya. Tapi dia juga harus menerima apa yang aku berikan, jika dia tidak mau menerima nya maka aku tidak mau bercerai" Ray tersenyum menyeringai sambil mengisap rokok nya.
"Baik pak, saya akan menghubungi pak Prapto" jawab Gerry patuh
Gerry tidak mengerti apa yang ada di pikiran Ray dan apa yang sedang dibicarakan nya. Namun, Gerry tau satu hal bahwa Presdir nya belum bisa menerima kenyataan perceraian nya dengan istri kontraknya itu.
"Ah dan ya Gerry, suruh dia siapkan surat pemindahan kepemilikan setengah aset milikku, juga siapkan surat gugatan sekaligus" Ray duduk dan tampak merenung, wajahnya terlihat serius.
"Apa??"
Apa pak Presdir bermaksud untuk memberikan Bu Tisha harta nya setelah bercerai?
"Kamu tuli ya? mau aku pangkas lagi gaji mu itu!" ancam Ray yang kesal melihat Gerry dengan wajah terkejut nya.
"Baik pak, saya akan hubungi pak Prapto sekarang juga" Gerry buru-buru mengambil ponselnya
Bisa habis aku oleh Anna, kalau gajiku dipangkas lagi. Gerry ketakutan memikirkan istrinya yang galak.
"Tidak! jangan sekarang juga, masih ada pekerjaan penting lainnya yang harus kamu kerjakan!"
"Ya pak?"
__ADS_1
"Cari beberapa orang yang ahli dalam bersembunyi dan bela diri, lalu suruh merek mengawasi Latisha dan keluarga nya" Ray memegang kepalanya yang terasa penat memikirkan Tisha dan sidang perceraiannya.
Sudah aku duga pak Presdir tidak akan rela melepaskan Bu Tisha begitu saja. Tapi, bukankah mengawasi seperti ini namanya menguntit?. batin Gerry
"Baik pak, saya akan segera menemui orang orang itu" jawab Gerry patuh
"Gerry, cari juga alamat tempat tinggal barunya. Lalu, laporkan setiap kegiatan nya padaku!" titah Ray pada sekretarisnya yang serba bisa itu.
Bukankah ini sudah keterlaluan? tapi asalkan Bu Tisha tidak tau, maka tidak akan ada masalah. Pak Presdir sangat menyeramkan sekarang, aku tak berani membantahnya.
"Hey! kamu melamun lagi? mau ku pecat ya kamu?!!" teriak Ray marah melihat Gerry yang melamun di depannya.
"Maaf pak, jangan pecat saya!" seru Gerry panik
"Pergilah! tunggu apa lagi, kamu harus menjalankan tugasmu, bodoh!" bentak Ray emosi pada Gerry
Gerry segera berlari pergi, ia takut terkena kemarahan Presdir nya lagi. Buru-buru ia menjalankan tugasnya, pertama-tama ia pergi mencari orang yang pandai menyembunyikan dirinya untuk mengawasi juga melindungi, Tisha dan keluarga nya.
Sementara itu Ray tenggelam dalam kesedihannya sendiri, Ray merokok dan menghabiskan semua minuman keras di dalam botol. Sambil bergumam nama Tisha dalam ketidaksadaran nya itu.
Takut Zee akan datang tiba-tiba ke apartemen nya, Ray mengganti kode password apartemen nya lalu mengunci nya dari dalam.
πππ
Tibalah hari dimana sidang perceraian perdana Ray dan Tisha. Sidang perceraian itu dihadiri keluarga Tisha dan juga keluarga Ray. Disana juga ada Zee yang ikut menghadiri sidang itu.
Alasan perceraian yang diajukan oleh Tisha pada pengadilan agama adalah karena Tisha tidak bisa bertahan dengan pernikahan tanpa ada nya rasa cinta lagi. Sidang pertama itu tidak berlangsung lancar karena Ray yang terus mengulur waktu. Ray mengatakan pada hakim bahwa ia punya syarat untuk menyetujui perceraian mereka.
"Apa yang kamu katakan? syarat apa lagi?!" Tisha menatap Ray emosi. Tisha sudah muak dengan penguluran waktu Ray menceraikan dirinya.
"Mau mu apa sih? kenapa kamu terus mengikat anakku seperti ini? apa kamu bermaksud membuat anakku lebih menderita lagi?!" Bu Fani juga emosi pada Ray, ia bahkan menarik kerah baju Ray dan bermaksud memukulnya.
"Lepaskan adikku! tidak cukup kah kamu membuatnya menderita? hidup saja bahagia dengan pelakor itu!" seru Arya yang juga emosi pada Ray, matanya menatap marah pada Ray.
Ray mengabaikan semua kata-kata Bu Fani dan Arya padanya. Matanya mengarah pada Tisha.
"Dalam sidang kedua, saya akan langsung menceraikan Tisha tanpa berbasa-basi lagi. Namun, aku punya syarat untuknya. Ibu mertua, mohon izinkan saya bicara dengan Tisha" kata Ray tegas
"Tidak akan aku biarkan kamu mendekati putriku!!" seru Bu Fani sambil mendorong Ray dengan kasar
Syarat apa lagi? dia sudah mendapatkan tubuhku untuk yang terakhir kali. Maunya apa sih? apa dia bermaksud membuatku darah tinggi?. Batin Tisha kesal
Tisha pun menurut pada Ray, ia dan pengacara nya yang bernama Pak Prapto, masuk ke salah satu ruangan yang ada di gedung pengadilan agama itu. Tisha dan Ray duduk di kursi yang ada disana.
Pak Prapto selaku pengacara Ray, membuka dokumen dan surat-surat yang ada di dalam tas koper nya. Pak Prapto menunjukkan surat-surat itu kepada Tisha. Tisha terperangah melihat surat-surat yang ada di atas meja itu, surat pemindahan setengah saham milik Ray dan harta gono gini dari Ray untuk Tisha.
"Apa ini? aku tidak mengerti apa maksud kamu?" tanya Tisha mengernyitkan dahi nya melihat surat-surat itu
"Tanda tangani lah surat-surat itu, lalu pada sidang kedua perceraian kita aku akan benar-benar melepaskanmu" Jelas Ray dengan suara tegasnya
__ADS_1
"Aku sudah bilang aku tidak butuh sepeser pun uang darimu. Aku lah yang mengajukan cerai lebih dulu, jadi aku tidak akan pernah menerima ini semua. Malah harusnya aku membayar denda dari kontrak pernikahan kita" Tisha menolak saham dan harta yang diberikan oleh Ray.
"Kamu sangat keras kepala, jangan buat aku mengulangi kata-kataku dua kali. Kalau kamu ingin berpisah denganku, ambilah setengah dari saham ku dan beberapa aset milik ku!" Ray menatap wanita yang ada di hadapannya itu dengan tajam.
Apa aku harus benar-benar kejam untuk memecahkan keras kepala mu itu?!
Kenapa kamu terus menahan ku begini? Bahkan sampai akhir pun kamu tetap saja seperti ini. batin Tisha
"Aku tidak mau menerimanya" jawab Tisha tegas
"Oh begitu ya? kalau begitu aku akan membatalkan perceraian kita" kata Ray mengancam Tisha
"Kamu benar-benar ya!" Tisha gemas dengan tingkah Ray yang menurutnya ke Kanakan.
Baiklah, hanya tanda tangan saja. Masalah terima atau tidaknya itu urusan nanti.
Dengan wajah cemberutnya, Tisha menandatangani surat-surat yang ada di depannya itu. Akhirnya kesepakatan telah tercapai, Ray merasa lega karena ia yakin kalau kehidupan Tisha setelah bercerai darinya akan terjamin.
Setelah pembicaraan privat itu, Tisha dan keluarga nya bergegas pulang ke rumah kontrakan mereka. Di depan pengadilan terlihat seorang pria memakai topi dan masker berdiri disana, pria itu terlihat sedang mencari-cari sesuatu.
Saat melihat Tisha dan keluarga nya yang sedang berjalan menuruni tangga. Pria tinggi itu menghampiri Tisha dan keluarga nya.
"Tisha, kamu disini?!" Zayn senang karena menemukan Tisha disana. Zayn membuka masker nya.
"Za-Zayn? kamu ngapain disini? bahaya kalau ada wartawan atau fans yang lihat kamu disini!" bisik Tisha pada temannya itu
"Bukannya kamu Zayn Alterra?? Kamu Zayn artis terkenal itu!!" Arya menunjuk heboh ke arah Zayn
"Ya ampun, kamu aslinya ganteng banget! kamu kok bisa kenal sama anakku?" tanya Bu Fani terpesona melihat Zayn yang tampan.
"Halo Tante"
Apa ini mamahnya Tisha? selama ini aku belum pernah ketemu dia. batin Zayn sambil tersenyum ramah pada Bu Fani dan Arya
"Ibu, kak Arya! ngomong nya pelan-pelan dong jangan heboh gitu. Nanti kalau ada fans sama wartawan yang dengar dan lihat Zayn, gimana?" tanya Tisha cemas
"Ja-jadi kamu benaran Zayn si artis itu?!" Teriak Bu Fani heboh
"Gila! beneran bisa ketemu artis!" Arya juga terpana melihat Zayn ada di depannya. Ia tak menyangka bisa bertemu dengan sosok Zayn.
Ganteng banget!
"Zayn, kayanya kita harus segera pindah ke tempat sepi. Soalnya ibu sama kakak ku bakal terus heboh" bisik Tisha pada Zayn.
Mau apa Zayn kemari? dan darimana dia tau kalau aku ada disini?. Batin Tisha bertanya-tanya.
"Ya udah yuk kita bicara disana, mobilku ada disana!" tunjuk Zayn pada mobil nya yang berwarna hitam terparkir di depan gedung pengadilan itu.
Zayn, Tisha, Bu Fani dan Arya berjalan menuju ke arah mobil Zayn yang terparkir di depan gedung pengadilan agama.
__ADS_1
Di belakang mereka ada Ray dan Zee. Ray menatap tajam ke arah Tisha dan Zayn dengan mata marah. Sementara itu Zee tersenyum senang melihat kebersamaan Zayn dan Tisha.
...---***---...